ANMELDEN"Dari tadi siang, Bay... aku nggak makan, aku cuma nungguin kamu dari jam dua belas... aku duduk di lantai kamar ini tanpa berani bergerak, takut kalau-kalau kamu pulang dan aku nggak dengar suara motormu..." rintih Maya, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit sekaligus nikmat yang menjalar di seluruh tubuhnya saat Bayu mulai bertindak buas. Air mata tipis mengalir di pelipisnya, tetapi ia tidak meminta Bayu berhenti. Justru ia mendorong pinggulnya ke depan, mencari lebih banyak sentuhan kasar itu. "Bagus. Berarti kamu emang bener-bener nggak ada kerjaan lain selain nungguin giliranku. Nggak ada pacar? Nggak ada teman? Cuma aku satu-satunya yang bisa ngisi kekosongan di otakmu, ya?" geram Bayu sambil menyeringai sinis. Ia mengangkat tubuh Maya dengan kedua tangannya yang kokoh, menyandarkan gadis itu di atas meja kayu tua yang rapuh. Kayu itu berderit protes menahan beban dua tubuh yang saling bertempur. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Bayu menyatukan tubuh mereka dengan satu
Tanpa ragu, perempuan itu menubrukkan tubuhnya, mendorong Bayu hingga pemuda itu telentang di atas kasur. Maya langsung mengangkangi perut Bayu. Ia meraup bibir laki-laki itu, memberikan ciuman yang sangat kasar, rakus, dan menuntut. Ia menggigit bibir bawah Bayu hingga berdarah, memaksakan rasa sakit yang ia dambakan. Adrenalin dan gairah Bayu meledak seketika. Sisa-sisa kelembutannya menguap tanpa sisa. Kalau perempuan ini meminta neraka, maka Bayu akan memberikannya neraka yang paling panas. Dengan satu putaran brutal, Bayu membalik posisi. Ia membanting punggung Maya ke atas kasur dengan tenaga penuh, lalu menekan kedua pergelangan tangan perempuan itu ke atas kepalanya. "Kamu mau aku kasar, hah?!" bentak Bayu beringas, urat di lehernya menonjol liar. Matanya menyala oleh dominasi predator yang baru saja dibangunkan paksa. "Iya, Bay! Siksa aku! Anggap aku nggak lebih dari pelampiasanmu!" racau Maya setengah sadar, melengkungkan punggungnya, sengaja menggesekkan tubuhnya
Hembusan napas yang berat dan terengah-engah menjadi satu-satunya suara yang tersisa di dalam kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Tubuh Maya merosot lemas. Punggungnya merosot dari dinding yang sedingin es, hingga akhirnya ia terduduk di atas ubin dengan kepala bersandar pada lututnya. Sekujur tubuhnya memerah, dipenuhi jejak kemerahan dari cengkeraman tangan dan gigitan Bayu. Perempuan itu gemetar, bukan lagi karena dinginnya malam, melainkan karena sisa-sisa gelombang kenikmatan yang baru saja menghancurkan seluruh saraf sadarnya. Di depannya, Bayu berdiri membelakangi Maya. Pemuda itu mengancingkan kembali celananya dalam diam. Bahunya yang tegap naik turun, mengatur napas. "Jangan tidur di ubin," perintah Bayu dengan nada yang sengaja dibuat sedatar dan sedingin mungkin. "Pindah ke kasur. Aku nggak mau repot ngurusin kamu kalau besok pagi kamu mati kedinginan." Tanpa menoleh sedikit pun, Bayu melangkah menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Bunyi pintu diba
Maya memejamkan mata, mengaitkan kedua tangannya di belakang punggung, menempelkan bahunya ke dinding yang dingin dengan wajah pasrah tapi bergairah. "Udah, Bay..." Seketika itu juga, Bayu meraup bibir Maya dengan ciuman yang luar biasa beringas. Tidak ada pemanasan, tidak ada kelembutan. Itu adalah serangan murni. Gigi Bayu berbenturan dengan bibir Maya yang sudah pecah, membuat darah kembali merembes, menciptakan rasa anyir di dalam mulut mereka. "Mmphh! Nghh... Bay..." Maya mengerang panjang di dalam ciuman itu, tubuhnya melengkung ke depan, merespons rasa sakit yang dipadukan dengan gairah yang meledak paksa, celana dalamnya basah, dan jantungnya berdebar-debar kencang. Tangan besar Bayu menyusup, mencengkeram pinggang telanjang Maya dengan sangat kasar, lalu turun meremas paha perempuan itu hingga meninggalkan jejak kemerahan. Sensasi tangan hangat Bayu di atas kulitnya yang sedingin es membuat kewarasan Maya hancur berkeping-keping. "Ahh! B-Bay... kasar... lebih kasar
"Kenapa? Kamu baru aja bilang rela tidur di kolong kasur," sindir Bayu dengan senyum miring yang mematikan. Ia membungkuk sedikit, menatap mata ketakutan Maya. "Ini ujian pertamamu sebagai pelacur rahasiaku, May. Tidur di bagasi yang dingin sampai kita tiba di Jakarta, atau mati membusuk di desa ini. Pilih sekarang." Maya menelan ludah, menatap wajah laki-laki yang dulu begitu lembut padanya, yang kini berubah menjadi monster tak berhati. Namun, rasa cintanya yang buta dan ketakutannya pada kesendirian jauh lebih besar dari apa pun. Sambil terisak pilu, Maya mengangguk pelan. "Aku... aku mau masuk ke bagasi, Bay. Aku nurut." "Bagus," desis Bayu puas. "Anjing yang penurut bakal dapat tulang yang enak nanti di Jakarta." Tanpa sedikit pun belas kasihan, Bayu melangkah masuk ke dalam kabin belakang SUV yang mewah dan hangat, menutup pintunya rapat-rapat. Dari balik kaca jendela yang gelap, ia melihat pengawalnya mengangkat tubuh Maya yang basah kuyup dan menggigil dari lumpur, lal
Langkah panjang Bayu nyaris mencapai pintu SUV hitam yang telah dibukakan oleh pengawalnya. Hujan badai Sukamaju malam itu seolah ingin membersihkan sisa-sisa darah dan dosa yang baru saja ia tinggalkan di rumah Dewa. Namun, sebelum sebelah kakinya melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang hangat, sebuah jeritan histeris membelah gemuruh hujan. "Bayu! Tunggu, Bay!" Bayu menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan dengan rahang mengeras. Maya berlari terseok-seok menembus hujan deras dari ambang pintu rumahnya. Tanpa mempedulikan daster tipisnya yang sudah robek dan basah kuyup, tanpa peduli pada tatapan dingin dua pengawal bertubuh besar di sana, perempuan itu menubrukkan dirinya. *BRUK!* Maya berlutut, menjatuhkan tubuhnya ke dalam genangan lumpur tepat di depan ujung sepatu pantofel Bayu yang mengkilat. Ia memeluk kedua kaki pemuda itu erat-erat, menempelkan wajahnya yang memar dan bercampur air mata ke celana kain mahal Bayu. "Bawa aku, Bay... kumohon, bawa aku ke Jakarta..
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di







