Home / Mafia / Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci / Bab 5 – Di Bawah Perlindungannya

Share

Bab 5 – Di Bawah Perlindungannya

Author: Hime_Hikari
last update Huling Na-update: 2026-01-28 22:19:25

Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Leonardo Moretti menggenggam pergelangan tangan Elena dan menariknya keluar dari ruangan sempit itu. Langkahnya cepat, terukur, tanpa kepanikan. Elena hampir tersandung, tapi genggaman Leonardo menguat, bukan kasar, justru kokoh. Seolah ia memastikan Elena tidak akan jatuh, tidak akan tertinggal.

“Jangan berhenti,” ucapnya rendah tanpa menoleh. “Apa pun yang kau dengar, tetap berjalan.”

“Leonardo—” Elena membuka mulut, tetapi kata-katanya terpotong oleh pintu darurat yang dibanting keras dari belakang.

Mereka menuruni tangga besi menuju lorong gelap. Suara sepatu berlari terdengar di kejauhan entah polisi, entah orang Santoro. Atau keduanya. Leonardo mendorong sebuah pintu besi kecil, membawa Elena masuk ke gang sempit di belakang bangunan. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin menyala.

“Masuk,” perintahnya singkat.

Elena tidak sempat membantah. Pintu dibuka, ia didorong masuk, dan beberapa detik kemudian Leonardo menyusul, menutup pintu dengan keras. Mobil melesat pergi tepat ketika dua mobil polisi berbelok di ujung jalan. Elena terdiam. Napasnya belum stabil. Dunia di luar jendela berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur.

Dan pria di sampingnya pria yang namanya baru saja ia ucapkan duduk dengan tenang seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi.

“Apakah aku sedang diculik untuk kedua kalinya?” tanya Elena akhirnya, suaranya gemetar tapi tajam.

Leonardo menoleh. Tatapannya dingin, namun tidak kosong. Sepertinya ia bingung harus menjelaskan apa kepada Elena.

“Tidak,” jawabnya.

“Sekarang kau berada di bawah perlindunganku.” Kata-kata itu seharusnya menenangkan, Elena justru merasakan sesuatu yang lebih berat jatuh ke dadanya.

“Perlindungan dari siapa?” tanyanya. 

“Dari Santoro? Atau dari dirimu sendiri?” Leonardo tidak langsung menjawab.

Mobil memasuki area yang lebih sepi, meninggalkan gudang dan sirene di belakang. Jalanan mulai menanjak menuju daerah yang Elena tidak kenal.

“Dari dunia yang sudah memilihmu sebagai target,” kata Leonardo akhirnya.

Elena tertawa pendek, pahit. “Dan kau bagian dari dunia itu.”

“Ya.” Jawaban itu jujur. Terlalu jujur.

Elena memalingkan wajahnya ke jendela. Tangannya mengepal di atas lutut. Ia mencoba menyusun pikirannya jurnalis dalam dirinya berteriak untuk bertanya, menggali, menuntut penjelasan. Namun wanita di dalam dirinya hanya ingin satu hal, dan merasa aman.

Sayangnya, ia tidak tahu apakah pria di sampingnya adalah pelindung atau alasan semua ini terjadi.

Villa Moretti berdiri megah di atas bukit, dikelilingi tembok tinggi dan gerbang besi berat. Lampu-lampu taman menyala lembut, kontras dengan ketegangan yang masih menggantung di udara. Elena turun dari mobil dan langsung merasakan perbedaannya. Tempat ini bukan rumah biasa. Ini benteng.

“Ini rumahmu?” tanya Elena pelan.

“Untuk sementara,” jawab Leonardo. “Dan tempat teraman untukmu.”

“Tempat aman bagimu,” koreksi Elena.

Leonardo menoleh. “Mulai malam ini, kepentingan kita sama.”

Itu tidak terdengar seperti janji. Lebih seperti pernyataan perang. Mereka masuk ke dalam. Interior villa itu elegan, dingin, penuh garis tegas tanpa sentuhan personal. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tanda kehidupan hangat.

Leonardo memberi isyarat pada seorang pelayan wanita. “Siapkan kamar tamu di sayap timur.”

Pelayan itu mengangguk, melirik Elena sekilas dengan tatapan ingin tahu, lalu pergi. Elena mengikuti Leonardo ke ruang duduk besar. Ia berhenti, berbalik menghadapnya.

“Oke,” katanya. 

“Sekarang jelaskan. Semuanya.” Leonardo berdiri beberapa langkah darinya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tampak ragu.

“Apa yang ingin kau tahu?” tanyanya.

“Kenapa Santoro menculikku? Kenapa aku?  Dan sejak kapan CEO Leonardo Moretti terlibat dengan dunia yang membuat orang menghilang.” Elena terus bertanya kenapa Leonardo tanpa ada titik koma.

Leonardo menghela napas perlahan. Ia melepas jasnya, menggantungnya di sandaran kursi. Gerakan sederhana itu entah kenapa membuat Elena semakin sadar pria ini terbiasa mengendalikan ruang.

“Kau mulai menyelidiki transaksi pelabuhan,” kata Leonardo. “Nama perusahaan cangkang. Jalur distribusi.”

Elena menegang. “Itu rahasia.”

“Tidak untuk orang seperti Santoro.” Leonardo menatapnya. “Kau terlalu dekat.”

“Dan kau?” tantang Elena. “Kau juga bagian dari itu?”

Leonardo terdiam. Keheningan itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Jadi benar,” gumam Elena. “Semua rumor itu—”

“Tidak semuanya,” potong Leonardo, “Tetapi  cukup banyak.”

Elena menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. “Kau tahu aku jurnalis. Kau tahu apa artinya ini.”

“Aku tahu,” jawab Leonardo pelan. “Dan justru itu aku membawamu ke sini.”

“Supaya aku diam? Supaya kau hidup.” Nada suara Leonardo berubah. Tidak mengancam. Tidak memerintah.

Memohon meski sangat halus. Elena menatapnya lama. Ia ingin marah. Ingin berteriak. Namun ada sesuatu dalam tatapan pria itu kelelahan yang disembunyikan terlalu lama.

“Berapa banyak darah yang menempel pada tanganmu, Leonardo?” tanyanya lirih.

Leonardo tidak menjawab segera. Ketika akhirnya berbicara, suaranya rendah dan jujur. “Lebih dari yang bisa kau terima.” Elena menelan ludah.

“Kalau begitu,” katanya, “aku tidak seharusnya berada di sini.”

Leonardo melangkah mendekat satu langkah. “Dan kalau kau pergi, Santoro akan menemukanmu dalam dua puluh empat jam.”

“Dan kau akan apa? Melindungiku selamanya?” Leonardo berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka tinggal satu tarikan napas.

“Aku akan melindungimu selama kau di bawah atapku,” katanya. “Setelah itu… kau bebas membenciku.”

Elena tertawa kecil, getir. “Kau bicara seolah aku punya pilihan.”

“Kau punya,” balas Leonardo. “Tetapi dunia ini tidak adil pada orang baik.”

Kalimat itu terdengar seperti pengakuan. Malam semakin larut. Elena berdiri di balkon kamarnya, menatap lampu kota dari kejauhan. Kepalanya penuh, hatinya kacau. Ia tidak tahu harus mempercayai siapa atau apakah ia masih bisa mempercayai dirinya sendiri.

Ketukan pelan terdengar di pintu, Leonardo. Ia berdiri di ambang pintu, tanpa jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung rapi. Wajahnya terlihat lebih manusiawi.

“Maaf mengganggu,” katanya. “Aku ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Elena memalingkan wajah. “Aku tidak tahu bagaimana caranya merasa baik-baik saja sekarang.”

Leonardo mengangguk. “Aku juga tidak.”

