Share

BAB 424

Penulis: Nona Mentari
last update Tanggal publikasi: 2026-10-08 12:09:38

Hujan deras mengguyur area kampus sore itu, menciptakan suasana dingin di dalam ruang sekretariat himpunan yang sepi.

Nathan duduk sendirian di balik meja kerjanya, menatap berkas keputusan rapat komite etik fakultas yang baru saja diserahkan oleh bagian sekretariat dekanat.

Di atas kertas berstempel resmi itu, nama Adrian dicoret secara permanen dari daftar mitra sponsor fakultas, sementara Alya dinyatakan nonaktif sementara dari seluruh kegiatan akademis dan kepanitiaan.

Pintu ruang himpunan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 429

    Usai pertempuran tersebut, Alya duduk di tepi meja kayu besar, merapikan sisa-sisa pakaian dan kemeja luarnya dengan tangan yang masih gemetar pelan.Di hadapannya, Nathan dan Adrian berdiri berseberangan. Meski atmosfer kekerasan fisik telah surut, sisa-sisa ketegangan dan gengsi antarpria masih mengudara pekat.Nathan merapikan kancing kemejanya dengan gerakan tenang, sementara Adrian menyapu rambutnya ke belakang sambil menatap lantai semen yang basah.Alya menyapu pandangannya, menatap Nathan lalu beralih ke Adrian. Kelelahan fisik dan mental yang menghantamnya mendadak berganti dengan sebuah kejelasan taktik.Perlawanan terbuka telah terbukti gagal total dan hanya menghancurkan dirinya sendiri. Jika ia tidak bisa mengalahkan kedua pria dominan ini secara terpisah, maka satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menghentikan perang di antara mereka.Alya melangkah turun dari atas meja. Kaki telanjang dan langkah pelannya menarik perhatian Nathan dan Adrian secara bersamaan."K

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 428

    Nathan tidak membiarkan Alya sempat menarik napas lega. Dengan gerakan kasar ia menarik tubuh gadis itu lebih ke tengah meja kayu besar, menyibakkan sisa-sisa kemeja yang sudah robek hingga dada Alya terpapar sepenuhnya.Putingnya yang mengeras diisap kasar oleh mulut Nathan, gigi-giginya menggigit pelan hingga Alya melenguh panjang.Di sisi lain Adrian sudah membuka resleting celananya, mengeluarkan batangnya yang sudah tegang penuh. Ia menekan kepala Alya ke samping, memaksa mulutnya terbuka.“Buka lebar, Al,” perintah Adrian dingin. “Kamu yang minta dibuktikan siapa yang berkuasa.”Alya hanya sempat mengerang sebelum batangnya menembus mulutnya dalam satu dorongan. Adrian menggenggam rambutnya erat, menghentakkan pinggulnya maju-mundur dengan ritme yang tak kenal ampun.Air liur Alya menetes di sudut bibirnya, matanya berkaca-kaca, tapi ia tetap berusaha menerima setiap hentakan.Nathan di bawahnya sudah menarik celana dalam Alya hingga sobek, jari-jarinya masuk dua sekaligus ke da

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 427

    Atmosfer di dalam ruang sekretariat yang terkunci rapat itu mendadak pekat oleh aura intimidasi.Provokasi Alya mendarat tepat pada ego tertinggi dua pria yang biasa memegang kendali.Nathan melangkah perlahan, menyudutkan Alya ke tepi meja kayu besar. Di sisi lain, Adrian tak lagi menahan amarah dan gairah kekuasaannya."Kamu pikir kamu bisa mempermainkan kita berdua, Al?" suara Nathan terdengar rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan.Tangannya mencengkeram dagu Alya, memaksa gadis itu menatap lurus ke matanya yang serba gelap. "Kamu sendiri yang membuka pintu ini. Jangan pernah berpikir buat kabur."Alya mencoba menyunggingkan senyum menantang, namun napasnya yang memburu mengkhianati rasa gentarnya. "Kenapa, Nath? Kamu takut gak bisa membuktikan siapa yang paling berkuasa di sini?"Adrian melangkah maju dari samping, mencengkeram kedua pergelangan tangan Alya dan menahannya ke atas permukaan meja dengan tekanan kuat."Kamu terlalu banyak bicara malam ini, Alya. Kamu pikir aku c

