LOGINRaven dan Azalea sama-sama tersentak mendengar celetukan Zayn itu. Anak-anak panti yang tadinya fokus mendengarkan dongeng pun langsung menoleh, menatap Zayn dengan mata membulat polos. "Satu ekor buaya lagi?" tanya salah satu anak laki-laki di barisan depan dengan polos. "Buaya yang mana, Kak Zayn?" Zayn membusungkan dadanya, berusaha tampil percaya diri meski raut wajahnya masih tampak agak kaku. Tanpa ragu, ia mengambil dua langkah maju, berdiri tepat di sebelah Azalea dan sengaja sedikit menggeser posisi Raven agar bergeser ke samping. "Ish--" Raven mencebik sengit namun berusaha bersikap baik di depan anak-anak. Ia kembali menegapkan tubuh. "Buaya yang paling besar dan paling seram di tengah sungai," jawab Zayn dengan nada dibuat-buat dramatis. Tangan kanannya terangkat, memperagakan moncong buaya besar yang siap menyambar, lengkap dengan raungan pelan yang membuat anak-anak mendadak bersorak heboh. "GRRRR... buaya ini galak banget, nggak ada yang berani lewat!" Azal
Raven mencebik pelan, memutar bola matanya malas. Batinnya Zayn benar-benar seperti anjing penjaga yang galak, apalagi tatapan tajam padanya itu, ish seperti sedang mengawasi dan menjadikan Raven target yg perlu diwaspadai. Berbuat salah sedikit saja pasti bakal kena gigit. "Lea, mau ke mana?" tanya Raven saat melihat Azalea hendak berjalan. "Aku ingin membantu yang lain," ujar gadis itu saat melihat beberapa anak yang sudah diperiksa berlari-lari lupa aturan. Tanpa bicara Raven menyusul. Zayn yang melihatnya langsung menghentikan tindakan dokter Syam. Ia ikut berdiri. "Tunggu. Aku ikut!" "Ini belum selesai—" panggil Syam, tapi Zayn sama sekali tak memedulikannya. Ia langsung melepas paksa manset tensimeter dari tangannya hingga kabelnya meliuk-liuk, lalu mengejar dua orang di depannya.Azalea yang menyadari Zayn mengekor dari belakang langsung menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. "Zayn, kamu mau ngapain sih? Bukankah pemeriksaan belum selesai? Lebih baik selesaikan dulu.
"Z-Zayn... emgh," gumam Azalea di sela pasokan napasnya yang menipis, matanya membelalak menatap wajah Zayn yang begitu dekat.Di lorong panti yang sepi itu, napas mereka beradu cepat. Zayn menyerap seluruh rontaan Azalea, seolah ingin menegaskan dan menandai kembali hak kepemilikannya yang sempat ia rasa terancam oleh kehadiran Raven dan kerumitan skandal keluarga Adinata.Azalea terus meronta dalam kungkungan Zayn. Amarah dan rasa tidak terima diperlakukan seperti ini memuncak di ubun-ubunnya. Merasa tenaganya tak sebanding untuk mendorong Zayn, Azalea akhirnya mengambil tindakan nekat. Di tengah pagutan paksa itu, Azalea menggigit bibir bawah Zayn dengan keras."Argh!"Zayn mengerang kesakitan, refleks melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Azalea dan mundur selangkah. Tangannya langsung terangkat menyentuh bibirnya yang berdenyut perih. Saat jari-jarinya dijauhkan, tampak noda darah segar menghiasi ujung jarinya dan membasahi sudut bibirnya.Azalea terengah-engah
Azalea yang masih terkejut hanya bisa mengerjapkan mata, posisinya begitu dekat hingga ia bisa merasakan detak jantung Raven. Dari kejauhan, Zayn yang sejak tadi terus mengawasi gerak-gerik Azalea menangkap adegan itu secara utuh. Sorot mata Zayn membeku— kepalan tangannya di samping tubuh mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Syam yang juga menyaksikan adegan itu langsung berdeham pelan, memecah kecanggungan yang sempat menggantung. Senyum jail terukir di sudut bibir dokter muda itu saat menatap adiknya. "Ehem! Raven, itu anak orang jangan dipeluk dan ditekan erat, nanti dikira mau ngajak gulat," ledek Syam terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Raven. Sontak, pipi Raven memerah secara spontan. Ia buru-buru melepaskan sanggaan tangannya dari punggung Azalea dan mundur setengah langkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, Lea. Tadi refleks banget," gumam Raven canggung, menyembunyikan rasa salah tingkahnya di depan sang kakak. Azalea de
Zayn menahan napas. Respons Alya yang begitu tenang dan justru menyetujui tawaran pemeriksaan medis di tempat membuat jantungnya berdegup kencang. Marta dan Adinata pun tak kalah gugup. Ada raut kebingungan di benak Azalea ketika memperhatikan satu per satu orang di dekatnya. Ia lihat ketegangan pada anggota keluarga Adinata, sedangkan Alya begitu tenang seolah seolah menantikan itu. Jika Alya memang hamil, mengapa gadis itu begitu percaya diri untuk diperiksa oleh tim medis panti saat ini juga? Siapa yang menghamilinya? Perasaan Azalea semakin tidak enak. Marta mempererat genggamannya pada bahu Alya. Matanya bergerak gelisah, berusaha melemparkan kode panik ke arah Adinata."Tidak perlu," potong Adinata dengan suara berat yang sengaja ditinggikan, mengambil alih kendali penuh atas situasi yang mulai liar di depan kamera media. "Fasilitas medis di panti ini ditujukan untuk anak-anak, bukan untuk pemeriksaan khusus. Marta, bawa Alya istirahat di ruang pengurus dulu. Nanti setel
"Alya, aku sangat sibuk. Kalau kamu menahanku hanya untuk bicara tak penting, lebih baik menyingkir," ucap Azalea tegas, menatap Alya tanpa ragu sedikit pun.Ia lalu kembali melangkah. Karena Alya berdiri memblokir jalannya, Azalea mendorong pelan lengan gadis itu agar bisa lewat. Namun, secara tak terduga, Alya justru memanfaatkan dorongan kecil itu untuk sengaja menjatuhkan diri ke lantai."Ah! Kenapa kamu mendorongku, Lea?!" pekik Alya.Suara pekikannya sengaja dibuat keras untuk menarik perhatian semua orang. Seketika, keriuhan di panti berhenti. Sorot kamera wartawan yang tadinya meliput acara langsung beralih ke arah mereka.Para tamu, sukarelawan, hingga Adinata mendekat. Mereka menjadikan Alya dan Azalea pusat perhatian. Alya terduduk di lantai sambil memegangi perutnya dengan raut wajah kesakitan—menampilkan akting teraniaya yang sempurna di depan media.Azalea mematung di tempatnya. Ia sama sekali tak menyangka Alya nekat bermain drama semenjijikkan ini di depan banya
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan







