LOGINTelapak tangan kasar Rendra menyusup ke balik kain jubah satin, meraba lekuk pinggang ramping Arini yang teramat mulus. Sentuhan kulit kasar sang duda yang penuh kehati-hatian memicu desiran panas di sekujur saraf Arini, melenyapkan sisa rasa perih yang ditinggalkan oleh perlakuan kasar Danang semalam. Puncak dada Arini yang ranum menegang sensitif di balik kain tipis saat dada bidang Rendra menekannya lembut. "Mulai detik ini, tubuh seindah ini hanya boleh disentuh oleh tangan saya," ucap Rendra seraya menatap sepasang mata bulat Arini yang basah berkilau. "Milikmu seutuhnya, Mas... ambil apa pun yang kamu mau," desah Arini pasrah seraya mengangkat dagunya menyambut kecupan basah di leher jenjangnya. Tepat saat Rendra hendak melucuti jubah tipis itu dari pundak Arini, ponsel pintar di dalam saku jubah wanita itu mendadak bergetar panjang. *Bzzzt... bzzzt... bzzzt.* Arini tersentak pelan seraya membuka matanya, menahan napas saat melirik layar ponsel yang terus menyala
Arini mendongak, lalu menatap sepasang mata teduh di hadapannya seraya menahan genangan air mata yang mendadak kembali mendesak keluar. Rendra mengulurkan tangan kanannya yang kokoh, membuka perlahan palang pintu kayu pembatas tanpa menimbulkan suara gaduh. "Masuklah ke sini sebentar," bisik Rendra seraya mengulurkan telapak tangannya yang hangat ke arah wanita itu. Jemari dingin Arini menyambut genggaman tangan besar Rendra, merasakan aliran kehangatan seketika merayap menenangkan debar dadanya yang gundah. Rendra membimbing langkah pelan Arini masuk ke ruang duduk kecil di lantai bawah bengkel yang tersiram cahaya matahari pagi. Sebuah cangkir keramik berisi seduhan teh kamomil hangat yang mengepulkan uap tipis telah tersaji di atas meja kayu kecil. "Duduklah di sini, Arini... hangatkan dulu kedua tanganmu," tutur Rendra seraya menuntun wanita itu duduk di atas kursi rotan beralas bantal empuk. Arini merapatkan kedua telapak tangannya di sekeliling cangkir keramik, membiarka
Pintu kamar tidur utama dibanting keras oleh Danang, mengunci dunia luar di balik gerendel ganda yang berdentang nyaring. Pria itu melemparkan jas kerjanya ke lantai marmer seraya menatap Arini dengan sorot mata menyala penuh amarah dan nafsu yang menuntut. "Kamu pikir kamu bisa terus-terusan mengelak dari kewajibanmu di rumah ini, Arini?!" bentak Danang seraya mencengkeram kasar kedua pergelangan tangan sang istri. Tubuh Arini terdorong jatuh ke atas kasur empuk berseprai satin dingin, membuat gaun sutra tipisnya tersingkap kusut. Aroma alkohol murahan bercampur bau bedak perempuan lain dari kerah kemeja Danang menyengat hidung Arini, memicu rasa mual yang menyesakkan dada. "Layani aku sekarang juga, buktikan kalau kamu masih berhak menjadi nyonya di rumah mewah ini!" raung Danang seraya menindih tubuh Arini tanpa sedikit pun kelembutan. Arini menelan ludah dengan tenggorokan kering, memilih menuruti tuntutan kasar suaminya demi menjaga rahasia perselingkuhannya agar tetap terk
Matahari sore mulai merayap turun di ufuk barat, membiaskan cahaya jingga di sepanjang jalanan komplek Cemara Hijau.Deru mesin mobil sedan Danang terdengar memasuki pekarangan rumah, memecah kesunyian beranda dengan suara ban berderit pelan.Danang melangkah turun dari mobil seraya merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku.Senyuman puas masih terpatri di wajah pria kurus itu setelah menghabiskan siang hari di bilik papan milik Yuni di ujung perkampungan.Langkah kaki Danang mendadak terhenti saat ekor matanya melirik ke arah kanopi samping garasi.Sedan putih milik Arini telah terparkir rapi di sana, bersih mengkilap tanpa ada kepulan uap radiator sedikit pun."Kapan mobil rongsokan ini selesai diperbaiki?" gumam Danang seraya melangkah menaiki tangga teras dengan kening berkerut heran.Pintu depan rumah mewah itu terbuka tanpa terkunci.Danang melenggang masuk ke ruang tamu seraya melempar tas kerja kulitnya ke atas sofa panjang.Aroma wangi sabun melati yang teramat lembut seke
Ruang tamu berplafon tinggi itu perlahan kembali diselimuti ketenangan yang syahdu. Debar jantung Arini berangsur mereda, bertalu beriringan dengan ritme dada bidang Rendra yang begitu kokoh menopang tubuhnya. Tangan kasar sang montir bergerak teramat perlahan, menyampirkan kembali helai gaun sutra untuk menutupi pundak dingin wanita itu. Tiada lagi kepanikan yang mencekam, hanya tersisa desau pendingin ruangan yang membelai keheningan di antara mereka berdua. "Tarik napasmu pelan-pelan, Arini," bisik Rendra seraya menyapukan kecupan hangat di kening sang nyonya. Belaian lembut itu terasa begitu tulus, mengalirkan rasa damai yang meresap hingga ke relung batin Arini yang paling rapuh. Arini membenamkan wajahnya di lekuk leher Rendra, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi penawar dahaga jiwanya. "Terima kasih sudah mendekap lukaku, Mas Rendra..." gumam Arini dengan suara parau yang sarat kelegaan. Rendra tersenyum teduh seraya menyeka sisa air mata di sudut mata bulat yang
Isak tangis Arini semakin pecah di dada bidang Rendra saat deru mesin mobil suaminya benar-benar hilang dari kejauhan. Tubuh ramping berbalut gaun sutra tipis itu berguncang hebat, menumpahkan segala kehancuran batin yang dipendamnya bertahun-tahun. Rendra duduk di atas karpet beludru tebal ruang tamu seraya merengkuh erat pinggang Arini ke dalam dekapannya. Telapak tangan kasar sang montir menangkup pipi porselen Arini, mengusap lelehan air mata yang membasahi bibir ranum wanita itu. "Tumpahkan semuanya di sini, Arini... jangan tahan rasa sakitmu lagi," bisik Rendra dengan suara bariton serak yang begitu menenteramkan. Arini mendongakkan kepalanya seraya menatap sepasang mata elang Rendra dengan pandangan sayu yang sarat keputusasaan. "Mas Danang selalu membuatku merasa kotor dan tidak berharga, Mas..." rintih Arini dengan napas tersengal-sengal di sela tangisnya. Jemari lentik Arini mencengkeram erat bahu kekar Rendra, lalu menarik tengkuk pria itu agar mendekat. "Hapus semu
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p







