Home / Mafia / Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci / Bab 3 – Satu Langkah Terlambat

Share

Bab 3 – Satu Langkah Terlambat

Author: Hime_Hikari
last update Last Updated: 2026-01-28 22:17:21

Leonardo Moretti tidak pernah menyukai malam yang terlalu sunyi. Keheningan selalu berarti dua hal yaitu seseorang sedang menunggu, atau seseorang sedang mati. Mobil hitamnya melaju perlahan di sepanjang jalan Milan yang basah oleh sisa hujan. 

Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti denyut pikirannya. Santoro tidak akan menghubunginya tanpa alasan. Dan ancaman itu bukan gertakan.

“Donato,” panggilan Leonardo.

“Iya, Signore ada apa?” tanya Donato.

“Kamu melihat foto ini,” jawab Leonardo.

“Aku perintahkan kau untuk menjaga orang yang ada di foto ini,”jelas Leonardo.

“Baik, Signore akan saya laksanakan,” balas Donata dengan tegas.

“Jaga jarak jangan sampai ia tahu kalau sedang di awasi,” perintah Leonardo singkat pada Donato. “Aku tidak mau mereka tahu kita sudah bergerak.”

“Ini berbahaya, Signore,” jawab Donato rendah. “Bagaimana kalau semua ini jebakan—”

“Aku tahu.” Nada Leonardo datar. Tanpa emosi.

“Dan justru itu sebabnya aku datang,” lanjut Leonardo.

Mobil berhenti dua blok dari apartemen Elena. Leonardo turun tanpa suara, mantel hitamnya berkibar ringan tertiup angin malam. Matanya langsung menyapu sekitar lampu jalan, kendaraan parkir, sudut gelap di antara gedung. Terlalu normal dan ia membenci hal itu.

“Bagaimana keadaan disana?” tanya Leonardo.

“Keadaan di sekitar apartemen aman, Signore,” jawab Donato.

Leonardo menyentuh alat komunikasi kecil di telinganya. “Status.”

“Tidak ada pergerakan mencurigakan,” jawab suara dari seberang. “Terlalu bersih.”

Mendengar jawaban dari Donato Leonardo mulai agak curiga. ,Leonardo menghela napas pelan. Leonardo sudah lama mengenal pria tersebut, Santoro memang menyukai permainan yang rapi. Karena merasakan ada hal janggal Leonardo melangkah masuk ke gedung apartemen Elena, melalui tangga darurat suasana di tangga darurat lampu redup. Setiap langkahnya terukur, tanpa terburu-buru. Ia sudah berkali-kali memasuki tempat yang lebih berbahaya dari ini. Namun kali ini berbeda, ini bukan wilayah musuh. Ini wilayah seorang wanita yang seharusnya tidak pernah tersentuh oleh dunianya.

Di lantai tiga, Leonardo berhenti di depan pintu apartemen Elena. Pintu itu tertutup rapat, ia berdiri beberapa detik, mengamati. Tidak terdengar ada suara apa pun . Tidak ada cahaya dari dalam. Instingnya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Leonardo membuka kunci dengan satu gerakan halus dan masuk. Apartemen itu rapi. Terlalu rapi.

Tidak ada tanda perlawanan. Tidak ada kekacauan. Namun udara di dalam terasa dingin seolah ruangan ini baru saja ditinggalkan. Leonardo mulai mengamati ruangan apartemen milik Elena secara perlahan-lahan , tetapi matanya tertuju pada meja makan. Disana terdapat sebuah amplop hitam tergeletak di sana. Leonardo berjalan mendekat ke arah meja makan tersebut dan membuka amplop hitam tersebut, tetapi di dalam amplop tersebut  Kosong, tetapi tidak sepenuhnya kosong pada dasar amplop itu terukir simbol kecil, ia sangat mengenal simbol tersebut. Hampir tak terlihat mahkota dengan huruf M merupakan simbol keluarga Moretti. Leonardo menutup mata sesaat. Santoro tidak hanya menantangnya dan ia sudah menguji kesabaran Leonardo.

Ia mengirim pesan. “Kau terlambat.”

Suara itu terdengar di benaknya, meski tidak ada siapa pun di ruangan. Leonardo mengepalkan tangannya perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang menyerupai emosi muncul di balik kendalinya. Bukan panik, bukan takut, tetapi marah. Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya tanpa berkata apa pun.

“Hallo, Leonardo,” sapa Satoro.

“Apa maksudmu?” tanya Leonardo dengan suara mencekam.

