MasukSuasana di salah satu ruangan privat gereja tampak begitu hangat. Sinar matahari menyelinap melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan pantulan keemasan yang lembut di lantai marmer.Beberapa orang terlihat sibuk mempersiapkan diri, sementara enam sahabat Kyrran—Vanko RJ, Jeremy, Derby, Rasya, Davin dan Ryu berkumpul di salah satu sudut ruangan dengan ekspresi yang mencurigakan, tampak sedang merencanakan sesuatu.Kyrran berdiri tak jauh dari jendela. Pria tampan itu mengenakan setelan jas pengantin berwarna putih gading dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu senada, penampilannya tampak begitu sempurna. Rambut hitam legamnya ditata rapi, sementara sebuah boutonniere—rangkaian bunga mini—tersemat di sisi kiri jasnya.Namun, di balik ketenangan pria itu, ada kegugupan yang sulit ia sembunyikan. Hari ini, Kyrran Diandra Yoseviano akan menikahi Andrea Ilsa Shimano."Hei, pengantin pria!" Ryu menghampiri Kyrran sambil menepuk bahunya.Kyrran
Tak terasa waktu berlalu, Andrea berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang Jurnalistik dan meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.). Sementara itu, Kyrran berhasil menyelesaikan pendidikan Bachelor of Science (B.S.) in Biology dengan jalur persiapan pre-med. Namun, kelulusan itu bukanlah akhir perjalanan mereka. Masih ada banyak hal yang harus diperjuangkan, terutama bagi Kyrran. Cowok itu akan melanjutkan pendidikan kedokterannya ke luar negeri untuk meraih gelar Doctor of Medicine (MD). Suasana halaman utama Universitas Haster dipenuhi para wisudawan dan keluarga mereka. Jubah hitam dengan selempang merah marun tampak mendominasi pemandangan. Beberapa mahasiswa sibuk berfoto, sebagian lainnya berpelukan dengan keluarga. Suara tawa dan ucapan selamat terdengar dari berbagai penjuru. Andrea berdiri di dekat tangga gedung utama sambil memegang buket bunga yang baru saja diberikan oleh Anastasia ibunya, Kakek Dedrick yang didampingi oleh P
Empat bulan kemudian, tim basket Universitas Haster akhirnya berhasil bangkit dari keterpurukan. Sejak kehadiran Kyrran, performa tim tersebut mengalami peningkatan yang signifikan. Cowok itu tidak hanya membawa perubahan dalam strategi permainan, tetapi juga berhasil mengembalikan kepercayaan diri rekan-rekan setimnya.Dan hari itu, Kyrran, Ryu sang kapten dan rekan-rekannya berhasil mencapai Final Turnamen Basket Nasional Antarkampus.Sorak-sorai memenuhi arena pertandingan. Ribuan penonton memadati tribun, sebagian besar mengenakan atribut universitas masing-masing. Spanduk dukungan terbentang di berbagai sudut dan suara genderang serta yel-yel suporter bersahutan tanpa henti.Di salah satu tribun khusus media, Andrea berdiri dengan kamera tergantung di lehernya. Gadis itu mengenakan jaket universitas sambil sesekali mengangkat kameranya untuk mengabadikan jalannya pertandingan.Namun, jangan salah. Meski sedang bertugas meliput pertandingan un
Kyrran melingkarkan lengannya di punggung Andrea sembari mendekatkan wajah mereka. "Kenapa, Baby Reaku Sayang… kamu gak nyaman?"Andrea menggeleng pelan. "Nyaman kok, cuma…" ia melipat bibir sejenak, "deg-degan aja."Kyrran berkedip pelan sembari mengulas senyum tipis. Tangan cowok itu naik meraih pipi Andrea dan mengusapnya pelan dengan Ibu jarinya. Kyrran menatap Andrea lekat-lekat. "Karena yang di bawah?" tanyanya dengan nada yang menggoda.Andrea menunduk. "Hmm."Kyrran menyeringai tipis. Tiap mereka bermesraan di posisi itu, Andrea kerap kali mengungkapkan hal yang sama. Namun ketika sudah larut, Andrea sendiri akan lupa jika dirinya deg-degan dan justru bergerak di atas Kyrran dengan semangat.Cowok itu akhirnya menyentuh dagu Andrea, mendongakkan gadisnya itu, kemudian mendaratkan kecupan lembut di bibir Andrea.Cup…Andrea mengerjap pelan, mengalungkan lengan di leher Kyrran, lalu membalas kecupan sang kekasih.
"Baby Ran, bagaimana kalau kita tidak bisa keluar?" Andrea tersengal-sengal. "Sepertinya ini bagian labirin yang paling dalam." Kyrran menyunggingkan senyum, lalu mengusap punggung tangan Andrea dengan ibu jarinya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku tahu jalur keluarnya, kalaupun kita tersesat, kita manjat saja." Andrea menghela napas dengan lengkungan senyum di bibir ranumnya. Ia mengangkat satu tangan dan memukul lengan kekar Kyrran. "Dasar! Aku serius, Baby Ran!" Kyrran membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Andrea, hingga tatapan mereka sejajar. "Aku juga serius, Sayang. Aku memang tahu jalan keluarnya." Kyrran kemudian menegakkan punggung dan berdiri di sebelah Andrea sembari menggenggam tangan mungil kekasihnya itu. "Ingatanku tetang tempat ini sudah kembali," sahut Kyrran. Suaranya rendah. Andrea mendongak ke samping, menatap profil samping cowoknya itu. "Ingatan masa kecil kamu ya, Sayang?" Kyrran menoleh lalu mengangguk tipis. "Hm." "Dulu tiap datang ke Alveroz
"Kalau begitu, aku juga seharusnya mendapatkan restu Papa, kan?"Semua orang menoleh serentak ke sumber suara.Karryne Xaonela Yoseviano ala Noela—kembaran Kyrran—berdiri di sana dengan kedua tangan terkepal lembut di kedua sisi tubuhnya. Ia baru juga tiba di Alveroz Estate. Tiga saudara laki-lakinya—Jergar, Isaac dan Lysander—menyusul masuk."Selama malam semuanya," sapa Noela ceria. Ia mengangguk hormat pada yang lebih tua.Gadis itu kemudian melangkah masuk, berhenti di samping Papa Adriell."Papa, bagaimana? Aku juga sudah cukup dewasa untuk mendapatkan restu, bukan?"Papa Adriell memijat pelipisnya. "Noela, jangan mulai."Noela merengek dramatis di sebelah papanya. "Tapi Kyrran bisa, kenapa aku yang kembarannya gak boleh pacaran."Lysander si bungsu yang sudah berada di pangkuan Opa Riovandra, menyahut. "Kakak El jangan syedih, aku juga tidak dikasih izin sama papa pacal-pacalan."Ruangan itu langs
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan







