Share

Nasehat Malam

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-03-07 09:18:11

Li Lian sedikit kesulitan bernapas, namun ia tidak melawan. Ia justru menatap langsung ke mata Zhao Feng dan tersenyum—sebuah senyuman yang hanya melengkung di satu sudut bibirnya, penuh dengan ejekan yang halus.

"Anda yakin ini karena minuman itu, Yang Mulia?" tanya Li Lian pelan, suaranya tetap tenang meski lehernya dicengkeram.

"Bukan karena... Anda merasa bersalah? Atau mungkin karena tubuh Anda sendiri yang menolak untuk berkhianat pada takhta yang belum benar-benar Anda genggam?"

Li Lian
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!    Di Balik Tirai Naga

    Salju yang turun di luar istana seolah membungkam segala kebisingan, menciptakan kesunyian yang mencekam saat Li Lian melintasi pelataran menuju kediaman Kaisar. Mengenakan jubah sutra yang lebih berat untuk menghalau dingin, langkahnya tetap tenang meskipun hatinya sedang menyusun kepingan rencana yang sangat berbahaya. Setelah ketegangan di Istana Timur semalam, setiap tarikan napasnya kini terasa seperti perjudian nyawa.Saat memasuki kamar Kaisar, aroma obat-obatan yang pahit dan dupa pembersih udara menyambutnya. Di sana, beberapa pelayan dan seorang kasim tua berdiri dengan setia di samping ranjang kebesaran yang ditutupi tirai sutra kuning keemasan."Kalian semua keluarlah," perintah Li Lian dengan nada datar.Beberapa pelayan membungkuk dan mulai melangkah mundur, namun satu pelayan muda—yang baru saja ditugaskan Ibu Suri untuk mengawasinya—tetap berdiri diam di sisi Li Lian dengan tatapan ragu."Kamu juga," ucap Li Lian, kali ini suaranya lebih lembut namun mengandung otor

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Bukan Sebatas Raga

    Ibu Suri sangat salah menilai pria di hadapannya. Baginya, kesucian lahiriah hanyalah debu di hadapan keabadian rasa. Jauh di dalam lubuk hatinya, Chen Xu menyimpan rahasia yang tak akan dipahami oleh jiwa yang penuh intrik seperti Ibu Suri.Bagi Chen Xu, cinta mereka bukanlah sekadar pertemuan dua raga di kehidupan ini. Ia percaya pada karma masa lalu—tentang cerita cinta yang terputus dengan tragis di kehidupan sebelumnya, yang akan terus berulang dan mengejar mereka jika tidak diselesaikan sekarang. Bahkan jika Li Lian benar-benar menjadi janda Perdana Menteri atau kehilangan kesuciannya seribu kali pun, jiwanya tetaplah milik Chen Xu."Anda terlalu merendahkan arti sebuah kesetiaan, Yang Mulia," suara Chen Xu terdengar dalam dan tenang, meski matanya tetap menatap sutra berdarah itu.Ia tahu kecerdikan Li Lian. Ia mengenal setiap jengkal keberanian wanita itu. Meskipun hatinya sempat mencelos melihat noda merah itu, nuraninya membisikkan sesuatu yang lain, Li Lian tidak akan p

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Sutra Kesucian

    Suasana di luar Paviliun Istana Timur sudah mulai gaduh dengan bisikan halus, padahal fajar belum benar-benar menyingsing.Sesuai tradisi kekaisaran yang kolot, setiap pagi setelah malam pertama, Kasim Kepala dan dayang senior akan masuk untuk mengambil kain sutra putih dari atas ranjang—sebuah bukti kesucian yang akan dilaporkan langsung kepada Ibu Suri.Li Lian yang terjaga di ruang samping segera bangkit. Ia tahu waktu yang ia miliki sangat sempit. Jika para dayang masuk dan menemukan sutra itu masih bersih, Zhao Feng akan meledak karena malu, dan posisi Li Lian akan terancam dengan tuduhan telah merusak kehormatan Putra Mahkota.Dengan langkah ringan, Li Lian kembali masuk ke kamar utama. Di sana, Zhao Feng masih terduduk di tepi ranjang, wajahnya tampak kusam dan matanya merah karena tidak tidur semalaman. Di atas ranjang, selembar kain sutra putih terbentang rapi, masih putih bersih tanpa noda—sebuah saksi bisu kegagalan sang calon kaisar."Apa yang kau lakukan di sini?" geram

