แชร์

191|

ผู้เขียน: Shanum Belle
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-10 19:00:52
Dini hari, sebelum pertunjukan wayang selesai, Damarteja mengutus Endra untuk ‘menjemput’ Raden Tumenggung Yajnayodha. Situasi dikondisikan tenang, sehingga tak ada yang menyadari operasi tersebut.

“Raden Tumenggung, Paduka Pangeran memiliki keperluan dengan Anda. Mohon ikut saya ke Puri Kacayagra,” ucap Endra di area pertunjukan wayang kulit.

“Tak biasanya Paduka Pangeran memanggilku ke kediaman beliau.” Tumenggung Yajnayodha menepuk bahu sang ajudan.

Lelaki itu menelisik sikap Endra sejenak. T
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   202|

    “Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   201|

    “YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   200|

    Api berkobar hebat membakar mayat Mustika dan juga Ratnawangi. Kremasi keduanya dilakukan di hari dan lokasi yang sama, di bawah pohon cantigi. Pohon yang dipercaya mampu menenangkan roh.Prosesi tersebut dilakukan secara terbatas. Hanya keluarga Pangeran Adipati Agung, dan Begawan Prayono yang boleh menghadirinya. Orang luar yang diizinkan berada di lokasi hanyalah para ajudan dan dayang pribadi.“Kanjeng Pangeran.” Begawan Prayono memberikan hormat kepada Damarteja.“Terima kasih sudah memberikan upacara yang layak untuk putri kami.” Begawan tersebut menundukkan badan.Sang Pangeran Adipati Agung mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah menerima penghormatan sang Begawan. Ia mengizinkan lelaki itu untuk bangkit.“Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi kewajibanku mengantarkan kepergian putri kalian untuk terakhir kali.” Damarteja menepuk pundak Begawan Prayono sekali.“Semoga dia bisa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   199|

    “Bukankah itu guru Putra Mahkota dan juga istrinya?” Kasmirah menepuk pundak pelayan pribadinya ketika melihat Begawan Prayono keluar dari kamar Mustika.Pelayan itu menyipitkan mata agar pandangannya lebih fokus. “Benar, Raden Ayu. Itu memang mereka.”Kasmirah menyunggingkan senyuman. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin memanggil Begawan Prayono untuk bertukar informasi demi keuntungannya.Namun belum sempat rencana itu terlaksana, Endra sudah lebih dahulu mendapatkan waktu sang Begawan.“Kanjeng Pangeran menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke suatu tempat,” ujarnya.“Baiklah.” Lelaki yang statusnya sebagai guru Putra Mahkota itu mengangguk.Endra membawa Begawan Prayono dan juga istrinya ke barak militer. Di sana dia diarahkan menuju penjara militer yang dijaga secara ketat.“Silakan masuk. Raden. Paduka ada di dalam.” Endra membuka pintu ruang interogasi ya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   198|

    “Kamu? Hamil anakku?”Damarteja berdiri, mengangkat Muniratri yang ada di pangkuannya. Ia meletakkan kembali istrinya di atas kursi pelan-pelan, bak vas bunga yang rapuh.Lelaki itu melangkah ke depan. Ia mengambil cambuk di tangan Ningsih dan memecutnya ke tanah.Suara cambukkan terdengar nyaring di telinga semua orang. Suara itu memenuhi ruangan, membuat hati menjadi lemah dan ketakutan.“Tentu saja saya hamil anak Anda!” ucap Ratnawangi dengan lantang.Dada sang selir mengembang dan mengempis dengan napas yang tersengal-sengal. Wajahnya merah, antara menahan sakit dan juga amarah karena diperlakukan kasar.“Endra.” Sorot mata Damarteja mengarah kepada Ratnawangi. Tatapannya tajam seperti keris Empu Gandring.“Bukannya kamu sudah kusuruh untuk membereskannya? Kenapa bisa kebobolan?” Tatapan tajam Damarteja beralih ke arah sang ajudan.Lelaki itu memiringkan leher ke kanan dan ke

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   197|

    “Interogasi dia menggunakan cara militer!”Damarteja berdiri membelakangi Ratnawangi yang tengah terikat di kursi penjara. Di hadapannya, Muniratri berdiri dengan kaki gemetar.Ruang bawah tanah membangkitkan kembali kenangan buruk yang pernah menimpa Muniratri dan keluarganya. Ia tak bisa menghapus ingatan itu dari kepalanya sampai kapan pun.“Paduka, apa tidak sebaiknya membawa Kanjeng Putri ke luar,” bisik Ningsih.Damarteja teringat kembali kejadian di masa lalu, saat dirinya menghabisi Wulan di hadapan Muniratri. Saat itu ia melihat istrinya tersenyum samar, sebelum menyembunyikan wajahnya dalam ketakutan.“Tidak perlu. Biarkan dia tetap di sini.” Damarteja mengambil kursi yang terletak di dekat pintu.Ningsih hanya bisa menyisir permukaan rambutnya menggunakan kedua telapak tangan untuk meredakan kegugupan. Ia geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap tuannya.‘Interogasi menggu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   5| Cunduk Wijaya Kusuma

    Sentuhan tangan Muniratri membuat Damarteja meledak. Sedikit lagi, pertahanan sang Pangeran Adipati tumbang.Lelaki tersebut mengunci pinggang Muniratri dengan tangan kirinya, lalu mengangkat tubuh wanita tersebut hingga membuat kedua kakinya bertumpu pada kaki Damarteja.Tak lama kemudian, dia meng

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   4| Permainan Dimulai

    Damarteja membangun tembok tinggi tak kasat mata di antara dia dan Muniratri. Ia yakin seratus satu persen, wanita itu tidak akan mampu menghancurkannya.“Paduka!” seru Muniratri, kali ini wanita tersebut menggunakan gaya ala gadis manja. Suaranya bahkan dibuat sedikit mendesah.Tanpa aba-aba, Munir

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   3| Perangkap Muniratri

    “Wulan, bagaimana menurutmu?” tanya Widuri.Dayang tersebut berlutut di samping Muniratri. “Yang di katakan oleh Kanjeng Putri memang benar, Yang Mulia.”Bibir Muniratri tersungging. “Tentu wanita itu tidak menyangkal omonganku. Makanan yang aku berikan padanya semalam, sudah kuberi obat tidur dosis

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   2| Bertemu Naratama

    “Yang Mulia ... JANGAN!” Muniratri berteriak hingga terbangun dari tidur. Tubuhnya, dibanjiri keringat dingin.Ingatan tentang hari ketika keluarganya dieksekusi terus muncul dalam mimpi wanita itu, tiap malam. Meski sudah empat puluh dua hari berselang, kejadian pada saat itu masih tergambar jelas,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status