بيت / Zaman Kuno / Jadilah Pedangku, Sayang! / 48| Tidak Sanggup Membayangkan

مشاركة

48| Tidak Sanggup Membayangkan

مؤلف: Shanum Belle
last update آخر تحديث: 2025-11-27 19:00:20
Damarteja tertawa miris. “Dulu arak pernikahanku diberi obat atas perintah Prameswari. Sekarang, minumanku diberi obat oleh orangnya Putra Mahkota. Ibu dan anak ini benar-benar deh!” batinnya.

“Kenapa mereka selalu menargetkanku?” gumamnya.

Tangan Damarteja merayap dari atas tulang selangka Mustika menuju rahang bawah, lalu menangkup wajah wanita tersebut.

Selir itu pikir, tekanan yang diberikan oleh Pangeran Adipati sudah cukup sampai di sana. Namun tak pernah ia sangka, bahwa ucapan Damarteja
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   137|

    Ningsih bolak-balik di depan Paviliun Kantil selama tiga jam. Dia menunggu kepulangan Muniratri dari Kompleks Kusumaswari.Firasat buruk terus menyelimuti pikirannya. Seberapa keras ia mencoba menenangkan diri, tak pernah berhasil.“Kenapa kamu bertingkah tidak jelas seperti ikan kepanasan?” seru Muniratri begitu dirinya melewati gerbang masuk.“KANJENG PUTRI!” Kedua mata Ningsih membulat.Dayang tersebut berlari menyambut tuannya. Ia memeriksa tiap inci kulit Muniratri, mencari tahu apakah ada sesuatu yang tidak benar di tubuh wanita yang air mukanya lusuh itu.‘Saat Kanjeng Putri pergi ke kediaman Yang Mulia Prameswari, wajahnya tampak segar. Namun saat beliau kembali, kenapa wajahnya ditekuk begitu?’ batin Ningsih.“Apa yang terjadi? Apa mereka menyakiti hati Anda?” Sorot mata Ningsih menunjukkan satu kecemasan.Muniratri menjawab pertanyaan dayangnya dengan menggeleng.“

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   136|

    Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pandangannya lurus, tak peduli jika di kanan dan kiri terdapat berbagai pajangan mewah yang terbuat dari emas dan permata. Bahkan dindingnya pun berlapis serbuk emas.“Silakan duduk dahulu, saya akan memanggil Yang Mulia Prameswari.” Gendhis menunjuk kursi di tengah ruangan.Ini adalah kedua kalinya Muniratri mengunjungi Kusumaswari semenjak menikah. Di matanya, tempat ini tidak berubah, suram.“Kita bertemu lagi, Cah Ayu,” sapa Widuri. Ia datang dari arah belakang Muniratri.Suara sang Prameswari Badra membuat Muniratri spontan berdiri. Ia berbalik badan, lalu memberi hormat pada wanita mulia itu.“Bangunlah.” Widuri mengan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   135|

    Muniratri bersandar di kursi rotan. Posisinya menghadap ke taman sari. Sangat pas untuk menikmati bunga-bunga yang bermekaran.Angin sepoi yang berarak dari selatan ke utara membawa kesejutan. Wangi bunga di taman pun mengikuti. Siapa pun yang ada di sana akan larut dalam kenyamanan.“Bagaimana situasi saat ini?” Muniratri menutup mata sejenak, menikmati pijatan Ningsih di kepala.“Warman sudah membeli delapan puluh persen kunyit yang ada di Ibu Kota.” Ningsih menekan pelipis Muniratri dengan lembut.“Sebagian mereka bawa ke lahan milik Anda yang tempo hari diberikan oleh Baginda, dan kini dalam proses tanam,” sambungnya.“Sebagian lainnya bersama dengan madu, dibawa ke kediaman lama Anda. Mereka menguburnya di sana,” terang wanita kepercayaan Damarteja.“Apa ada pihak yang berusaha menghalangi?” Muniratri membuka mata. Tatapannya mengarah ke depan. Tajam.“Tidak ada, K

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   134|

    Berkat bantuan Putra Mahkota, Muniratri dapat berdiam diri di Gedhong Prabayekti dengan tenang. Ia tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk menghadapi para pejabat yang perutnya busung.Hanya dalam seminggu, perempuan yang ayahnya meninggal secara tidak terhormat itu berhasil mengumpulkan data. Bagaimana kondisi geografis suatu wilayah dan potensi alam apa saja yang dimiliki, semua sudah dia dapatkan.“Makanlah dulu untuk mengganjal perut.” Kamakarna menyodorkan kue klepon di hadapan Muniratri.Kue jajanan pasar yang terbuat dari ketan dan gula merah yang diberikan oleh Kamakarna memang menarik secara tampilan. Namun hal itu tak cukup untuk membuat Muniratri menghentikan kegiatannya membaca buku.“Aku dengar dari orang dapur, katanya kamu sering melewatkan makan.” Kamakarna memandang Muniratri dengan perasaan iba.“Kalau begini terus, nanti kamu bisa sakit. Setidaknya makanlah, walaupun hanya sedikit.” Kamakarna

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   133|

    Semenjak tinggal di keraton, Muniratri memiliki satu agenda yang tak boleh dia tinggalkan. Mengikuti rapat pagi di Aula Agung.Sejatinya, perempuan di keluarga Keratuan Badra, termasuk para istri pangeran tidak boleh terlibat urusan politik. Ada ketakutan di dalam hati mereka jika suatu hari para perempuan membangkang. Mereka tidak mau hal itu terjadi.Di sisi lain, Muniratri adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Prabu Bahuwirya. Para pejabat itu tak berani menentang.Mereka pun memohon pada sang Ratu agar Muniratri menjelaskan di depan khalayak apa yang telah ia pelajari dan metode apa yang akan digunakan untuk mengatasi krisis di depan mata.Tujuan mereka satu, jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan di lapangan, para pejabat itu bisa menuntut Muniratri langsung. Mereka juga bisa menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Pangeran Adipati sekaligus.Perdana Menteri Badra maju ke depan para pejabat. “Baginda, sudah waktunya bagi Kanjeng

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   132|

    Tekad Damarteja menyusul istrinya ke Ibu Kota sudah tak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu sehari sebelum keberangkatannya, ia memanggil Raden Birawa ke Puri Kacayagra.“Paduka, Senapati sudah tiba,” lapor Endra kepada Damarteja di ruang kerja sang Adipati.Lelaki yang sedang memegang pena mengangguk. Ia meletakkan alat tulis di tangannya. “Persilakan masuk.”Sang ajudan berdiri tegap dalam posisi siap. Dia balik badan meninggalkan ruangan itu. tak lama kemudian yang bersangkutan masuk kembali bersama dengan lelaki tinggi berbadan kekar. Otot tubuhnya terpahat dengan indah.“Senapati Birawa menghadap Paduka.” Lelaki itu berlutut di hadapan Damarteja. tangan kanannya bertumpu pada lutut. Pandangannya menghadap ke bawah.“Bangunlah!” ucap Damarteja, singkat dan tegas.Damarteja memberi kode kepada Endra melalui gerakan mata. Ajudan itu pun langsung meninggalkan ruangan menuju dapur.Saat

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status