Mag-log in
Tak! Tak! Tak!
Beberapa pukulan sapu ijuk mendarat di kepala Roni yang saat itu sedang duduk di tepi sungai dengan Ningrum. Roni mencoba menutupi kepalanya dengan tangannya sambil menoleh. Belum sempat dia mengucapkan sepatah kata. Ibunya Ningrum sudah kembali memukul Roni dengan sapu ijuk yang ada di tangannya berulang kali. “Berani-beraninya kamu deketin anakku!” Teriak ibunya Ningrum tanpa menghentikan pukulan. Ningrum langsung berdiri dan mencoba menahan tangan ibunya. “Sudah, Bu! Sudah! Kasihan Roni!” Roni merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa benjol. “Saya tidak melakukan apa-apa, Bu Sri. Kami hanya duduk saja.” Ibu Ningrum bernama Bu Sri, wanita yang masih terlihat menarik meski sudah berusia empat puluhan. Dia terkenal cerewet dan suka bergosip tentang keburukan tetangganya. Bu Sri hendak mengayunkan tangannya lagi, tapi Ningrum menahannya dengan kuat. “Ingat ya, Ron!” Suara Bu Sri meninggi sambil menunjuk wajah Roni dengan sapu. “Jangan dekati Nisa, apalagi sampe pacaran!” Ningrum yang melihat amarah ibunya kian memuncak terhadap Roni langsung menarik tubuh Bu Sri menjauh. “Kami hanya teman, Bu. Gak ada hubungan apapun.” Kata Ningrum dengan mata berkaca-kaca. “Diam kamu!” Bu Sri beralih menatap anaknya dengan tajam. “Orang-orang bilang kalau kalian sering jalan bareng berduaan, boncengan naik motor.” Ningrum menggeleng air matanya mulai menggenang. “Kami hanya sekedar ngobrol, Bu. Lagian Roni kan teman masa kecilku.” “Mengobrol?” Dada Bu Sri naik turun, matanya semakin melotot. “Itu yang terlihat. Siapa tahu kalian sudah melakukan hal yang macam-macam.” “Saya mencintai Ningrum.” Roni yang sedari tadi hanya menunduk tak berani menatap wajah Bu Sri ketika mendengar ucapan yang keterlaluan. Akhirnya memberanikan diri. “Tapi saya tidak akan melakukan hal seperti itu pada Ningrum.” Perkataan Roni justru membuat wanita itu semakin naik pitam. Bu Sri menghempaskan tangan Ningrum yang menahannya, lalu berjalan menghampiri Roni. “Cinta?” Bu Roni mencengkeram kerah kaos Roni yang lusuh. “Jangan bermimpi untuk bisa menikahi anakku!” Bu Sri mendorong Roni ke belakang. Tubuh pemuda yang belum siap itu terhuyung. Byuurr! Roni tercebur ke dalam sungai yang untungnya airnya hanya sebatas lutut. Namun posisi jatuhnya yang terlentang cukup membuat seluruh pakaiannya basah. Roni mengusap wajahnya yang basah berulang-ulang. Dia menatap kesal pada Bu Sri yang berdiri di tepi sungai. “Jangan dekati anakku lagi!” Ucap Bu Sri dengan suara yang dingin penuh amarah. “Dasar pria tak punya masa depan!” Bu Sri berbalik dan menarik tangan Ningrum dengan paksa. Langkahnya cepat, meninggalkan Roni yang masih tergenang di dalam sungai. Setelah beberapa saat, Roni naik ke atas tepi sungai. Dia berjalan pulang ke rumah dengan wajah kesal. Beberapa orang di desa selalu menganggap remeh pada Roni hanya karena dia miskin dan hidup sebatang kara setelah ditinggal neneknya enam bulan lalu. Sementara orang tua Roni tidak diketahui keberadaannya hingga kini. Usut punya usut Roni hanyalah anak pungut yang dibesarkan oleh sang Nenek bernama Marni. Dia ditemukan di tengah sawah ketika bayi. “Jika aku sukses nanti, akan aku balas semua ini!” Batin Roni penuh harap bercampur kesal. Roni berjalan cepat menuju rumahnya. Harga dirinya hancur berkeping-keping. “Ron!” Teriak salah satu warga ketika Roni lewat. “Air keranmu mati, kok mandi di sungai!” “Bukan mati, pak.” Sahut ibu-ibu yang juga melihat. “Jangankan keran, sumur aja gak punya.” Tawa-tawa merendahkan terdengar sumbang ditelinga Roni. Tangannya mengepal dengan keras, tapi dia sadar tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima ejekan itu. Seharusnya bisa saja Roni pergi meninggalkan desa untuk mengabaikan omongan segelintir orang tersebut. Tapi permintaan terakhir sang Nenek menjadi salah satu alasan tetap bertahan. “Jaga rumah ini, Le. Ini adalah peninggalan satu-satunya mendiang kakekmu.” Begitulah kira-kira sedikit ingatan yang diucapkan Mbah Mirna pada Roni. Roni sudah sampai di depan rumah. Dia memandangi rumah kecil dengan halaman luas peninggalan kakeknya. Sementara di sebelah kanan ada rumah sederhana Bu Sri yang sedikit lebih bagus dari rumahnya. Selain itu, di sebelah kiri rumah ada rumah kosong dan yang paling bagus di antara yang lain. Rumah itu biasa digunakan Roni untuk mandi karena kamar mandinya bisa tembus lewat belakang rumah Roni. Dengan langkah tenang seperti biasa, Roni merangsek masuk ke kamar mandi rumah kosong itu untuk mengganti baju. Baru saja dia melepas kaos yang basah, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. “Aaa... Kamu siapa?” Seorang wanita berteriak saat membuka pintu kamar mandi.Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron
Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya
Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la
Pagi tiba, Roni terbangun dengan kepala berat dan hati yang masih diliputi rasa bersalah. Di sampingnya, Ajeng masih terlelap dengan napas teratur, tangannya masih melingkar di pinggang Roni. Roni menatap wajah istrinya yang tenang, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukan dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar. Suasana kontrakan masih sunyi. Roni melirik ke arah kontrakan Desi yanh pintunya masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Roni menghela napas panjang, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus mencari pekerjaan dan fokus pada hidup barunya bersama Ajeng. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengannya. Ia membawa dua cangkir kopi hangat yang baru ia seduh. "Kenapa nggak bangunin aku kalau sudah bangun?," katanya, mencium pipi Roni. Roni tersenyum tipis, "Hari ini aku mau cari kerjai." Ajeng duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir kopi. "Aku juga ingin cari kerja. Aku t
Roni merasakan gelombang panas yang tak terbendung memuncak di tubuhnya. Ia menekan lebih dalam, menuntut, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Desi. Tubuh Roni menegang, napasnya tersengal, dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa kosong. Desi yang ada di bawahnya juga gemetar, tubuhnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi begitu Roni terkulai lemas di atasnya, sesuatu dalam diri Desi berubah. Kesadaran yang tadi kabur oleh kenikmatan perlahan kembali.Desi merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di antara pahanya. Lalu, rasa sakit yang tadi tersamarkan oleh gairah kini muncul kembali—nyeri yang menusuk, mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi.Desi membuka matanya. Ia menatap Roni yang masih berbaring di atasnya, napasnya masih berat, dengan senyum puas di bibirnya. Dan tiba-tiba, air mata mulai mengalir di pipi Desi."Mas..." suaranya bergetar. "Kenapa... kamu tega banget ngelakuin ini."Roni tersadar. Ia







