Masuk"Kyrran…"
Andrea bangun cepat-cepat, tangannya lincah merapikan rambutnya kemudian mengarahkan layar ponsel ke wajahnya sebelum menerima panggilan video dari Kyrran.Di layar, cowok itu tampak sibuk mondar-mandir di kamarnya. Kyrran kemudian terlihat merapikan pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper yang terbuka di atas ranjangnya."Sudah sampai ya?" tanya Kyrran sambil melipat sebuah jaket."Iya," jawab Andrea, kemudian lanjut bertanya. "Kamu kapan ke"Kyrran…"Andrea bangun cepat-cepat, tangannya lincah merapikan rambutnya kemudian mengarahkan layar ponsel ke wajahnya sebelum menerima panggilan video dari Kyrran.Di layar, cowok itu tampak sibuk mondar-mandir di kamarnya. Kyrran kemudian terlihat merapikan pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper yang terbuka di atas ranjangnya."Sudah sampai ya?" tanya Kyrran sambil melipat sebuah jaket."Iya," jawab Andrea, kemudian lanjut bertanya. "Kamu kapan ke Alveroz Estate?""Nanti sore," sahut Kyrran.Setelah itu percakapan mereka mengalir begitu saja. Mereka membicarakan perjalanan, kegiatan liburan, buku yang sedang dibaca, hingga hal-hal sepele yang sebenarnya tidak penting. Namun, tak satu pun dari mereka yang merasa bosan.Baru ketika Kakek Dedrick memanggil untuk makan bersama, Andrea mengakhiri panggilan video tersebut.Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Meski terpisah jauh, chat, telepon dan pa
Keesokan harinya, Andrea berlari kecil begitu melihat kakeknya yang sudah menunggu di depan gerbang asrama Mirelle Girls Academy. Senyum lebar langsung merekah di wajahnya. Tanpa ragu, ia memeluk kakeknya erat."Kakek!"Kakek Dedrick tertawa hangat sambil mengusap puncak kepala Andrea. "Akhirnya kakek bertemu lagi dengan cucu kesayangan kakek."Andrea terus tersenyum dalam pelukan kakeknya. Di saat yang sama, Daisy berjalan mendekat. Senyum manis menghiasi wajahnya."Selamat liburan, Andrea."Andrea menoleh dan seketika membeku. Keterkejutan sempat melintas di matanya. Gadis itu pelan-pelan melepaskan pelukan dari kakeknya.Sejak setuju menggantikan Andrea di sekolah ini, mereka sudah sepakat agar Daisy tidak pernah muncul di depan kakek Andrea.Kakek Dedrick ikut menoleh penasaran. "Oh? Siapa ini? Sahabatmu?"Andrea menggigit bagian dalam pipinya. Setelah jeda singkat, ia memaksakan senyum."Iya, Kakek
"Oh tidak begitu, Andrea. Aku tahu kamu sekolah di sana karena itu sekolah kedua orang tuamu, kan?" sahut Daisy cepat.Andrea menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis."Aku cuma berpikir kamu bisa lebih betah di sana karena punya pacar dan sahabat-sahabat yang seru," kata Daisy, mengedikkan bahu dan tersenyum manis."Ya, aku senang bisa bersama mereka," ucap Andrea.Daisy terus menahan senyum, tangannya meraih pegangan koper Andrea, hendak menariknya. Namun, Andrea menahan cewek itu."Biar aku saja," kata Andrea, menarik kopernya.Daisy terkekeh kecil lalu mengangkat kedua bahunya. "Oke, kalau begitu ayo masuk."Mereka berjalan berdampingan melewati gerbang Mirelle Girls Academy, lalu memasuki area asrama. Beruntung liburan musim dingin di sekolah ini telah dimulai sejak beberapa hari lalu. Sebagian besar siswi sudah kembali ke rumah masing-masin, sehingga keberadaan seorang tamu seperti Andrea tidak akan menimbulka
"Aku mengerti, Paman," kata Andrea sebelum mengakhiri telepon itu. Tanpa membuang waktu, Andrea bergegas keluar dari gedung utama menuju asrama. Cahaya lampu festival dan salju yang jatuh menemani langkah buru-buru gadis itu. Sesampainya di asrama, ia segera menutup pintu kamar dan melepas gaunnya yang baru beberapa jam lalu dipakai. Tak lama kemudian, Andrea berganti dengan pakaian musim dingin yang lebih nyaman. Ia mengenakan sweter rajut, mantel wol berwarna gading, celana panjang, serta syal lembut yang melingkari lehernya. Sembari membuka koper, Andrea mengabari di grup OTTD kalau dia harus pergi kota Valoria karena kakeknya mau datang. Ia kemudian menata beberapa set pakaian, perlengkapan mandi, buku catatan, charger dan barang-barang penting lainnya masuk satu per satu ke dalam koper dengan gerakan cepat dan teratur. Andrea mengembuskan napas panjang setelah semuanya selesai. Dia menggenggam pegangan koper, lalu menariknya keluar dari asrama putri. Begitu melewati ge
Tak terasa Festival Musim Dingin Alveroz High akhirnya tiba. Halaman sekolah dipenuhi cahaya hangat dari lampu-lampu gantung, berpadu dengan dekorasi putih keperakan yang berkilau seperti embun beku. Musik pelan terdengar dari kejauhan, menyatu dengan riuh rendah suara siswa yang sudah mulai berkumpul. Aula utama menjadi pusat perayaan, para siswa dan guru bergerak di antara meja-meja panjang berisi hidangan musim dingin. Beberapa sibuk berbincang, bersulang dan foto bersama. Sebagian lainnya sibuk mengabadikan momen di depan glambot yang memutar lambat setiap pose, menangkap tawa dan putaran gaun terbaik para siswi. Cahaya sorot lembut menari di lantai marmer, membuat suasana terasa seperti dunia lain—lebih ringan, lebih hangat dari rutinitas akademik yang biasanya menekan. Di tengah keramaian, Andrea dengan gaun berwarna putih mutiaranya—memperhatikan Kepala Sekolah yang berdiri, memberikan pidato singkat tentang pencapaian semester dan harapan untuk liburan musim dingin yang a
"Ini hadiahnya," kata Andrea, mengeluarkan sebuah kotak bekal.Kyrran memutar tutup botol air di tangannya, kemudian mengangkat sudut bibirnya samar. "Kamu membuatkan sesuatu untukku?"Andrea mengangguk, kemudian membuka tutup kotak perlahan."Tadaaaa…" celetuk Andrea, memperlihatkan isi kota yang di dalamnya tersusun rapi pancake pisang kecil-kecil berwarna keemasan. Di sela-selanya terdapat irisan stroberi merah segar dan blueberry.Setelah itu, Andrea mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi krim cokelat yang mengilap dan meletakkannya di samping kotak."Iya, aku membuatnya untukmu," kata Andrea. "Kamu suka susu cokelat pisang, jadi aku kepikiran membuat mini banana pancake ini."Senyum tipis terukir di wajah Kyrran. Cowok itu lalu menaruh botol airnya di meja, menerima garpu yang disodorkan Andrea, menusuk salah satu bagian kecil. Pancake itu ia celupkan ke dalam krim cokelat sebelum akhirnya masuk ke mulut Kyrran.Sek
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







