Masuk
Langit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit.
Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.
“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan.
“Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.
“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang.
Tidak ada kebisingan, tidak ada keraguan. Aura kekuasaan mengalir dari setiap gerakannya, membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa harus menjaga jarak. Di ruang rapat sudah ada belasan orang, semuanya berdiri ketika Leonardo masuk.
“Duduk.” Leonardo bersuara dengan suara dalam dan dingin, namun membawa wibawa yang membuat semua patuh.
Rapat dimulai, pembahasan tentang ekspansi pabrik baru di Napoli, kontrak internasional, dan laporan laba kuartal ini. Leonardo mendengarkan dengan seksama, jarinya mengetuk meja pelan kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika menghitung kemungkinan yang tidak terlihat di permukaan.
“Saya ingin laporan detail mengenai dana masuk dari Giovanni Group.” Nada suaranya berubah lebih tajam.
Direktur keuangan menelan ludah. “Baik … tapi ada sedikit ketidaksesuaian angka, pak.”
Leonardo menatapnya. Tatapannya cukup membuat pria itu terdiam. “Ketidaksesuaian seperti apa?”
“Kami masih menelusuri, tetapi—” Leonardo mengangkat tangan, menghentikannya.
“Saya ingin jawabannya malam ini. Tidak besok. Tidak minggu depan. Malam ini.”
Direktur itu mengangguk cepat. “Ya, tentu.”
Sofia, yang berdiri di belakang Leonardo, mencatat semuanya tanpa ekspresi. Namun ia tahu, hanya dari nada suara tuannya itu, bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Rapat berlangsung lebih dari satu jam sebelum Leonardo akhirnya menutupnya dengan satu kalimat yang membuat semua orang tegang:
“Mulai hari ini, siapa pun yang bermain di belakang saya … akan saya singkirkan.” Seketika semua keluar, suasana ruang rapat berubah sunyi. Sofia tidak beranjak.
“Signor Moretti.” ia ragu sejenak.
“Apakah ini tentang keluarga Santoro?” Leonardo membuka kancing lengan jasnya “Mereka bergerak lagi.”
Sofia menghela napas tipis. “Mereka tidak akan berhenti sampai—”
“Mereka mendapatkan kepalaku,” potong Leonardo, datar.
“Aku tahu.” Hening sesaat sebelum interkom di dinding berbunyi.
“Panggilan untuk Anda, signore.” Sofia menutup mata. Panggilan itu bukan dari keluarga biasa.
Leonardo mengambil telepon tanpa ekspresi. “Aku dalam perjalanan.”
Setelah malam memeluk kota, mobil hitam panjang meluncur keluar dari gedung Moretti Motors, menuju jalanan tersembunyi yang tidak pernah terlihat di peta resmi Milan. Mobil berhenti di sebuah villa tua yang dikelilingi patung batu dan pohon sycamore besar. Di sinilah dunia lain milik Leonardo berada.
Dunia hitam. Dunia keluarga Moretti, ketika ia masuk, para penjaga memberi hormat. Ruangan remang-remang itu dipenuhi aroma cerutu dan kayu tua. Di ujungnya, seorang pria tua duduk di kursi besar, wajahnya keras dan dingin Vittorio Moretti, ayah Leonardo.
“Kau terlambat,” ujar Vittorio.
Leonardo duduk dengan tenang. “Aku adalah CEO. Tidak mungkin aku meninggalkan kantor begitu saja.”
“Kau pewaris keluarga Moretti sebelum kau seorang CEO,” suara Vittorio bergetar oleh otoritas yang tak pernah pudar.
Leonardo hanya terdiam,ia sudah mendengar kalimat itu ribuan kali. Sudah dari awal Leonardo ingin masuk ke dunia Mafia.
“Keluarga Santoro menyerang gudang kita di Roma,” kata Vittorio kemudian.
“Mereka ingin memancingmu keluar,” jawab Leonardo,
Leonardo mengeraskan rahang. “Biarkan mereka mencoba.”
“Kau harus lebih berhati-hati, Leo. Mereka mengincar wanita itu,” kata Vittorio
Leonardo menatap ayahnya. “Wanita yang mana?”
“Yang kau selamatkan tujuh tahun lalu.” Leonardo Hening seketika, nama yang tidak pernah ia sebut selama bertahun-tahun tiba-tiba memenuhi benaknya.