Ia melangkah masuk, menjaga jarak. Keduanya hanya terdiam tidak ada yang membuka pembicaraan.

“Aku tidak akan menyentuhmu,” katanya. “Dan tidak akan memaksamu tinggal.”

“Namun?” tanya Elena.

“Namun mulai besok, hidupmu tidak akan sama.”

Elena menatapnya. “Dan hidupmu?”

Leonardo tersenyum tipis. “Tidak pernah sama sejak lama.”

Keheningan kembali turun. Kali ini lebih berat. Ruangan tempat Elena dan Leonardo berada terasa sangat dingin dan sunyi.

“Aku menyelamatkanmu,” ucap Leonardo pelan, “bukan karena aku berhutang padamu. Tetapi karena aku tidak ingin kau menjadi korban dunia yang seharusnya tidak pernah kau kenal.”

Elena menelan ludah. “Dan kalau aku tetap ingin menulis kebenaran?”

Tatapan Leonardo mengeras. Seketika hawa yang dikeluarkan oleh Leonardo seperti hawa pembunuh.

“Kalau kau melangkah terlalu jauh,” katanya, “aku tidak bisa melindungimu dari semua orang.”

“Termasuk dirimu?” tanya Elena.

Leonardo menatapnya lama. Lalu menjawab dengan jujur yang menyakitkan. 

“Terutama dari diriku.” Leonardo masih menatap ke arah Elena.

Di ruang kerja bawah tanah villa, Donato masuk tergesa-gesa.

“Signore,” katanya. “Kami menemukan sesuatu.”

Leonardo menoleh tajam. “Apa.”

“Nama Elena sudah bocor.” Donato menelan ludah. “Bukan hanya ke Santoro. Ke pihak lain.”

Leonardo mengepalkan tangannya. “Siapa?”

Donato menyebut satu nama. Nama yang membuat wajah Leonardo mengeras seketika.

“Dia seharusnya sudah mati,” gumam Leonardo.

“Tidak,” jawab Donato. “Dan dia menginginkan Elena.”

Leonardo berdiri perlahan. Bayangan lampu jatuh di wajahnya, membuatnya tampak jauh lebih gelap.

“Siapkan semua,” perintahnya dingin. “Mulai malam ini, penjagaan dilipatgandakan.”

“Dan Elena?” Leonardo menoleh ke arah tangga ke kamar tempat Elena berada.

“Aku akan memberitahunya,” katanya pelan, “Karena mulai sekarang dia bukan hanya target.”

Donato menegang. “Dia umpan?”

Leonardo menggeleng. “Dia alasan.”

Di lantai atas, Elena menutup pintu kamarnya, tidak tahu bahwa satu nama baru telah muncul dalam hidupnya. Satu nama yang jauh lebih berbahaya dari Santoro. Dan di balik pintu itu, Leonardo berdiri sendirian di lorong, menyadari satu hal yang tidak bisa lagi ia sangkal:

Dengan melindungi Elena Russo, ia telah membuka kembali pintu masa lalu yang selama ini ia kubur dengan darah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 5 – Di Bawah Perlindungannya

    Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Leonardo Moretti menggenggam pergelangan tangan Elena dan menariknya keluar dari ruangan sempit itu. Langkahnya cepat, terukur, tanpa kepanikan. Elena hampir tersandung, tapi genggaman Leonardo menguat, bukan kasar, justru kokoh. Seolah ia memastikan Elena tidak akan jatuh, tidak akan tertinggal.“Jangan berhenti,” ucapnya rendah tanpa menoleh. “Apa pun yang kau dengar, tetap berjalan.”“Leonardo—” Elena membuka mulut, tetapi kata-katanya terpotong oleh pintu darurat yang dibanting keras dari belakang.Mereka menuruni tangga besi menuju lorong gelap. Suara sepatu berlari terdengar di kejauhan entah polisi, entah orang Santoro. Atau keduanya. Leonardo mendorong sebuah pintu besi kecil, membawa Elena masuk ke gang sempit di belakang bangunan. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin menyala.“Masuk,” perintahnya singkat.Elena tidak sempat membantah. Pintu dibuka, ia didorong masuk, dan beberapa detik kemudian Leonardo menyusul, menutup pintu

