Share

BAB 217

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-08-05 00:18:31

Matahari pagi baru saja membiaskan sinar tipis di langit selatan Jakarta.

Maman duduk di balik lingkar kemudi SUV hitamnya, mengenakan kaos taktis gelap yang memperlihatkan otot otot lengannya yang kekar.

Di sampingnya, Karin duduk dengan setelan kasual yang pas di tubuh mulusnya, sibuk memutar-mutar ponsel pintar di jemari lentiknya.

Sesuai perintah tegas Heri tadi subuh, hari ini Maman dan Karin mendapat tugas khusus untuk melakukan pengintaian awal di daerah Cipete.

Lokasi tersebut merupakan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 220

    Maman melepaskan cengkeramannya pada lingkar kemudi. Kontrol diri yang dipeliharanya rapat-rapat seketika hancur berkeping-keping.Pria bertubuh tinggi besar itu memajukan tubuhnya yang kokoh, menangkup rahang Karin dengan tangan besarnya, lalu menyambar bibir wanita itu tanpa ampun.SSSHHH!Ciuman Maman mendarat liar dan menuntut. Bibir tebalnya melumat bibir merona Karin dengan penekanan intens, menyedot dan menguasainya secara brutal.Karin melenguh kaget, namun detik berikutnya wanita itu melingkarkan kedua lengan mulusnya di leher kekar Maman. Jemari lentiknya meremas kencang bahu berotot pria itu, membalas lumatannya dengan dorongan lidah yang tak kalah panas."Mphhh... Mas Maman..." desah Karin di sela sela belitan bibir mereka yang kian memburu.Maman tidak memberi celah sedikit pun. Lidahnya menerobos masuk mengaduk bagian dalam mulut Karin, bertukar saliva secara intim diiringi gemuruh hujan badai yang menghantam atap kendaraan.Hawa dingin di dalam kabin seketika menguap, b

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 219

    Awan hitam pekat merayap cepat memutus sisa-sisa cahaya petang di langit kawasan Cipete.Dalam hitungan detik, gemuruh petir menyambar kencang, disusul oleh curahan hujan badai yang meluncur deras bak ditumpahkan dari langit.Angin kencang bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon besar di sekitar perumahan."Aduh! Mas Maman! Hujan! Hujan gede banget!" jerit Karin panik. Topi pantai jerami yang dibanggakannya seketika terlepas diterbangkan angin kencang.Maman menyambar pergelangan tangan Karin dengan cepat. "Ayo berlari! Mobil kita agak jauh di ujung gang!"Tanpa membuang waktu, Maman menarik Karin menerobos guyuran air hujan yang teramat deras. Hantaman air hujan yang dingin menusuk kulit mereka. Dalam hitungan detik, seluruh pakaian yang mereka kenakan basah kuyup tanpa tersisa.Maman menekan tombol remote kunci mobil dari kejauhan. Begitu lampu SUV hitam itu berkedip, Maman membuka pintu penumpang depan, mendorong tubuh Karin masuk ke dalam, lalu melompat masuk ke balik lin

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 218

    Maman mengatur posisi teropong di matanya, meneliti deretan pilar beton yang menopang pagar kayu vila rahasia di Cipete. Suasana sekitar sangat sepi, hanya terdengar gesekan dedaunan yang ditiup angin sore.Saat Maman sedang sibuk mengamati sudut atas tembok yang dipasangi kabel, pintu penumpang SUV mendadak terbuka. Karin melangkah keluar dari mobil dengan percaya diri.Maman seketika menoleh dan matanya hampir saja melompat keluar melihat penampilan wanita di sampingnya.Karin mengenakan kacamata hitam berukuran raksasa yang menutupi hampir separuh wajah cantiknya, dipadukan dengan topi pantai bertepi sangat lebar yang terbuat dari anyaman jerami.Maman menurunkan teropongnya, menatap Karin dengan wajah tak percaya. "Karin! Kamu mau ngapain berdandan kayak begitu?!"Karin membetulkan posisi topi pantainya yang terkulai ke depan, lalu menyunggingkan senyum polos."Lho, ini kan peralatan penyamaran, Mas Maman! Biar kita nggak dikenali sama orang-orang di dalam sana! Di film-film detek

