Share

Bab 4 – Pria dari Masa Lalu

Author: Hime_Hikari
last update Last Updated: 2026-01-28 22:18:14

Leonardo Moretti membenci rasa terlambat. Bukan karena waktu adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan melainkan karena keterlambatan selalu berarti satu hal: seseorang telah bergerak lebih dulu darinya. 

Mobil-mobil hitam Moretti melesat meninggalkan Milan, menyusuri jalanan luar kota yang mulai gelap. Leonardo duduk di kursi belakang, punggungnya tegap, kedua tangannya saling bertaut dengan tenang di atas paha. Tidak ada kegelisahan di wajahnya, tidak ada kemarahan yang meluap, namun Donato, yang duduk di depan, tahu betul ketenangan itu adalah pertanda paling berbahaya.

“Kami kehilangan sinyal setelah keluar dari ring kota,” lapor Donato. “Mereka sengaja melepas umpan.”

Leonardo menatap ke depan tanpa berkedip. “Santoro selalu menyukai ilusi kendali.”

“Dan Elena?” Donato ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Tidak ada bukti dia terluka.”

Leonardo mengangguk tipis. Jawaban itu tidak menenangkannya, tetapi cukup untuk memastikan satu hal. Santoro belum berniat membunuh, belum.

“Dia ingin aku bergerak,” kata Leonardo akhirnya. 

“Dan aku akan memberinya apa yang dia mau, “ tambahnya.

Mobil berbelok memasuki jalur yang lebih sempit. Lampu kota mulai menghilang, digantikan gelap yang lebih pekat. Di kejauhan, bayangan gudang-gudang tua berdiri seperti bangkai masa lalu tempat sempurna untuk menyembunyikan sesuatu atau seseorang.

Leonardo menyentuh alat komunikasi di telinganya. “Bagi tim. Dua ke utara, dua ke barat. Jangan menutup jalan utama.”

“Kita membiarkan mereka lolos?” tanya Donato.

Leonardo menoleh. Tatapannya dingin. “Kita membiarkan mereka merasa aman.”

Beberapa jam sebelumnya Elena Russo tidak langsung sadar bahwa ia telah meninggalkan dunia yang ia kenal. Ia hanya mengingat satu hal dengan jelas yaitu pintu apartemennya terbuka dan seseorang berdiri terlalu dekat.

Kini ia duduk di kursi belakang sebuah kendaraan, matanya tertutup kain tipis, tangannya tidak terikat terlalu keras. Tidak ada kekerasan. Tidak ada teriakan. Justru itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih mengerikan. Mobil berhenti.

“Turunkan dia,” perintah orang tersebut.

Elena digiring keluar. Udara dingin menyentuh wajahnya. Bau tanah basah dan besi tua menyelinap ke inderanya. Gudang. Ia yakin itu.

“Tenang saja,” kata seseorang di dekatnya. “Selama kau kooperatif, kau akan pulang dengan selamat.”

Elena menelan ludah. “Ini tentang Moretti, ya?”

Tidak ada jawaban, tetapi keheningan itu sudah cukup. Leonardo berdiri di depan sebuah rumah tua di pinggiran kota bangunan batu yang hampir runtuh, namun dijaga dengan rapi. Ini bukan gudang. Ini tempat persinggahan.

“Ini bukan lokasi akhir,” gumam Sofia yang baru bergabung. “Santoro memecah pergerakan.”

Leonardo mengamati sekeliling. Ia mengenali pola itu. Lama. Kuno. Digunakan oleh keluarga lama bukan untuk eksekusi, tapi untuk menilai. Santoro sedang menguji reaksinya.

“Kirim pengawas,” perintah Leonardo. “Jangan masuk.”

Sofia menoleh cepat. “Kita biarkan Elena di sana?”

Leonardo tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sesaat, seperti seseorang yang sedang menimbang dosa dan konsekuensi.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Aku akan mengambilnya, tetapi bukan malam ini.”

“Kenapa?” tanya Sofia.

“Karena dia harus melihat satu hal dulu.” Sofia terdiam.

Leonardo membuka matanya. “Santoro ingin dia tahu siapa aku. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi di bawah kendalinya.”

Malam semakin larut ketika Leonardo kembali ke villa keluarga Moretti. Vittorio duduk di ruang kerja, ditemani bayangan lampu kuning dan aroma cerutu tua. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu putranya telah datang.

“Kau mulai ceroboh,” kata papanya pelan.

Leonardo berdiri di hadapannya. “Dia bukan bagian dari permainan.”

Vittorio terkekeh pendek. “Semua orang adalah bagian dari permainan. Kau hanya lupa itu.”

Leonardo tidak membalas. Ia jarang berdebat dengan papanya bukan karena takut, melainkan karena pria tua itu selalu berbicara dari pengalaman berdarah.

