مشاركة

Bab 2 - Bola Air

مؤلف: Frands
last update تاريخ النشر: 2026-07-07 13:46:34

Roni beringsut keluar hanya dengan celana pendek. Kaos basahnya yang belum sempat diganti hanya ia genggam di depan dadanya.

“Kamu siapa?” Tanya Roni terkejut. “Kenapa ada di sini?”

Roni menatap wanita itu dengan mata membelalak seolah melihat hantu tapi yang versi cantik.

Sadar akan tatapan Roni yang kurang sopan, wanita itu dengan cepat meletakkan tangannya di dada. Menutupi celah gunung yang hanya terbungkus tanktop putih dengan belahan yang rendah.

“Harusnya aku yang bertanya sama kamu.” Hardik wanita itu dengan suara sedikit bergetar.

Roni justru masih terpaku dan tak berkedip. Lirikan matanya turun ke bawah memperhatikan kedua kaki wanita itu yang dirapatkan sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri seperti menahan sesuatu.

Pikiran Roni melayang menikmati pemandangan langka dalam hidupnya. Baru pertama kali dia melihat wanita dengan pakaian yang serba mini ada di desanya.

“Mas!” Bentak wanita itu sambil tangannya mendorong Roni ke samping. “Ini rumahku, cepat pergi dari sini!”

Roni tersadar dari lamunan. Sementara wanita itu sudah masuk ke dalam kamar mandi yang baru saja dipakai Roni.

Dia baru ingat kalau beberapa hari yang lalu, Pak Rahmat memberikan kabar bahwa rumah yang ada di sebelah Roni akan dihuni oleh penghuni baru. Roni tak menyangka penghuni baru ternyata adalah wanita yang cantik dan seksi seperti itu.

Roni hendak beranjak dari depan kamar mandi. Tapi saat kakinya akan melangkah, dirinya melupakan pakaian ganti yang masih tertinggal di dalam kamar mandi.

Roni memutuskan untuk tetap berada di sana hingga wanita itu keluar, lalu mengambil bajunya.

Pintu kamar mandi kembali terbuka, wanita itu keluar sambil membetulkan celana pendeknya dengan gerakan santai. Tapi ekspresi itu berubah seketika dia melihat Roni masih berdiri di dekat pintu kamar mandi.

“Mas! Kenapa kamu masih di sini?” Bentak wanita itu kasar.

“Ma-maaf, baju saya ketinggalan di dalam.” Jawab Roni berusaha tetap sopan.

Wanita itu masih berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil menatap tubuh Roni yang bertelanjang dada.

“Buset! Badannya bagus juga. Walaupun wajahnya pas-pasan.” Batin Wanita itu sekilas.

Meski tubuhnya agak kurus, tapi tubuh Roni terlihat berotot dengan perut yang rata. Pekerjaan serabutannya yang berat dan kasar membentuk otot-otot itu secara alami.

Suasana hening menyelimuti sesaat hingga akhirnya wanita itu menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Membiarkan Roni untuk segera lewat.

“Ambil sana!” Hardik Wanita itu. “Lain kali jangan masuk rumah orang tanpa permisi.”

“Maaf, Mbak. Aku lupa kalau rumah ini sudah dihuni.” Roni menggaruk kepalanya sambil masuk ke kamar mandi. “Soalnya sudah sepuluh tahun lebih rumah ini kosong.”

Wanita itu masih terlihat kesal meski matanya tak lepas dari dada Roni yang sangat maskulin.

“Jadi, saat rumah ini kosong kamu sering masuk ke sini?” Kata Wanita itu dengan ketus. “Kau pasti pencuri.”

“Tidak, mbak, tidak.” Roni yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melambaikan tangan dengan cepat.

“Lalu, kenapa kamu masuk ke sini?” Desak wanita itu.

Roni diam untuk berpikir sejenak. Apa mungkin wanita ini mau memaafkannya. Atau seperti warga lain yang selalu memperbesar kesalahannya sekecil apapun.

“Mas!” panggil Wanita itu melambaikan tangan berulang kali di depan wajah Roni. “Kamu tuli, ya?”

“Saya bukan pencuri. Saya Roni, tinggal di rumah sebelah.” Kata Roni mengulurkan tangannya pada wanita itu.

Tangannya menggantung di udara beberapa saat. Roni berpikir kalau wanita itu tak berkenan menjabat tangannya.

“Pasti dia jijik untuk bersalaman denganku.” Pikir Roni dalam hati hendak menarik tangannya.

Tapi dugaan Roni salah besar, wanita itu menerima uluran tangannya.

“Aku Dinda, baru tadi pagi pindah ke sini.” Balasnya sambil menggenggam tangan Roni dengan lembut.

Genggaman itu terasa halus, dingin dan menggetarkan. Jantung Roni sampai berdegup kencang tatkala telapak tangannya yang kasar bertemu dengan telapak Dinda yang halus.

“Senang bisa berkenalan.” Kata Roni tersenyum mencoba mencairkan suasana. “Kalau butuh bantuan, mbak Dinda bisa minta tolong sama saya.”

Dinda mengernyitkan dahi seolah masih belum sepenuhnya percaya dengan pria yang menyelinap ke kamar mandinya.

“Memangnya kamu bisa bantu apa?” kata Dinda akhirnya dengan nada sedikit meremehkan.

“Bantu apa saja, Mbak.” Roni menggosok tengkuk lehernya. “Asal bermanfaat.”

“Lain kali saja. Sekarang gak butuh.” Balas Dinda sambil melangkah meninggalkan Roni.

Roni masih memandangi setiap langkah Dinda yang masuk ke dalam rumah. Gerakan kakinya membuat bongkahan di atas paha wanita itu memantul seperti bola air.

Roni tersenyum-senyum sendiri sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Sesekali dia menghirup telapak tangannya sendiri seolah ada jejak aroma harum yang tertinggal dari Dinda.

Roni bergumam pelan. “Sayangnya, dia tak mungkin suka sama pria sepertiku.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 136 - Target Pencarian

    Bu Loly mendekat ke arah Roni dengan langkah pelan, matanya menatap pria yang terikat di kursi itu dengan tatapan yang sulit dibaca. Tanpa berkata-kata, ia meraih ujung kemeja Roni dan merobeknya dengan kasar, membuat kain itu terkoyak hingga lepas.SREEEKKK!!! Roni tidak protes. Ia hanya diam, menganggap ini adalah bagian dari permainan yang ia setujui.Bu Loly terus merobek celana Roni, hingga hanya menyisakan celana dalam hitam yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Kemudian, ia berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah ember kecil berisi air, dan kembali mendekati Roni. Tanpa peringatan, ia mengguyurkan air dingin itu ke seluruh tubuh Roni.PYAAARR!!Roni tersentak, tubuhnya menggigil karena air dingin yang mengalir di kulitnya. Ia menatap Bu Loly, "Apa ini bagian dari permainan, Bu Loly?"Bu Loly tersenyum, tapi matanya tajam, "Ini bagian dari hukuman, Roni. Aku tahu kau sedang menyelidiki bisnisku. Mencari tahu tentang pengiriman tenaga kerja ke kota. Tentang orang yang berna

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 135 - Permainan Tali

    Ia mengikuti Bu Loly menyusuri lorong menuju ruangan yang pernah ia datangi sebelumnya. Begitu pintu tertutup, Bu Loly menunjuk kursi di hadapan mejanya. "Silakan duduk." Ujar Bu Loly. Roni duduk dengan hati-hati, menunggu Bu Loly memulai. Wanita itu duduk di balik meja, menyilangkan tangannya dengan santai. "Aku tahu kau datang ke sini bukan hanya untuk pijat, Roni," kata Bu Loly dengan nada tenang. "Aku curiga kenapa kau memilih terapis jika hanya pijat biasa? Ada sesuatu yang kau cari, dan aku penasaran apa itu?" Roni menatap Bu Loly, berusaha membaca ekspresinya. Wanita ini lebih tajam dari yang ia kira. "Aku hanya mencari informasi, Bu. Tentang masa lalu seseorang." Kata Roni jujur. Bu Loly tersenyum, "Apa yang kau maksud adalah masa lalu Dita?" Roni terdiam, dan Bu Loly melanjutkan, "Aku tahu banyak hal, Roni. Aku tahu kau sedang menyelidiki tentang anak yang dijual di desamu. Dan aku tahu bahwa kau juga menyelidiki tentang penyaluran tenaga kerja wanita di desam

