Share

433.

Author: Dre LA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-16 11:18:41

Danang melangkah santai melintasi lantai marmer seraya mengibaskan lembaran kertas bermeterai di tangannya.

Senyum pongah tersungging di bibir lebam pria itu, menatap Arini seolah sang istri hanyalah mangsa yang sudah terpojok di sudut ruangan.

"Kamu pikir borgol murahan itu bisa menahanku lebih dari dua jam di kantor polisi, Arini?" cibir Danang dengan nada suara mengejek.

Nyonya Ratih tersenyum bangga seraya menepuk pundak anak lelaki kesayangannya.

"Keluarga kita punya relasi pejabat di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    433.

    Danang melangkah santai melintasi lantai marmer seraya mengibaskan lembaran kertas bermeterai di tangannya. Senyum pongah tersungging di bibir lebam pria itu, menatap Arini seolah sang istri hanyalah mangsa yang sudah terpojok di sudut ruangan. "Kamu pikir borgol murahan itu bisa menahanku lebih dari dua jam di kantor polisi, Arini?" cibir Danang dengan nada suara mengejek. Nyonya Ratih tersenyum bangga seraya menepuk pundak anak lelaki kesayangannya. "Keluarga kita punya relasi pejabat di mana-mana, Danang. Menantu pembangkang ini terlalu naif mengira hukum jalanan bisa menjatuhkan keluarga terhormat kita." Pengacara berkacamata di samping Nyonya Ratih melangkah maju, lalu membuka map kulit hitam dan menyodorkan salinan dokumen berkop notaris ke hadapan Arini. "Pasal tujuh perjanjian pranikah menyebutkan secara mutlak, hak milik atas tanah dan kediaman Cemara Hijau beralih penuh kepada pihak suami apabila pernikahan bubar tanpa adanya keturunan," papar sang advokat dengan inton

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    432.

    Layar ponsel di atas meja kecil itu terus menyala terang, memancarkan pesan dingin dari pengacara keluarga besar Danang. Arini menatap deretan kalimat itu dengan napas yang tertahan sesaat di tenggorokan. Kedua pundak wanita jelita itu sempat menegang kaku, teringat pada sosok ibu mertuanya yang selama bertahun-tahun selalu memperlakukannya dengan tatapan merendahkan. Telapak tangan kekar Rendra mendarat lembut di tengkuk Arini, memberikan remasan hangat yang seketika mengurai rasa beku di sekujur sarafnya. "Ada masalah baru?" tanya Rendra seraya mencondongkan wajahnya, menyapukan embusan napas hangat di pipi sang nyonya. Arini menyodorkan layar ponsel itu tanpa menyembunyikan apa pun dari tatapan sang montir. "Ibu mertuaku... Nyonya Ratih sedang menuju kemari bersama tim kuasa hukum keluarga besarnya," bisik Arini dengan bibir ranum yang bergetar pelan. "Wanita itu tidak pernah menerima anaknya disalahkan, Mas. Selama lima tahun pernikahan, beliau selalu memandang rendah kelua

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    431.

    Rendra mengangkat tubuh ringan Arini ke dalam gendongannya seperti anak kecil. Otot lengan Rendra yang tegang mengangkat tubuh ramping itu tanpa usaha. Arini merasakan kehangatan dada Rendra di dadanya, kain sutra jubahnya yang tipis hampir tak menahan sentuhan otot perut Rendra yang keras. Ia menyelipkan wajahnya lagi di leher pria itu, mencium kulit sawo matangnya pelan, mencicipi garam keringat yang bercampur aroma sabun mandi Rendra yang sederhana. Rendra membawanya melangkah menjauhi pecahan kaca menuju sofa panjang di sudut balkon yang bersih. Udara malam yang sejuk membelai kulit mereka berdua, menghapus sisa kepengapan drama berdarah yang baru saja berlalu. Angin malam menyusup ke balik kain sutra Arini, menyentuh kulit paha dalamnya yang terpapar sedikit saat jubahnya terbuka. Di balkon yang diterangi lampu neon lembut dari taman bawah, Rendra mendudukkan Arini di pangkuannya dengan hati-hati, pinggul Arini tepat di pangkuan Rendra. Lutut Arini terbuka sedikit karena po

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    430.

