Home / Romansa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 231. Datang Lagi? Siapa?

Share

231. Datang Lagi? Siapa?

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-07-08 21:41:31

Sama halnya dengan Laras, Nayla pun juga menatap mata gadis itu. Begitu mata mereka bertemu, bibir Laras pun seketika bergetar.

"Nayla." Suara itu begitu lirih, tetapi cukup untuk membuat mata Nayla langsung berkaca-kaca.

"Laras." Nayla berjalan cepat menghampirinya.

Begitu jarak mereka cukup dekat, Laras tiba-tiba menangis. Air matanya pun jatuh begitu saja.

"Aku minta maaf." Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru permintaan maaf. "Aku minta maaf, Nayla."

"Sudah, Laras. Jangan begitu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   396. Bakat Mak Comblang

    Sementara itu, malam semakin larut.Di rumah, Nayla sudah berbaring di tempat tidur. Naufal duduk di sampingnya sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Sejak mengantar Nayla pulang dari rumah sakit, dia memang beberapa kali memperhatikan wajah istrinya yang terlihat lelah. Meskipun Nayla terus mengatakan dirinya baik-baik saja, Naufal tetap tidak mau mengambil risiko, apalagi sekarang istrinya sedang hamil."Kamu istirahat dulu," kata Naufal sambil membantu merapikan bantal di belakang kepala Nayla.Nayla mengangguk. "Aku cuma capek sedikit.""Makanya istirahat, Sayang. Jangan sampai aku terlalu tegas sama kamu.""Iya deh, iya. Dasar dokter bawel!" Nayla terkekeh kecil.Naufal hanya menggeleng. Dia memastikan selimut Nayla sudah berada di posisi yang nyaman sebelum mengambil segelas air putih dari meja samping tempat tidur dan memberikannya kepada istrinya."Minum dulu."Nayla menerima gelas tersebut sambil tersenyum. "Baik, Dokter.""Nah, begitu."Nayla meneguk air beberapa kali sebel

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   395. Kenapa Aku Jadi Begini?

    "Apa? Enggak perlu." Nayla cepat-cepat melotot dan menggeleng, membuat Naufal terkekeh.“Kalau begitu, nurut sama suamimu ini." "Ya udah deh iya,” angguk Nayla dengan wajah cemberut.Mobil pun kemudian meninggalkan halaman rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nayla kembali membicarakan Renata dan Aldo. Dia bahkan sudah mulai membayangkan seperti apa pernikahan sahabatnya nanti, mulai dari gaun yang mungkin akan dipakai Renata sampai suasana ketika Bu Ratih melihat putrinya menikah."Menurut kamu Renata bakal pakai gaun putih?" tanya Nayla tiba-tiba.Naufal meliriknya sebentar. "Mungkin.""Kalau aku jadi dia, aku pasti bingung memilih.""Kamu jangan ikut pusing.""Aku kan cuma membayangkan."Naufal tersenyum kecil. "Kamu memang suka ikut memikirkan urusan orang."Nayla langsung cemberut. "Aku peduli sama sahabatku.""Iya, aku tahu."Percakapan mereka berlangsung ringan sampai beberapa menit kemudian Nayla tiba-tiba terdiam. Naufal yang sedang menyetir langsung menyadari perubahan sikap

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   394. Sikap yang Tak Biasa

    Sementara itu di sisi lain, Dimas masih duduk di hadapan Shella sambil mencoba mencerna semua hal yang baru saja dia dengar. Agung, mantan suami Nayla, ternyata juga merupakan mantan suami Shella. Fakta itu benar-benar di luar dugaannya.Shella yang melihat Dimas hanya tersenyum tipis. Dia tahu pria itu pasti terkejut karena hubungan antara mereka dan Agung memang cukup rumit."Kenapa? Kaget ya? Aku tahu kok kalau kamu pasti kaget," ujar Shella dengan senyum pahit di bibirnya.“Iya." Dimas menghela napas pelan. "Jujur, aku memang kaget.""Kenapa?""Karena aku kenal Agung."“Iya.” Shella mengangguk. "Aku tahu."Dimas mengerutkan dahi. "Kamu tahu?""Iya. Kak Reza pernah cerita sedikit tentang kamu dan keluarga Kak Nayla."Dimas terdiam. Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi sambil menatap meja. Banyak hal yang tiba-tiba terasa masuk akal. Dulu, dia memang pernah berurusan dengan Agung dan bahkan sempat ikut membantu pria itu dalam rencana buruk yang ditujukan kepada Nayla. S