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!    Nasehat Malam

    Li Lian sedikit kesulitan bernapas, namun ia tidak melawan. Ia justru menatap langsung ke mata Zhao Feng dan tersenyum—sebuah senyuman yang hanya melengkung di satu sudut bibirnya, penuh dengan ejekan yang halus."Anda yakin ini karena minuman itu, Yang Mulia?" tanya Li Lian pelan, suaranya tetap tenang meski lehernya dicengkeram. "Bukan karena... Anda merasa bersalah? Atau mungkin karena tubuh Anda sendiri yang menolak untuk berkhianat pada takhta yang belum benar-benar Anda genggam?"Li Lian tidak meneruskan kalimatnya, membiarkan keraguan merayap di benak Zhao Feng. Senyumnya semakin melebar saat melihat wajah Putra Mahkota yang semakin pucat.Zhao Feng semakin mempererat cengkeramannya sejenak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Li Lian. Matanya berkilat penuh ancaman maut."Kau pikir kau sangat pintar dengan trik medis murahanmu ini?" geram Zhao Feng. "Ingat ini baik-baik, Li Lian. Kamu akan tahu akibatnya karena telah mempermainkan Putra Mahkota. Kali ini kau bi

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tidak Berfungsi

    Para pelayan di Paviliun Istana Timur tampak sibuk berlalu-lalang dengan langkah tergesa namun tanpa suara. Di bawah pengawasan ketat Kasim Istana yang bermata tajam, mereka menyiapkan air mandi yang dipenuhi kelopak bunga mawar dan melati yang masih segar. Uap hangat mengepul, membawa aroma minyak wangi yang kuat ke seluruh sudut ruangan—sebuah wewangian yang sengaja dirancang untuk membius indra siapa pun yang menghirupnya.Sebuah dupa khusus berbahan dasar ambergris dan campuran herbal pemicu gairah mulai dibakar di sudut ruangan. Asapnya yang tipis meliuk-liuk, mengisi udara dengan aroma yang manis namun menyesakkan. Di atas meja kayu cendana, telah tersaji nampan perak berisi teko keramik dan dua cangkir porselen tipis yang permukaannya berkilau terkena cahaya lilin.Li Lian berdiri dengan anggun di tengah ruangan setelah para pelayan selesai mengenakan pakaian sutra merah marun yang jatuh pas di tubuhnya. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, memberikan kesan rapuh yang menipu.

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Belenggu

    Ketegangan di Paviliun Istana Timur seolah tidak mengenal titik jenuh. Di luar, badai salju semakin menggila, menghantam daun jendela kayu dengan suara berderak yang mengerikan, seolah-olah alam pun ikut memprotes atmosfer pekat di dalam ruangan tersebut. Li Lian masih berdiri tegak di tempatnya, meski rahangnya masih berdenyut nyeri akibat cengkeraman Zhao Feng tadi.Zhao Feng berbalik dari jendela, matanya yang merah menatap Li Lian dengan intensitas yang sulit dibaca—antara kebencian yang murni dan gairah yang terdistorsi oleh rasa dendam."Tugas sebagai Selir Agung, katamu?" Zhao Feng terkekeh sinis, melangkah lambat mengelilingi Li Lian layaknya singa yang sedang mempermainkan mangsa yang terpojok. "Kau berbicara seolah-olah ini adalah tugas medis biasa, Lian. Seolah-olah kau hanya perlu meramu obat dan memeriksa denyut nadiku setiap pagi."Li Lian tetap tenang, meski jemarinya yang tersembunyi di balik lengan baju mulai mendingin. Zhao Feng berjalan pelan, langkahnya berhenti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status