Share

Bab 2 – Liputan Berbahaya

Penulis: Hime_Hikari
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-28 22:16:25

Malam setelah kejadian di pelabuhan tidak meninggalkan jejak di wajah Leonardo Moretti setidaknya, tidak bagi dunia luar. Pagi itu, ia kembali berdiri di balik meja kaca ruang kerjanya, jas hitam rapi, rambut tersisir sempurna, dan ekspresi dingin yang sama. Di layar besar di dinding terpampang grafik saham Moretti Motors yang stabil, seolah-olah tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya.

Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti. Mulai dari pelabuhan, polisi, dan Santoro, ada satu nama yang tidak seharusnya kembali memasuki hidupnya yaitu Elena Russo.

“Permisi Tuan, artikel pertama sudah naik,” lapor Sofia dengan suara rendah. 

Ia berdiri beberapa langkah di belakang Leonardo, memegang tablet. “Masih samar, tetapi arahnya jelas.”

Leonardo tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tenang dikursi kebanggananya lalu kedua matanya masih tetap mengarah ke jendela besar yang menghadap kota Milan yang terlihat sangat ramai itu, tetapi keramaian itu tidak mempengaruhinya karena saat ini Leonardo sedang memikirkan sesuatu.

“Dia tampak seorang jurnalis yang cerdas,” lanjut Sofia. 

“Tetapi juga sangat  berbahaya,” tambah Sofia

“Aku tahu,” jawab Leonardo singkat.

Ia mengambil tablet itu dan membaca cepat. Dilihat dari judul artikel tidak menyebut nama Moretti secara langsung, tetapi dilihat  pola bahasa dan pilihan katanya terlalu jelas bagi seseorang yang terbiasa membaca ancaman tersembunyi. Elena sedang mengendus dan ia tidak akan berhenti.

“Cincin itu,” ucap Sofia hati-hati.

“benar-benar jatuh?” tanya Sofia.

Leonardo menghela napas pelan. Sebuah kesalahan kecil tetapi sangat fatal untuk kemudian harinya. Karena cincin keluarga itu bukan hanya simbol, tetapi penanda posisi dalam hierarki Moretti.

“Ya,” jawabnya. 

“Dan dia menemukannya,” jelas Leonardo.

Sofia terdiam beberapa detik. “Kalau begitu, cepat atau lambat dia akan menghubungkan semuanya.”

Leonardo menutup tablet. Rahangnya mengeras. Tujuh tahun lalu, ia menyelamatkan Elena dari penyerangan brutal di gang sempit Roma. Saat itu ia tidak meninggalkan nama, tidak meninggalkan wajah. Hanya memastikan wanita itu hidup lalu menghilang. Ia tidak pernah menyangka takdir akan menarik mereka kembali ke titik yang sama.

“Pantau setiap gerakannya,” perintah Leonardo. 

“Tanpa menyakitinya. Tanpa menyentuhnya,” lanjut Leonardo.

“Dan kalau Santoro yang bergerak dulu?” Leonardo menoleh. Tatapan matanya berubah gelap.

“Kalau Santoro menyentuhnya,” ucapnya pelan.

“Perang akan dimulai lebih cepat dari yang mereka rencanakan,” lanjut Leonardo.

Sore hari, Leonardo menghadiri pertemuan rahasia di sebuah restoran tua di pinggiran kota tempat yang tidak pernah tercantum dalam agenda resmi mana pun. Di ruangan belakang, Vittorio Moretti duduk dengan tongkatnya, wajahnya kaku namun matanya tajam.

“Kau ceroboh,” kata ayahnya tanpa basa-basi.

“Cincin itu bukan benda sembarangan,” tambah Vittorio.

Leonardo duduk berhadapan dengannya. “Aku tidak menyangka polisi akan bergerak secepat itu.”

“Ini bukan soal polisi,” balas Vittorio. 

“Ini soal wanita itu.” Hening sejenak.

“Dia tidak tahu siapa aku,” kata Leonardo.

“Belum,” sahut Vittorio dingin. 

“Dan itulah masalahnya. Ketidaktahuan membuat manusia nekat,” jelas Vittorio.

Leonardo mengepalkan tangannya perlahan. “Aku akan menjauhkannya.”

“Bagaimana?” Vittorio menyeringai tipis. “Dengan cinta? Atau ancaman?”

Leonardo mengangkat pandangannya. “Dengan perlindungan.”

Vittorio tertawa pelan. “Perlindungan adalah kemewahan yang tidak dimiliki pria seperti kita.”

Leonardo tidak membalas. Ia berdiri dan meninggalkan ruangan sebelum diskusi berubah menjadi perintah. Di luar, udara terasa dingin. Leonardo menatap langit Milan yang mulai gelap, menyadari satu hal yang tidak bisa ia hindari. Elena Russo bukan lagi bagian dari masa lalunya. Ia telah menjadi titik lemah di masa kini. Malam itu, laporan baru masuk.

“Elena pulang sendiri,” lapor Donato melalui telepon. “Tidak ada pengawalan.”