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 4 – Pria dari Masa Lalu

    Leonardo Moretti membenci rasa terlambat. Bukan karena waktu adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan melainkan karena keterlambatan selalu berarti satu hal: seseorang telah bergerak lebih dulu darinya. Mobil-mobil hitam Moretti melesat meninggalkan Milan, menyusuri jalanan luar kota yang mulai gelap. Leonardo duduk di kursi belakang, punggungnya tegap, kedua tangannya saling bertaut dengan tenang di atas paha. Tidak ada kegelisahan di wajahnya, tidak ada kemarahan yang meluap, namun Donato, yang duduk di depan, tahu betul ketenangan itu adalah pertanda paling berbahaya.“Kami kehilangan sinyal setelah keluar dari ring kota,” lapor Donato. “Mereka sengaja melepas umpan.”Leonardo menatap ke depan tanpa berkedip. “Santoro selalu menyukai ilusi kendali.”“Dan Elena?” Donato ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Tidak ada bukti dia terluka.”Leonardo mengangguk tipis. Jawaban itu tidak menenangkannya, tetapi cukup untuk memastikan satu hal. Santoro belum berniat membunuh, belum.“Dia ingin a

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 3 – Satu Langkah Terlambat

    Leonardo Moretti tidak pernah menyukai malam yang terlalu sunyi. Keheningan selalu berarti dua hal yaitu seseorang sedang menunggu, atau seseorang sedang mati. Mobil hitamnya melaju perlahan di sepanjang jalan Milan yang basah oleh sisa hujan. Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti denyut pikirannya. Santoro tidak akan menghubunginya tanpa alasan. Dan ancaman itu bukan gertakan.“Donato,” panggilan Leonardo.“Iya, Signore ada apa?” tanya Donato.“Kamu melihat foto ini,” jawab Leonardo.“Aku perintahkan kau untuk menjaga orang yang ada di foto ini,”jelas Leonardo.“Baik, Signore akan saya laksanakan,” balas Donata dengan tegas.“Jaga jarak jangan sampai ia tahu kalau sedang di awasi,” perintah Leonardo singkat pada Donato. “Aku tidak mau mereka tahu kita sudah bergerak.”“Ini berbahaya, Signore,” jawab Donato rendah. “Bagaimana kalau semua ini jebakan—”“Aku tahu.” Nada Leonardo datar. Tanpa emosi.“Dan justru itu sebabnya aku datang,

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 2 – Liputan Berbahaya

    Malam setelah kejadian di pelabuhan tidak meninggalkan jejak di wajah Leonardo Moretti setidaknya, tidak bagi dunia luar. Pagi itu, ia kembali berdiri di balik meja kaca ruang kerjanya, jas hitam rapi, rambut tersisir sempurna, dan ekspresi dingin yang sama. Di layar besar di dinding terpampang grafik saham Moretti Motors yang stabil, seolah-olah tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya.Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti. Mulai dari pelabuhan, polisi, dan Santoro, ada satu nama yang tidak seharusnya kembali memasuki hidupnya yaitu Elena Russo.“Permisi Tuan, artikel pertama sudah naik,” lapor Sofia dengan suara rendah. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Leonardo, memegang tablet. “Masih samar, tetapi arahnya jelas.”Leonardo tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tenang dikursi kebanggananya lalu kedua matanya masih tetap mengarah ke jendela besar yang menghadap kota Milan yang terlihat sangat ramai itu, tetapi keramaian itu tidak mem

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 1 – Sang Pewaris Dua Dunia

    Langit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit. Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan. “Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang. Tidak ada kebisin

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status