    Jantung Danang berdegup kencang. Ia merangkak lebih dekat, jarinya mencengkeram kaki petugas polisi. “JANGAN DENGARKAN BAJINGAN INI, KOMANDAN!” potong Danang seraya memukul lantai marmer kalap dengan tinju berdarah. “Saya pemilik sah rumah mewah ini! Saya yang membayar pajak, yang membangun taman ini! Tangkap saja montir kampung kere ini! Saya yang bersaksi!” “Pak Polisi!” suara Arini tiba-tiba menggelegar dari atas ranjang, tajam dan penuh wibawa bangsawan. “Komandan, jangan percaya satu patah kata pun dari mulut pria penipu ini!” Arini melangkah turun dari kasur dengan balutan jubah tidur sutra panjang yang dirapatkan erat menutupi tubuhnya. Kain sutra hitam pekat itu melilit tubuh rampingnya seperti pelukan malam yang seksi, bahu telanjangnya terpapar sedikit di samping leher, lekuk pinggang rampingnya yang indah terlihat jelas di bawah cahaya redup. Rambut panjangnya yang hitam mengalir liar di bahu, beberapa helai menempel di pipinya yang pucat karena syok. Wajah ayu sang

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    429.

    Mata elang Rendra seketika terbuka lebar di tengah temaram kamar, naluri pelindungnya menyala dalam hitungan sepersekian detik. Tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun, tangan kekar Rendra menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh polos Arini sebatas leher. Embusan angin malam kembali berdesir kencang, menyingkap tirai tipis balkon dan memperlihatkan siluet tubuh yang berdiri membungkuk di ambang pintu kaca. Pijar merah dari ujung puntung rokok kretek menyala samar di kegelapan, menerangi separuh wajah yang kotor berlumuran keringat dan debu jalanan. Arini tersentak bangun saat merasakan hawa dingin yang menusuk kulit, lalu menoleh panik ke arah balkon dengan napas tercekat. "M-Mas Rendra..." bisik Arini tercekat saat melihat bayangan pria yang melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu melangkah tertatih dengan langkah terseok-seok, membuang puntung rokoknya ke atas lantai kayu tanpa rasa bersalah. Danang berdiri di sana dengan kemeja robek tak karuan, wajah babak b

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    428.

    "aaaahhh!" Arini melenguh panjang, membuka rongga mulutnya lebar untuk menyambut sapuan lidah Rendra yang begitu hangat dan memabukkan. Lidahnya berputar-putar di dalam mulut Rendra, menjilat gigi atasnya, menyentuh langit-langit mulut. Tangan Arini meraba garis otot punggung Rendra yang kokoh, turun ke pinggang, meremas bokong pria itu yang keras dan bulat. Kedua tangan lentik Arini meraba garis otot punggung Rendra yang kokoh, merasakan detak jantung pria perkasa itu yang bertalu seirama dengan detak jantungnya sendiri—jantung Rendra berdegup kencang, seperti mesin yang baru dihidupkan. Tiada lagi ketergesaan atau kepanikan yang menghantui, hanya ada dua jiwa yang saling memeluk dan menuntaskan dahaga asmara yang teramat dalam. Tangan besar Rendra perlahan melucuti kain pakaian Arini sehelai demi sehelai, memperlakukan tubuh porselen itu layaknya mahakarya paling berharga di muka bumi. Pertama, gaun terusan putihnya dilepas perlahan dari bahu, memperlihatkan bra hitam tipis yang

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    3. Pijat Aku

    Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    2. Godaan Nyonya

    “Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    4. Mimpi Basah

    Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status