MasukBab 162. Jadi Pusat Lelang (2)Suasana damai itu ternyata tidak bertahan lama.Dari aula utama tiba-tiba terdengar suara keributan yang semakin lama semakin keras. Pada awalnya hanya terdengar beberapa suara samar, tetapi dalam hitungan napas, suara-suara tersebut mulai bercampur menjadi kegaduhan yang membuat bahkan juru lelang di atas panggung menghentikan ucapannya. Para peserta yang semula fokus pada barang lelang mulai menoleh ke segala arah, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.Tian Fan mengerutkan kening dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dari balik tirai khusus Ruangan VIP 3, ia dapat melihat sebagian besar aula utama.Balai Lelang Bulan memiliki sebuah aula besar dengan panggung lelang di bagian tengah sebagai pusat perhatian. Di bawah panggung terdapat area luas yang dipenuhi kursi untuk para peserta umum, sementara di bagian atas, mengelilingi aula dari sisi kiri hingga kanan, terdapat enam ruangan VIP. Keenam ruangan itu dibuat sedikit lebih tinggi
Bab 161. Jadi Pusat Lelang.Suasana di Ruangan VIP 3 masih terasa canggung. Setelah memberikan slip jade secara sembunyi sembunyi itu, keempat gadis itu memang tidak lagi banyak berbicara kepada Tian Fan, tetapi entah mengapa suasana di antara mereka justru terasa semakin tegang. Tian Fan yang duduk di tengah ruangan dapat merasakan bahwa ketiganya kembali menunjukkan sikap saling bersaing, sementara Yin Ping yang berada di antara mereka sesekali hanya memandang dengan ekspresi bingung.Perasaan itu semakin jelas ketika seorang juru lelang di panggung utama memperkenalkan salah satu barang berikutnya. Sebuah botol giok berisi Pil Penaik Ranah Tingkat Satu dibawa ke atas panggung. Juru lelang menjelaskan kualitas dan efek pil tersebut sebelum membuka harga awal.Namun, sebelum para peserta di aula sempat menaikkan tawaran, Shui Xian menoleh pada Yue Qing’er dan Mu Xueyan lalu berkata dengan sedikit angkuh.“Pil seperti itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Aku pernah memakan Pil Pen
Bab 160. Hadiah KetigaTidak lama setelah pertemuan yang membuat Tian Fan ingin melarikan diri dari Balai Lelang Bulan, Xiao Long akhirnya membawa mereka menuju sebuah ruangan VIP yang berada di bagian dalam bangunan. Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan aula utama. Dindingnya dihiasi ukiran sederhana, beberapa kursi empuk tersusun mengelilingi sebuah meja rendah, sementara dari jendela besar di sisi ruangan dapat terlihat sebagian panggung lelang yang berada di aula utama.Tian Fan duduk di salah satu sisi meja, sedangkan tepat di hadapannya duduk empat gadis yang sejak tadi menjadi sumber masalah terbesarnya.Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.Tian Fan memandang keempat gadis itu secara bergantian. Entah mengapa, posisi mereka terasa sangat familiar. Ingatannya tanpa sadar kembali pada kejadian di makam kuno, ketika ia pernah berada dalam situasi yang hampir sama. Hanya saja, kali ini suasananya terasa lebih aneh.Jika di makam kuno ia dikelilingi oleh bahaya da
Bab 159. Masalah yang lebih besar.Setelah berhasil membuat Ma Durung gelisah, Tian Fan sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Baginya, tujuan pertemuan tadi sudah tercapai. Ia tidak perlu terus mengganggu Ma Durung, apalagi mengikuti rombongan Sekte Raja Obat hanya untuk melihat wajah pucatnya.Tian Fan meninggalkan tempat tersebut dan kembali berjalan menyusuri jalan-jalan ibukota Kerajaan Shui.Ibukota jauh lebih ramai dibandingkan yang ia bayangkan. Para kultivator dari berbagai sekte dan klan memenuhi jalan utama, sementara pedagang dari berbagai wilayah memanfaatkan kesempatan itu untuk menjajakan barang-barang mereka. Dari percakapan orang-orang di sekitarnya, Tian Fan dapat menangkap berbagai informasi tentang keadaan kerajaan, mulai dari kondisi Raja Shui, kedatangan para alkemis dari luar, hingga persaingan antara berbagai kekuatan yang mulai semakin jelas.Namun, ketika melewati sebuah jalan yang cukup luas, langkah Tian Fa
Bab 158. Membuat gelisah.Setelah rombongan Sekte Raja Obat menghilang di ujung jalan utama, Tian Fan masih tetap duduk di lantai dua kedai minuman. Ia tidak segera bangkit ataupun mengikuti mereka. Tatapannya justru tertuju pada cangkir anggur di hadapannya, sementara pikirannya mulai menyusun beberapa kemungkinan.Ma Durung telah tiba di ibukota Kerajaan Shui.Orang itu datang bersama para tetua Sekte Raja Obat, membawa nama besar, kedudukan tinggi, serta tujuan yang sangat jelas…mengobati Raja Shui dan mendapatkan keuntungan besar dari keluarga kerajaan.Dengan kedatangannya, Ma Durung pasti ingin menjadi pusat perhatian banyak pihak.Namun, Tian Fan tidak berniat langsung menemuinya.Pertemuan yang terlalu jelas hanya akan membuat Ma Durung segera menyadari bahwa dirinya sedang diburu. Jika itu terjadi, orang tersebut mungkin akan memperkuat penjagaan, menghindari tempat-tempat tertentu, atau bahkan meminta perlindungan dari para tetua Sekte Raja Obat.Tian Fan tidak menginginkan h
Bab 157. Rumor di Ibukota.Lima hari telah berlalu sejak Tian Fan meninggalkan tempat pertemuannya dengan Yin Ping, Luo Qing, dan Bai Lian. Perjalanan menuju ibukota Kerajaan Shui sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar dua hari, tetapi Tian Fan sengaja memperlambat langkahnya. Selama perjalanan, ia menggunakan waktunya untuk memperkuat beberapa teknik dan memperdalam pemahamannya terhadap perubahan energi di dalam tubuhnya. Setelah beberapa hari, akhirnya gerbang besar ibukota Kerajaan Shui terlihat di hadapannya.Tian Fan membayar beberapa koin perak sebagai biaya masuk sebelum melangkah melewati gerbang kota. Begitu memasuki ibukota, suasana ramai langsung menyambutnya. Jalan utama dipenuhi kereta, pedagang, cultivator, serta orang-orang dari berbagai sekte dan klan yang datang dari berbagai wilayah.Tian Fan tidak langsung menuju istana ataupun mencari seseorang. Ia justru berjalan menuju sebuah kedai minuman terbesar yang berada tidak jauh dari gerbang utama. Tempat itu san
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri







