Share

Maaf Curhat

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2026-07-11 22:35:28

Kupikir kau pergi hanya sebentar

Sekadar ingin jalan-jalan

Awalnya hanya satu siang

Berlanjut hingga malam

Namun kau belum puas

Selalu keluar tiap ada kesempatan

Dan pulang hanya untuk makan

Kukira kau keluar karena bosan di rumah

Kau ingin menikmati angin selatan

Menyaksikan hamparan bintang di angkasa malam

Namun sepertinya tidak demikian

Mulanya semua baik-baik saja

Hingga empat hari silam

Kau pulang dalam keadaan hangat

Badanmu lemas dan

Kau tidur sepanjang siang

Di atas selimut yang pernah

Kita gunakan bersama

Jauh di lubuk hatiku berharap

Agar kita selalu tidur bersama

Namun tak pernah kusangka

Bahwa harapanku yang demikian

Akan meretakkan hatiku sendiri

Kau tetap memaksa keluar

Meski tubuhmu tak bertenaga

Aku sudah melakukan segala upaya

Menahanmu di sana

Namun kau tak menyerah

Selalu mencuri kesempatan saat aku lengah

Dan kau mendapatkannya

Apa kau bahagia?

Apa kau tak kedinginan di luar sana?

Apa kau sudah makan?

Apa ada yang memberimu makan?

Apa kau tidur di rumah orang?

Atau malah terlelap di bawah pohon pisang?

Setiap kau berada di luar

Aku selalu memanjatkan doa

Ya Allah suruh Cicimochi pulang

Aku ingin dia pulang

Hatiku tak tenang tiap

Dia berkeliaran entah ke mana

*

*

*

Ditulis dengan air mata kehidupan yang berderai lebai karena kucingku yang tampan belum pulang selama beberapa hari. Padahal saat pergi dia sedang sakit. Mana sekarang kalau malam dingin banget. Berharap dia tak kedinginan juga tak kelaparan.

Maaf karena bukannya update bab baru malah curhat masalah pribadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   202|

    “Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   201|

    “YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   200|

    Api berkobar hebat membakar mayat Mustika dan juga Ratnawangi. Kremasi keduanya dilakukan di hari dan lokasi yang sama, di bawah pohon cantigi. Pohon yang dipercaya mampu menenangkan roh.Prosesi tersebut dilakukan secara terbatas. Hanya keluarga Pangeran Adipati Agung, dan Begawan Prayono yang boleh menghadirinya. Orang luar yang diizinkan berada di lokasi hanyalah para ajudan dan dayang pribadi.“Kanjeng Pangeran.” Begawan Prayono memberikan hormat kepada Damarteja.“Terima kasih sudah memberikan upacara yang layak untuk putri kami.” Begawan tersebut menundukkan badan.Sang Pangeran Adipati Agung mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah menerima penghormatan sang Begawan. Ia mengizinkan lelaki itu untuk bangkit.“Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi kewajibanku mengantarkan kepergian putri kalian untuk terakhir kali.” Damarteja menepuk pundak Begawan Prayono sekali.“Semoga dia bisa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   199|

    “Bukankah itu guru Putra Mahkota dan juga istrinya?” Kasmirah menepuk pundak pelayan pribadinya ketika melihat Begawan Prayono keluar dari kamar Mustika.Pelayan itu menyipitkan mata agar pandangannya lebih fokus. “Benar, Raden Ayu. Itu memang mereka.”Kasmirah menyunggingkan senyuman. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin memanggil Begawan Prayono untuk bertukar informasi demi keuntungannya.Namun belum sempat rencana itu terlaksana, Endra sudah lebih dahulu mendapatkan waktu sang Begawan.“Kanjeng Pangeran menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke suatu tempat,” ujarnya.“Baiklah.” Lelaki yang statusnya sebagai guru Putra Mahkota itu mengangguk.Endra membawa Begawan Prayono dan juga istrinya ke barak militer. Di sana dia diarahkan menuju penjara militer yang dijaga secara ketat.“Silakan masuk. Raden. Paduka ada di dalam.” Endra membuka pintu ruang interogasi ya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   198|

    “Kamu? Hamil anakku?”Damarteja berdiri, mengangkat Muniratri yang ada di pangkuannya. Ia meletakkan kembali istrinya di atas kursi pelan-pelan, bak vas bunga yang rapuh.Lelaki itu melangkah ke depan. Ia mengambil cambuk di tangan Ningsih dan memecutnya ke tanah.Suara cambukkan terdengar nyaring di telinga semua orang. Suara itu memenuhi ruangan, membuat hati menjadi lemah dan ketakutan.“Tentu saja saya hamil anak Anda!” ucap Ratnawangi dengan lantang.Dada sang selir mengembang dan mengempis dengan napas yang tersengal-sengal. Wajahnya merah, antara menahan sakit dan juga amarah karena diperlakukan kasar.“Endra.” Sorot mata Damarteja mengarah kepada Ratnawangi. Tatapannya tajam seperti keris Empu Gandring.“Bukannya kamu sudah kusuruh untuk membereskannya? Kenapa bisa kebobolan?” Tatapan tajam Damarteja beralih ke arah sang ajudan.Lelaki itu memiringkan leher ke kanan dan ke

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   197|

    “Interogasi dia menggunakan cara militer!”Damarteja berdiri membelakangi Ratnawangi yang tengah terikat di kursi penjara. Di hadapannya, Muniratri berdiri dengan kaki gemetar.Ruang bawah tanah membangkitkan kembali kenangan buruk yang pernah menimpa Muniratri dan keluarganya. Ia tak bisa menghapus ingatan itu dari kepalanya sampai kapan pun.“Paduka, apa tidak sebaiknya membawa Kanjeng Putri ke luar,” bisik Ningsih.Damarteja teringat kembali kejadian di masa lalu, saat dirinya menghabisi Wulan di hadapan Muniratri. Saat itu ia melihat istrinya tersenyum samar, sebelum menyembunyikan wajahnya dalam ketakutan.“Tidak perlu. Biarkan dia tetap di sini.” Damarteja mengambil kursi yang terletak di dekat pintu.Ningsih hanya bisa menyisir permukaan rambutnya menggunakan kedua telapak tangan untuk meredakan kegugupan. Ia geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap tuannya.‘Interogasi menggu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   125|

    Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,&r

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   124|

    Sepanjang perjalanan menuju ke Keputren, Narti berulang kali melirik sang Putri Mahkota. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak berani. Ia takut dianggap terlalu ikut campur urusan majikannya.“Katakan. ada apa?” Pandangan Ndari lurus ke depan.Perempuan itu memang tidak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   114|

    Meski kedatangan Kamakarna tidak sesuai dengan jadwal perjalanan yang sudah ditentukan oleh pihak keraton, Damarteja merasa memiliki kewajiban menjaga lelaki tersebut. Ia pun menempatkan sang Putra Mahkota di Paviliun Wetan.“HUH!!” Kamakarna memukul dinding dengan tangan koson

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   105|

    Dengan berpura-pura cuci tangan di belakang, Muniratri berhasil mengelabui Ningsih agar tak mengikutinya terus-menerus. Wanita tersebut menyelinap di balik dinding di mana Damarteja dan ibu asuhnya berbincang.“Bagaimana kabar Yang Mulia?” Mata Sundari berkaca-kaca menata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status