Share

BAB 111

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-07-03 12:32:49

Sintya menggoda Heri dengan tatapan menggodanya yang hanya mengenakan bikini itu. Ia menyandarkan bahunya di bingkai pintu kaca balkon, sengaja meliukkan sedikit tubuhnya hingga mengekspos lekuk pinggang yang begitu matang di bawah siraman cahaya fajar. Sepasang matanya yang sayu berkedip perlahan, memancarkan binar nakal yang secara instan meruntuhkan sisa-sisa argumen logis di dalam kepala Heri.

Melihat umpan yang begitu memikat di depan matanya, Heri tidak membuang waktu. Ia melangkah mendek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 173

    Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam menembus bukit, sorot lampu mobil akhirnya menyoroti bangunan hotel berbintang yang berdiri megah di kawasan destinasi wisata desa.Heri mematikan mesin, memutari mobil dengan langkah taktisnya yang mantap, lalu membukakan pintu untuk Sintya.Lengan kekarnya langsung merangkul pinggang ramping wanitanya, mengikat Sintya rapat di sisinya seolah memproklamirkan dominasi penuh sebelum mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis area lobby.Atmosfer lobby yang dingin dan tenang mendadak berubah mencekam saat Heri menghentikan langkah tepat di depan meja receptionist.Seorang wanita ber-seragam penginapan dengan riasan tipis mendongak.Namun, begitu pandangan wanita itu bertubuh dengan sosok Heri, raut wajahnya seketika berubah keruh. Tatapan matanya tajam, memancarkan sengatan kebencian dan keangkuhan yang sangat pekat.Heri mematung. Otot-otot di sepanjang rahang tegapnya mengetat drastis.Sepasang mata elangnya membeku, membalas tatapan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 172

    "Selamat malam, Pak Adit," sapa Sintya langsung pada intinya begitu panggilan diangkat."Saya mau minta tolong diuruskan pendaftaran sekolah SMP paling bagus dan paling elite di daerah Jakarta Selatan, yang posisinya paling dekat sama apartemen saya."Dari seberang telepon, suara Pak Adit terdengar siap sigap. "Baik, Ibu Sintya. Untuk data calon siswanya bagaimana?""Atas nama Nathan Hermawan," sahut Sintya sembari mengulas senyum tipis, membayangkan wajah ceria anak tunggal Heri."Semua berkas kelulusan SD-nya bakal saya kirimkan lewat dokumen digital setelah ini. Saya dan Heri masih di kampung halaman Heri, kira-kira satu minggu lagi kami baru pulang ke Jakarta.""Siap, Ibu Sintya. Dengan senang hati saya akan bantu urus pendaftaran Dek Nathan ke sekolah terbaik di sana. Besok pagi, setelah semua formulir dan koordinasi dengan pihak yayasan selesai, saya bakal segera mengabari Ibu kembali," janji Pak Adit penuh profesionalitas."Terima kasih banyak, Pak Adit." Sintya mengangguk pela

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 171

    Aroma gurih ikan bakar dan sambal terasi buatan Ibu Dewi memenuhi ruang makan sederhana malam itu. Cahaya lampu gantung bermangkut kuning memantul di atas meja kayu tebal, menciptakan suasana hangat keluarga yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Heri.Di ujung meja, Pak Arya—ayah kandung Heri yang baru saja pulang memburuh dari pabrik pengolahan kayu, sedang duduk sembari mengusap peluh di lehernya.Otot-otot lengannya yang legam membuktikan betapa kerasnya kehidupan yang ia tempuh selama ini.Heri meletakkan sendoknya perlahan di atas piring.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi duduknya, lalu menatap lurus ke arah kedua orang tuanya dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius dan taktis."Ibu, Bapak," panggil Heri, suaranya bariton rendah, menghentikan denting sendok di atas meja."Seperti yang sudah Heri bilang di telepon kemarin, kedatangan Heri kali ini mau bawa Nathan ikut ke kota. Nathan sudah lulus SD, dan Heri mau dia lanjut sekolah di Jakarta."Pak Arya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 170

