Masuk"Kakek, semalam Lea menginap di sini," ucap Zayn yang melihat ketegangan di ruang itu. Ia mendekat lalu bicara lebih dulu sebelum Azalea menjawab wajah penuh tanya Adinata. "Kenapa dia yang menginap? Kemarin Alya yang minta izin tidur di sini." Adinata menghela napas, kepala tuanya berpikir kalau keadaan rumah Marvel buruk hingga putri-putrinya memilih pergi dan menginap di lain tempat. "Kakek, untuk sementara tolong biarkan Lea tinggal di sini," pinta Zayn dengan wajah serius. Pemuda itu tampak memohon meski tidak menjelaskan secara detail apa masalah mereka. "Memang kenapa? Dia kan punya orang tua, biarkan dia pulang." Adinata tampak enggan berurusan. Jujur saja soal anak itu--Azalea sebelumnya Adinata pernah berdebat dengan Marvel, kehadiran Azalea di tengah keluarga mereka kemungkinan akan menimbulkan beberapa konflik. Dan ini terjadi juga. Bagaimanapun Adinata adalah orang tua Marta--wanita yang sudah Marvel sakiti, kehadiran Azalea di tengah mereka tentu membuat sakit
Azalea mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya remang di sekelilingnya. Kepalanya masih terasa agak berat, tetapi tak semenyakitkan sebelumnya. Pipi yang tadi berdenyut ngilu pun kini terasa jauh lebih dingin dan mendingan.Ia mendudukkan diri pelan-pelan, mengamati sekitar dengan kening berkerut. Ruangan ini begitu hangat dan nyaman, jelas bukan sel penjara yang lembap, apalagi kamarnya di rumah Marvel.Sadar bahwa ia tak lagi berada di balik jeruji besi, Azalea makin kebingungan."Sudah bangun?"Suara berat dan hangat milik Zayn memecah keheningan. Azalea tersentak kecil, menoleh dan menemukan Zayn sedang duduk bersedekap di sofa tepat di samping ranjang."Z-Zayn...?""Kamu tidur cukup lama," ucap Zayn pelan. Pemuda itu bangkit, mengikis jarak lalu duduk di tepi ranjang.Jemari Zayn yang hangat terulur menangkup pipi Azalea dengan lembut. Usapan pelannya seolah ingin mengikis sisa memar dan rasa sakit dari tempat itu."Zayn... kamu yang membawaku kelu
"Alya, apa yang sebenarnya kamu lakukan?!" sentak Marvel tajam. Suasana di rumah mendadak hening begitu mobil polisi berlalu membawa Azalea, namun ketegangan yang tertinggal di ruang tengah masih terasa mencekam. Sejak awal Alya sudah sangat siap jika dimarahi oleh sang ayah, jadi gadis itu tetap berdiri santai dengan raut wajah polos tanpa dosa. "Seperti yang Ayah dengar tadi. Lea melakukan kekerasan padaku, jadi aku melaporkannya ke polisi," jawab Alya santai, yang jelas saja membuat napas Marvel kian memburu menahan geram. "Kenapa tidak bicara pada Ayah dulu?! Kamu sengaja ingin menjebak Lea? Membuat namanya buruk di depan umum?! Apa kamu tidak sadar kalau masalah ini juga akan berimbas pada reputasi Ayah?!" "Sudahlah. Anggap saja ini masalah anak muda. Lagipula Lea juga salah, kenapa dia harus main tangan—" "Diam kamu!" bentak Marvel pada Marta yang mencoba menyela. Pria itu sungguh tidak terima. Bagaimanapun juga, di sini yang dirugikan bukan hanya Lea, melai
Diam-diam Naura menggunakan kamera ponselnya untuk memotret momen keakraban Azalea dan Zayn dari celah pintu yang terbuka. Tanpa membuang waktu, dia lantas mengirimkan foto tersebut kepada Alya.[Sekarang semuanya bersimpati pada gadis beasiswa itu. Bahkan Varan dan Varel yang baru pindah saja sangat perhatian padanya. Belum lagi Haikal yang makin gencar mengejar Lea.]Naura sengaja memprovokasi dan melebih-lebihkan fakta hanya agar Alya mau bergerak di sisinya.Ia masih berdiri tak jauh dari ruang kesehatan saat melihat Haikal hendak lewat. "Mau ke mana?""Kamu tahu Lea mengalami musibah, kan? Aku cuma ingin menjenguknya. Sekadar formalitas agar Ayah tahu aku perhatian," ujar Haikal dingin.Mendengarnya, ekspresi Naura makin memburuk. "Zayn masih ada di dalam. Dia tidak akan membiarkan siapa pun masuk, apalagi kamu."Haikal mematung, menatap sekilas ke arah pintu ruang kesehatan. Apa yang dikatakan Naura memang ada benarnya—selama ada Zayn di sana, ia tidak akan punya celah.
Zayn membanting pintu ruang kesehatan hingga tertutup rapat, memutus hiruk-pikuk Sport Day di luar. Dokter sekolah yang bertugas segera memeriksa pergelangan kaki Azalea yang membengkak.Sesuai prosedur penanganan cedera akut, dokter sama sekali tidak memijat pergelangan kaki gadis itu. Sebagai gantinya, ia memberikan kompres es batu untuk meredakan peradangan, membalutnya rapat dengan perban elastis, serta menyejajarkan posisi kaki Azalea agar lebih tinggi dari dada."Beruntung tidak ada patah tulang, hanya terkilir," pangkas dokter sekolah seraya merapikan peralatan medisnya. "Jangan memijat atau menekan area ini dulu. Biarkan terbebas dari beban selama beberapa hari. Saya sudah siapkan pereda nyeri."Setelah dokter berpamitan keluar, ruangan seketika hening.Azalea menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Kaki kanannya yang terbalut rapi tersangga di atas bantal tinggi. Di samping ranjang, Zayn duduk bersedekap di atas kursi besi. Pemuda itu membisu, namun tatapan matanya
"Tante? Maksudku, Ibu? Ibu baru pulang?" jawab Azalea gugup, untung ia masih bisa mengendalikan diri tidak sampai memekik. "Tadi, aku baru saja berjalan-jalan di taman menghirup udara segar, Bu. Ini baru masuk." Azalea mencari alasan, di ruang tengah Marvel dan Alya pun ikut menoleh, beruntung mereka tidak curiga. "Oh." Marta lalu melangkah lagi, saat melewati ruang tengah Alya menyambutnya. "Ibu," panggil Alya manja, namun disahuti dengan wajah lelah Marta. "Ibu pasti lelah, kenapa jadi sering lembur?""Ada yang memesan gaun pengantin, desainnya cukup rumit jadi Ibu harus bekerja ekstra karena tenggat waktunya tinggal seminggu lagi." Alya mengangguk-anggukkan kepala. "Oh, baiklah. Kalau begitu istirahatlah Ibu, jangan sampai Ibu kecapekan." Gadis itu berhenti di dekat tangga setelah ibunya naik ke arah kamar. Marvel yang tadi masih duduk di sofa ikut beranjak, ia menyusul Marta ke kamar. Sebelum itu ia kembali memperingatkan Alya dengan tatapan penuh arti. Alya menghela napas,
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan







