Beranda / Romansa / Jadilah Pedangku, Sayang! / 5| Cunduk Wijaya Kusuma

Share

5| Cunduk Wijaya Kusuma

Penulis: Shanum Belle
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-26 09:15:16

Sentuhan tangan Muniratri membuat Damarteja meledak. Sedikit lagi, pertahanan sang Pangeran Adipati tumbang.

Lelaki tersebut mengunci pinggang Muniratri dengan tangan kirinya, lalu mengangkat tubuh wanita tersebut hingga membuat kedua kakinya bertumpu pada kaki Damarteja.

Tak lama kemudian, dia menggunakan tangan kanannya untuk menyusuri punggung Muniratri hingga tengkuknya. Ia menarik rambut wanita tersebut dengan lembut hingga wajah mereka saling berhadapan dalam garis sejajar.

Damarteja menyesap bibir Muniratri sekali, kemudian melahap sepenuhnya. Seperti menemukan oase di padang pasir, ia menghisap wanita tersebut penuh gairah hingga palum menjemput.

Lelaki itu mengakhiri ciumannya. “Kenapa Putri belum ganti baju?”

“Saya menunggu Paduka.” Muniratri berakting menjadi gadis pemalu.

Wanita itu pergi mengambil baki di meja, lalu membawa benda tersebut ke hadapan Damarteja. “Apa Anda bersedia membantu saya memakainya?”

Mulanya, sikap lelaki itu biasa saja, namun ketika ia melihat pola perhiasan yang dibawa sang istri, wajah Damarteja menggelap.

“Cunduk wijaya kusuma? Dan dia ingin aku memakaikannya? Perempuan ini benar-benar ... apa dia mau mendorongku ke jurang kematian?” batinnya.

Damarteja mengangkat dagu Muniratri. “Dari mana kamu dapat perhiasan ini?”

Dengan santai, Muniratri meraih tangan suami dan menjauhkan dari dagunya. “Bibi Wulan yang bawa. Katanya ini pemberian Prameswari.”

Damarteja bergegas mengambil pedang yang terdapat di samping ranjang, lalu melepaskannya dari sarung. Ia kemudian menghunuskan benda tajam tersebut di depan Wulan. “Apa kamu tahu apa salahmu?!”

Dayang tersebut langsung bersujud di kaki sang Pangeran Adipati. Sementara Muniratri, dia sembunyi di balik badan Damarteja.

“Hamba tidak tahu, Paduka.” Wulan membentur dahinya sendiri ke lantai, beberapa kali.

“Tidak tahu?” pangeran itu bergumam.

Damarteja melempar baki berisi perhiasan emas di depan wajah si dayang. “Kamu lihat baik-baik!”

Sang Pangeran mengambil cunduk yang terjatuh di lantai. “Cunduk ini berbentuk bunga wijaya kusuma. Bahkan semua perhiasan memiliki pola yang sama, dan kamu memberikan ini pada Putri untuk dia pakai?”

“Cunduk wijaya kusuma? Tidak mungkin ... ini ... ini cunduk padma, Paduka,” dalih Wulan.

“Padma?” Damarteja mendengus. “Apa kamu menganggapku sebagai orang yang mudah dibodoh-bodohi?”

“Hamba tidak berani, Paduka,” ucap Bibi Wulan dalam posisi masih bersujud.

Jika dilihat sekilas, memang ada kemiripan antara bunga wijaya kusuma dan teratai, apabila sama-sama dilihat dari atas, pada saat kedua bunga dalam kondisi sedang mekar-mekarnya. Kendati demikian, ada perbedaan jelas di antara kedua bunga tersebut.

Bunga teratai memiliki benang sari yang padat dan bentuk yang beraturan mengelilingi putik, sedangkan wijaya kusuma memiliki benang sari yang lebih bebas. Selain itu, wijaya kusuma memiliki tangkai putik yang lebih panjang dari benang sari, berbanding terbalik dengan teratai.

Berbeda dengan benang sari teratai yang memiliki bentuk padat dan letak yang teratur, benang sari pada wijaya kusuma lebih ramping dan panjang, seperti kecambah yang diletakkan di ruangan kurang cahaya matahari.

