Share

6| Wanita Hadiah

Penulis: Shanum Belle
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 19:00:57

Bahuwirya memijat dahinya karena ia merasa frustrasi. “Bisa-bisanya mereka memberikan wanita sebagai hadiah. Padahal, Pangeran Hadiwangsa masih tergolong sebagai pengantin baru,” batinnya.

Jika sang Raja saja sampai sakit kepala, apalagi para pejabat yang ada di sana. Kendati demikian, mereka tak berani berkomentar apa pun. Hal itu dikarenakan mereka memegang prinsip ‘bicara mengantar nyawa, jadi batu mengulur maut’.

Kasim Swari berdiri di barisan paling kanan di samping para wanita hadiah. “Paduka Pangeran ... Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, izinkan hamba memperkenalkan para wanita ini.”

“Silakan,” ucap sang Pangeran.

Diam-diam, Damarteja mencuri pandang ke arah Muniratri. Ia menemukan raut wajah sang istri mengeras dan ada sepercik api menyala di matanya.

Kasim Swari menunjuk gadis yang berdiri paling kanan di antara ketiganya. “Beliau adalah Raden Ajeng Ratnawangi, putri dari Raden Apta, keponakan Ibu Suri.”

Kasim Swari kemudian mempersilakan yang bersangkutan untuk maju dan memberi salam pada Damarteja.

“Yang di tengah adalah Raden Ajeng Kasmirah, putri angkat Yang Mulia Prameswari,” lanjutnya.

“Dan yang terakhir bernama Mustika, putri dari Begawan Prayono, guru spiritual Yang Mulia Putra Mahkota,” terang si kasim.

“Ketiga wanita cantik ini merupakan hadiah untuk Paduka Pangeran, semoga dapat menambah kedamaian di kediaman Anda,” pungkas lelaki itu.

Damarteja tersenyum lebar. “Menambah kedamaian? Yang ada mereka akan menghancurkan kedamaian kediamanku,” batinnya.

Lelaki itu menggenggam tangan Muniratri yang sedang gemetar. Andai saja mereka tak berada di tengah acara, Damarteja ingin sekali berlama-lama menikmati kegelisahan wanita itu

“Awalnya, aku pikir bisa hidup tenang karena berhasil membuat Pangeran Adipati jatuh ke pelukanku. Namun sekarang, ada tiga perempuan baru. Apakah Pangeran akan jatuh ke pelukan mereka juga?” batin Muniratri.

Di kerajaan Badra, memberikan wanita kepada bangsawan maupun keluarga kerajaan bukanlah hal tabu. Praktik ini sudah lumrah dijalankan sebagai bagian dari politik patronase.

Mereka memberikan wanita pada keluarga berpengaruh untuk membangun aliansi antar keluarga. Dengan cara ini, yang bersangkutan bisa mengontrol, atau bahkan memanipulasi lawan politiknya dengan mudah, tanpa perlu menumpahkan darah.

“Paduka ... Paduka ...?” seru Kasim Swari. Ia masih menunggu jawaban lelaki tersebut.

Damarteja berdiri. “Terima kasih atas hadiah dari Baginda Raja ... Yang Mulia Prameswari ... Yang Mulia Ibu Suri, dan Yang Mulia Putra Mahkota.”

Lelaki itu menghadap Raja Badra. “Hadiah dari Baginda, pasti akan saya manfaatkan sebaik-baiknya. Namun, untuk tiga wanita cantik ini ....”

“Ketiga orang itu mau mengikatku menggunakan selir. Mana di sampingku sudah ada putri koruptor yang selalu merayu dengan tujuan mendukung Putra Mahkota. Daripada dimanfaatkan secara gratis, lebih baik dia kujadikan tameng saja,” batin sang Pangeran.

Damarteja berpaling ke Muniratri. “Saya baru saja menikah beberapa hari. Jika saya mengambil selir ... tentu harus bertanya dahulu pada Putri.”

Muniratri mengepalkan tangan sambil menahan emosi karena sang suami baru saja melempar bola panas padanya. Kalau boleh jujur, di dalam lubuk hatinya, ia sungguh ingin menolak ketiga wanita itu.

Upaya untuk balas dendam menggunakan tangan sang Pangeran masih panjang. Jika ada wanita lain, Muniratri khawatir suaminya tak bisa ia kuasai secara penuh.

