Share

429.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-14 01:01:27

Mata elang Rendra seketika terbuka lebar di tengah temaram kamar, naluri pelindungnya menyala dalam hitungan sepersekian detik.

Tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun, tangan kekar Rendra menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh polos Arini sebatas leher.

Embusan angin malam kembali berdesir kencang, menyingkap tirai tipis balkon dan memperlihatkan siluet tubuh yang berdiri membungkuk di ambang pintu kaca.

Pijar merah dari ujung puntung rokok kretek menyala samar di kegelapan, men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   429.

    Mata elang Rendra seketika terbuka lebar di tengah temaram kamar, naluri pelindungnya menyala dalam hitungan sepersekian detik. Tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun, tangan kekar Rendra menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh polos Arini sebatas leher. Embusan angin malam kembali berdesir kencang, menyingkap tirai tipis balkon dan memperlihatkan siluet tubuh yang berdiri membungkuk di ambang pintu kaca. Pijar merah dari ujung puntung rokok kretek menyala samar di kegelapan, menerangi separuh wajah yang kotor berlumuran keringat dan debu jalanan. Arini tersentak bangun saat merasakan hawa dingin yang menusuk kulit, lalu menoleh panik ke arah balkon dengan napas tercekat. "M-Mas Rendra..." bisik Arini tercekat saat melihat bayangan pria yang melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu melangkah tertatih dengan langkah terseok-seok, membuang puntung rokoknya ke atas lantai kayu tanpa rasa bersalah. Danang berdiri di sana dengan kemeja robek tak karuan, wajah babak b

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   428.

    "aaaahhh!" Arini melenguh panjang, membuka rongga mulutnya lebar untuk menyambut sapuan lidah Rendra yang begitu hangat dan memabukkan. Lidahnya berputar-putar di dalam mulut Rendra, menjilat gigi atasnya, menyentuh langit-langit mulut. Tangan Arini meraba garis otot punggung Rendra yang kokoh, turun ke pinggang, meremas bokong pria itu yang keras dan bulat. Kedua tangan lentik Arini meraba garis otot punggung Rendra yang kokoh, merasakan detak jantung pria perkasa itu yang bertalu seirama dengan detak jantungnya sendiri—jantung Rendra berdegup kencang, seperti mesin yang baru dihidupkan. Tiada lagi ketergesaan atau kepanikan yang menghantui, hanya ada dua jiwa yang saling memeluk dan menuntaskan dahaga asmara yang teramat dalam. Tangan besar Rendra perlahan melucuti kain pakaian Arini sehelai demi sehelai, memperlakukan tubuh porselen itu layaknya mahakarya paling berharga di muka bumi. Pertama, gaun terusan putihnya dilepas perlahan dari bahu, memperlihatkan bra hitam tipis yang

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   427.

    Rendra mengangkat tubuh ringan Arini ke dalam gendongan maskulinnya. Kakinya yang kuat dan berotot melangkah tenang menembus pintu ruang depan yang terbuka lebar. Dengan satu kaki, dia mendorong daun pintu kayu jati ganda hingga tertutup rapat, lalu memutar slot grendel kunci ganda dari dalam. Dunia luar yang bising dan kejam kini sepenuhnya terkunci di balik dinding tebal rumah mewah itu. Hanya suara angin malam dan detak jantung mereka berdua yang terdengar. Rendra menuruni langkahnya di ruang tengah yang luas, mendudukkan Arini dengan sangat hati-hati di atas sofa beludru panjang yang empuk. Tangan kasar sang montir bergerak lembut menyeka lelehan air mata di pipi porselen Arini yang masih memerah seperti rose merah. Jempolnya mengusap pipi itu pelan, turun ke leher Arini, menyentuh bekas gigi Danang dengan penuh kasih sayang. “Rumah ini… selama lima tahun terasa seperti neraka yang dingin, Mas Rendra…” bisik Arini dengan suara serak yang bergetar rapuh. Matanya menatap sekel

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   426.

    "Lihat lehernya!" Teriak Danang sambil menunjuk liar ke tengkuk Arini yang masih penuh bekas sidik jari merah menyala dan bintik-bintik gigi yang ungu pekat. Mata pria itu memerah membara, urat lehernya menonjol karena amarah yang sudah mendidih lima tahun lamanya. “Kalian semua harus lihat! Istriku ini tidur dengan montir kampung itu! Tanda merah di lehernya itu bukti dia berzina di belakangku, menyedot kontolnya dalam-dalam sampai keluar kencing! Lihat juga ke bawah, bau bangsatnya masih menempel di paha kanannya!”Warga yang berkerumun di pekarangan rumah mewah itu langsung tertawa gila, sorak-sorai dan jari-jari menunjuk sambil mengumpat kasar. Beberapa orang sudah memegang HP, merekam momen vulgar ini untuk dibagikan ke grup WhatsApp kampung. Arini berdiri gemetar di tengah aspal, gaun terusan putihnya sudah robek di bagian depan, dada montoknya yang selalu dibela Danang sekarang terpampang telanjang, putingnya mengeras karena kedinginan dan malu yang membakar. Di antara kakinya

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   425.

    Suara kepanikan komandan satpam dari pengeras suara ponsel seketika membelah keheningan kabin mobil bak ganda milik Rendra. Arini mematung selama beberapa detik, mencerna kabar yang terdengar bagaikan petir di siang bolong tersebut. Sorot mata bulat sang nyonya perlahan berubah, dari sisa lelah pasca percintaan panas menjadi kilatan dingin yang teramat tajam. "Diarak ke pos depan rumah saya?" tanya Arini dengan nada suara datar tanpa sedikit pun getaran panik. "Benar, Bu Arini!" sahut komandan satpam dengan napas tersengal di seberang telepon. "Warga kampung memergoki Pak Danang dan perempuan itu di ranjang tanpa busana! Ketua RW kampung ujung menuntut pertanggungjawaban di depan warga komplek!" "Biarkan mereka masuk ke pelataran depan rumah saya, Pak Satpam," titah Arini dingin dan lugas. "Tapi, Bu... ini bakal jadi tontonan warga satu komplek—" "Buka gerbangnya sekarang," potong Arini tanpa ragu. "Saya sedang dalam perjalanan pulang." Panggilan telepon diputus seketika oleh

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   424.

    Getaran panjang di layar ponsel Arini terus berlanjut tanpa henti. Wajah janda ujung kampung itu terpampang jelas menuntut agar panggilan video segera diterima. Rendra menatap layar tersebut dengan rahang mengeras kaku. Telapak tangan kekar sang duda mencengkeram tepi meja kafe hingga urat-urat lengannya menonjol keluar. "Tekan tombol hijau itu, Arini," bisik Rendra dengan suara bariton rendah yang sarat akan ketegasan jantan. "Tunjukkan pada wanita murahan itu kalau nyalimu tidak menciut sedikit pun." Arini menarik napas panjang seraya menyeka sudut matanya yang basah oleh sisa amarah. Ibu jarinya menggeser ikon hijau ke atas, menghubungkan sambungan video di antara mereka. Layar ponsel seketika menampilkan wajah Yuni dengan senyuman mengejek yang menjijikkan. Daster merah tipis sang janda sengaja dibiarkan melorot memperlihatkan tanda merah bekas hisapan di dada montoknya. Kamera ponsel diarahkan berputar ke arah ranjang, menyorot tubuh Danang yang tertidur pulas tanpa bus

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   2. Godaan Nyonya

    “Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   1. Puasin Aku

    "Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status