Leonardo menghentikan langkahnya. “Kirim satu orang. Dari jauh.”

“Perintah selanjutnya, signore?” Leonardo terdiam sejenak

Ia berkata, “Kirimkan peringatan.”

“Ancaman?” tanya Donato.

“Tidak.” Nada suaranya rendah. Tegas.

“Peringatan,”  kata Leonardo dengan tegas

Di apartemennya sendiri, Leonardo berdiri di depan meja kecil tempat ia menyimpan barang-barang yang jarang ia sentuh. Salah satunya foto lama seorang wanita muda yang tersenyum lemah di ranjang rumah sakit. Ibunya.

Perang keluarga telah merenggut terlalu banyak. Ia tidak akan membiarkan Elena menjadi korban berikutnya. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

“Elena menerima amplop itu,” lapor Donato. 

“Dia terlihat … terguncang.” Leonardo memejamkan mata.

“Apakah dia ketakutan?” tanya Leonardo

“Ya. Tetapi bukan ketakutan biasa.” Leonardo tahu maksudnya.

Elena bukan tipe wanita yang akan mundur hanya karena simbol atau pesan samar. Jika ia merasa diperingatkan, ia justru akan mencari sumbernya. Dan sumber itu adalah dirinya.

“Biarkan dia,” kata Leonardo akhirnya. “Untuk malam ini.”

Ia memutus sambungan dan berdiri di dekat jendela, menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca. CEO.Pewaris mafia, Pelindung … atau ancaman?

Ia mengambil ponselnya sekali lagi dan mengetik nomor yang sudah lama tersimpan, tetapi ka panggilan tersambung, ia berbicara tanpa basa-basi.

“Kau harus berhenti menyelidiki pelabuhan,” kata orang di seberang sana.

Suara Elena terdengar di seberang, tegang. “Siapa kau?”

Leonardo menutup matanya. “Seseorang yang tidak ingin melihatmu mati.”

Ia menutup panggilan sebelum emosinya bocor lebih jauh, tetapi ketika layar ponsel meredup, Leonardo menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada perang mafia manapun Untuk pertama kalinya sejak ia mewarisi nama Moretti, ia takut kehilangan sesuatu sebelum sempat memilikinya. Dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Leonardo masih berdiri di dekat jendela ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan dari Donato,bukan dari Sofia. Nomor terenkripsi. Ia mengangkatnya tanpa ragu.

“Bicara,” kata Leonardo tegas

“Kau membuat kesalahan besar, Moretti.” Terdengar suara di seberang terdengar berat, tenang, dan penuh ejekan. Suara yang sangat ia kenal.

Rahang Leonardo mengeras. “Santoro.”

“Ternyata jurnalis kecil itu sangat berarti bagimu.” lanjut suara itu ringan, seolah sedang membahas cuaca.

“Aku tidak menyangka kau masih punya titik lemah,” kata Santoro

Leonardo tidak bergerak. “Jauhi dia.”

Tawa rendah terdengar di ujung sambungan. “Sayangnya … dia sudah terlalu dekat.”

Suara itu berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada menusuk. “Dan sekarang, semua orang ingin memilikinya.”

Sambungan terputus. Dalam detik berikutnya, layar ponsel Leonardo menyala kembali, sebuah pesan masuk, terdapat sebuah satu foto. Elena Russo yang diambil dari kejauhan.

Ia sedang berdiri di depan apartemennya tidak menyadari kamera yang mengintainya.

Di bawah foto itu, hanya ada satu kalimat. “Jika kau ingin dia hidup, datang sendiri.”

Darah Leonardo terasa membeku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak berpikir sebagai CEO, tidak sebagai pewaris mafia. Ia berpikir sebagai seorang priayang hampir kehilangan kendali. Leonardo mengambil mantel hitamnya, matanya gelap dan dingin seperti malam tanpa bintang.

“Siapkan mobil,” perintahnya singkat.

Di kaca jendela, bayangannya tampak seperti sosok asing, bukan pengusaha, bukan pemimpin, melainkan pria yang siap menenggelamkan kota dalam darah demi satu wanita, dan jauh di sisi lain Milan, tanpa Elena sadari perang telah resmi dimulai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 5 – Di Bawah Perlindungannya

    Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Leonardo Moretti menggenggam pergelangan tangan Elena dan menariknya keluar dari ruangan sempit itu. Langkahnya cepat, terukur, tanpa kepanikan. Elena hampir tersandung, tapi genggaman Leonardo menguat, bukan kasar, justru kokoh. Seolah ia memastikan Elena tidak akan jatuh, tidak akan tertinggal.“Jangan berhenti,” ucapnya rendah tanpa menoleh. “Apa pun yang kau dengar, tetap berjalan.”“Leonardo—” Elena membuka mulut, tetapi kata-katanya terpotong oleh pintu darurat yang dibanting keras dari belakang.Mereka menuruni tangga besi menuju lorong gelap. Suara sepatu berlari terdengar di kejauhan entah polisi, entah orang Santoro. Atau keduanya. Leonardo mendorong sebuah pintu besi kecil, membawa Elena masuk ke gang sempit di belakang bangunan. Sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin menyala.“Masuk,” perintahnya singkat.Elena tidak sempat membantah. Pintu dibuka, ia didorong masuk, dan beberapa detik kemudian Leonardo menyusul, menutup pintu