Namun jika dia menolak lelaki itu mengangkat selir dari ketiga anggota keluarga kerajaan, maka hal itu sama saja dengan mengantar nyawanya sendiri.

“Ketiga wanita cantik ini merupakan wanita pilihan dari orang-orang paling mulia di negeri ini. Bagaimana mungkin saya berani menolak perhatian Yang Mulia sekalian,” ucap Muniratri.

Karena mereka sudah diputuskan menjadi selir Pangeran Adipati, ketiga wanita itu duduk di samping Damarteja. Mereka melayani lelaki tersebut dengan antusias, membuat Muniratri menelan amarah.

“Maafkan hamba, Kanjeng Putri,” seru seorang pelayan.

Di saat emosinya membuncah, ada saja kejadian tidak menyenangkan. Seorang pelayan yang menuangkan arak, menumpahkan cairan tersebut ke pakaian Muniratri.

“Tidak apa, kamu boleh pergi,” ucap wanita itu.

Kepala Putri Hadiwangsa sudah penuh dengan masalah, ia tak ingin menambah persoalan.

Bukannya lekas pergi meninggalkan lokasi, pelayan itu malah bersujud di hadapan Muniratri. Ia bahkan membenturkan dahinya sendiri ke lantai.

“Hamba bersalah, Kanjeng Putri. Mohon izinkan hamba membersihkan pakaian Anda,” ucapnya.

Muniratri mendengus. Ia baru saja menyadari satu hal. Jika ada seorang pelayan mengotori baju tamu saat perjamuan, lalu dia menawarkan diri untuk membersihkan pakaian tamu tersebut, itu berarti ada seseorang yang ingin bicara secara pribadi dengan si tamu.

Wanita itu melihat sekeliling, mencari tahu siapa yang ingin berbicara dengannya, namun tak ketemu. Tak ada satu pun dari mereka yang bertukar pandangan dengan Muniratri.

“Baiklah, antar aku ke ruangan ganti,” ucap Muniratri pada pelayan tersebut.

Muniratri dibawa ke sebuah ruangan di samping taman sari. Di sana, pelayan tersebut memintanya menunggu tuan yang bersangkutan. Lalu, ia undur diri.

Muniratri mondar-mandir dengan langkah santai sambil mengipasi bagian kain yang basah. Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki membuka pintu, lalu memeluk wanita tersebut ... erat-erat.

“Aku merindukanmu,” ucapnya.

Muniratri mendorong pria itu menggunakan seluruh tenaga yang ia miliki. Sayangnya, tak membuahkan hasil.

Kekuatan orang itu jauh lebih besar. Mendorongnya, sama saja seperti mendorong tembok pertahanan kota yang kokoh dan tak tergoyahkan.

 “Yang Mulia, Anda tak boleh melakukan ini. Bagaimana jika ada orang lain melihat kita?” bisik wanita tersebut.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   130|

    Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan akan dipaksa meminum ‘sumber kehidupan abadi’, racun mematikan yang akan mengirim orang yang meminumnya pindah alam dalam beberapa saat.“Berhenti.” Gendhis mengangkat tangan kanannya.Keempat orang yang membawa tandu Ndari menurunkan sang Putri Mahkota. Alih-alih memberikan bantuan kepada Ndari untuk berdiri, Gendhis malah melayani para pria di sana terlebih dahulu.“Nah, kalian pasti lelah, bukan? Silakan dinikmati.” Dayang itu memberikan minuman merah.Minuman tersebut memiliki wangi yang menggugah selera. Para pria yang memanggul tandu pun menikmatinya tanpa pikir panjang.“Terima kasih. Kalian sudah bekerja

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   129|

    Berita Kamakarna mengunjungi Muniratri terdengar ke berbagai kompleks keraton, termasuk Kompleks Kusumaswari. Widuri tak habis pikir dengan kelakuan sang anak.Meskipun hanya kalangan tertentu yang mengetahui kelakuan sang Putra Mahkota, sebagai ibunya tentu saja Widuri tak tahan. Darahnya mendidih karena emosi.“Makin hari dia makin berani saja.” Sang Prameswari Badra meremas kertas yang baru saja dibaca.Tak peduli seberapa marahnya Widuri, wanita itu tak akan melampiaskan amarahnya pada sang putra. Ia memerlukan orang lain untuk meredakan hati yang panas.“Panggil Putri Mahkota ke Puri Kembangan!.” Widuri mengibaskan tangan ke arah Gendhis.Biasanya, saat Widuri memberi titah pada Gendhis, dayang itu akan melakukannya tanpa ragu. Namun kali ini, kakinya seolah menancap dengan tanah. Ia tak mau bergerak meski hanya selangkah.“Kenapa diam saja?” sentak Widuri.“Yang Mulia ... apa Anda sudah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   128|

