ANMELDENPintu tenda dibuka seorang prajurit.Cahaya api unggun menyusup masuk, menari di dinding kain tenda, dan saat itulah prajurit tadi membeku.Jenderal Shang sudah membuka mata! “Je—Jenderal?” suara prajurit itu nyaris tercekat, seperti tak percaya pada apa yang dilihatnya.Kelopak mata jenderal Shang Que mengerjap sekali lagi. Tenggorokannya bergerak, kering, nyeri, tapi hidup.Prajurit itu tak menunggu sedetik pun lagi. Dia berbalik cepat, hampir tersandung kain tenda, lalu berlari keluar sambil berteriak sekuat tenaga. “JENDERAL SUDAH SIUMAN!”“JENDERAL SHANG SUDAH SIUMAN!”Seruannya menyambar perkemahan seperti api disiram angin.Prajurit-prajurit yang duduk mengelilingi api unggun langsung berdiri serempak. Ada yang sampai menjatuhkan ikan panggang, ada yang menepuk dada sendiri karena lega, ada pula yang menunduk diam-diam, menarik napas panjang seolah baru sekarang berani bernapas sepenuhnya.
Malam turun muram di pesisir sungai Yundai.Air sungai berkilat kelam, arusnya masih deras meski amukan siang telah berlalu. Obor-obor menyala di sepanjang tepian, cahaya jingganya terpantul pecah di permukaan air yang beriak liar.“Jenderal Shang!”“Jenderal Shang Que!”Seruan demi seruan menggema, dipatahkan oleh gemuruh air serta desir angin lembah yang dingin menusuk tulang.Komandan Hutong Bai berjalan di barisan depan, sepatu botnya terendam setengah lumpur. Tangannya menggenggam obor kuat-kuat, sorot matanya menyisir setiap lekuk arus, setiap bayangan gelap yang tersangkut di bebatuan.“Periksa bagian hilir!” perintahnya tegas, “jangan lewatkan semak, batu besar, atau kayu tumbang!”“Siap!”Di sisi lain, komandan Miao Feng berdiri di atas batu besar, matanya menatap sungai dengan rahang mengeras. Api obor di tangannya bergetar tertiup angin, seperti perasaannya yang terus ditahan agar tak runtuh.“Aru
Di paviliun naga emas. Kaisar memijat pangkal hidungnya perlahan usai menutup laporan yang dibaca. Katanya rendah, “Masalah koin palsu belum beres, datang lagi masalah lain.” Kasim Feng berdiri di ruangan yang sama, tak sama sekali ikut campur dalam urusan politik. Kemudian, saat seorang penjaga menghampiri kasim Feng dengan hati-hati untuk menyerahkan surat cepat, barulah kasim berusia senja itu bergegas mengantarkan suratnya pada Kaisar. “Yang Mulia.” Tangan kasim Feng terulur, gulungan kecil di atas telapak tangannya. Kaisar mengalihkan pandangan, diambilnya surat tersebut, serta dibuka dan dibacanya seraya mengerutkan alis. Berikutnya dia memerintah, “Panggil Pejabat Rui Peng kemari!” “Baik.” Kasim Feng melangkah mundur, juga menundukkan kepala penuh hormat. Sekejap mata dia hilang di balik ruang. Namun tak berselang lama, dia kembali ditemani pria setengah baya yang menggunakan pakaian dinas resmi Kekaisaran. Pria itu adalah Rui Peng—menteri pembangunan yang d
Semua prajurit beserta komandan Miao Feng dan komandan Hutong Bai berhasil menyebrangi jembatan. Satu-satunya yang belum lewat adalah jenderal Shang! Dia berdiri di tepi sungai, memegang kendali kuda hitamnya yang besar, tinggi selayaknya kuda perang. Nafas hewan itu memburu, hidungnya mengembuskan uap tipis ke udara lembah yang lembap. “Maju,” ucap jenderal Shang rendah, seolah berbicara pada seorang prajurit lama. Kemudian dia menepuk leher kuda itu pelan, lalu melepaskan kendalinya. Si kuda melangkah ke jembatan gantung. Bilah bambu berderit. Tali utama menegang. Jenderal Shang berdiri di belakang, kedua kakinya masih di daratan. Tangannya terkepal di balik lengan baju zirah, dadanya naik turun pelan. Ada rasa waswas yang menusuk, tapi wajahnya tetap tenang selayaknya seorang pemimpin yang tak boleh runtuh di depan siapa pun. Di depannya, kuda itu berjalan pelan selangkah demi sel
Di dalam tenda, tempat jenderal Shang duduk memperhatikan peta perkampungan di sekitar gunung Yundai, bawahannya masuk dengan sikap hormat. “Jenderal.” Bawahannya meletakkan surat bersegel resmi kediaman Hang. Tanpa perlu membuka surat itu, jenderal Shang sudah tahu maksud jelas di dalamnya. Bawahan mundur, berbalik pergi. Jenderal Shang melempar pandangan ke luar, memandang jauh tanah longsoran yang kini sepenuhnya dibereskan. “Hutong Bai!” seru jenderal Shang kemudian. Komandan Hutong Bai sigap menghadap. “Ya, Jenderal!” “Kumpulkan pasukan! Siang ini juga kita kembali ke kota Kekaisaran!” perintah jenderal Shang. “Baik!” Longsor di kampung sekitaran gunung Yundai sudah teratasi dengan baik. Siang ini juga, jenderal Shang bersama seratus pasukan di belakangnya kembali ke kota Kekaisaran. Sayangnya perjalanan ke kota Kekaisaran tidak mudah. Jembatan sepanjang sembilan meter di hadapan mereka telah hilang tergerus banjir. Menyisakan tali tipis, serta potongan kayu
Lampu lentera di pondok halaman samping bergoyang pelan, memantulkan cahaya kekuningan ke permukaan meja kayu yang sudah termakan usia. Shen Liu Zi duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya bersedekap. Posturnya tenang, tapi bukan santai—lebih seperti seseorang yang siap menyergap balik kapan saja. Tatapannya menyapu dua tael emas di atas meja, lalu naik perlahan ke wajah wanita di seberangnya. Wanita tak dikenal itu bersandar malas di kursi kayu, satu kaki terjulur sedikit ke depan. Rambutnya diikat sederhana, tanpa hiasan. Jubahnya polos, tapi bahunya tegap laksana bahu seseorang yang terbiasa hidup dengan pisau di pinggang dan nyawa di ujung keputusan. Tatapannya jatuh pada dua tael emas itu. Alisnya langsung berkerut. “Nyonya Shen,” katanya dengan napas dihela kasar, jelas tidak senang, “aku bilang dua puluh tael emas lagi, bukan dua tael begini.” Shen Liu Zi mendengus pelan. Wajahnya dingin, nyaris tanpa emosi. “Ambil atau aku yang mengambil balik.” Wanita tak dik