“Hahaha …. aku tidak punya maksud apa-apa, akan tetapi sayang sekali,” suara Santoro terdengar ringan, hampir santai. “Kau datang sedikit terlambat.”

“Di mana dia,” tanya Leonardo datar.

“Wah itu yang aku suka dari darimu, Kau selalu langsung ke inti.” Santoro tertawa pelan. “Tenang. Wanita kecil itu masih bernapas,” lanjut Santoro dengan nada menantang.

“Berani kau sentuh dia,” ucap Leonardo perlahan, setiap kata dipilih dengan presisi mematikan, “dan sudah aku pastikan kau dan keluargamu tidak akan bertahan sampai matahari terbit.”

Hening beberapa detik. Lalu Santoro berbicara lagi, kali ini lebih serius. “Masalahnya, Leonardo … kau sudah menyentuh wilayahku lebih dulu.”

“Kau yang memulai,” kata Leonardo.

“Tidak.” Nada suara Santoro berubah dingin.

“Kau yang lupa satu aturan dasar,” kata Santoro.

“Dan apa itu?” tanya Leonardo.

“Jangan jatuh cinta,” jawab Santoro

Sambungan terputus.Leonardo berdiri diam di tengah apartemen itu. Ia menatap sekeliling disana ia melihat rak buku Elena, sofa kecil, jendela yang menghadap kota. Tempat ini terlalu rapuh dan terlalu manusiawi. Ia seharusnya tidak pernah membiarkan Elena sedekat ini dengan dunianya.

“Signore,” Donato berbicara  melalui alat komunikasi. 

“Kami menemukan pergerakan. Sinyal kendaraan keluar kota. Tanpa plat,” jelas Donato.

“Kapan?” tanya Leonardo.

“Sekitar dua puluh menit lalu.” Leonardo menutup matanya.

Dua puluh menit. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar terlambat. Leonardo langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengerja mobil yang mencurigai itu.

“Kejar,” perintahnya. “Semua unit.”

“Dan kalau mereka sudah terlalu jauh?” Leonardo membuka mata. Tatapannya gelap, tanpa ragu.

“Kalau begitu,” katanya pelan,

“kita akan mulai berburu,” perintah Leonardo.

Ia melangkah keluar dari apartemen Elena, menutup pintu perlahan di belakangnya. Di lorong yang sunyi itu, bayangannya memanjang bukan lagi bayangan seorang CEO, melainkan sosok pria yang telah kehilangan jarak aman antara kekuasaan dan emosi. Ia segera pergi menghampiri Donato.

“Bagaimana?” tanya Leonardo yang sudah masuk kedalam mobil 

“Saya sudah meminta anak buah untuk mengikuti mobil tersebut dan sebagian akan berjaga disini Signore,” jawab Donato.

“Bagus,” kata Leonardo.

“Lalu rencana selanjutnya bagaimana, Signore?” tanya Donato.

“Kita pergi Dari sini, lalu minta Salah satu anak buah untuk mengirimkan koordinasinya kenapa kita Dan kita akan menyusul kesana,” jelas Leonardo.

“Baik, Signore” balas Donato. 

Donato segera memerintahkan anak buahnya untuk mengirimkan koordinasi kepalanya, setelah mendapatkan titik koordinat tersebut Donato langsung mengikuti titik koordinat tersebut. Leonardo mulai berpikir strategi untuk melawan Santoro,  tetapi di dalam dadanya, satu keputusan telah dibuat. Jika Santoro berpikir Elena hanyalah umpan, maka ia tidak memahami satu hal yaitu Leonardo Moretti tidak pernah melepaskan apa yang telah disentuhnya. Dan di suatu tempat di luar kota, tanpa menyadari seberapa besar badai yang sedang terbentuk Elena Russo sedang dibawa semakin jauh dari dunia yang ia kenal.

Sementara Leonardo yang selalu melangkah ke dalam kegelapan, ia mempunyai satu keunggulan yaitu selalu langkah lebih cepat dari hukum, tetapi dia selalu terlambat dalam setiap satu langkah dari musuhnya. Selamat dalam perjalanan Leonardo hanya terdiam, dia memandang ke arah luar jendela, tetapi salah satu tangannya mengepal.