    Dahulu Muniratri pernah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kasus ayahnya. Namun saat itu dia lakukan secara diam-diam. Kali ini, ia bisa melakukannya dengan leluasa karena dirinya diperbolehkan memasuki Gedhong Prabayekti secara bebas.Wanita itu boleh membaca buku apa saja. Ia mendapat izin istimewa tersebut atas permohonan Kamakarna pada sang ayahanda.Awalnya, para pejabat menentang permintaan Putra Mahkota. Namun setelah Muniratri mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke Agratampa, para pejabat mengendurkan urat mereka.“Kanjeng Putri, Yang Mulia Putra Mahkota sudah tiba,” bisik Ningsih saat wanita itu memasang cunduk di sanggul Muniratri.Sebagai seseorang yang sedang ditunggu oleh orang mulia, seharusnya Muniratri mempercepat waktu merias diri. Namun wanita itu tetap santai.“Ningsih, bukankah hari ini ... hari yang istimewa?” Muniratri memiringkan kepala sehingga bisa melihat Ningsih yang berada di sampi

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   127|

    Sebelum menjalankan tugas bersama Putra Mahkota, Muniratri perlu menghadap Prabu Bahuwirya di Pendopo Agung. Di sana, para pejabat berkumpul untuk menghadiri rapat pagi.Para pejabat membahas berbagai permasalahan yang terjadi di Badra. Mulai dari bencana kekeringan, gagal panen, kelaparan, dan juga masalah perbatasan menjadi topik hangat pada hari itu.Awalnya, rapat pagi berjalan lancar, hingga Kamakarna mendeklarasikan bahwa dirinya sanggup mengatasi setiap masalah yang sedang terjadi.“Kekeringan membuat para petani gagal panen sehingga menyebabkan kelaparan di mana-mana. Bagaimana Putra Mahkota mengatasinya? Apa Anda akan mendatangkan hujan dari langit?” cibir Raden Bendara .....Pertanyaan yang keluar dari mulut Pangeran yang lahir dari Selir ... itu mengubah suasana Aula Agung yang tenang menjadi ruangan berdengung. Para pejabat saling berbisik ikut mempertanyakan kesanggupan sang Putra Mahkota.Pangeran .... melirik ke arah Kama

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   126|

    Damarteja yang baru saja menerima surat dari Warman membulatkan mata. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, meskipun dirinya sudah mengulang dua kali.“Apa kita kekurangan kunyit?” tanya Damarteja pada ajudannya yang sedang merapikan dokumen.“Tidak, Paduka.” Endra menghentikan aktivitasnya.“Anda mau saya ambilkan sekarang?” tanya ajudan itu.Alih-alih mengangguk maupun menolak, Damarteja malah berdecih. Ia mengangkat satu dokumen yang berat, berniat melemparkan benda tersebut pada ajudannya yang tak peka.“Putri menyuruh Warman membeli kunyit dalam jumlah yang banyak.” Damarteja meletakkan dokumen di tangan, tak jadi melemparnya.“Menurutmu untuk apa dia melakukan itu?” tanya sang Pangeran Adipati.Kunyit memiliki peranan yang penting bagi Masyarakat Badra. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, mereka juga memanfaatkan tanaman ini untuk dijadikan minuman herbal

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   125|

    Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,” batin Muniratri.Wanita itu melangkah ke dalam Kompleks Keputren. Ingatan masa lalu melambai-lambaikan tangannya. Kenangan-kenangan itu memaksa Muniratri bercengkerama dengan nostalgia yang pernah tercipta.“Kanjeng Putri, kita sudah sampai.” Langkah Narti berhenti di depan halaman Paviliun Kantil.Suara dayang tersebut menyadarkan Muniratri bahwa semua ingatan yang singgah di kepalanya tak akan kembali. Ia tak boleh terlena di sana.Muniratri mengamati bangunan di depan mata dengan saksama. Bangunan itu berada persisi di samping kediaman sang Putra Mahkota. Tempat yang sangat pas digunakan untuk merajut kisah silam, jika Muniratri menginginkanny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status