Beranda / Romansa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 246. Ada Sebuah Rasa yang Familiar

Share

246. Ada Sebuah Rasa yang Familiar

Penulis: Mas Author
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 21:44:22

Arunika pun menerima mikrofon dari MC. Senyum tipis menghiasi wajahnya, meski sorot matanya masih menyimpan jejak perjuangan panjang yang baru saja ia lalui.

"Terima kasih karena kalian sudah mau datang ke acara ini. Di sini saya hanya ingin cerita sedikit. Beberapa tahun lalu, hidup saya berubah total ketika dokter mendiagnosis saya menderita kanker ovarium."

Ballroom pun seketika hening. Semua pasang mata menatap ke arah gadis cantik itu.

"Dunia rasanya runtuh saat itu. Saya selalu berusaha m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   288. Selamat Jalan, Arunika

    Begitu pintu ruang perawatan tertutup rapat, Nayla hanya mampu mematung di balik kaca. Tangis Marina memenuhi lorong rumah sakit, sementara Wiratmadja memeluk istrinya yang nyaris kehilangan kekuatan untuk berdiri. Dari balik pintu terdengar suara Naufal yang lantang memberi instruksi."Mulai CPR!""Siapkan defibrillator!""Cas tiga ratus joule!"Alarm monitor berbunyi semakin nyaring.Biiip... Biiip... Biiip...Nayla menutup mulut dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata terus mengalir saat mengingat senyum Arunika beberapa menit lalu."Kak Arunika..." isaknya lirih.Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Rasa nyeri yang tadi hanya berdenyut di kepalanya kini menjalar hingga ke dada, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang meremas jantungnya."Akh..." Nayla meringis sambil memegangi dadanya.Di dalam ruang perawatan, Naufal masih sempat melirik ke arah istrinya melalui kaca. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran, tetapi sebagai dokter ia tak memiliki pilihan sel

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   287. Panggil Aku Kakak, Sekali Saja!

    Air mata masih membasahi pipi Marina. Tangannya yang gemetar perlahan terulur ke arah Nayla, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat."Nayla," suaranya bergetar lirih, dipenuhi harapan yang selama puluhan tahun terkubur. "Boleh ... boleh Mama memelukmu?"Di sampingnya, Wiratmadja ikut melangkah mendekat. Mata pria paruh baya itu memerah, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nayla."Nak," gumamnya serak seraya memandang lekat pada Nayla. "Kalau semua ini benar, kalau kamu memang adalah Naura, maka kembalilah pada papa dan mama. Selama ini papa memang belum yakin kalau Naura sudah meninggal. Karena itu selama bertahun-tahun, papa terus saja mencari kamu," lanjut pria paruh baya itu.Ia memohon di hadapan Nayla kini, seolah sudah tak peduli dengan nama besarnya yang selama ini sangat disegani oleh banyak tokoh penting.Namun melihat itu, Nayla justru mundur selangkah. Kepalanya terus menggeleng, sementara air mata mengalir tanpa henti."Tidak, jang

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   286. Menguak Masa Lalu Nayla

    Ruangan perawatan mendadak sunyi.Semua orang mengikuti arah tatapan nenek renta yang berdiri di samping Wiratmadja. Tubuhnya memang sudah membungkuk dimakan usia, tetapi sorot matanya masih tajam ketika memandang Nayla tanpa berkedip. Bibirnya bergetar pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya."Ya Tuhan ... itu anaknya Ina dan Raharja."Ucapan itu membuat seluruh isi ruangan terdiam.Nayla yang masih memegangi pelipisnya perlahan mengangkat wajah. Rasa nyeri di kepalanya memang belum hilang, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar."Mbah ... Mbah kenal saya?" tanyanya lirih, dengan raut wajah yang kebingungan.Mbah Sati mengangguk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Nayla lalu mengusap pipinya penuh kasih."Tentu saja kenal. Aku sering menggendongmu waktu kamu masih kecil. Mana mungkin aku lupa."Wiratmadja yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung maju beberapa langkah. Napasnya memburu, sementara kedua matanya terus menatap wajah wanita tua i