“Mentang-mentang aku lelaki, lantas kamu pikir aku tidak tahu bedanya wijaya kusuma dengan padma?” Pangeran sudah gelap mata.

“Ampuni hamba, Paduka,” pinta Wulan.

“Kesalahanmu tidak bisa dimaafkan ... pergi saja ke dunia bawah!” Damarteja mengayunkan pedangnya ke leher dayang itu.

Di balik badan Damarteja, Muniratri tersenyum puas. Tidak hanya terhindar dari busuknya buah simalakama, dia juga berhasil menggunakan tangan sang Pangeran Adipati sebagai pedangnya, untuk pertama kali.

***

Hal pertama yang dilakukan Damarteja saat tiba di jamuan makan malam keraton, ialah mengembalikan perhiasan pemberian Prameswari. Tak hanya satu set perhiasan tetapi juga kain sutra bersulam emas.

“Saya percaya, Yang Mulia Prameswari telah mengatur para bawahan dengan bijak,” puji Damarteja.

“Hanya saja, ada beberapa orang memiliki otak udang. Mereka tak dapat membedakan antara bunga wijaya kusuma dengan padma,” ucap Damarteja, nada suaranya tetap tenang meski menyiratkan ketidaksenangan.

Sang Pangeran Adipati menggenggam tangan istri. “Untung saja waktu itu saya menyadari ada yang tidak benar dengan motif perhiasan tersebut. Jika tidak, mungkin istri saya sudah ....”

Para menteri dan pejabat yang hadir pada malam itu saling berbisik. Mereka membicarakan betapa fatal masalah ini jika Muniratri mengenakan perhiasan yang diberikan oleh Prameswari.

Bibir Widuri melebar dengan dada yang terbakar amarah. Baru kali ini dia dipermalukan oleh orang lain, apalagi di depan publik.

“Terima kasih atas perhatian Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa. Saya pasti akan mendisiplinkan para dayang agar mereka lebih teliti, sehingga kesalahan seperti ini tidak terulang lagi,” ucap Prameswari. Bibir wanita itu tersenyum, namun tidak dengan hatinya.

Prabu Bahuwirya, Raja Badra yang sedang berkuasa, melihat situasi di ruangan itu sedikit suram. Ia pun berusaha mencairkan suasana. Jika tidak, para pejabat yang hadir akan menjadikan keluarga kerajaan sebagai bahan gunjingan saat mereka berada di luar keraton.

“Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa! Selamat atas pernikahanmu.” Bahuwirya mengangkat gelas emas berisi arak.

Damarteja berdiri, menyambut sulangan sang Raja. “Terima kasih, Baginda!” Ia meminum arak di gelasnya.

“Sebentar lagi kamu akan kembali ke Agratampa. Maka dari itu, aku berikan beberapa hadiah kecil. Semoga kamu menyukainya,” ucap Bahuwirya.

“Aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk Pangeran Adipati,” sambar Kamakarna, Putra Mahkota Badra.

Mendengar lelaki yang pernah menjadi tunangannya bersuara, tanpa sadar tangan Muniratri gemetar.

“Terima kasih, Yang Mulia.” Kedua tangan Damarteja mengangkat gelas kecil berisi arak.

“Namun karena malam ini adalah malam terakhir saya berada di ibu kota, saya ingin lebih dekat dengan Anda. Saya akan merasa sangat bahagia jika Yang Mulia memanggil saya ... paman,” sambungnya.

Ada rasa tidak suka di hati Kamakarna. Saat orang lain memanggil Damarteja sebagai Pangeran Adipati, lelaki itu tidak protes. Namun saat dia memanggilnya demikian, lelaki itu langsung menyatakan keberatan.

Ini bukan tentang masalah gelar, melainkan status panggilan. Apabila Kamakarna menyebut Damarteja dengan panggilan ‘Pangeran Adipati’, dia bisa memanggil Muniratri dengan sebutan Raden Ayu.

Akan menjadi lain hal, jika memanggil Damarteja dengan sebutan paman, karena itu berarti dia harus memanggil mantan tunangannya dengan sapaan bibi.