“Wanita itu,” lanjut Vittorio, “akan melihat sisi dirimu yang selama ini kau sembunyikan.”

Leonardo menatap lantai. “Aku tahu.”

“Dan ketika dia melihatnya?” tanya Vittorio.

Leonardo mengangkat pandangannya. Tatapannya keras, namun ada sesuatu yang jarang terlihat di sana keteguhan yang bukan berasal dari kekuasaan.

“Dia berhak tahu,” katanya. “Akan tetapi dengan caraku.”

Vittorio terdiam lama, lalu berkata pelan, “Kau mulai terdengar seperti Mamamu.”

Leonardo membeku, saat papanya menyebutkan nama tersebut. Nama yang sudah lama didengar dan itu jarang disebut.

“Kau tahu bagaimana akhirnya,” lanjut Vittorio dingin. “Wanita lembut tidak bertahan di dunia kita.”

Leonardo berbalik, berjalan pergi. “Dia tidak hidup di dunia kita.”

Bahkan ia sendiri tidak yakin pada kalimat itu. Keesokan paginya Elena duduk sendirian di sebuah ruangan kecil. Pintu terkunci, namun tidak ada penjaga di dalam. Sebuah botol air dan roti diletakkan di meja. Perlakuan yang manusiawi.

Itu justru membuat pikirannya semakin kacau. Pintu terbuka, seorang pria masuk bukan Santoro. Bukan penculik pertama. Pria itu tinggi, berjas gelap, dengan tatapan profesional.

“Kau aman,” katanya singkat. “Untuk saat ini.”

“Aku ingin bicara dengan Leonardo Moretti,” ucap Elena tanpa ragu.

Pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. “Jadi kau sudah tahu.”

Elena menegakkan punggungnya. “Pria di atap gudang. Suara di telepon. Simbol di cincin.”

Pria itu menatapnya lama. “Kau pintar.”

“Di mana dia?” ulang Elena.

“Dia lebih dekat daripada yang kau kira.”

Di sisi lain kota, Leonardo berdiri di depan cermin, mengancingkan jasnya perlahan. Tidak ada senjata yang terlihat semuanya tersembunyi rapi.

Sofia memperhatikannya dari belakang. “Ini pertama kalinya Anda akan berdiri di hadapannya tanpa bayangan.”

Leonardo mengangguk. “Dan terakhir.”

“Kau yakin?” tanya Sofia.

Leonardo mengangkat pandangannya ke pantulan cermin. Untuk sesaat, ia melihat dirinya sendiri bukan sebagai CEO, bukan sebagai Moretti melainkan sebagai pria yang pernah berlutut di aspal tujuh tahun lalu, menekan luka seorang wanita asing agar ia tidak mati.

“Aku tidak yakin,” jawabnya jujur. “Tapi aku tidak akan bersembunyi.”

Ia melangkah keluar. Elena berdiri ketika pintu ruangan terbuka untuk kedua kalinya. Langkah kaki itu berat, terukur dan sangat familiar. Pria yang masuk mengenakan jas hitam rapi. Wajahnya tenang. Tatapannya dingin, tetapi Elena tahu. Ia tahu bahkan sebelum pria itu berbicara.

“Signorina Russo,” ucapnya rendah. “Aku minta maaf dengan cara kita bertemu.”

Udara di paru-paru Elena terasa hilang. Ia menatap pria itu, pria di atap gudang, suara di telepon, bayangan masa lalu dan akhirnya mengucapkan satu nama yang selama ini hanya hidup di kepalanya.

“Leonardo … Moretti.” Leonardo menatapnya balik. Tidak menyangkal. Tidak menghindar.

“Ya,” katanya pelan.

“Aku.” Keheningan menggantung di antara mereka, berat dan berbahaya.

Sebelum satu pun dari mereka bisa berkata lebih jauh pintu di belakang Leonardo terbuka keras. Seseorang berlari masuk.

“Signore!” teriaknya.

“Santoro bergerak. Polisi menuju ke sini!” Leonardo tidak mengalihkan pandangannya dari Elena.

“Kau percaya padaku?” tanyanya tiba-tiba.

Elena menelan ludah. Dunia yang ia kenal runtuh di sekelilingnya. Namun entah kenapa ia mengangguk. Dan pada detik itu, Leonardo Moretti membuat keputusan yang akan mengubah segalanya.

“Bawa dia,” perintahnya dingin.

“Kita pergi sekarang.” Di luar, sirene mulai terdengar.

