LOGIN"Mau aku cicipi milikmu? Pakai lidah... Belum pernah, kan?" goda Reyner, sambil memberikan gigitan kecil yang menggoda di bahu mulus Lana.Mata Lana membelalak seketika, jantungnya berdegup dua kali lebih kencang mendengar tawaran nekat itu. Wajahnya terasa terbakar sampai ke telinga, membayangkan sesuatu yang selama ini hanya ia baca dalam novel dewasa kini akan dilakukan Reyner padanya."Rey! Kamu serius?" tanya Lana dengan suara bergetar karena malu sekaligus penasaran. Ia meremas seprai kasur dengan erat. "A-aku malu... tapi kalau kamu mau, lakukanlah dengan lembut.""Tentu, Sayang. Aku akan memujamu dengan sepenuh hati. Berbaringlah yang nyaman," bisik Reyner seraya menyingkap selimut tebal itu hingga jatuh ke lantai.Perlahan, ia memberikan kecupan di kening, pipi, leher, hingga tulang selangka Lana. Saat bibirnya mencapai dada dan turun ke perut yang sedikit membuncit, Reyner berhenti cukup lama. Ia mencium dan mengusap perut itu de
Napas Reyner memburu. Ia perlahan menarik panties Lana, membiarkan keindahan pribadi istrinya terekspos sepenuhnya di bawah remang lampu kamar. Tatapan Reyner menggelap oleh gairah, namun ada pemujaan yang mendalam di sana."Rey, pelan-pelan, ya..." bisik Lana dengan nada khawatir. Ia melirik perutnya yang sedikit membuncit, ada nyawa kecil yang sedang mereka nantikan bersama di dalam sana.Reyner mendongak sejenak, menatap mata Lana dengan tatapan meyakinkan yang sangat teduh. "Aku tahu, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu ataupun anak kita. Aku akan sangat berhati-hati," bisiknya.Dengan gerakan maskulin yang sangat tenang, Reyner bangkit sedikit untuk melepaskan kaos sleeveless yang dikenakannya.Otot-otot bahu dan lengannya yang kokoh tampak menegang saat ia menyentakkan pakaian itu melewati kepala, lalu membuangnya ke sembarang arah.Pandangannya tidak lepas dari Lana saat ia menanggalkan celana pendeknya, membiarkan tubuh atleti
Taksi berhenti tepat di depan lobi apartemen. Reyner segera membawa tas ranselnya masuk ke dalam kamar Lana yang tertata rapi dan beraroma lavendel yang menenangkan. Sementara itu, Lana sibuk di dapur, menyiapkan minuman hangat sambil merapikan bekal lauk dari Tiara untuk sarapan besok.Saat Lana sedang menuang air panas ke dalam cangkir, tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang. Reyner menyandarkan dagunya di bahu Lana, menghirup aroma rambut istrinya dalam-dalam."Aku merindukanmu, Sayang," bisik Reyne, suaranya penuh kerinduan.Lana tersenyum simpul, menyandarkan kepalanya ke dada Reyner sambil mengusap lembut lengan suaminya. "Aku juga sangat merindukanmu, Rey. Rasanya lega bisa sedekat ini lagi bersamamu.""Aku punya sesuatu untukmu..." Reyner merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak perhiasan beludru khas toko emas ternama dan sedikit mengguncangnya di depan wajah Lana."Apa itu? P
Hari berganti, Reyner akhirnya menyusul Lana ke rumah Leon di Bogor. Sore itu, udara pegunungan yang sejuk menyelimuti teras belakang rumah, namun suasana hati Reyner tampak tidak sejalan dengan ketenangan di sana."Rey, Bibi sudah menyiapkan kamar untuk kita di sini. Kata Kak Leon dan Kak Tiara, lebih baik kita menginap saja sambil mematangkan rencana penggerebekan bisnis spa milik Garry itu," ujar Lana lembut.."Ck, mana enak menginap di sini? Nggak bebas kalau aku mau bermesraan sama kamu," keluh Reyner blak-blakan."Astaga, dalam situasi genting begini masih saja terpikir ke sana?" Lana menanggapi dengan gugup, menyuapkan sepotong buah ke mulutnya untuk menutupi rona merah di pipinya.Sambil menatap ke arah kolam renang, Reyner menoleh ke kanan dan kiri dengan gelisah, persis seperti remaja yang sedang apel di rumah pacar dan takut ketahuan calon mertua."Memangnya apa lagi yang dicari pasangan LDR halal seperti kita kalau bukan
Malam itu, di saat Kimmy terus menatap layar ponselnya yang bisu menanti telepon yang tak kunjung datang, Reyner justru sedang melakukan video call dengan Lana. Debby sudah tertidur pulas di sampingnya, memberikan ruang bagi keduanya untuk bicara lebih leluasa."Kenapa tidak dari tadi kamu memberitahuku, hah?!" Reyner mendengus kasar, gurat kekesalan tampak jelas di wajahnya melalui layar ponsel."Aku... aku hanya tidak ingin merusak fokus kerjamu, Rey. Maafkan aku. Kupikir, lebih baik aku bicara saat kamu sudah selesai bekerja saja," sahut Lana pelan. Ada sedikit nada gentar dalam suaranya. Ia tahu betul Reyner bisa menjadi sangat emosional dan impulsif jika menyangkut keselamatannya.Lana meremas ujung selimutnya, mencoba membaca ekspresi suaminya yang masih tampak tegang. Di seberang sana, Reyner mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha meredam amarah yang sempat meledak karena rasa khawatir yang berlebihan."Lana, dengar. Pekerjaanku tida
"Sekarang, pulanglah. Ada gadis baru yang mau kemari, jangan membuat masalah," ucap Garry sembari merapikan bajunya yang sedikit kusut.Kimmy menatap Garry dengan pandangan tak percaya. Dadanya sesak mendapati perlakuan kakak angkat yang menanamkan benih di rahimnya. "Kamu tega mengusirku tanpa memberiku waktu untuk istirahat atau sekadar minum? Padahal aku sedang hamil anakmu, Mas!"Garry tak perduli. Boro-boro merasa iba, ia justru merogoh dompetnya dan melemparkan beberapa lembar uang merah tepat ke wajah Kimmy. Lembaran uang itu melayang jatuh di atas karpet bulu yang mahal."Ambil," perintahnya singkat."Tidak perlu, Mas. Uang yang kamu lempar kemarin saja masih ada," sahut Kimmy ketus, berusaha menjaga harga dirinya yang sudah hancur."Ambil, atau mau kusiksa lewat Bonita?" Ucap Garry. Matanya berkilat mengancam, menyebut nama wanita iblis yang dikenal tak punya belas kasihan dalam menyiksa orang.Kimmy bergidik ngeri mende