“Yang Mulia?” seru Damarteja pada Putra Mahkota. Ia masih menunggu respons si keponakan.

“Ah ... iya ...,” jawab Kamakarna dengan canggung, membuat suasana di dalam ruangan menjadi kikuk.

“Hm ... mm ... bagaimana kalau kita keluarkan saja hadiahnya sekarang,” ucap Raja Badra untuk mencairkan keadaan.

Lelaki itu menepuk tangannya dua kali sebagai isyarat pada bawahan untuk membawa hadiah yang sudah disiapkan. Tak lama kemudian, para abdi dalem membawa masuk empat peti besar ke dalam ruangan.

“Lapor, Baginda. Peti berwarna hijau merupakan hadiah dari Anda. Sedangkan tiga lainnya, masing-masing dari Yang Mulia Ibu Suri, Yang Mulia Prameswari, dan Yang Mulia Putra Mahkota,” terang Kasim Swari.

“Buka!” titah sang Raja.

Mereka terkagum-kagum saat melihat hadiah dari Bahuwirya. Namun, setelah peti yang lain dibuka, ekspresi hadirin berubah dari kagum menjadi tercengang.

***

Shanum Belle

Coba tebak! Isinya apa?

| 1
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   101|

    Tiga tahun yang lalu, Damarteja, Pangeran Mahkota Badra yang disandera oleh Kerajaan Sumbur selama sepuluh tahun, kembali ke tanah air dengan membawa kemenangan.Ia berhasil mengalahkan Sumbur dengan membunuh rajanya dan mempersembahkan kepala yang bersangkutan kepada Badra. Peristiwa tersebut tentu saja membuat Bahuwirya gelisah.“Ibunda ... Damarteja kembali! Bagaimana jika dia menuntut takhta yang sudah kumiliki?” Bahuwirya menggenggam erat tangan Ibu Suri Tari Sujana di kediaman wanita tersebut.Untung saja hanya ada mereka berdua di ruangan itu, sehingga tak seorang pun menyaksikan sisi rapuh sang Penguasa Badra.Tarisujana menepuk-nepuk bahu anaknya untuk memberi ketenangan. “Jangan khawatir, Baginda. Sepuluh tahun sudah berlalu. Tidak akan ada yang berani mempertanyakan kekuasaanmu.”Perkataan wanita itu memang menenangkan hati sang anak untuk sesaat. Kendati demikian, hal itu tak bisa membersihkan isi pikiranny

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   100|

    Perbuatan Damarteja yang jauh dari kata sopan terhadap ketiga selir membuat Muniratri trauma berat. Tiap kali lelaki tersebut bermalam di kamarnya, ia selalu memastikan bahwa lampu menyala sepanjang malam.Semua dia lakukan demi mencegah dirinya bertemu kemalangan seperti yang dialami oleh para selir. Kendati demikian dia tidak sekali pun membocorkan apa yang sebenarnya terjadi kepada siapa pun.“Tiap aku bermalam di tempat Putri, entah kenapa aku merasa kalau Putri memasang tembok yang tebal di antara kita berdua.” Damarteja meraih tangan Muniratri.Wanita yang tengah duduk di kursi tengah itu segera merengkuh pegangan tangan sang Pangeran. Ia juga mengubah raut wajah yang awal mulanya berekspresi datar menjadi tersenyum lebar.“Itu hanya perasaan Paduka saja. Mana mungkin saya berani melakukan itu.” Muniratri menatap Damarteja dengan sorot mata penuh keramahan dan cinta.Sang Pangeran terpesona pada senyum di bibir Munirat