    Aroma kayu tua dan bau khas rempah masakan desa menyambut begitu Heri mengangkut tas-tas besar milik Sintya melewati ambang pintu.Pria bertubuh tegap itu memosisikan barang-barang di sudut ruang tengah, namun matanya sama sekali tidak terlepas dari pergerakan Sintya.Ada kewaspadaan taktis yang bercampur dengan riak bangga di dalam dadanya saat menyaksikan wanita kota sesempurna Sintya melangkah masuk ke dalam rumah masa kecilnya yang teramat sederhana.Sintya tidak membuang waktu untuk sekadar berdiam diri. Wanita anggun itu langsung melepas blazer mewahnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mengekor di belakang Ibu Dewi menuju dapur."Mbak Sintya, aduh... nggak usah ikut-ikutan di dapur. Duduk saja di depan sama Heri, perjalanan jauh pasti capek," cegah Ibu Dewi sembari mencoba merebut piring-piring bersih dari tangan Sintya."Nggak apa-apa, Ibu. Aku mau bantu beres-beres," sahut Sintya lembut, tersenyum tulus tanpa ada raut keandalan sosialita yang biasa ia perlihatkan di Jakar

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 169

    Lambaian pepohonan hijau nan rimbun membingkai kaca mobil suv yang dikendarai Heri dengan kecepatan sedang.Satu minggu telah berlalu sejak kesepakatan transaksi gedung restoran itu rampung, dan kini, roda kendaraan mereka akhirnya menepi di sebuah jalanan setapak yang membelah pedesaan asri di daerah pedalaman.Heri mematikan mesin mobil, meluruskan dadanya yang tegap sembari mengembuskan napas lega.Sorot mata elangnya yang biasa dipenuhi kewaspadaan taktis kini melunak, menyerap panorama tanah kelahirannya yang sudah sangat lama tidak ia pijak.Di sampingnya, Sintya menghela napas panjang yang terdengar teramat lelah. Muka cantiknya bertekuk lesu, namun ada binar kelegaan yang memancar saat ia menyandarkan tubuhnya di jok kulit."Akhirnya... sampai juga di kampung kamu, Heri," menggerutu Sintya sembari memijat pelipis kepalanya.Ia melempar pandangan ke luar jendela, menatap hamparan bukit dan petakan sawah yang membentang tanpa batas."Perjalanannya benar-benar panjang banget! Mau

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 168

    Sintya menerima buket mawar putih itu dengan binar mata yang seketika berubah cerah.Senyum manis mekar di bibir merahnya, meruntuhkan seluruh raut kekesalan yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya.Tanpa membuang kesempatan, Sintya sengaja melingkarkan lengannya di pinggang tegap Heri, menyandarkan kepalanya bermanja ria di bahu kokoh pria itu tepat di hadapan Citra.Heri membiarkan tubuhnya menjadi tumpuan Sintya. Dari sudut pandangnya, Heri bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Citra seketika mengeras.Senyuman menggoda yang sebelumnya terukir di bibir pemilik gedung itu meluruh tanpa sisa, berganti dengan kilat kekecewaan dan rasa malu yang berusaha ditutupi.Di sudut lain ruangan, Maman berdiri dengan mulut menganga lebar. Pria gempal itu menatap Heri seolah sedang melihat keajaiban dunia.Dalam hatinya, Maman terus membatin tidak percaya.Pria sekaku, sedatar, dan sekeras batu seperti Heri, yang selama ini hanya tahu cara memiting lawan dan menjaga keamanan, bi

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 42

    Heri terkekeh pelan melihat guratan cemas yang bercampur jengkel di wajah Sintya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan wanita sosialita yang sedang terbakar cemburu seperti ini.Dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda, Heri meraih jemari Sintya yang mencengkeram dadanya, lalu mengecup ujung

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status