LOGINFaris belum puas. Ia mendorong Sinta hingga terlentang di kasur yang masih basah oleh cairan mereka. Daster tipis itu sudah tidak ada gunanya; Faris menyingsingkannya hingga ke dada, menyingkap sepasang payudara montok yang naik-turun mengikuti napas Sinta yang masih memburu. Putingnya sudah mengeras, berwarna merah muda gelap, siap untuk digigit. Faris tidak membuang waktu. Mulutnya langsung menyambar payudara kiri, menghisap kuat seolah ingin menelan seluruhnya. Lidahnya berputar liar di sekitar puting, lalu menghisap lagi lebih dalam, lebih rakus. Tangan kanannya meremas payudara kanan dengan kasar, memelintir putingnya hingga Sinta mengerang panjang. “Ahhh… Faris… pelan… ahhh jahat…” Faris tidak menghiraukan. Ia berpindah ke payudara kanan, menghisap sama kuatnya, meninggalkan jejak kemerahan di kulit putih di sekitarnya. Setiap hisapan membuat payudara Sinta terasa semakin penuh, semakin bengkak. Faris menggigit pelan putingnya, lalu meng
Faris tiba di kos hampir pukul dua dini hari. Motornya dimatikan jauh sebelum pintu pagar, agar tidak menimbulkan suara. Ia berjalan pelan di sepanjang koridor lantai dua, sepatu dinasnya digenggam di tangan. Semua pintu kamar anak kos lain sudah gelap. Hanya satu pintu yang sedikit terbuka: kamar Sinta di ujung. Ia mendorongnya pelan. Sinta tertidur miring membelakanginya, hanya memakai daster tipis tanpa celana dalam. Seprai kusut di sekitar pinggang, satu kaki terangkat sedikit, memperlihatkan celah pantat dan bibir memek yang masih sedikit terbuka. Napasnya teratur, dalam, wajahnya tenang dalam tidur. Faris menutup pintu tanpa suara, mengunci dari dalam. Ia melepas kaos dan celana dengan cepat. Kontolnya sudah setengah tegang hanya karena melihat tubuh Sinta yang tidak berdaya di kasur. Ia naik ke atas ranjang, berlutut di belakang wanita itu, menekan batang panasnya di celah pantat Sinta, menggesek pelan naik-turun hin
Faris duduk di atas motornya di pinggir jalan tol yang sepi, helm sudah terlepas, keringat masih menempel di pelipis. Pengiriman rokok ke luar kota memaksanya meninggalkan kos sejak siang, dan sekarang matahari sudah condong ke barat. Di dalam saku celana, ponselnya terus bergetar oleh notifikasi, tapi ia menahan diri untuk tidak langsung membuka. Kepalanya penuh oleh bayangan Sinta pagi tadi. Pantat merah yang masih hangat di telapak tangannya, desahan wanita itu ketika rambutnya dijambak, cairan yang menetes di lantai dapur. Faris menggeser posisi duduknya, merasa kontolnya mulai mengeras hanya karena mengingat. Ia ketagihan. Sudah jelas. Setiap kali menutup mata, yang muncul hanya pinggang ramping Sinta, liang basah yang menjepitnya, dan wajah wanita itu yang basah oleh air mata kenikmatan. Ia membuka galeri, melihat foto yang ia ambil diam-diam sebelum berangkat: Sinta masih tertidur di kasurnya sendiri setelah mereka pindah dari dapu
Faris belum selesai. Ia menarik tubuh Sinta yang masih lemas, membalikkannya hingga berlutut di atas lantai dapur yang dingin dan basah. Daster jingga muda itu sudah tidak berguna lagi; Faris menyingsingkannya hingga ke pinggang, menyingkap pantat montok Sinta yang masih basah oleh cairan mereka sendiri. Dengan tangan kasar, ia menekan punggung Sinta hingga dada dan wajahnya menempel ke ubin, pantat terangkat tinggi, kaki terbuka lebar. “Tahan posisi ini,” perintah Faris parau. Sinta hanya bisa mengangguk lemah, jari-jarinya mencengkeram ubin yang licin. Faris berlutut di belakangnya, menekan kontolnya yang masih setengah tegang di celah pantat Sinta, menggesek naik-turun hingga batang itu kembali mengeras penuh. Tanpa peringatan, ia mendorong masuk lagi. Kepala kontol menembus liang yang masih longgar dan basah, disusul batang tebal hingga ke pangkal. Sinta mengerang panjang, tubuhnya terdorong ke depan oleh hentakan itu.
Faris tidak memberi Sinta kesempatan untuk berpikir lebih jauh. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia memutar tubuh sang nyonya kos hingga menghadapnya, lalu mendorongnya mundur hingga punggung Sinta menabrak tepi meja makan. Daster jingga muda itu tersingkap hingga pinggang, memperlihatkan paha putih kenyal yang bergetar. Faris berlutut di lantai dapur yang masih basah bekas cipratan air, menarik pinggang Sinta turun hingga pantatnya mendarat di atas ubin dingin. “Faris… lantai ini kotor…” bisik Sinta, suaranya sudah pecah oleh nafsu. Namun protes itu hanya membuat Faris semakin berani. Ia menyingsingkan daster Sinta hingga ke dada, menyingkap sepasang payudara montok yang masih basah oleh keringat pagi. Mulutnya langsung menyambar puting kanan, menghisap kuat sambil lidahnya berputar liar. Sinta melengkungkan punggung, jari-jarinya menjambak rambut Faris, desahan tertahan keluar dari bibirnya. “Ahhh… jahat… kamu jahat banget…”
"Mbak Sinta, galon air di dekat tangga sudah saya ganti yang baru." Suara Faris terdengar begitu datar dan sopan, memecah keriuhan kecil di area dapur bersama lantai satu. Tiga rekan kerjanya sesama buruh linting kretek yang sedang menyeruput kopi hitam tampak sibuk mengencangkan tali sepatu dinas masing-masing. "Iya, Faris, terima kasih banyak sudah dibantu," sahut Sinta dengan senyuman ramah khas pemilik kos yang menjaga martabatnya. Gerakan tangan Sinta yang sedang mengelap meja makan terlihat begitu anggun dan berjarak, seolah tidak pernah ada skandal terlarang apa pun di antara mereka. "Wah, Faris sekarang rajin banget bantu-bantu ibu kos," celetuk Joko seraya menyambar bungkus rokoknya dari atas meja. "Pantas saja uang sewa kamarmu nggak pernah ditagih galak." Tawa renyah buruh-buruh lain menyusul, membuat pipi Sinta diam-diam memanas terbakar rasa gugup. "Semua anak kos di sini saya perlakukan sama, Mas Joko," tanggap Sinta cepat seraya memutar tubuhnya ke arah wastafel.
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di