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   285. Saksi Kunci

    Dimas masih berdiri di balik jeruji besi dengan rahang mengeras. Tatapannya kosong mengarah ke lorong penjara, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun yang berada di sana.Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar.Seorang sipir menghampiri selnya sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada petugas lain yang memperhatikan."Sudah kubilang, Dokter Naufal mulai mencium jejakmu," gumam sipir itu pelan.Dimas menyunggingkan senyum tipis."Biar saja."Sipir membuka pintu sel tanpa banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya lalu menyerahkannya."Lima menit."Dimas menerimanya tanpa ragu."Kamu tenang saja. Uangnya sudah masuk ke rekening istrimu pagi tadi."Sipir itu tersenyum puas."Kerja sama kita memang selalu menguntungkan."Dimas langsung membuka aplikasi pesan. Beberapa notifikasi bermunculan dari orang-orang yang selama ini menjadi mata dan telinganya di luar penjara.Bukan hanya Revan. Tapi masih ada beberapa orang lain.Sa

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   284. Permainan di Balik Jeruji Besi

    Marina semakin gelisah. Sejak tadi jemarinya tak berhenti menekan tombol panggil pada layar ponsel, berharap suara suaminya segera terdengar dari seberang. Namun setiap kali panggilan tersambung, yang muncul hanya suara operator yang sama."Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."Wanita itu menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Dadanya terasa semakin sesak."Kenapa, Pa? Kamu ke mana sih?" bisiknya lirih.Nayla yang berdiri di sampingnya berusaha menenangkan meski hatinya sendiri mulai dipenuhi kecemasan."Mungkin sinyalnya jelek, Bu. Atau HP Pak Wiratmadja kehabisan baterai.""Tapi dia nggak pernah begini, Nay." Marina menggeleng pelan. Air matanya kembali jatuh. "Kalau ada apa-apa sama Arunika, dia pasti orang pertama yang datang."Ucapan itu justru membuat Nayla ikut terdiam. Entah mengapa, firasat buruk perlahan merayapi hatinya.Di saat yang sama, di balik pintu ruang resusitasi, suasana jauh lebih mencekam."Tekanan darah turun lagi, Dok!" seru seorang perawat.

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   283. Arunika Kritis

    Suara tangis Marina masih terdengar jelas dari balik sambungan telepon. Isaknya pecah berkali-kali hingga Nayla harus berkali-kali memanggil namanya agar wanita itu sedikit lebih tenang."Bu Marina, tenang dulu. Katakan dengan tenang, ada apa sebenarnya?" tanya Nayla dengan suara bergetar.Marina berusaha mengatur napasnya, tetapi kepanikan membuat suaranya nyaris tak terdengar."Arunika …," isaknya lirih. "Penyakit Arunika kambuh lagi. Dia tiba-tiba kesakitan, terus pingsan. Sekarang dia sudah dibawa ke Rumah Sakit Mahendra Medika. Tolong ... tolong ajak Dokter Naufal ke sini, Nayla.""Apa?" bisik Nayla pelan. Wajahnya semakin pucat, dan bibirnya bergetar.Naufal yang sedang menyetir pun langsung menoleh cepat."Kenapa, Sayang?"Nayla menutup mikrofon ponselnya dengan telapak tangan."Sayang, Arunika … masuk rumah sakit."Naufal sontak menginjak rem sesaat sebelum kembali menginjak pedal gas lebih dalam. Raut wajahnya berubah tegang."Dia kenapa?""Penyakit kanker ovarium nya kambuh

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   35. Perintah Siapa?

    “Kamu ngapain di sini?” Suara Nayla mulai meninggi.Tak menjawab, tetapi Dini malah melangkah masuk lebih jauh ke dalam toko tanpa permisi. Tatapannya menyapu sekeliling, dari rak bunga hingga meja kerja, lalu berhenti tepat pada Nayla. Senyumnya tipis dan sinis, sangat serasi jika dengan Agung.“K

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status