LOGINRoni beringsut keluar hanya dengan celana pendek. Kaos basahnya yang belum sempat diganti hanya ia genggam di depan dadanya.
“Kamu siapa?” Tanya Roni terkejut. “Kenapa ada di sini?” Roni menatap wanita itu dengan mata membelalak seolah melihat hantu tapi yang versi cantik. Sadar akan tatapan Roni yang kurang sopan, wanita itu dengan cepat meletakkan tangannya di dada. Menutupi celah gunung yang hanya terbungkus tanktop putih dengan belahan yang rendah. “Harusnya aku yang bertanya sama kamu.” Hardik wanita itu dengan suara sedikit bergetar. Roni justru masih terpaku dan tak berkedip. Lirikan matanya turun ke bawah memperhatikan kedua kaki wanita itu yang dirapatkan sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri seperti menahan sesuatu. Pikiran Roni melayang menikmati pemandangan langka dalam hidupnya. Baru pertama kali dia melihat wanita dengan pakaian yang serba mini ada di desanya. “Mas!” Bentak wanita itu sambil tangannya mendorong Roni ke samping. “Ini rumahku, cepat pergi dari sini!” Roni tersadar dari lamunan. Sementara wanita itu sudah masuk ke dalam kamar mandi yang baru saja dipakai Roni. Dia baru ingat kalau beberapa hari yang lalu, Pak Rahmat memberikan kabar bahwa rumah yang ada di sebelah Roni akan dihuni oleh penghuni baru. Roni tak menyangka penghuni baru ternyata adalah wanita yang cantik dan seksi seperti itu. Roni hendak beranjak dari depan kamar mandi. Tapi saat kakinya akan melangkah, dirinya melupakan pakaian ganti yang masih tertinggal di dalam kamar mandi. Roni memutuskan untuk tetap berada di sana hingga wanita itu keluar, lalu mengambil bajunya. Pintu kamar mandi kembali terbuka, wanita itu keluar sambil membetulkan celana pendeknya dengan gerakan santai. Tapi ekspresi itu berubah seketika dia melihat Roni masih berdiri di dekat pintu kamar mandi. “Mas! Kenapa kamu masih di sini?” Bentak wanita itu kasar. “Ma-maaf, baju saya ketinggalan di dalam.” Jawab Roni berusaha tetap sopan. Wanita itu masih berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil menatap tubuh Roni yang bertelanjang dada. “Buset! Badannya bagus juga. Walaupun wajahnya pas-pasan.” Batin Wanita itu sekilas. Meski tubuhnya agak kurus, tapi tubuh Roni terlihat berotot dengan perut yang rata. Pekerjaan serabutannya yang berat dan kasar membentuk otot-otot itu secara alami. Suasana hening menyelimuti sesaat hingga akhirnya wanita itu menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Membiarkan Roni untuk segera lewat. “Ambil sana!” Hardik Wanita itu. “Lain kali jangan masuk rumah orang tanpa permisi.” “Maaf, Mbak. Aku lupa kalau rumah ini sudah dihuni.” Roni menggaruk kepalanya sambil masuk ke kamar mandi. “Soalnya sudah sepuluh tahun lebih rumah ini kosong.” Wanita itu masih terlihat kesal meski matanya tak lepas dari dada Roni yang sangat maskulin. “Jadi, saat rumah ini kosong kamu sering masuk ke sini?” Kata Wanita itu dengan ketus. “Kau pasti pencuri.” “Tidak, mbak, tidak.” Roni yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melambaikan tangan dengan cepat. “Lalu, kenapa kamu masuk ke sini?” Desak wanita itu. Roni diam untuk berpikir sejenak. Apa mungkin wanita ini mau memaafkannya. Atau seperti warga lain yang selalu memperbesar kesalahannya sekecil apapun. “Mas!” panggil Wanita itu melambaikan tangan berulang kali di depan wajah Roni. “Kamu tuli, ya?” “Saya bukan pencuri. Saya Roni, tinggal di rumah sebelah.” Kata Roni mengulurkan tangannya pada wanita itu. Tangannya menggantung di udara beberapa saat. Roni berpikir kalau wanita itu tak berkenan menjabat tangannya. “Pasti dia jijik untuk bersalaman denganku.” Pikir Roni dalam hati hendak menarik tangannya. Tapi dugaan Roni salah besar, wanita itu menerima uluran tangannya. “Aku Dinda, baru tadi pagi pindah ke sini.” Balasnya sambil menggenggam tangan Roni dengan lembut. Genggaman itu terasa halus, dingin dan menggetarkan. Jantung Roni sampai berdegup kencang tatkala telapak tangannya yang kasar bertemu dengan telapak Dinda yang halus. “Senang bisa berkenalan.” Kata Roni tersenyum mencoba mencairkan suasana. “Kalau butuh bantuan, mbak Dinda bisa minta tolong sama saya.” Dinda mengernyitkan dahi seolah masih belum sepenuhnya percaya dengan pria yang menyelinap ke kamar mandinya. “Memangnya kamu bisa bantu apa?” kata Dinda akhirnya dengan nada sedikit meremehkan. “Bantu apa saja, Mbak.” Roni menggosok tengkuk lehernya. “Asal bermanfaat.” “Lain kali saja. Sekarang gak butuh.” Balas Dinda sambil melangkah meninggalkan Roni. Roni masih memandangi setiap langkah Dinda yang masuk ke dalam rumah. Gerakan kakinya membuat bongkahan di atas paha wanita itu memantul seperti bola air. Roni tersenyum-senyum sendiri sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Sesekali dia menghirup telapak tangannya sendiri seolah ada jejak aroma harum yang tertinggal dari Dinda. Roni bergumam pelan. “Sayangnya, dia tak mungkin suka sama pria sepertiku.”"Lebih cepat... Ron... lepaskan semuanya..." Roni menuruti. Ia mempercepat gerakannya, memompa dengan ritme yang semakin liar. Tempat tidur berderit, dan Bu Gita mencengkeram punggung Roni, kukunya menggores kulit. Erangan dan desahan memenuhi kamar, bercampur dengan suara tubuh yang saling mengejar kepuasan. Bu Gita mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi Roni belum selesai. Ia terus bergerak, membuat Bu Gita mencapai puncak lagi, dan lagi. Wanita itu benar-benar kewalahan, tubuhnya lemas, suaranya habis. Setelah hampir satu jam, Roni akhirnya merasakan gelombang panas yang tak terbendung. Ia menekan lebih dalam, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Bu Gita. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, dan ia terkulai di samping wanita itu. Bu Gita berbaring diam, napasnya juga tersengal-sengal. Ia menatap Roni dengan mata yang masih sayu, lalu tersenyum tipis. "Kamu.
"Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya
Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron
Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya
Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la