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   393. Diselimuti Bahagia

    Nayla masih berdiri di samping tempat tidur sambil memperhatikan cincin yang terpasang di jari manis Renata. Wajahnya terlihat begitu antusias sampai-sampai Renata beberapa kali tertawa kecil karena sahabatnya itu terus memandangi cincin tersebut."Jadi kalian benar-benar mau menikah?" tanya Nayla lagi, seolah masih belum percaya.Renata mengangguk malu. "Iya.""Sejak kapan?"Renata melirik Aldo sebentar. Pria itu hanya tersenyum sebelum menjawab, "Sebenarnya sudah beberapa waktu aku memikirkannya. Aku cuma menunggu waktu yang tepat."Nayla langsung menatap Aldo dengan wajah penasaran. "Tapi kenapa tiba-tiba hari ini?"Aldo menghela napas pelan. “Karena aku sadar aku enggak mau terus menunggu. Setelah semua yang terjadi pada Renata dan Bu Ratih, aku semakin yakin kalau aku ingin tetap berada di samping mereka."Renata yang mendengar ucapan itu langsung tersenyum. Tangannya masih berada di atas pangkuan Bu Ratih, sementara tangan Aldo menggenggamnya dengan lembut.Bu Ratih ikut tersen

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   392. Cincin di Jari Manis

    Nayla mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar rawat. Tatapannya terus berpindah dari tempat tidur yang kosong ke arah pintu, seolah berharap Ratih tiba-tiba muncul dari sana."Bu Ratih ke mana, Naufal?"Naufal segera mendekati istrinya. Dia bisa melihat dengan jelas kepanikan di wajah Nayla yang mulai sulit dikendalikan."Tenang dulu. Kita cari tahu dulu, Sayang.""Tapi Bu Ratih nggak ada, Sayang.""Aku tahu."Naufal memegang kedua bahu Nayla dan menatapnya dengan tenang. "Kita cari tahu dulu. Jangan langsung berpikir yang macam-macam.""Tapi kenapa tempat tidurnya kosong?""Nanti kita tanyakan kepada perawat. Mungkin saja Bu Ratih dipindahkan atau sedang menjalani pemeriksaan."Nayla masih terlihat cemas. Dia menoleh sekali lagi ke arah tempat tidur Ratih yang benar-benar kosong. Tidak ada barang-barang yang menunjukkan bahwa pasien sedang berada di sana. Hal itu justru membuat pikirannya semakin dipenuhi berbagai kemungkinan.Naufal menghela napas pelan sebelum memanggil istriny

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   391. Curhatan Shella pada Dimas

    Dimas yang sedang minum langsung tersedak."Uhuk! Uhuk!"Shella sontak panik. "Dokter Dimas!"Dimas segera meletakkan gelasnya. Wajahnya sedikit memerah karena tersedak, sementara Shella buru-buru mengambilkan air putih untuknya."Minum dulu."Dimas menerima gelas itu lalu meneguknya perlahan. Setelah beberapa tegukan, napasnya mulai kembali normal. Shella masih memperhatikannya dengan wajah khawatir."Kamu nggak apa-apa?"Dimas menggeleng. "Enggak."Namun, ekspresinya masih menunjukkan keterkejutan. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Shella pernah menikah. Apalagi sekarang status perempuan itu adalah seorang janda. Selama mengenal Shella, Dimas memang belum pernah melihat perempuan itu membicarakan kehidupan pribadinya. Mereka juga baru beberapa kali bertemu, sehingga pengakuan tersebut terasa cukup mengejutkan baginya.Dimas masih memandanginya sampai akhirnya Shella menyadari tatapan itu."Kenapa kaget begitu?" tanya Shella."Aku cuma enggak menyangka.""Kenapa?""Enggak tahu."

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   2. Menggodamu Malam Ini

    “A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   1. Ah, Sakit, Dok!

    "Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status