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 134 - Firasat Tak Enak

    Namun saat ini, ia tidak ingin terburu-buru. Ada waktu untuk itu nanti. Kini, yang ia rasakan hanyalah kehangatan tubuh Dita yang bergerak di atasnya, dan ia memilih untuk menikmati momen ini sepenuhnya. Dita terus bergerak dengan ritme yang semakin cepat, tubuhnya bergoyang liar di atas Roni. Erangan dan desahan mulai keluar dari bibirnya, dan Roni merasakan setiap getaran yang ia hasilkan. "Kau... kau benar-benar membuatku kehilangan kendali, Roni," bisik Dita di antara desahannya. Roni menggenggam pinggangnya, membantunya mengatur irama, "Aku tahu. Dan aku suka melihatmu seperti ini." Dita menunduk, mencium Roni lagi, "Aku tidak pernah menyangka... kau akan sekuat ini." Roni membalas ciumannya, "Aku tahu masa lalumu, Gendhis." Dita mendengar namanya dipanggil, dan ada getaran aneh di hatinya. "Kau... kau memanggilku dengan nama itu lagi," katanya pelan, "seolah-olah kau mengenalku." Roni tersenyum, "Mungkin aku memang mengenalmu. Tapi itu cerita untuk nanti." Ia m

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 133 - Siapa Nama Lengkapmu?

    Roni tersenyum mendengar ucapan Dita yang terkesan meremehkan. Dengan gerakan santai, ia menurunkan celana dalamnya, lalu berbaring kembali di ranjang pijat, menatap langit-langit dengan ekspresi tenang. "Baik, Mbak Dita. Aku hanya akan berbaring dan menikmati," katanya dengan nada santai. "Tapi aku yakin, pada akhirnya kau sendiri yang akan meminta agar barang ini masuk ke tubuhmu." Dita mendengus kesal. "Kau terlalu percaya diri. Aku sudah bilang, aku hanya akan mengocoknya dan itu saja. Tidak lebih." Roni tertawa kecil, "Kita lihat saja nanti, Mbak Dita." Dita menggigit bibirnya, merasakan amarah yang bercampur dengan rasa penasaran yang aneh. Ia mulai menggerakkan tangannya di atas batang Roni, mencoba fokus pada tugasnya, tapi kata-kata Roni terus berputar di kepalanya. Roni, di sisi lain, hanya tersenyum puas. Ia tahu, permainan baru saja dimulai. Dita terus menggerakkan tangannya di atas batang Roni, mencoba tetap fokus pada tugasnya. Namun semakin lama, semakin su

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 132 - Nggak Lebih!

    Roni merasakan amarah mulai memanas, tapi ia menahan diri. "Aku tidak mau memperpanjang masalah. Kau bisa memijatku, atau aku akan melapor pada Bu Loly bahwa kau menolak melayani pelanggan yang sudah membayar." Dita terdiam, menatap Roni dengan tatapan tajam. Akhirnya, dengan setengah hati, ia berkata, "Baiklah. Buka bajumu." Roni mulai membuka kemeja dan celananya, hanya menyisakan celana dalam. Ia menatap Dita, "Apa aku perlu membuka celana dalam juga?" Dita melemparkan handuk ke arahnya, "Jika kau mau burungmu dipotong, silakan saja." Roni tersenyum, tidak terpengaruh dengan sarkasme Dita. Ia mengambil handuk dan menutupi tubuhnya dengan tenang, siap untuk memulai sesi pijat yang penuh ketegangan ini. Dita menghela napas panjang, lalu mulai menuangkan minyak ke telapak tangannya. Dengan gerakan yang kaku dan tanpa semangat, ia mulai memijat punggung Roni. "Kau tahu," katanya sambil memijat dengan tekanan yang agak keras, "aku tidak suka melayani orang yang sok kaya sep

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 131 - Dita? Nama yang Tidak Ia Kenal

    "Ah... Ron..." desah Bu Arum, kepalanya menengadah, "kau benar-benar berbeda. Aku suka ini." Roni tidak menjawab, ia terus bergerak, menikmati setiap erangan yang keluar dari bibir Bu Arum. Beberapa jam berlalu, dan ketika semuanya selesai, mereka berbaring dalam pelukan. Roni tersenyum puas, sementara Bu Arum menatapnya dengan kagum. "Kau benar-benar pria yang luar biasa, Ron," bisik Bu Arum, "Aku tidak akan pernah bosan denganmu." Roni mencium keningnya, "Aku juga, Bu. Tapi sekarang, aku harus mencari Gendhis." Bu Arum mengangguk, "Semoga kau beruntung, Ron." Roni melangkah keluar dari rumah Bu Arum dengan langkah ringan, masih merasakan kepuasan yang membara. Namun begitu ia mencapai jalan setapak menuju rumahnya, pikirannya tiba-tiba melayang ke malam itu—malam di Royal Relaxation Spa. Roni berhenti, matanya membelalak. Ia teringat jelas wajah salah satu terapis di sana yang memiliki tahi lalat di dagunya. Roni menggenggam erat dagunya, memori itu semakin jelas.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status