LOGINRendra mengangkat tubuh ringan Arini ke dalam gendongan maskulinnya. Kakinya yang kuat dan berotot melangkah tenang menembus pintu ruang depan yang terbuka lebar. Dengan satu kaki, dia mendorong daun pintu kayu jati ganda hingga tertutup rapat, lalu memutar slot grendel kunci ganda dari dalam. Dunia luar yang bising dan kejam kini sepenuhnya terkunci di balik dinding tebal rumah mewah itu. Hanya suara angin malam dan detak jantung mereka berdua yang terdengar. Rendra menuruni langkahnya di ruang tengah yang luas, mendudukkan Arini dengan sangat hati-hati di atas sofa beludru panjang yang empuk. Tangan kasar sang montir bergerak lembut menyeka lelehan air mata di pipi porselen Arini yang masih memerah seperti rose merah. Jempolnya mengusap pipi itu pelan, turun ke leher Arini, menyentuh bekas gigi Danang dengan penuh kasih sayang. “Rumah ini… selama lima tahun terasa seperti neraka yang dingin, Mas Rendra…” bisik Arini dengan suara serak yang bergetar rapuh. Matanya menatap sekel
"Lihat lehernya!" Teriak Danang sambil menunjuk liar ke tengkuk Arini yang masih penuh bekas sidik jari merah menyala dan bintik-bintik gigi yang ungu pekat. Mata pria itu memerah membara, urat lehernya menonjol karena amarah yang sudah mendidih lima tahun lamanya. “Kalian semua harus lihat! Istriku ini tidur dengan montir kampung itu! Tanda merah di lehernya itu bukti dia berzina di belakangku, menyedot kontolnya dalam-dalam sampai keluar kencing! Lihat juga ke bawah, bau bangsatnya masih menempel di paha kanannya!”Warga yang berkerumun di pekarangan rumah mewah itu langsung tertawa gila, sorak-sorai dan jari-jari menunjuk sambil mengumpat kasar. Beberapa orang sudah memegang HP, merekam momen vulgar ini untuk dibagikan ke grup WhatsApp kampung. Arini berdiri gemetar di tengah aspal, gaun terusan putihnya sudah robek di bagian depan, dada montoknya yang selalu dibela Danang sekarang terpampang telanjang, putingnya mengeras karena kedinginan dan malu yang membakar. Di antara kakinya
Suara kepanikan komandan satpam dari pengeras suara ponsel seketika membelah keheningan kabin mobil bak ganda milik Rendra. Arini mematung selama beberapa detik, mencerna kabar yang terdengar bagaikan petir di siang bolong tersebut. Sorot mata bulat sang nyonya perlahan berubah, dari sisa lelah pasca percintaan panas menjadi kilatan dingin yang teramat tajam. "Diarak ke pos depan rumah saya?" tanya Arini dengan nada suara datar tanpa sedikit pun getaran panik. "Benar, Bu Arini!" sahut komandan satpam dengan napas tersengal di seberang telepon. "Warga kampung memergoki Pak Danang dan perempuan itu di ranjang tanpa busana! Ketua RW kampung ujung menuntut pertanggungjawaban di depan warga komplek!" "Biarkan mereka masuk ke pelataran depan rumah saya, Pak Satpam," titah Arini dingin dan lugas. "Tapi, Bu... ini bakal jadi tontonan warga satu komplek—" "Buka gerbangnya sekarang," potong Arini tanpa ragu. "Saya sedang dalam perjalanan pulang." Panggilan telepon diputus seketika oleh
Getaran panjang di layar ponsel Arini terus berlanjut tanpa henti. Wajah janda ujung kampung itu terpampang jelas menuntut agar panggilan video segera diterima. Rendra menatap layar tersebut dengan rahang mengeras kaku. Telapak tangan kekar sang duda mencengkeram tepi meja kafe hingga urat-urat lengannya menonjol keluar. "Tekan tombol hijau itu, Arini," bisik Rendra dengan suara bariton rendah yang sarat akan ketegasan jantan. "Tunjukkan pada wanita murahan itu kalau nyalimu tidak menciut sedikit pun." Arini menarik napas panjang seraya menyeka sudut matanya yang basah oleh sisa amarah. Ibu jarinya menggeser ikon hijau ke atas, menghubungkan sambungan video di antara mereka. Layar ponsel seketika menampilkan wajah Yuni dengan senyuman mengejek yang menjijikkan. Daster merah tipis sang janda sengaja dibiarkan melorot memperlihatkan tanda merah bekas hisapan di dada montoknya. Kamera ponsel diarahkan berputar ke arah ranjang, menyorot tubuh Danang yang tertidur pulas tanpa bus
Melihat pintu kamar mandi tertutup, Danang hanya bisa menghela napas panjang seraya memijat pelipisnya. Pria itu memutuskan untuk memejamkan mata sejenak, kelelahan setelah adegan ranjang yang menguras tenaganya. Di dalam kamar mandi, Yuni tersenyum dingin di depan cermin retak. Rencananya sudah bulat. Jika Danang terlalu pengecut untuk mendepak Arini, maka dialah yang akan menghancurkan mental istri sah itu sampai Arini sendiri yang meminta cerai. Selesai membilas tubuhnya dan berganti daster sutra merah yang tipis menerawang, Yuni melangkah jinjit kembali ke kamar. Danang tampak sudah mendengkur halus di atas ranjang. Di atas nakas kayu, ponsel mahal milik Danang tergeletak berdampingan dengan dompet kulitnya. Yuni meraih ponsel Danang dengan sangat hati-hati. Layar terkunci dengan pola, namun Yuni sudah hafal gerak-gerik tangan Danang setiap kali membuka kunci. Dengan sekali usapan, layar ponsel itu terbuka. Jari-jari lentik Yuni bergerak lincah membuka aplikasi pesan. Ia m
Deru napas terengah-engah dan decit ranjang besi berkarat memecah pengapnya kamar tidur berdinding bilik bambu di ujung kampung. Hawa panas menyengat dari seng atap yang terpanggang terik siang membuat peluh mengalir deras di sekujur punggung kurus Danang, menetes tepat ke atas belahan dada montok Yuni yang telentang pasrah di bawah kukungannya. Daster tipis bermotif kembang milik sang janda sudah robek di bagian kerah, tersingkap berantakan hingga ke leher tanpa menyisakan sehelai benang pun untuk menutupi kulit sawo matangnya yang sintal. Danang bergerak liar bagaikan orang kesurupan. Ego lelakinya yang sempat terluka oleh sikap dingin Arini di rumah mewah tadi pagi kini ia tumpahkan membabi buta ke atas tubuh Yuni. "Ahhh... Mas Danang... kenceng banget, Mas! Terusin, Mas!" erang Yuni seraya melengkungkan pinggangnya ke atas. Kedua kaki jenjang Yuni mencengkeram erat pinggul Danang, mengunci pria beristri itu agar menekan semakin dalam ke liang hangatnya yang sudah banjir pelu
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p







