ログイン“Sayang, bukankah ini kesempatan bagus untuk kalian saling mengenal?” Irene menimpali, langsung memotong argumen Blaire. “Kalian satu kampus, satu tujuan, dan sekarang satu keluarga. Berangkat bersama adalah pilihan yang paling logis.”
Blaire mendesis frustrasi dalam hati, mengepalkan jemarinya di bawah meja.
“Sudah diputuskan. Kalian berangkat bersama. Itu jauh lebih aman untuk Blaire, dan Dad bisa bekerja dengan tenang hari ini,” sela Marcel
Lonceng yang menandakan jam pulang kuliah akhirnya berdentang. Koridor kampus seketika dipadati mahasiswa yang berhamburan keluar. Blaire berjalan santai membelah kerumunan, jemarinya lincah menggulir layar ponsel untuk memesan taksi daring. Meminta tumpangan pada Ben sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar opsinya. Jangankan dalam situasi normal, bahkan jika dunia berputar terbalik dan menempatkannya dalam kondisi mendesak pun, Blaire bersumpah tidak akan sudi melakukannya. Selain karena ego dan harga diri, berada di dekat Ben selalu secara magis menyeretnya ke dalam pusaran situasi buruk.Blaire terus melangkah pelan menuju gerbang utama universitas. Namun, suara klakson yang nyaring mengejutkannya. Sebuah sedan hitam mewah bergerak melambat dan merapat tepat di sisi tempatnya berjalan.“Hai. Butuh tumpangan?”Kaca jendela mobil diturunkan, menampilkan wajah Axelo di balik kemudi. Blaire menghentikan langkah, melempar pandang sekilas ke dalam k
“Aku tidak apa-apa,” ujar Blaire cepat-cepat, suaranya sedikit serak. Dia buru-buru meraih segelas air putih dan meneguknya di bawah tatapan penuh selidik dan keterkejutan dari orang-orang di mejanya.Sheesy kembali mengalihkan atensi pada Evelyn, melanjutkan topik yang sempat terputus. “Tapi bukankah itu baru sebatas rumor? Bisa saja perempuan itu hanya temannya. Kita semua tahu Ben sering terlihat jalan dengan banyak perempuan berbeda, tapi dia selalu menegaskan kalau mereka tidak lebih dari sekadar teman.”“Hmm, iya juga, sih. Tapi wajar, bukan? Selain wajahnya yang luar biasa tampan, kepribadiannya memiliki daya tarik tersendiri. Tidak heran mayoritas perempuan di kampus ini mengidolakan, bahkan terobsesi ingin memilikinya.”“Termasuk kau,” sahut Sheesy cepat, menyikut lengan sahabatnya.Evelyn tertawa tanpa beban, lalu menyunggingkan senyum genit yang kentara. “Ya, aku tidak menyangkalnya. Ben memang setampan itu. Sikapnya yang dingin dan sukar tersentuh justru membuat dia berkal
Riuh rendah ruang kelas baru ternyata tidak seintimidatif yang Blaire bayangkan. Ketakutan akan penolakan atau kecanggungan perlahan mengikis begitu jam pelajaran dimulai. Beradaptasi di lingkungan ini terasa jauh lebih mulus—sebuah keberuntungan yang sebagian besar dipicu oleh kehadiran Axelo. Laki-laki itu tidak hanya kebetulan berada di kelas yang sama, tetapi juga memilih kursi tepat di sebelah Blaire. Sepanjang kuliah berlangsung, Axelo menjelma menjadi sandaran yang hangat; sesekali berbisik menjelaskan materi yang membingungkan, atau dengan sabar menanggapi kerutan di dahi Blaire saat gadis itu berusaha mencerna diktat dosen.Begitu kelas usai dan seisi ruangan mulai berkemas, sesosok bayangan mendekat ke meja Blaire. Seorang mahasiswi dengan senyum ramah menyapa.“Blaire, kau akan makan siang dengan siapa?”Belum sempat Blaire merangkai jawaban, seorang gadis lain berambut pirang ikal yang berdiri di sampingnya menyahut dengan nada tak kalah bersahabat. “Bagaimana kalau bergab
