Share

Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!
Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!
Author: Frands

Bab 1 - Pria Tak Berguna

Author: Frands
last update publish date: 2026-07-07 13:45:08

Tak! Tak! Tak!

Beberapa pukulan sapu ijuk mendarat di kepala Roni yang saat itu sedang duduk di tepi sungai dengan Ningrum. Roni mencoba menutupi kepalanya dengan tangannya sambil menoleh.

Belum sempat dia mengucapkan sepatah kata. Ibunya Ningrum sudah kembali memukul Roni dengan sapu ijuk yang ada di tangannya berulang kali.

“Berani-beraninya kamu deketin anakku!” Teriak ibunya Ningrum tanpa menghentikan pukulan.

Ningrum langsung berdiri dan mencoba menahan tangan ibunya. “Sudah, Bu! Sudah! Kasihan Roni!”

Roni merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa benjol. “Saya tidak melakukan apa-apa, Bu Sri. Kami hanya duduk saja.”

Ibu Ningrum bernama Bu Sri, wanita yang masih terlihat menarik meski sudah berusia empat puluhan. Dia terkenal cerewet dan suka bergosip tentang keburukan tetangganya.

Bu Sri hendak mengayunkan tangannya lagi, tapi Ningrum menahannya dengan kuat.

“Ingat ya, Ron!” Suara Bu Sri meninggi sambil menunjuk wajah Roni dengan sapu. “Jangan dekati Nisa, apalagi sampe pacaran!”

Ningrum yang melihat amarah ibunya kian memuncak terhadap Roni langsung menarik tubuh Bu Sri menjauh.

“Kami hanya teman, Bu. Gak ada hubungan apapun.” Kata Ningrum dengan mata berkaca-kaca.

“Diam kamu!” Bu Sri beralih menatap anaknya dengan tajam. “Orang-orang bilang kalau kalian sering jalan bareng berduaan, boncengan naik motor.”

Ningrum menggeleng air matanya mulai menggenang. “Kami hanya sekedar ngobrol, Bu. Lagian Roni kan teman masa kecilku.”

“Mengobrol?” Dada Bu Sri naik turun, matanya semakin melotot. “Itu yang terlihat. Siapa tahu kalian sudah melakukan hal yang macam-macam.”

“Saya mencintai Ningrum.” Roni yang sedari tadi hanya menunduk tak berani menatap wajah Bu Sri ketika mendengar ucapan yang keterlaluan. Akhirnya memberanikan diri. “Tapi saya tidak akan melakukan hal seperti itu pada Ningrum.”

Perkataan Roni justru membuat wanita itu semakin naik pitam. Bu Sri menghempaskan tangan Ningrum yang menahannya, lalu berjalan menghampiri Roni.

“Cinta?” Bu Roni mencengkeram kerah kaos Roni yang lusuh. “Jangan bermimpi untuk bisa menikahi anakku!”

Bu Sri mendorong Roni ke belakang. Tubuh pemuda yang belum siap itu terhuyung.

Byuurr!

Roni tercebur ke dalam sungai yang untungnya airnya hanya sebatas lutut. Namun posisi jatuhnya yang terlentang cukup membuat seluruh pakaiannya basah.

Roni mengusap wajahnya yang basah berulang-ulang. Dia menatap kesal pada Bu Sri yang berdiri di tepi sungai.

“Jangan dekati anakku lagi!” Ucap Bu Sri dengan suara yang dingin penuh amarah. “Dasar pria tak punya masa depan!”

Bu Sri berbalik dan menarik tangan Ningrum dengan paksa. Langkahnya cepat, meninggalkan Roni yang masih tergenang di dalam sungai.

Setelah beberapa saat, Roni naik ke atas tepi sungai. Dia berjalan pulang ke rumah dengan wajah kesal.

Beberapa orang di desa selalu menganggap remeh pada Roni hanya karena dia miskin dan hidup sebatang kara setelah ditinggal neneknya enam bulan lalu. Sementara orang tua Roni tidak diketahui keberadaannya hingga kini.