“Lihat saja kalau Santoro, jika kau menyentuh Elena seujung jari, maka kamu bersiaplah untuk menghadapi kematianmu sebentar lagi,” kata Leonardo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 5 – Di Bawah Perlindungannya

    Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Leonardo Moretti menggenggam pergelangan tangan Elena dan menariknya keluar dari ruangan sempit itu. Langkahnya cepat, terukur, tanpa kepanikan. Elena hampir tersandung, tapi genggaman Leonardo menguat, bukan kasar, justru kokoh. Seolah ia memastikan Elena tidak akan jatuh, tidak akan tertinggal.“Jangan berhenti,” ucapnya rendah tanpa menoleh. “Apa pun yang kau dengar, tetap berjalan.”“Leonardo—” Elena membuka mulut, tetapi kata-katanya terpotong oleh pintu darurat yang dibanting keras dari belakang.Mereka menuruni tangga besi menuju lorong gelap. Suara sepatu berlari terdengar di kejauhan entah polisi, entah orang Santoro. Atau keduanya. Leonardo mendorong sebuah pintu besi kecil, membawa Elena masuk ke gang sempit di belakang bangunan. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin menyala.“Masuk,” perintahnya singkat.Elena tidak sempat membantah. Pintu dibuka, ia didorong masuk, dan beberapa detik kemudian Leonardo menyusul, menutup pintu

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 4 – Pria dari Masa Lalu

    Leonardo Moretti membenci rasa terlambat. Bukan karena waktu adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan melainkan karena keterlambatan selalu berarti satu hal: seseorang telah bergerak lebih dulu darinya. Mobil-mobil hitam Moretti melesat meninggalkan Milan, menyusuri jalanan luar kota yang mulai gelap. Leonardo duduk di kursi belakang, punggungnya tegap, kedua tangannya saling bertaut dengan tenang di atas paha. Tidak ada kegelisahan di wajahnya, tidak ada kemarahan yang meluap, namun Donato, yang duduk di depan, tahu betul ketenangan itu adalah pertanda paling berbahaya.“Kami kehilangan sinyal setelah keluar dari ring kota,” lapor Donato. “Mereka sengaja melepas umpan.”Leonardo menatap ke depan tanpa berkedip. “Santoro selalu menyukai ilusi kendali.”“Dan Elena?” Donato ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Tidak ada bukti dia terluka.”Leonardo mengangguk tipis. Jawaban itu tidak menenangkannya, tetapi cukup untuk memastikan satu hal. Santoro belum berniat membunuh, belum.“Dia ingin a

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 3 – Satu Langkah Terlambat

    Leonardo Moretti tidak pernah menyukai malam yang terlalu sunyi. Keheningan selalu berarti dua hal yaitu seseorang sedang menunggu, atau seseorang sedang mati. Mobil hitamnya melaju perlahan di sepanjang jalan Milan yang basah oleh sisa hujan. Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti denyut pikirannya. Santoro tidak akan menghubunginya tanpa alasan. Dan ancaman itu bukan gertakan.“Donato,” panggilan Leonardo.“Iya, Signore ada apa?” tanya Donato.“Kamu melihat foto ini,” jawab Leonardo.“Aku perintahkan kau untuk menjaga orang yang ada di foto ini,”jelas Leonardo.“Baik, Signore akan saya laksanakan,” balas Donata dengan tegas.“Jaga jarak jangan sampai ia tahu kalau sedang di awasi,” perintah Leonardo singkat pada Donato. “Aku tidak mau mereka tahu kita sudah bergerak.”“Ini berbahaya, Signore,” jawab Donato rendah. “Bagaimana kalau semua ini jebakan—”“Aku tahu.” Nada Leonardo datar. Tanpa emosi.“Dan justru itu sebabnya aku datang,

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 2 – Liputan Berbahaya

    Malam setelah kejadian di pelabuhan tidak meninggalkan jejak di wajah Leonardo Moretti setidaknya, tidak bagi dunia luar. Pagi itu, ia kembali berdiri di balik meja kaca ruang kerjanya, jas hitam rapi, rambut tersisir sempurna, dan ekspresi dingin yang sama. Di layar besar di dinding terpampang grafik saham Moretti Motors yang stabil, seolah-olah tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya.Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti. Mulai dari pelabuhan, polisi, dan Santoro, ada satu nama yang tidak seharusnya kembali memasuki hidupnya yaitu Elena Russo.“Permisi Tuan, artikel pertama sudah naik,” lapor Sofia dengan suara rendah. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Leonardo, memegang tablet. “Masih samar, tetapi arahnya jelas.”Leonardo tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tenang dikursi kebanggananya lalu kedua matanya masih tetap mengarah ke jendela besar yang menghadap kota Milan yang terlihat sangat ramai itu, tetapi keramaian itu tidak mem

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 1 – Sang Pewaris Dua Dunia

    Langit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit. Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan. “Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang. Tidak ada kebisin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status