Lizbeth berhenti melangkah. Matanya menatap Kilian tajam, seakan bersiap jika harus menerima kabar buruk lagi. “Apa itu?”Kilian menarik napas panjang. “Lucas, dia juga berada di New York. Dia datang ke sini, melihat Pak Lucien, belum lama ini.”Deg! Hati Lizbeth langsung mencelos. Ia baru tahu kalau Lukas berada di sini, hal itu mengejutkan Lizbeth. Membuat Lizbeth semakin yakin, kalau Lucas adalah anak kesayangan Alessandro. Bahkan kepergiannya sama sekali tidak diketahui oleh Lizbeth, dan sama sekali tidak memberitahunya.Lizbeth menahan napas. Ekspresinya datar, meski dalam hati penuh gejolak. “Aku mengerti.”Kilian tampak ragu. “Nyonya, apakah Anda tidak—”“Tidak perlu membicarakannya sekarang,” potong Lizbeth cepat, suaranya tegas. “Kita pulang. Aku ingin kembali ke rumah.”Kilian menunduk. “Baik, Nyonya.”Meskipun sebenarnya banyak hal yang ingin kalian katakan kepada Lizbeth tentang Lucas, ia berpikir Lizbeth pasti akan menuduhnya lagi. Demi menjaga perasaan Lizbeth, Kilian
“Justru aku yang seharusnya berterima kasih.” Victoria terkejut. “Karena Mom sudah melahirkan Lucien kedunia ini.” Lizbeth tersenyum, yang diikuti oleh senyuman Victoria.“Hari ini aku akan menjenguk Lucien,” sambung Lizbeth.Ada keterkejutan di wajah Victoria. Bahkan Victoria dan Cameron hingga hari ini belum berani melihat Lucien, dan semua itu diurus oleh pengacara. Victoria tidak tega melihat Lucien yang seperti itu.“Kau memiliki keberanian ibumu, Lilibeth.”Lizbeth tersenyum, setelah itu dia berdiri. Lalu pergi dari kamar Victoria.Sekitar jam 11 siang, Lizbeth akhirnya memutuskan untuk menemui suaminya. Namun, orang yag pertama menemui Lucien adalah Kilian.Petugas membuka pintu ruangan khusus yang dipinta oleh Lizbeth untuk berbicara dengan mereka. Di dalam, Lucien duduk di bangku besi. Wajahnya lebam, bibir pecah, ada luka memar yang sudah mengering di pelipis. Namun, matanya tetap tajam.“Kilian?” suara Lucien serak, nyaris berbisik. Ada keterkejutan sekaligus secercah keleg
Esok harinya, saat sarapan bersama dengan Caspian dan Samantha. Lizbeth akhirnya mengutarakan keinginannya untuk pergi ke New York.“Tidak boleh. Kondisi saat ini belum stabil. Kamu juga tidak boleh menemui Lucien dulu.”Lizbeth mengerutkan keningnya.“Aku bukan anak kecil yang bisa diatur semaumu Dad. Yang berada di sana adalah suamiku. Aku akan tetap pergi meskipun kau tidak mengizinkannya.”Caspian menatap tajam Lizbeth, dia tahu ucapannya tidak akan menghentikan Lizbeth.“Aku akan menemaninya,” kata Samantha.“Aku bisa sendiri,” kata Lizbeth.Samantha menatap Lizbeth. “Untuk saat ini kamu tidak bisa bepergian sendirian. Biarkan Nenek menemanimu. Dengan begitu ayahmu bisa tenang.”Lizbeth menurunkan pandangannya. “Sore ini, tidak ada kata besok.”Lizbeth berdiri. Dia meninggalkan meja makan, saat hendak masuk ke dalam lift. Ia merasakan perutnya sakit.“Aaargh!” desisnya.Lizbeth kembali ke kamar, dia mulai menyiapkan pakaiannya. Apa yang terjadi saat ini tidak bisa menekan keingin
Lucas berhenti tepat di ambang pintu. Punggungnya menegang, detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Sebutan itu terdengar jelas di telinga Lucas.“Kakak,” gumam Lucas.Dengan perlahan, ia menoleh. Sorot matanya tajam, berusaha membaca ekspresi Lucien yang penuh luka dan amarah. Namun, Lucien masih bisa tersenyum sinis. “Apa maksudmu?” suara Lucas terdengar berat, hampir tercekat.Lucien tertawa lirih, suaranya serak. “Kakak, seharusnya sejak dulu aku memanggilmu dengan sebutan itu.” Lucien menghela napas. “Jika kau sangat ingin Kingsley, kenapa harus melakukan cara sekotor ini? Kau bisa memintanya padaku. Dengan senang hati aku bisa memberikannya padamu.”Lucas mengepal tangannya. Matanya menajam, sorot matanya merah. Seolah dirinya hanya menerima barang bekas milik Lucien. Lucas menekan amarah dan menyipitkan mata, menahan diri untuk tetap tenang. “Kau berhalusinasi, Lucien. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”Namun Lucien justru menggeleng pelan, bibirnya meleng
Mario terdiam, menatap Lucien yang mulai terguncang. Wajah pria itu pucat, napasnya berat, seolah tubuhnya menahan sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan.Mario mengernyit. “Lucien, jangan bicara seperti itu. Kita cari jalan keluar—”“Tidak ada!” bentak Lucien, suaranya menggema di ruang konsultasi hukum. “Aku sudah tahu permainan ini. Mereka tidak hanya ingin menjatuhkanku, mereka ingin aku mati perlahan. Dan ketika itu terjadi, Lizbeth tidak boleh ikut hancur bersamaku.” Lucien menghela napas. “Aku yang salah, aku yang masuk ke dalam rencana mereka. Alessandro masih memiliki pengaruh, dia bekerja sama dengan kepolisian. Aku sangat yakin.”Mario tercekat. “Lizbeth, tidak akan menerima wasiat terakhirmu. Kurasa kamu jelas tahu seperti apa sifat istrimu.”Lucien menatap Mario, matanya merah berair. “Jika aku tidak bisa keluar dari sini, kau harus mengatur perceraian kami. Lizbeth harus bebas dari semua ini. Dia harus tetap hidup sebagai penerus Kingsley, bukan sebagai istri seorang penjah
Alessandro tertawa di seberang sana. Lucas mematikan panggilan telepon.Di kamar, Lizbeth menggenggam perutnya dengan lemah, tetapi tidak ada lagi air mata yang menetes. Ia tahu saat ini bukan lagi untuknya menangis.“Alessandro, kau harus membayar mahal semuanya.”Lizbeth masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.Beberapa hari ini, bayangan Lucien di dalam penjara terus menghantui pikirannya.Samantha masuk pelan, membawa sup hangat. “Sayang, kau harus makan. Kalau terus begini, kau bisa jatuh sakit parah.”Lizbeth menggeleng pelan. “Aku tidak lapar.”“Lilibeth, sampai kapan kamu akan seperti ini? Kamu tidak bisa mogok makan semaumu. Jika kamu masih keras kepala, bagaimana dengan anakmu. Dia butuh nutrisi dan gizi.” Samantha duduk di tepi ranjang,ia meraih tangan Lizbeth. “Kalau kau sakit, bagaimana bisa menyelamatkan Lucien.Kamu butuh kekuatan dan juga energi, bukan?.”Lizbeth menoleh, matanya berbinar. Namun, dia tidak membiarkannya menetes.“Nenek benar, aku haru