Usut punya usut Roni hanyalah anak pungut yang dibesarkan oleh sang Nenek bernama Marni. Dia ditemukan di tengah sawah ketika bayi.

“Jika aku sukses nanti, akan aku balas semua ini!” Batin Roni penuh harap bercampur kesal.

Roni berjalan cepat menuju rumahnya. Harga dirinya hancur berkeping-keping.

“Ron!” Teriak salah satu warga ketika Roni lewat. “Air keranmu mati, kok mandi di sungai!”

“Bukan mati, pak.” Sahut ibu-ibu yang juga melihat. “Jangankan keran, sumur aja gak punya.”

Tawa-tawa merendahkan terdengar sumbang ditelinga Roni. Tangannya mengepal dengan keras, tapi dia sadar tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima ejekan itu.

Seharusnya bisa saja Roni pergi meninggalkan desa untuk mengabaikan omongan segelintir orang tersebut. Tapi permintaan terakhir sang Nenek menjadi salah satu alasan tetap bertahan.

“Jaga rumah ini, Le. Ini adalah peninggalan satu-satunya mendiang kakekmu.” Begitulah kira-kira sedikit ingatan yang diucapkan Mbah Mirna pada Roni.

Roni sudah sampai di depan rumah. Dia memandangi rumah kecil dengan halaman luas peninggalan kakeknya.

Sementara di sebelah kanan ada rumah sederhana Bu Sri yang sedikit lebih bagus dari rumahnya.

Selain itu, di sebelah kiri rumah ada rumah kosong dan yang paling bagus di antara yang lain. Rumah itu biasa digunakan Roni untuk mandi karena kamar mandinya bisa tembus lewat belakang rumah Roni.

Dengan langkah tenang seperti biasa, Roni merangsek masuk ke kamar mandi rumah kosong itu untuk mengganti baju.

Baru saja dia melepas kaos yang basah, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.

“Aaa... Kamu siapa?” Seorang wanita berteriak saat membuka pintu kamar mandi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 187 - Roni Milik Kita Bersama

    Sore itu, Roni menjemput Ajeng di toko bangunan seperti biasa. Ajeng keluar dari toko dengan wajah lelah namun tersenyum begitu melihat Roni menunggu di seberang jalan.Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng merasakan ada yang aneh, tapi ia memilih untuk tidak bertanya. Mungkin Roni hanya lelah, pikirnya. Sesampainya di kontrakan, Roni memarkir motor dan mereka berjalan menuju pintu.Namun begitu pintu terbuka, Ajeng terkejut. Desi sudah duduk di ruang tengah kontrakan mereka, dengan wajah pucat dan mata sembab. Ia menunduk, tangannya memainkan ujung seragamnya yang masih ia kenakan."Mbak Desi?" Ajeng mengerjapkan mata, bingung. "Ada apa? Kenapa kamu di sini?"Desi mengangkat kepalanya, menatap Ajeng dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku... aku perlu bicara denganmu."Ajeng menoleh pada Roni, mencari penjelasan. Tapi Roni hanya menunduk, tidak berani menatap istrinya. "Ajeng," kata Roni pelan, "duduklah. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."Ajeng menurut, duduk d

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 186 - Butuh Suami

    "Astaga... apa yang aku lakukan?" bisiknya pelan, merasakan jantungnya berdegup kencang.Roni menyentak tubuh Desi ke dalam gendongannya. Wanita itu terasa begitu ringan, hampir tanpa bobot, seolah ia hanya membawa seonggok pakaian kosong. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas memburu, ia menyusuri trotoar, matanya bergerak liar mencari sudut yang tersembunyi dari jangkauan lalu lalang jalan. Kepalanya berputar hebat memikirkan opsi. Membawa Desi ke kontrakan sama saja dengan mengantarkan diri ke tiang gantungan, namun membiarkannya tergeletak di trotoar terbuka ini jelas bukan pilihan.Di ujung gang, ia menemukan ruko kosong terbengkalai dengan pintu yang langsung terbuka saat didorong bahunya. Menyusup ke dalam ruangan gelap berdebu yang dipenuhi perabot lapuk, Roni segera membaringkan tubuh Desi di atas satu-satunya kursi panjang yang tampak masih kokoh.Roni menjulang di kegelapan, matanya terpaku pada paras Desi yang terbujur kaku tak sadarkan diri. Di tengkuk wanita itu,

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 185 - Roni Dilaporkan ke Polisi?

