Teilen

Jangan Ditahan-tahan Pak!
Jangan Ditahan-tahan Pak!
Kirrun kiyyun

1. Awww, bapak!!

last update Veröffentlichungsdatum: 19.07.2026 05:55:29

"Aku mau kita putus, pakaian kamu alay, aku malu kalau ketemu teman-temanku!"

Kalimat itu meluncur begitu saja, menghantam harga dirinya. Sejak diputuskan pacarnya hanya karena penampilan dan sikapnya yang di nilai berlebihan. Membuat perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu bertekad untuk membuat mantannya menyesal. Ia ingin menunjukan kepada Gerry bahwa, Kirana Prameswari yang ia kenal bisa mendapatkan pacar yang lebih baik.

Caranya adalah dengan bekerja di Arkana Group. Perusahaan terbesar yang menjadi impian ribuan pencari kerja. Dan, di hari pertamanya, tujuannya selain bekerja juga menarik perhatian pria-pria di tempat itu, sasaran terbesarnya yaitu pemilik Arkana group.

Saat ini, perempuan itu sedang berjalan di lobi perusahaan, beberapa mata nampak melirik ke arahnya dengan tatapan menilai. Saat langkahnya terus menyusuri beberapa karyawan tiba-tiba nampak berbisik dan menunduk dengan sopan.

"Kok mereka tiba-tiba jadi kayak patung gitu?" bisik Kirana pelan. Lalu kepalanya menoleh ke arah pintu utama lobi.

Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Seketika suasana mendadak hening. Pintu mobil terbuka seorang pria bertubuh tinggi dengan aura maskulin yang kuat, turun dengan langkah tenang. Setelan jas hitam yang pas membungkus tubuh atletisnya membuat setiap gerakannya tampak berwibawa. Aura yang dimilikinya membuat seluruh lobi spontan menundukkan kepala.

Kecuali Kirana, wanita itu yang semula berdiri santai perlahan mengangkat kepala. Sontak, ia membeku, matanya langsung membulat, bibirnya menganga sempurna.

"Ya ampun, ganteng banget!" serunya, suara perempuan itu menggema di lobi. Kirana masih menatap Adrian tanpa berkedip, seolah sedang melihat pangeran di negeri dongeng.

Seketika Adrian menghentikan langkahnya. Tatapannya beralih ke satu-satunya orang yang bersuara lantang. Alis Adrian berkerut tipis, menatap perempuan yang asing baginya, belum lagi penampilan yang benar-benar nyentrik semuanya bertolak belakang dengan standar profesional yang selama ini ia terapkan.

"Karyawan baru?" tanyanya dengan nada datar dan begitu dingin.

Kepala wanita itu mengangguk dengan cepat, senyumnya begitu lebar, "iya, Pak," jawabnya antusias.

"Nama?" tatapan Adrian begitu menilai

"Kirana Prameswari." tuturtnya dengan mata berkedip-kedip, seperti menggoda. Beberapa karyawan yang berada di sana sampai menutup mulut tak menyangka dengan keberanian pegawai baru itu.

"Divisi?"

Kirana tersenyum makin lebar.

"Sekretaris Bapak!" jawabnya lagi, deretan giginya yang rapi terlihat jelas.

Tiba-tiba suasana menjadi hening, bahkan suara pendingin ruangan terasa lebih keras dari apapun. Rahang pria itu langsung mengeras, seolah ingin memarahi seseorang. Pria tersebut tak berkomentar apapun, Meski begitu, tatapan Adrian kembali kepada Kirana, dengan tatapan yang seakan tak percaya bahwa wanita di depannya itu adalah sekretaris barunya.

"Besok datang dengan penampilan yang sesuai aturan perusahaan."

Bukannya gugup, Kirana malah salah fokus.

"Ihhh bapak, perhatian banget sih!" Reaksi Kirana justru berbeda, wanita itu senyum-senyum sendiri.

Adrian sedikit terkejut, tak menyangka dengan reaksi Kirana yang berlebihan.

"Saya sedang menegur kamu, bukan memuji!"

"Masa sih pak? tapi aku ngerasa nya bapak perhatian deh sama aku."

Berikutnya hanya hening yang terdengar, dan degub jantung para pekerja yang berdiri tak jauh dari mereka, menanti Kirana di pecat sebelum masuk ruangannya.

Raut wajah Adrian berubah. Merasa terganggu dengan sikap wanita tersebut, yang benar-benar tak punya malu. Bahkan ia belum pernah bertemu perempuan yang mengubah teguran menjadi pujian. Tanpa berkata apa-apa lagi, Adrian berbalik menuju lift. Belum sempat tubuhnya masuk. Kirana sedikit berteriak.

"Pak."

Langkah Adrian berhenti.

"Kalau aku nanti kerja bagus, boleh sekalian deketin Bapak nggak?"

Lift langsung sunyi, sekretaris lama sampai menjatuhkan map. Adrian benar-benar speechless. Lalu hanya berkata dingin. "Jangan membuat masalah di hari pertama!"

Kirana mengangguk semangat.

"Siap!"

"Berarti kalau besok boleh?"

Adrian menutup mata. Dia benar-benar merasa mendapat musibah, tanpa pikir panjang, ia langsung masuk dan lift akhirnya tertutup. Beberapa orang yang berada di sana nampak menghembuskan napas lega.

Sementara Kirana langsung mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, lalu menulis dengan penuh semangat.

Misi Menaklukkan Pak Adrian:

Pak Adrian kenal aku.

Pak Adrian ngomong panjang sama aku.

Pak Adrian senyum.

Pak Adrian ngajak ngobrol duluan.

Jadi pacar Pak Adrian.

Perempuan itu membaca dengan intens bagian nomor satu.

Kirana tersenyum puas. "Hari pertama lumayan, tapi aku harus bisa bikin pak Adrian kenal sama aku!" Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menatap pintu lift yang telah tertutup.

"Lihat aja, aku pasti bisa jadi pacar pak Adrian! dan buktiin ke Gerry kalau aku bisa dapat pacar yang lebih baik dari dia!" seru Kirana dengan janjinya yang begitu kuat untuk balas dendam kepada mantan.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   7. Pak Adrian tersenyum

    Kabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   6. Dinas di luar kota

    "Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   5. Menyingkirkan hama

    Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   4. Balas dendam dimulai

    “Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   3. Lihat saja siapa yang lebih pantas

    Namun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   2. Bapak mau cium saya?

    “Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status