“Elena, sekarang dia adalah jurnalis sekarang.” Vittorio menyeringai tipis.
“Dan dia menggali kasus yang tak seharusnya dia jamah.” Jantung Leonardo berdegup lebih cepat, untuk pertama kalinya malam itu.
“Dia tidak tahu apapun tentang kita,” tegasnya.
“Belum.”Vittorio mencondongkan tubuh.
“Dan itu hanya soal waktu sampai keluarga.” Pintu villa tiba-tiba terbuka dengan keras.
Salah satu anak buah berlari masuk. “Signor! Polisi! Mereka melakukan penyelidikan mendadak di pelabuhan kita!”
Vittorio berdiri. “Santoro membocorkan sesuatu!”
Leonardo menghela napas pelan. “Aku yang akan pergi.”
“Apa kau gila?” Vittorio membentaknya. “Kau CEO, Leonardo! Kau tidak boleh terlihat di pelabuhan atau—”
“Santoro ingin perang.”Leonardo mengambil mantel hitam panjangnya.
“Dan aku tidak pernah kalah dalam perang.”Sofia masuk tergesa-gesa.
“Signore! Anda tidak bisa pergi sendirian—” Leonardo menatapnya tajam.
“Aku tidak pernah sendirian,” kata Leonardo lalu pergi.
Pelabuhan malam itu dipenuhi polisi, lampu merah-biru berputar di udara dingin. Leonardo berdiri di kejauhan, bersembunyi di balik gudang besar yang gelap. Anak buahnya mengintai, siap memberi perintah kapanpun, tetapi pandangannya terhenti ketika ia melihat seseorang berdiri di tepi area investigasi.
Seorang wanita dengan rambut cokelat panjang dan tatapan tajam penuh analisis, memegang buku catatan dan kamera kecil, Leonardo membeku, ia melihat Elena Russo.
Wanita itu tampak tidak menyadari bahaya yang mengintai di sekelilingnya. Ia berbicara dengan seorang polisi, menunjukkan foto-foto, lalu memotret kontainer yang sedang dibuka.
“Kita tidak bisa membiarkannya disini,” gumam salah satu anak buah Leonardo.
“Dia tidak boleh tahu,” kata Leonardo dengan suara rendah, hampir seperti desahan.
“Tapi dia sudah tahu terlalu banyak, signore,” ucapan itu membuat Leonardo menatap pria tersebut dengan tajam.
“Sentuh satu helai rambutnya,” katanya dingin,
“dan aku akan memastikan kau menghilang dari muka bumi.” Anak buahnya menelan ludah.
Sebelum Leonardo sempat bergerak mendekati Elena, sebuah suara tiba-tiba memecah malam. Terdengar suara yang cukup sekeras dan ternyata orang tersebut adalah polisi.
“Hey! Ada orang di atas!” Lampu polisi mengarah tepat pada atap gudang tempat Leonardo berdiri.
Semuanya terjadi dalam detik-detik yang terasa seperti mimpi buruk, polisi mengarahkan senjata ke atas.Elena menoleh ke arah cahaya.Dan diantara sorotan lampu itu matanya bertemu dengan mata Leonardo, ia tampak shock, kaget, tidak percaya.Dan seakan waktu berhenti. Leonardo mundur satu langkah lalu dua langkah, namun suara polisi kembali mengaum
“Turun! Angkat Tangan kalian! Kami sudah melihat Anda!” Elena menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia baca.
Leonardo hanya punya dua pilihan, Melarikan diri atau menghadapi wanita yang paling ingin dilindungi. Namun sebelum ia memilih, sebuah tembakan dilepaskan dan terdengar suara
DOR!
Peluru menghantam dekat kakinya. Polisi semakin mendekat. Elena berlari ke arah cahaya, hendak melihat siapa pria itu, dan tepat ketika wajah Elena semakin jelas terlihat.
“Bukan malam ini.” Leonardo berbisik pada dirinya sendiri,
Ia menjatuhkan dirinya ke sisi belakang atap dan menghilang dalam kegelapan. Elena menatap kosong ke arah tempat pria itu menghilang namun di antara bayangan, ia menemukan sesuatu terjatuh di lantai pelabuhan sebuah cincin hitam dengan simbol Moretti Family.
Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Leonardo Moretti menggenggam pergelangan tangan Elena dan menariknya keluar dari ruangan sempit itu. Langkahnya cepat, terukur, tanpa kepanikan. Elena hampir tersandung, tapi genggaman Leonardo menguat, bukan kasar, justru kokoh. Seolah ia memastikan Elena tidak akan jatuh, tidak akan tertinggal.“Jangan berhenti,” ucapnya rendah tanpa menoleh. “Apa pun yang kau dengar, tetap berjalan.”“Leonardo—” Elena membuka mulut, tetapi kata-katanya terpotong oleh pintu darurat yang dibanting keras dari belakang.Mereka menuruni tangga besi menuju lorong gelap. Suara sepatu berlari terdengar di kejauhan entah polisi, entah orang Santoro. Atau keduanya. Leonardo mendorong sebuah pintu besi kecil, membawa Elena masuk ke gang sempit di belakang bangunan. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin menyala.“Masuk,” perintahnya singkat.Elena tidak sempat membantah. Pintu dibuka, ia didorong masuk, dan beberapa detik kemudian Leonardo menyusul, menutup pintu
Leonardo Moretti membenci rasa terlambat. Bukan karena waktu adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan melainkan karena keterlambatan selalu berarti satu hal: seseorang telah bergerak lebih dulu darinya. Mobil-mobil hitam Moretti melesat meninggalkan Milan, menyusuri jalanan luar kota yang mulai gelap. Leonardo duduk di kursi belakang, punggungnya tegap, kedua tangannya saling bertaut dengan tenang di atas paha. Tidak ada kegelisahan di wajahnya, tidak ada kemarahan yang meluap, namun Donato, yang duduk di depan, tahu betul ketenangan itu adalah pertanda paling berbahaya.“Kami kehilangan sinyal setelah keluar dari ring kota,” lapor Donato. “Mereka sengaja melepas umpan.”Leonardo menatap ke depan tanpa berkedip. “Santoro selalu menyukai ilusi kendali.”“Dan Elena?” Donato ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Tidak ada bukti dia terluka.”Leonardo mengangguk tipis. Jawaban itu tidak menenangkannya, tetapi cukup untuk memastikan satu hal. Santoro belum berniat membunuh, belum.“Dia ingin a
Leonardo Moretti tidak pernah menyukai malam yang terlalu sunyi. Keheningan selalu berarti dua hal yaitu seseorang sedang menunggu, atau seseorang sedang mati. Mobil hitamnya melaju perlahan di sepanjang jalan Milan yang basah oleh sisa hujan. Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti denyut pikirannya. Santoro tidak akan menghubunginya tanpa alasan. Dan ancaman itu bukan gertakan.“Donato,” panggilan Leonardo.“Iya, Signore ada apa?” tanya Donato.“Kamu melihat foto ini,” jawab Leonardo.“Aku perintahkan kau untuk menjaga orang yang ada di foto ini,”jelas Leonardo.“Baik, Signore akan saya laksanakan,” balas Donata dengan tegas.“Jaga jarak jangan sampai ia tahu kalau sedang di awasi,” perintah Leonardo singkat pada Donato. “Aku tidak mau mereka tahu kita sudah bergerak.”“Ini berbahaya, Signore,” jawab Donato rendah. “Bagaimana kalau semua ini jebakan—”“Aku tahu.” Nada Leonardo datar. Tanpa emosi.“Dan justru itu sebabnya aku datang,
Malam setelah kejadian di pelabuhan tidak meninggalkan jejak di wajah Leonardo Moretti setidaknya, tidak bagi dunia luar. Pagi itu, ia kembali berdiri di balik meja kaca ruang kerjanya, jas hitam rapi, rambut tersisir sempurna, dan ekspresi dingin yang sama. Di layar besar di dinding terpampang grafik saham Moretti Motors yang stabil, seolah-olah tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya.Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti. Mulai dari pelabuhan, polisi, dan Santoro, ada satu nama yang tidak seharusnya kembali memasuki hidupnya yaitu Elena Russo.“Permisi Tuan, artikel pertama sudah naik,” lapor Sofia dengan suara rendah. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Leonardo, memegang tablet. “Masih samar, tetapi arahnya jelas.”Leonardo tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tenang dikursi kebanggananya lalu kedua matanya masih tetap mengarah ke jendela besar yang menghadap kota Milan yang terlihat sangat ramai itu, tetapi keramaian itu tidak mem
Langit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit. Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan. “Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang. Tidak ada kebisin