    Roni membeku. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti godam, menyisakan sesak yang mencekik. Ia menatap Desi, sepasang matanya bergerak liar, berusaha mencerna untaian kalimat yang baru saja telanjur lepas."Apa?" Suaranya nyaris berupa bisikan kosong.Desi menarik napas dalam, mengulangnya dengan nada yang jauh lebih tegas. "Aku hamil, Roni. Dan aku yakin ini anakmu."Seketika, dunia di sekeliling Roni terasa berputar lambat. Pandangannya jatuh pada perut Desi yang masih rata, sebelum kembali terpaku pada wajah wanita itu yang mulai menegang. "Tapi... kita cuma melakukannya sekali. Malam itu. Bagaimana bisa—""Nyatanya ini terjadi!" potong Desi. Suaranya mulai bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar. "Aku belum pernah dengan siapa pun selain kamu, Ron. Kamu yang pertama dan satu-satunya. Jadi, jangan coba-coba mengelak—ini anakmu!"Keheningan yang pekat dan menyesakkan mendadak menyelimuti pikirannya. Roni bangkit dan melangkah mundur satu tapak, seolah jarak fisik bisa menjau

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 184 - Aku hamil

    Roni duduk di tepi ranjang, masih mencerna semua yang baru saja ia dengar. Foto lama itu masih di tangannya, dan ia menatapnya sekali lagi—Dinda dan Desi, dua gadis yang tersenyum di samping ibu mereka. Dua gadis yang pernah ia tiduri tanpa tahu siapa mereka sebenarnya."Bu Gita," kata Roni pelan, "Apa Desi tahu tentang Bram?"Bu Gita mengangguk pelan, "Tentu saja tahu. Dia juga tidak setuju dengan pernikahan Dinda. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dinda sudah memilih jalannya sendiri." Ia menghela napas, "Desi tinggal di sini agar kami bisa saling melindungi dari bahaya yang dikirim oleh orang-orang yang sering meneror kami."Roni mengangguk, merasakan beban yang semakin berat. Ia menatap Bu Gita, lalu berkata dengan suara hati-hati, "Bu... tentang malam ini. Aku minta maaf. Aku tidak seharusnya—""Jangan," potong Bu Gita, mengangkat tangannya. "Jangan minta maaf. Aku yang memulai. Aku yang menggoda mu. Kau hanya merespon." Ia tersenyum tipis, "Lagipula, kau sudah menikah. Aku ta

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 183 - Tiga wanita

    "Lebih cepat... Ron... lepaskan semuanya..." Roni menuruti. Ia mempercepat gerakannya, memompa dengan ritme yang semakin liar. Tempat tidur berderit, dan Bu Gita mencengkeram punggung Roni, kukunya menggores kulit. Erangan dan desahan memenuhi kamar, bercampur dengan suara tubuh yang saling mengejar kepuasan. Bu Gita mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi Roni belum selesai. Ia terus bergerak, membuat Bu Gita mencapai puncak lagi, dan lagi. Wanita itu benar-benar kewalahan, tubuhnya lemas, suaranya habis. Setelah hampir satu jam, Roni akhirnya merasakan gelombang panas yang tak terbendung. Ia menekan lebih dalam, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Bu Gita. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, dan ia terkulai di samping wanita itu. Bu Gita berbaring diam, napasnya juga tersengal-sengal. Ia menatap Roni dengan mata yang masih sayu, lalu tersenyum tipis. "Kamu.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 182 - Ukuran yang Luar Biasa

    "Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status