MasukBab 101. Hutan Seribu Ilusi.Tak lama setelah meninggalkan padang rumput, Tian Fan dan keempat murid Sekte Pedang Surgawi akhirnya tiba di tepian sebuah hutan yang tampak begitu tenang. Pepohonan raksasa menjulang rapat hingga cahaya matahari hanya mampu menembus dalam bentuk garis-garis tipis, sementara kabut putih menggantung rendah di antara batang-batang pohon tua, membuat seluruh kawasan terlihat sunyi sekaligus menyesakkan. Jika bukan karena petunjuk yang berhasil mereka pecahkan sebelumnya, tak seorang pun akan menyangka bahwa hutan yang tampak biasa itu adalah Hutan Seribu Ilusi, ujian pertama yang sesungguhnya. Tian Fan tidak terburu-buru melangkah. Ia memejamkan mata, lalu kesadaran jiwanya menyebar perlahan ke segala arah, disusul Domain Jiwanya yang ikut meluas bagaikan riak air tenang. Namun baru beberapa puluh meter memasuki kawasan hutan, seluruh persepsinya seolah ditelan sesuatu yang tak kasatmata. Ia perlahan membuka mata sambil menggeleng tipis. "Benar seperti d
Bab 100. Teka Teki dan petunjuk.Nama Mu Lan terus bergema di dalam benak Tian Fan. Langkahnya memang masih tenang, tetapi pikirannya telah tenggelam ke dalam lautan ingatan yang diwariskan Master Hua Tuo. Selembar demi selembar memori kuno melintas di benaknya hingga akhirnya sebuah sosok perempuan berjubah hijau zamrud perlahan muncul di antara pecahan kenangan itu. Mu Lan... murid ketiga Master Hua Tuo, seorang tabib sekaligus ahli formasi yang paling dipercaya oleh sang legenda. Di dalam warisan itu bahkan tercatat bahwa sebelum menghilang dari dunia, Master Hua Tuo pernah menitipkan sesuatu kepadanya, bukan ramuan, bukan kitab, melainkan sebuah warisan yang kelak hanya boleh diwariskan kepada keturunannya sendiri.Tatapan Tian Fan perlahan kembali jernih. Ia menoleh kepada Mu Xueyan sambil berkata tenang."Kalau begitu aku lebih memilih mempercayai cerita keluargamu daripada cerita Tang Bohu. Jika benar leluhur Mu Lan pernah menerima titipan Master Hua Tuo, apakah leluhurmu men
Bab 99. Nama.Tian Fan menerima kembali kedua sapu tangan itu sebelum mengembalikannya kepada Jian Mu dan Mu Xueyan. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya ketika ia berkata, "Jadi... dua paman itu adalah orang tua kalian? Sungguh sangat kebetulan." Setelah itu mereka berlima mulai berjalan berdampingan menuju hutan di kejauhan. Angin yang berhembus pelan membuat suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan kekacauan di dalam labirin pertama.Di sepanjang perjalanan, Jian Mu membuka percakapan sambil tersenyum pahit. "Setelah ayahku dan Paman Mu kembali dari Lembah Kematian, mereka terus berusaha mencari keberadaanmu. Satu-satunya petunjuk yang mereka miliki hanyalah namamu, Tian Fan. Setelah bertanya ke berbagai tempat, akhirnya mereka mendengar bahwa ada seorang murid Sekte Raja Obat di Kekaisaran yang memiliki nama itu. Karena itulah mereka sengaja datang ke sana untuk menemuimu dan menyampaikan rasa terima kasih secara langsung."Tian Fan mengangkat alisnya tipis sebelum terseny
Bab 98. Sapu tangan.Tian Fan berjalan menyusuri lorong kedua dengan langkah tenang. Tidak seperti lorong sebelumnya yang dipenuhi suara pertarungan dan jeritan para cultivator, lorong kali ini sunyi hingga suara langkah kakinya sendiri terdengar begitu jelas. Setelah menempuh perjalanan beberapa ratus meter, cahaya di ujung lorong perlahan semakin terang. Beberapa tarikan napas kemudian, ia akhirnya melangkah keluar.Pemandangan yang tersaji di hadapannya membuat alis Tian Fan sedikit terangkat.Di depan terbentang sebuah dataran luas yang diselimuti rerumputan hijau. Angin bertiup perlahan membawa aroma tanah yang lembab. Di kejauhan tampak sebuah hutan lebat yang dipenuhi pepohonan raksasa menjulang ke langit. Lebih jauh lagi berdiri sebuah bukit tinggi yang hampir seluruh puncaknya tertutup lautan awan putih sehingga mustahil melihat apa yang tersembunyi di baliknya.Tian Fan tidak langsung bergerak. Ia justru menoleh ke belakang.Di belakangnya ternyata berdiri sebuah bukit bat
Bab 97. Labirin PertamaBegitu seluruh peserta berhasil melewati penghalang, suasana di dalam makam kuno berubah menjadi riuh. Tatapan ribuan cultivator tertuju pada pemandangan yang sama. Hamparan labirin batu raksasa membentang tanpa ujung, sementara jauh di atas sebuah bukit berdiri bangunan berbentuk piramida berwarna hitam keabu-abuan yang memancarkan aura kuno. Meski dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, hampir semua orang memiliki pemikiran yang sama. Bangunan di puncak bukit itulah tujuan sebenarnya.Beberapa orang langsung berteriak menyampaikan pendapatnya kepada rekan-rekannya. "Pasti semua warisan berada di bangunan itu. Jangan buang waktu, kita harus segera sampai ke sana sebelum didahului orang lain." Ucapan itu segera memicu kepanikan kecil. Puluhan kelompok tanpa ragu berlari menuju salah satu jalan di depan mereka, seolah takut terlambat satu langkah saja akan membuat seluruh keberuntungan jatuh ke tangan orang lain.Di hadapan mereka terdapat sekitar dua puluh
Bab 96. Makam Terbuka.Suara terompet yang panjang dan berat menggema di seluruh kaki Pegunungan Yin, memecah kesunyian pagi yang sejak tadi dipenuhi bisik-bisik para cultivator. Dalam sekejap, seluruh orang yang masih beristirahat segera bangkit dan bergerak menuju sebuah dataran luas di depan pintu batu raksasa makam kuno. Suasana yang semula ramai oleh obrolan perlahan berubah menjadi hening penuh antisipasi. Tak seorang pun ingin melewatkan detik-detik pembukaan makam yang telah dinantikan selama berhari-hari.Tian Fan ikut berjalan bersama arus manusia. Kini ia telah mengenakan jubah hitam panjang lengkap dengan tudung yang menutupi sebagian besar wajahnya. Penampilannya tampak begitu biasa hingga nyaris tidak ada yang memperhatikannya. Di tengah kerumunan ribuan orang, keberadaannya benar-benar menyatu dengan para cultivator pengelana lainnya.Di depan pintu makam, susunan barisan telah diatur dengan jelas. Barisan paling depan ditempati oleh perwakilan Kerajaan Shui dan empat
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain