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 217

    Matahari pagi baru saja membiaskan sinar tipis di langit selatan Jakarta.Maman duduk di balik lingkar kemudi SUV hitamnya, mengenakan kaos taktis gelap yang memperlihatkan otot otot lengannya yang kekar.Di sampingnya, Karin duduk dengan setelan kasual yang pas di tubuh mulusnya, sibuk memutar-mutar ponsel pintar di jemari lentiknya.Sesuai perintah tegas Heri tadi subuh, hari ini Maman dan Karin mendapat tugas khusus untuk melakukan pengintaian awal di daerah Cipete.Lokasi tersebut merupakan salah satu dari lima rumah rahasia milik Suryo, sebuah vila pribadi yang dicurigai kuat menjadi markas persembunyian utama Reno."Rin, ini kita sudah muter di jalan yang sama tiga kali," kata Maman dengan suara bariton rendahnya yang mulai menegang.Matanya menatap tajam ke arah plang jalan di perempatan. "Kamu beneran bisa baca petanya nggak sih?"Karin memiringkan ponselnya, menatap layar dengan kening berkerut halus. "Bisa lah! Mas Maman kira aku buta huruf apa? Ini petanya bilang disuruh am

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 216

    Heri melepaskan lumatannya pada dada Sintya, menengadahkan kepala dengan napas memburu kencang. Binar mata elangnya menggelap pekat, dikuasai penuh oleh gairah jantan yang menuntut kepemilikan mutlak.Tanpa menyia-nyiyakan waktu, tangan besar Heri menyambar sisa kain gaun tidur sutra yang masih tersangkut di pinggul Sintya, menyentaknya kasar hingga robek total dan melemparnya sembarangan ke lantai marmer.Sintya kini terbaring polos tanpa sehelai benang pun di atas ranjang king size.Kulit mulusnya meremang hebat disapu udara dingin kamar, memamerkan lekuk tubuh ramping dengan pinggul kenyal dan dua gundukan dada yang membumbung indah."Heri... cepat..." desah Sintya lirih, matanya terpejam pasrah dengan kedua tangan meremas kuat sprei tempat tidur.Heri berdiri sejenak di tepi ranjang. Jemari beruratnya bergerak cepat menanggalkan kemeja kargo kelabu dan celana taktisnya, membiarkan pakaian itu jatuh berantakan.Tubuh tegapnya yang tinggi berotot kini terekspos sempurna, dada bidang

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 215

    Heri memutar kunci apartemen secara perlahan. Saat pintu kayu tebal itu terbuka, suasana hening menyambutnya.Jarum jam dinding menunjuk ke angka sepuluh malam lewat. Lampu utama ruang tamu disengaja padam, hanya menyisakan lampu sudut beraksen kuning redup yang menerangi ruangan.Mata elang Heri menangkap sosok Sintya yang sedang duduk bersedekap di atas sofa kulit panjang.Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra tipis bertali spageti.Kedua kakinya terlipat kaku, bibirnya manyun, dan wajah cantiknya tertekuk amat kaku menatap kosong ke arah layar televisi yang mati. Aura dingin dan cemburu terpancar tebal dari setiap gestur tubuhnya.Heri mengulas senyum tipis di bibirnya. Pria bertubuh tinggi tegap itu melepaskan sepatu taktisnya, lalu melangkah mantap menghampiri wanitanya.Setiap derap langkah Heri memancarkan ketenangan jantan yang tak terbantahkan.Heri mendudukkan tubuh besarnya di samping Sintya.Aroma maskulin dan hangat khas tubuh Heri seketika memenuhi indra penciuman Sinty

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status