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 4 – Pria dari Masa Lalu

    Leonardo Moretti membenci rasa terlambat. Bukan karena waktu adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan melainkan karena keterlambatan selalu berarti satu hal: seseorang telah bergerak lebih dulu darinya. Mobil-mobil hitam Moretti melesat meninggalkan Milan, menyusuri jalanan luar kota yang mulai gelap. Leonardo duduk di kursi belakang, punggungnya tegap, kedua tangannya saling bertaut dengan tenang di atas paha. Tidak ada kegelisahan di wajahnya, tidak ada kemarahan yang meluap, namun Donato, yang duduk di depan, tahu betul ketenangan itu adalah pertanda paling berbahaya.“Kami kehilangan sinyal setelah keluar dari ring kota,” lapor Donato. “Mereka sengaja melepas umpan.”Leonardo menatap ke depan tanpa berkedip. “Santoro selalu menyukai ilusi kendali.”“Dan Elena?” Donato ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Tidak ada bukti dia terluka.”Leonardo mengangguk tipis. Jawaban itu tidak menenangkannya, tetapi cukup untuk memastikan satu hal. Santoro belum berniat membunuh, belum.“Dia ingin a

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 3 – Satu Langkah Terlambat

    Leonardo Moretti tidak pernah menyukai malam yang terlalu sunyi. Keheningan selalu berarti dua hal yaitu seseorang sedang menunggu, atau seseorang sedang mati. Mobil hitamnya melaju perlahan di sepanjang jalan Milan yang basah oleh sisa hujan. Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti denyut pikirannya. Santoro tidak akan menghubunginya tanpa alasan. Dan ancaman itu bukan gertakan.“Donato,” panggilan Leonardo.“Iya, Signore ada apa?” tanya Donato.“Kamu melihat foto ini,” jawab Leonardo.“Aku perintahkan kau untuk menjaga orang yang ada di foto ini,”jelas Leonardo.“Baik, Signore akan saya laksanakan,” balas Donata dengan tegas.“Jaga jarak jangan sampai ia tahu kalau sedang di awasi,” perintah Leonardo singkat pada Donato. “Aku tidak mau mereka tahu kita sudah bergerak.”“Ini berbahaya, Signore,” jawab Donato rendah. “Bagaimana kalau semua ini jebakan—”“Aku tahu.” Nada Leonardo datar. Tanpa emosi.“Dan justru itu sebabnya aku datang,

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 2 – Liputan Berbahaya

    Malam setelah kejadian di pelabuhan tidak meninggalkan jejak di wajah Leonardo Moretti setidaknya, tidak bagi dunia luar. Pagi itu, ia kembali berdiri di balik meja kaca ruang kerjanya, jas hitam rapi, rambut tersisir sempurna, dan ekspresi dingin yang sama. Di layar besar di dinding terpampang grafik saham Moretti Motors yang stabil, seolah-olah tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya.Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti. Mulai dari pelabuhan, polisi, dan Santoro, ada satu nama yang tidak seharusnya kembali memasuki hidupnya yaitu Elena Russo.“Permisi Tuan, artikel pertama sudah naik,” lapor Sofia dengan suara rendah. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Leonardo, memegang tablet. “Masih samar, tetapi arahnya jelas.”Leonardo tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tenang dikursi kebanggananya lalu kedua matanya masih tetap mengarah ke jendela besar yang menghadap kota Milan yang terlihat sangat ramai itu, tetapi keramaian itu tidak mem

  • Jatuh Cinta Pada Pria yang Seharusnya Kubenci    Bab 1 – Sang Pewaris Dua Dunia

    Langit Milan berubah jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kaca kota. Namun di lantai 59 Moretti Motors Headquarters, senja hanyalah warna yang tak pernah disentuh oleh Leonardo Moretti, Pria itu berdiri dengan punggung tegak, menatap kota dari balik jendela setinggi langit-langit. Setelan hitamnya terpasang sempurna, kontras dengan mata kelam yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah diucapkan. Dari kejauhan, ia tampak seperti CEO ideal yang hanya hidup untuk angka dan kesuksesan. Namun semua orang tahu, atau lebih tepatnya mengira, bahwa Leonardo hanyalah seorang pengusaha muda yang perfeksionis. Tak ada yang benar-benar memahami dunia yang ia jalani.“Signor Moretti?” Sofia, asistennya, membungkuk sedikit sambil membawa berkas tebal. “Rapat direksi dimulai dalam dua menit.” Leonardo mengangguk pelan. “Pastikan semua anggota hadir,” kata Leonardo.“Sudah, signore. Para investor juga.” Ia berbalik, langkahnya mantap dan tenang. Tidak ada kebisin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status