MasukHeri memutar kunci apartemen secara perlahan. Saat pintu kayu tebal itu terbuka, suasana hening menyambutnya.Jarum jam dinding menunjuk ke angka sepuluh malam lewat. Lampu utama ruang tamu disengaja padam, hanya menyisakan lampu sudut beraksen kuning redup yang menerangi ruangan.Mata elang Heri menangkap sosok Sintya yang sedang duduk bersedekap di atas sofa kulit panjang.Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra tipis bertali spageti.Kedua kakinya terlipat kaku, bibirnya manyun, dan wajah cantiknya tertekuk amat kaku menatap kosong ke arah layar televisi yang mati. Aura dingin dan cemburu terpancar tebal dari setiap gestur tubuhnya.Heri mengulas senyum tipis di bibirnya. Pria bertubuh tinggi tegap itu melepaskan sepatu taktisnya, lalu melangkah mantap menghampiri wanitanya.Setiap derap langkah Heri memancarkan ketenangan jantan yang tak terbantahkan.Heri mendudukkan tubuh besarnya di samping Sintya.Aroma maskulin dan hangat khas tubuh Heri seketika memenuhi indra penciuman Sinty
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Suasana restoran mewah milik Heri dan Sintya mulai senggang saat para staf sibuk merapikan meja dan membersihkan lantai.Di area privat VVIP, Mayang tampak menyandarkan punggungnya di kursi dengan raut wajah puas usai menghabiskan santapan malam yang mewah.Heri berdiri dari duduknya, merapikan kemeja kargonya yang melekat tegap di tubuh kekarnya, lalu menatap Mayang dengan binar mata hangat yang tertata sangat rapi."Malam sudah makin larut, May," sapa Heri dengan suara bariton rendahnya yang menenangkan."Restoran aku juga sebentar lagi mau tutup."Mayang melirik jam tangan berhias permata imitasi di pergelangan tangannya, lalu mendesah pelan."Aduh, iya ya. Nggak kerasa sudah jam segini. Seru banget sih ngobrol sama kamu, Her.""Sama-sama," jawab Heri mantap."Aku nggak tega kalau membiarkan wanita secantik kamu pulang sendirian naik mobil di jam segini. Gimana kalau mobil kamu ditinggal di parkiran restoran aja? Besok bisa diambil lagi
SUV hitam Heri berhenti tepat di depan pintu lobi restoran mewah miliknya, disusul oleh sedan merah milik Mayang yang memarkir tepat di belakangnya.Heri turun lebih dulu, berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk wanita itu dengan gestur yang amat sopan.Mayang melangkah keluar dari mobilnya sambil merapikan gaun merahnya.Namun, begitu ia mendongakkan kepala ke depan, langkah kakinya seketika terhenti kaku.Sepasang mata wanita itu membola lebar, menatap tak percaya pada bangunan restoran di hadapannya.Restoran itu berdiri megah dengan arsitektur modern berpadu sentuhan aesthetic yang begitu berkelas.Di area parkir, berjejer rapi mobil-mobil eropa berharga miliaran rupiah.Di bagian dalam, terlihat puluhan pengunjung dari kalangan atas dan sosialita sedang menikmati jamuan makan siang dengan pelayanan pelayan berjas rapi. Jauh, sangat jauh dari bayangan Mayang tentang kedai kumuh milik seorang mantan satpam."Ini... ini restoran kamu, Her?" tanya Mayang terbata-bata, ra
Keesokan harinya, Heri berdiri bersandar di pintu SUV hitamnya, sengaja memarkirkan kendaraan agak dekat dari gerbang penjemputan murid SMP. Tubuh tegapnya terbungkus kemeja kargo kelabu yang mencetak jelas lekuk bahu dan dada bidangnya.Sepasang mata elangnya bergerilya licik, menemukan sosok Mayang yang sedang berdiri sendirian di bawah naungan pohon kanopi. Wanita itu mengenakan gaun merah mencolok dengan kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, tampak sibuk memainkan ponsel sembari menunggu anak kedua Suryo keluar dari kelas.Heri menghela napas panjang, merapikan kerah kemejanya, lalu mengunci rahangnya dengan mantap. Saatnya mengeksekusi rencana.Heri melangkah maju. Kali ini, langkah kakinya tidak lagi menebarkan aura intimidasi seperti biasanya. Pria bertubuh tinggi besar itu menghampiri Mayang dengan gestur santai, kedua tangannya terbenam rileks di saku celana."Mayang," panggil Heri dengan suara bariton rendahnya yang mendadak terdengar hangat.Mayang tersentak kaget
Maman memecah keheningan yang sempat menggantung tebal di dalam ruang kerja pribadi restoran.Ia memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja kayu mahoni sembari menatap Heri dan Sintya bergantian."Aku punya ide," buka Maman dengan suara bariton rendah. "Tapi ini ide nekat."Heri yang sedang bersandar di kursi kulit hitamnya menaikkan sebelah alis. "Ide apa, Man? Katakan.""Suryo itu licik, dia pasti punya banyak rumah rahasia di kota ini. Kalau kita cari satu-per-satu secara manual, butuh waktu mingguan," kata Maman taktis."Satu-satunya cara cepat buat merobohkan pertahanan Suryo dan menemukan di mana Reno diumpetin adalah lewat Mayang."Sintya mengernyitkan keningnya. "Lewat Mayang? Maksudnya gimana, Maman?" tanyanya bingung.Maman menatap Heri lurus-lurus. "Mayang itu mata-mata sekaligus perantara mereka. Dia haus validasi dan masih kelihatan ngincar Heri. Kita manfaatkan itu. Heri harus turunkan harga diri sebentar, pura-pura merespons perhatian Mayang. Bikin dia percaya
Langkah kaki Heri, Maman, dan Karin berderap cepat memasuki ruang kerja pribadi di bagian belakang restoran.Begitu pintu kayu mahoni itu ditutup rapat dan dikunci dari dalam, Karin langsung menghentikan langkahnya, melempar tas kecilnya ke atas sofa, dan meluapkan kekesalannya."Aduh, gila ya! Capek-capek aku akting jadi cewek gatal godain dua penjaga pos yang mukanya kayak benteng begitu, eh ternyata si Reno bajingan itu nggak ada di dalam!" amuk Karin dengan napas memburu, wajahnya memerah padam."Sumpah ya, rugi banget aku! Mana tuh dua satpam sempat liatin aku dari atas sampai bawah lagi!"Maman yang sedang menuangkan air mineral ke dalam gelas langsung menyodorkannya pada Karin sembari tertawa kecil."Udah, Rin, jangan misuh-misuh begitu. Mungki si Reno lagi dapat rezeki aja hari ini karena nggak ketahuan di mana letak sebenarnya dia sembunyi.""Rezeki gundulmu!" sembur Karin makin sewot, menyambar gelas itu lalu meminumnya sampai kandas."Ngeselin banget! Aku udah ngebayangin k
Heri tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia terus melangkah mendekat hingga posisinya kini berdiri tepat di samping sofa, menatap lurus ke bawah ke arah tubuh Sintya.Pada detik itulah, kedua mata Heri langsung menggelap sempurna. Seluruh fokus di isi kepalanya mendadak buyar, digantikan o
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand
Sintya sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan hantaman nikmat yang mendadak menyerang pusat sarafnya. Kedua tangan wanita itu meremas sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat hingga kain katun premium itu berkerut parah.Di bawah selimut tebal, Heri tidak member