Sebuah seruan ramah tiba-tiba memecah fokusnya, membuat langkah kaki Blaire spontan terhenti. Awalnya dia mengira suara itu ditujukan untuk orang lain, namun ketika sebuah bayangan tinggi mendekat dan menyejajarkan langkah dengannya, Blaire mau tidak mau menoleh.“Hey!” sapa pria itu sekali lagi, mengulas senyum lebar yang bersahabat.“Ya?” Blaire menatap pria asing bertubuh jangkung di depannya dengan pandangan bertanya.“Kau sendirian?” tanya pria berambut ikal cokelat itu, penampilannya kasual namun rapi dengan jaket denim yang melekat pas di tubuhnya.“Ya,” jawab Blaire pendek, masih memasang mode waspada.“Mau berjalan masuk bersama? Searah, kan?”Blaire tidak langsung mengiyakan. Maniknya menatap menyelidik, memindai ekspresi wajah pria itu dari atas ke bawah dengan kening sedikit berkerut, mencari tanda-tanda motif tersembunyi.Melihat reaksi defensif tersebut, pria it
“Sayang, bukankah ini kesempatan bagus untuk kalian saling mengenal?” Irene menimpali, langsung memotong argumen Blaire. “Kalian satu kampus, satu tujuan, dan sekarang satu keluarga. Berangkat bersama adalah pilihan yang paling logis.”Blaire mendesis frustrasi dalam hati, mengepalkan jemarinya di bawah meja.“Sudah diputuskan. Kalian berangkat bersama. Itu jauh lebih aman untuk Blaire, dan Dad bisa bekerja dengan tenang hari ini,” sela Marcel, menutup perdebatan pagi itu dengan ketukan absolut.Tidak ada lagi bantahan. Baik Ben maupun Blaire kembali fokus pada piring masing-masing dalam keheningan yang mencekam. Namun, kilatan di mata kedua orang tua mereka menunjukkan kepuasan bahwa skenario domestik ini berjalan sesuai rencana.Dua puluh menit kemudian, Blaire mendapati dirinya berjalan mengekor di belakang Ben menuju area parkir utama. Marcel bahkan memastikan sendiri kepatuhan mereka dengan mengantar hingga ke depa
Aroma pekat kopi Arabika dan mentega panggang menguar memenuhi ruang makan mewah pagi itu, berpadu dengan denting halus porselen berlogo pelat emas. Di balik meja marmer panjang, Marcel dan Irene duduk berdekatan, saling melempar senyum dan obrolan mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Atmosfir domestik yang hangat sengaja dibangun, sementara barisan pelayan bergerak tanpa suara, mengantarkan menu demi menu sarapan bergaya kontinental ke atas meja.Keheningan yang teratur itu sedikit bergeser saat Ben muncul sebagai orang pertama. Pria itu melangkah tegap, sudah mengenakan setelan jas potongan rapi yang membingkai sempurna tubuh atletisnya. Wajahnya lurus, tanpa ekspresi, mengabaikan segala bentuk basa-basi visual saat berjalan mendekat.“Selamat pagi, Sayang,” sapa Irene, suaranya mengalun manis penuh perhatian.Ben hanya menanggapi dengan anggukan singkat yang nyaris tak terlihat—sebuah gestur dingin yang menandakan batas toleransinya
Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya
Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias,
Mimpi itu terasa terlalu nyata, tetapi jika kenyataan justru itu terasa seperti mimpi. Cukup lama Blaire terjebak dalam buaian mimpi hingga akhirnya dia berhasil perlahan-lahan meraih kesadaran.Kedua matanya mulai bergerak-gerak sebelum perlahan-lahan membuka penuh. Hal pertama yang dia lihat adal
“Blaire, kau sepertinya butuh bantuan,” ucap suara familier itu. Blaire mengenali pria itu sebagai kakkak sahabatnya. “Ayolah. Apakah kau akan pergi sebelum bersenang-senang denganku?”Blaire menggelengkan kepala, mencoba fokus. Kesadarannya nyaris menguap sepenuhnya, dan sialnya, dia mulai merasak







