LOGINAzalea melongo, mencerna ucapan Jeje dengan tatapan polos. Setelah beberapa detik tertegun, ia menggeleng pelan, merasa tidak yakin."Dia mengklaimku sebagai miliknya hanya sebagai babu," ujar Azalea dengan raut cemberut. "Apa menurutmu ada cinta di sana?"Jeje mendengus geli melihat betapa polosnya sahabat di hadapannya ini. Ia menyandarkan punggung ke kursi lalu melipat kedua tangan di dada."Babu mana yang diajak menginap di apartemen? Babu mana yang tangannya dikecup dengan manis begitu?" cerocos Jeje gemas. "Lea, bangun! Kalau Zayn cuma menganggapmu babu, dia bakal menyuruh orang lain untuk mengurus semua kebutuhannya. Tapi dia maunya cuma kamu!"Azalea mengulum bibirnya rapat-rapat. Logikanya mencoba menolak, tetapi detak jantungnya kembali berdegup kencang mengingat perlakuan Zayn tadi. "Tapi kami memang tidak berpacaran, Je. Zayn juga tidak pernah bilang kalau dia menyukaiku," cicit Azalea pelan seraya memainkan sedotan di gelasnya."Laki-laki seperti Zayn itu bertinda
"Dan satu lagi--" Zayn masih bicara. Permintaannya serius. "Di sana, kamu tetap harus jadi 'babu'-ku," tambah Zayn dengan nada santai tanpa dosa. Tangannya bergerak mengusap pelan rambut pendek Azalea yang sudah tertata rapi. Azalea melotot lebar, refleks menepuk bahu tegap Zayn cukup keras penuh protes. "Zayn! Kamu banyak maunya!""Oh, ya?" Zayn menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura berpikir. "Jangan harap bisa langsung pulang kalau aku masih ingin bertahan satu atau dua hari di pulau itu," bisiknya lagi. "Kamu benar-benar sewenang-wenang!" gerutu Azalea seraya mengerucutkan bibirnya sebal. Namun, ia tidak bisa memungkiri ada rasa hangat yang mendesir di dadanya. Cara Zayn mengusulkan hal itu menyiratkan bahwa pemuda itu sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama berdua bersamanya. Zayn terkekeh puas melihat wajah cemberut Azalea yang menggemaskan. Ia merengkuh pinggang Azalea lebih erat, mengikis jarak hingga dahi mereka saling menempel pelan."Bagaimana? Dea
Azalea tidak memperpanjang celotehan Varel dan memilih langsung beranjak menuju ruang dewan siswa.Begitu sampai di depan pintu berpelitur gelap itu, pintunya mendadak terbuka dari dalam. Pak Heru-- sang pembina keluar dengan membawa beberapa berkas. Azalea yang terkejut buru-buru menghentikan langkahnya dan membungkuk sopan."Selamat siang, Pak Heru," sapa Azalea ramah."Siang, Azalea. Kebetulan sekali, Zayn masih ada di dalam," ujar Pak Heru mengangguk pelan sebelum melangkah meninggalkan koridor.Azalea menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Di ruangan yang tenang itu, Zayn tampak terduduk. Mendengar langkah kaki mendekat, pemuda itu mendongak. Begitu menyadari siapa yang datang, raut wajah Zayn berubah datar dan tak acuh, meski tatapan matanya menancap tajam, seolah siap menuntut penjelasan atas pesan singkatnya yang diabaikan semalam.Paham betul arti tatapan itu, Azalea langsung melancarkan aksi penyelam
Azalea mengangguk, ia terkekeh pelan sembari berbalik menjauh. Ia mendekati anak-anak lagi setelah mobil Zayn melaju pergi. Azalea merasa pilihannya cukup tepat, berada di panti membuatnya tidak perlu merasa kesepian. Di sana ada banyak anak-anak lucu yang menemaninya. Gadis itu juga mendapat kamar yang cukup nyaman, ruangannya terpisah dari tempat tidur anak-anak panti. Malamnya Azalea belajar, mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.Ponsel di mejanya bergetar, ada pesan masuk, namun Azalea yang tanggung ingin merampungkan tugasnya memilih untuk tidak melihatnya dulu. Hingga jam menunjuk pukul sepuluh, Azalea baru selesai. Ia meraih ponselnya, ingin mengecek pesan namun ternyata ponsel itu mati kehabisan baterai. Pantas saja tadi hanya bergetar sekali. Azalea mengambil charger dan mengisi dayanya lebih dulu. Niatnya ia menunggu beberapa menit untuk menyalakan ponselnya, tapi rasa kantuk itu tidak tertahan. Tanpa menunggu Azalea menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan mat
Azalea menarik napas panjang, berusaha menata detak jantungnya yang mendadak berantakan. Takut hadiah dari sahabatnya benar-benar melayang.Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling sekali lagi, memastikan situasi di panti benar-benar aman dan tidak ada yang memperhatikan mereka.Dengan cepat, Azalea memutar tubuh dan memanjat masuk melalui pintu kemudi, lalu buru-buru menarik pintu hingga tertutup rapat agar tidak terlihat dari luar.Melihat reaksi pasrah Azalea, Zayn dengan sigap menekan tombol di samping kursinya, memundurkan dan mencondongkan kursi kemudi jauh ke belakang untuk memberikan ruang yang lapang. Tanpa memberi kesempatan Azalea berpikir dua kali, Zayn menarik pinggang gadis itu hingga Azalea kini duduk tepat di pangkuannya.Azalea memposisikan tubuhnya menghadap Zayn secara penuh. Kedua lututnya ditekuk mengapit pinggul Zayn, sementara kedua telapak kakinya menapak santai di bagian sisi lantai mobil. Posisi itu membuat tubuh mereka saling terkunci dalam jarak
Zayn melihatnya sekilas, namun ia tak acuh. Ia meraih tangan Azalea dan menggenggamnya. "Biarkan saja, mungkin Pak Marvel hendak memohon belas kasih agar tidak didepak dari rumah sakit." Azalea tersenyum getir, raut wajahnya tidak banyak berubah. Tentu bukan karena ia senang melihat lelaki brengsek itu jatuh, hanya saja Azalea mungkin sudah mati rasa. Apa pun yang terjadi pada ayahnya, bukan urusannya lagi. Zayn melanjutkan perjalanan, sampai di panti ada anak-anak dan pengurus yayasan yang menyambut Azalea, terutama Renata. "Hai, Lea, bagaimana kabarmu?" Wanita paruh baya itu langsung menyapa dengan ramah. Ia mungkin masih tidak menyangka jika Zayn akan membawanya ke sini, dan gadis itu bersedia untuk membantu setiap kegiatan di panti. Sejak awal Renata lihat ada yang berbeda dari tatapan Zayn untuk Azalea, ia jadi ingat saat pertama kali Zayn datang membawa Azalea, pemuda itu bilang Azalea istimewa. Renata mengartikan jika gadis itu mungkin berkebutuhan khusus seperti anak lai
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd