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   99|

    Di dalam sebuah komunitas, ada tidak semua pihak satu pendapat dengan pemimpin. Mereka yang memiliki pemikiran berbeda akan membangun forum di dalam forum untuk menuangkan isi kepala mereka yang berantakan.Setelah para istri bangsawan meninggalkan Puri Kacayagra, mereka berkumpul kembali di Balai Skul Lawuh. Wanita yang memelopori pertemuan tersebut ialah Raden Ayu Sekar, istri Tumenggung Yajnayoda.“Pihak Puri Kacayagra sudah keterlaluan. Sudah barang harganya murah, kita masih ditekan untuk memberi potongan harga.” Sekar mengepalkan tangan di atas meja.“Benar, itu Mbakyu.” Mayang, istri Raden Jaka berdiri dari tempatnya.Ia mendukung Sekar karena keluarga mereka sama-sama menjadi pengepul bahan pangan. Kini stok melimpah yang dimiliki oleh mereka menjadi pekerjaan rumah yang memusingkan.Di satu sisi, bahan pangan tak bisa disimpan terlalu lama karena akan menurunkan kualitas bahkan menjadi rusak. Di sisi lain, jik

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   98|

    Berbohong merupakan perbuatan tercela. Jika seseorang berbohong pada orang biasa konsekuensinya hanya tidak dipercaya lagi. Namun jika berbohong pada seorang pangeran, orang tersebut bisa mendapat konsekuensi yang serius.Damarteja tidak memandang bulu saat menghukum seseorang. Karena Mustika telah membohonginya sakit hanya demi menarik perhatian sang Pangeran, wanita itu dilarang meninggalkan kamar hingga dirinya selesai menyalin kitab.“Kalian saja yang menulisnya!” Mustika melempar alat tulis di tangannya.Pelayan yang dibawa oleh Mustika langsung mengerjakan perintah sang selir. Bertolak belakang dengan perempuan itu, dua pelayan yang diberikan oleh Damarteja hanya bergeming di tempat.“Kenapa kalian diam saja?!” bentak Mustika.“Cepat ambil alat tulisnya!” Selir yang sedang dihukum itu menunjuk pena dan kertas di atas meja menggunakan gerakan leher.Kedua pelayan itu saling berpandangan untuk se

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   97|

    Pertunjukkan wayang memiliki kaitan yang erat dengan agama yang dianut oleh masyarakat Badra. Mereka menganggap acara ini sebagai sesuatu yang sakral karena mengubungkan dunia manusia dan spiritual.Bagi para penguasa, wayang memiliki fungsi yang lain, yakni sebagai penggerak cerita agar mereka dekat dengan rakyat. Karena alasan itulah, Damarteja meminta bantuan Muniratri untuk menyelenggarakannya, sebelum masyarakat terhasut oleh pihak yang tak bertanggung jawab.“Bagaimana persiapannya?” tanya Damarteja pada sang istri.Sudah satu minggu berlalu sejak lelaki itu meminta istrinya untuk mengadakan pertunjukkan wayang di depan Puri Kacaragra. Ia menanyakan perkembangan rencananya setiap hari hingga Muniratri kesal dibuatnya.“Kediaman sudah membeli barang di pasar dalam jumlah yang besar. Paduka tidak perlu khawatir lagi tentang harga” Muniratri memeluk sang suami di atas ranjang.Wanita itu memutar matanya di balik pel

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   96|

    Apabila barang tersedia dalam jumlah sedikit sementara permintaan masyarakat sangat tinggi, maka menurut konsep ekonomi akan terjadi kelangkaan relatif yang mendorong harga barang naik. Hal ini juga berlaku untuk keadaan sebaliknya.Untuk menekan tingginya harga barang, Tumenggung Yajnayodha membanjiri pasar dengan membuka keran distribusi dari gudang Balai Pangan. Tak tanggung-tanggung, dia mengeluarkan semua stok. Akibatnya, harga di pasar terjun bebas.“Ini kan yang Anda inginkan. Aku mengabulkannya,” batin sang Tumenggung saat dirinya berada di Pendopo Balai Adipati.Di hadapan para pejabat, Damarteja dituntut agar tidak tutup mata karena penyebab harga pangan jatuh, salah satunya adalah akibat dari dominasinya. Jika dia tidak ikut campur dalam urusan Badan Pangan, hal ini tidak akan terjadi.“Rasakan itu. Anda boleh mengambil simpati rakyat dengan menurunkan harga pangan. Namun para pemilik barang dalam jumlah besar merupakan para p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status