Dan Elena belum tahu, bahwa dengan mengucapkan namanya, ia telah melangkah masuk ke dunia yang tidak akan pernah membiarkannya pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 5 – Di Bawah Perlindungannya

    Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Leonardo Moretti menggenggam pergelangan tangan Elena dan menariknya keluar dari ruangan sempit itu. Langkahnya cepat, terukur, tanpa kepanikan. Elena hampir tersandung, tapi genggaman Leonardo menguat, bukan kasar, justru kokoh. Seolah ia memastikan Elena tidak akan jatuh, tidak akan tertinggal.“Jangan berhenti,” ucapnya rendah tanpa menoleh. “Apa pun yang kau dengar, tetap berjalan.”“Leonardo—” Elena membuka mulut, tetapi kata-katanya terpotong oleh pintu darurat yang dibanting keras dari belakang.Mereka menuruni tangga besi menuju lorong gelap. Suara sepatu berlari terdengar di kejauhan entah polisi, entah orang Santoro. Atau keduanya. Leonardo mendorong sebuah pintu besi kecil, membawa Elena masuk ke gang sempit di belakang bangunan. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin menyala.“Masuk,” perintahnya singkat.Elena tidak sempat membantah. Pintu dibuka, ia didorong masuk, dan beberapa detik kemudian Leonardo menyusul, menutup pintu

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 4 – Pria dari Masa Lalu

    Leonardo Moretti membenci rasa terlambat. Bukan karena waktu adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan melainkan karena keterlambatan selalu berarti satu hal: seseorang telah bergerak lebih dulu darinya. Mobil-mobil hitam Moretti melesat meninggalkan Milan, menyusuri jalanan luar kota yang mulai gelap. Leonardo duduk di kursi belakang, punggungnya tegap, kedua tangannya saling bertaut dengan tenang di atas paha. Tidak ada kegelisahan di wajahnya, tidak ada kemarahan yang meluap, namun Donato, yang duduk di depan, tahu betul ketenangan itu adalah pertanda paling berbahaya.“Kami kehilangan sinyal setelah keluar dari ring kota,” lapor Donato. “Mereka sengaja melepas umpan.”Leonardo menatap ke depan tanpa berkedip. “Santoro selalu menyukai ilusi kendali.”“Dan Elena?” Donato ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Tidak ada bukti dia terluka.”Leonardo mengangguk tipis. Jawaban itu tidak menenangkannya, tetapi cukup untuk memastikan satu hal. Santoro belum berniat membunuh, belum.“Dia ingin a

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 3 – Satu Langkah Terlambat

    Leonardo Moretti tidak pernah menyukai malam yang terlalu sunyi. Keheningan selalu berarti dua hal yaitu seseorang sedang menunggu, atau seseorang sedang mati. Mobil hitamnya melaju perlahan di sepanjang jalan Milan yang basah oleh sisa hujan. Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti denyut pikirannya. Santoro tidak akan menghubunginya tanpa alasan. Dan ancaman itu bukan gertakan.“Donato,” panggilan Leonardo.“Iya, Signore ada apa?” tanya Donato.“Kamu melihat foto ini,” jawab Leonardo.“Aku perintahkan kau untuk menjaga orang yang ada di foto ini,”jelas Leonardo.“Baik, Signore akan saya laksanakan,” balas Donata dengan tegas.“Jaga jarak jangan sampai ia tahu kalau sedang di awasi,” perintah Leonardo singkat pada Donato. “Aku tidak mau mereka tahu kita sudah bergerak.”“Ini berbahaya, Signore,” jawab Donato rendah. “Bagaimana kalau semua ini jebakan—”“Aku tahu.” Nada Leonardo datar. Tanpa emosi.“Dan justru itu sebabnya aku datang,

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 2 – Liputan Berbahaya

    Malam setelah kejadian di pelabuhan tidak meninggalkan jejak di wajah Leonardo Moretti setidaknya, tidak bagi dunia luar. Pagi itu, ia kembali berdiri di balik meja kaca ruang kerjanya, jas hitam rapi, rambut tersisir sempurna, dan ekspresi dingin yang sama. Di layar besar di dinding terpampang grafik saham Moretti Motors yang stabil, seolah-olah tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya.Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti. Mulai dari pelabuhan, polisi, dan Santoro, ada satu nama yang tidak seharusnya kembali memasuki hidupnya yaitu Elena Russo.“Permisi Tuan, artikel pertama sudah naik,” lapor Sofia dengan suara rendah. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Leonardo, memegang tablet. “Masih samar, tetapi arahnya jelas.”Leonardo tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tenang dikursi kebanggananya lalu kedua matanya masih tetap mengarah ke jendela besar yang menghadap kota Milan yang terlihat sangat ramai itu, tetapi keramaian itu tidak mem

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 1 – Sang Pewaris Dua Dunia

    Langit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit. Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan. “Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang. Tidak ada kebisin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status