LOGINIbu jari tangan kanan Rendra perlahan terangkat menyentuh dagu tirus Arini, mengangkat wajah ayu itu agar kembali menatapnya. Air mata yang tersisa di sudut mata Arini berkilau memantulkan cahaya temaram lampu dinding. "Tatap mata saya, Arini... katakan dengan jujur kalau kamu memang mau saya pergi menjauh sekarang juga," tantang Rendra dengan suara bariton yang teramat memikat. Arini menatap sepasang mata elang di hadapannya dengan tatapan sayu yang dipenuhi rasa bimbang luar biasa. Bibir ranum Arini sedikit terbuka mencari pasokan udara, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Mas Rendra pria baik... tolong jangan buat saya menjadi wanita berdosa," bisik Arini dengan suara serak yang memohon belas kasihan. "Pria yang menelantarkan wanita seindah ini di tengah badai malam... dialah orang yang paling berdosa di dunia ini," balas Rendra dingin dan menusuk. Tangan besar Rendra perlahan meluncur turun dari dagu, menyusuri garis rahang halus Arini, lalu mendarat di
Uap hangat dari cangkir teh melati di atas meja kaca perlahan menari tipis di antara mereka berdua. Arini menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan getaran di bibir ranumnya yang mulai membiru karena kedinginan. Gaun satin krem yang basah kuyup itu menempel teramat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh sintal yang menggoda di bawah temaram bohlam kantor. Rendra berdiri mematung di sisi sofa, menelan ludah dengan jakun yang bergerak naik turun menahan gelombang panas di dadanya. Pria duda itu meraih selembar selimut flanel tebal berwarna abu-abu dari atas lemari berkas. "Pakai ini dulu, Arini... badanmu sudah menggigil hebat," bisik Rendra seraya membungkukkan badannya di samping wanita itu. Kedua telapak tangan Rendra yang besar dan hangat membentangkan selimut itu, lalu menyampirkannya perlahan di atas pundak polos Arini. Ujung jemari Rendra yang kasar tanpa sengaja menyentuh kulit leher jenjang Arini yang basah dan dingin. Sengatan arus hangat seketika menyengat
Danang memang terkenal di lingkungan komplek sebagai eksekutif muda yang gemar pamer kekayaan dan bersikap angkuh kepada warga sekitar. Namun Rendra sama sekali tidak menyangka pria itu tega menelantarkan istri secantik dan seanggun Arini di tengah jalanan gelap. "Tolong jangan berdiri di sini terus, badan Bu Arini sudah menggigil kedinginan," bujuk Rendra seraya merapatkan naungan payungnya. "Tapi mobil ini bagaimana, Mas? Kalau ditinggal di tengah jalan bisa menghalangi kendaraan warga yang lain." Rendra menatap lurus ke dalam manik mata Arini yang tampak rapuh dan membutuhkan pegangan. "Biar saya netralkan persnelingnya dulu, lalu saya dorong masuk ke halaman depan bengkel saya." "Mas Rendra mau mendorong sendirian di tengah hujan lebat begini?" tanya Arini dengan tatapan tak percaya. "Tenang saja, tenaga saya sudah terbiasa buat geser beban mesin mobil," sahut Rendra dengan senyuman tipis yang menenangkan. Rendra membukakan pintu kemudi, membungkuk ke dalam kabin un
Tujuh bulan berlalu dengan kedamaian yang tak pernah lagi terusik di kediaman Wijaya. Bram, Dinda, dan Paman Tirta telah resmi dijatuhi vonis hukuman penjara tanpa ada celah banding yang dikabulkan pengadilan. Sore itu, semilir angin taman belakang mansion menerbangkan lembut aroma bunga melati yang bermekaran. Selin duduk santai di kursi malas seraya mengusap perutnya yang kini telah membuncit bulat sempurna dengan rona bahagia di wajahnya. Bayu melangkah menghampiri seraya meletakkan semangkuk potongan buah segar di atas meja kaca kecil. Kemeja linen putih santai yang dikenakan sang suami membalut dada bidangnya yang tetap tegap perkasa. "Capek duduk di luar, Sayang? Mau pindah ke dalam kamar?" tanya Bayu dengan suara bariton yang teramat teduh. Selin mendongak, menyunggingkan senyuman paling manis seraya meraih telapak tangan besar suaminya. "Di sini sangat sejuk, Mas... apalagi si kecil di dalam perut bergerak aktif setiap kali mendengar suaramu." Bayu berlutut
Selin tertawa kecil seraya mengarahkan kamera ponsel sedikit ke bawah, memperlihatkan perutnya yang dielus lembut oleh Bayu. "Mbak Selin tidak sakit, Tari... Mbak cuma sedang mual karena sebentar lagi Tari bakal punya keponakan." Mak Sumirah yang mendengar ucapan tersebut seketika terperangah dengan mulut tertutup tangan tuanya. Air mata haru langsung mengalir membasahi pipi wanita tua di seberang layar. "Gusti Pangeran... kabar ini benar, Nduk? Kamu beneran sedang mengandung cucu Emak?" tanya Mak Sumirah dengan suara bergetar menahan tangis bahagia. "Benar, Mak... kemarin dokter spesialis sudah memeriksa langsung dan detak jantung bayinya sangat sehat," sahut Bayu dengan nada bangga yang tak terbendung. Mak Sumirah mengusap dadanya seraya berulang kali melafalkan rasa syukur ke hadirat Yang Maha Kuasa. "Alhamdulillah ya Allah... doa Emak setiap sujud akhirnya dijawab tuntas." "Jaga kesehatanmu baik-baik ya, Nduk Selin... jangan capek-capek memikirkan pekerjaan kantor,
Kening mereka berdua saling bertaut hangat di dalam kabin mobil sedan yang sunyi di bawah naungan pohon tanjung. Aroma parfum stroberi yang lembut membelai hidung Bayu, mengikis sisa ketegangan malam yang melelahkan. Selin memejamkan mata perlahan, merasakan deru napas suaminya yang teratur menyapu pipinya. "Kamu benar-benar selalu menuruti semua keinginanku yang aneh, Mas Bayu," bisik Selin dengan senyuman geli yang merekah di bibir ranumnya. Kedua tangan lentik sang istri meraba kerah safari hitam yang membalut bahu tegap sang suami. "Memangnya ada sopir yang berani membantah perintah majikan cantiknya?" canda Bayu dengan suara bariton rendah seraya mengedipkan sebelah matanya. Selin tertawa renyah, sebuah tawa lepas tanpa beban yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar dari bibirnya. "Sekarang kamu bukan sopirku lagi, Mas... kamu pelindung hidupku dan ayah dari anak kita." Bayu mengecup lembut puncak hidung sang istri seraya tersenyum teduh. "Sekarang ayo k
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon