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 426

    Suara jarum jam dinding berdetak konstan di ruang sekretariat himpunan yang sepi. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam.Di atas meja kayu yang luas, puluhan lembar berkas revisi vendor tersusun berantakan. Alya duduk dengan wajah pucat, jemarinya gemetar saat mengetik angka-angka laporan pertanggungjawaban di laptop.Nathan berdiri di dekat jendela, menyilangkan tangan di dada sambil mengawasi setiap pergerakan Alya. Lampu ruangan yang temaram memancarkan bayangan tegapnya tepat di atas meja kerja Alya."Angka di halaman empat belas masih gak cocok sama kuitansi vendor penerangan," kata Nathan dengan suara rendah dan dingin. "Hitung ulang dari awal, Al."Alya menghentikan ketikannya, mengusap wajahnya yang kelelahan. "Aku udah cek tiga kali, Nath. Angkanya memang segini karena ada potongan biaya admin dari bank.""Aku gak mau tahu alasan biaya admin," potong Nathan tegas tanpa belas kasihan. "Di laporan resmi, angkanya harus pas sampai digit terakhir. Jangan biasakan kerja serampang

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 425

    Ruang sekretariat himpunan hening total setelah Alya mengucapkan kesanggupannya. Suara hujan yang menghantam kaca jendela menjadi satu-satunya latar belakang yang tersisa. Adrian menatap Alya dengan raut wajah hancur, tidak mempercayai keputusan gadis yang selama ini ia lindungi."Alya... kamu benar-benar mau mengorbankan diri kamu buat pria semena-mena seperti dia?" tanya Adrian dengan suara tertahan, melangkah maju satu tindak. "Gue bisa cari tim pengacara terbaik buat bantu kamu dari luar kampus!"Alya tidak menoleh sedikit pun ke arah Adrian. Ia tetap menunduk di depan meja Nathan, air matanya menetes satu per satu ke lantai semen yang dingin. "Cukup, Mas Adrian. Tolong keluar dari sini. Hubungan kita selesai mulai detik ini.""Alya!" panggil Adrian setengah berteriak."Mas tidak dengar?" sela Alya dengan suara bergetar namun tegas. "Saya tidak mau masa depan saya hancur. Mas Adrian tidak bisa menjamin sanksi skorsing saya dicabut oleh rektorat. Jadi tolong... tinggalkan tempat in

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 424

    Hujan deras mengguyur area kampus sore itu, menciptakan suasana dingin di dalam ruang sekretariat himpunan yang sepi.Nathan duduk sendirian di balik meja kerjanya, menatap berkas keputusan rapat komite etik fakultas yang baru saja diserahkan oleh bagian sekretariat dekanat.Di atas kertas berstempel resmi itu, nama Adrian dicoret secara permanen dari daftar mitra sponsor fakultas, sementara Alya dinyatakan nonaktif sementara dari seluruh kegiatan akademis dan kepanitiaan.Pintu ruang himpunan tiba-tiba terdorong keras dari luar.Adrian melangkah masuk dengan napas memburu, pakaian jasnya tampak sedikit berantakan kena rembesan air hujan. Di belakangnya, Alya menyusul dengan wajah pucat dan mata yang sembap."Nathan!" bentak Adrian dengan suara serak, melangkah mendekati meja Nathan. "Gue tahu lo yang mengatur seluruh skenario gila ini! Surat keputusan dekanat ini murni rekayasa lo!"Nathan tidak langsung berdiri. Ia perlahan meletakkan pulpennya di atas meja, lalu mengangkat kepala u

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status