/ Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 20: Predator di Balik Pintu

공유

Bab 20: Predator di Balik Pintu

작가: Murufu
last update 게시일: 2025-12-30 19:58:28
Kilat kembali membelah langit malam di luar Mansion Jati, menerangi kamar itu selama satu detik, cukup bagi Alya untuk melihat siluet itu.

Bukan Adrian.

Sosok itu terlalu besar, terlalu membungkuk, dan bergerak dengan keheningan yang terlatih. Itu bukan langkah seorang dokter yang ragu-ragu; itu langkah seorang predator yang menemukan mangsanya sedang tidur.

Alya merasakan darahnya membeku. Ia masih dalam posisi memunggungi Luciano, tubuhnya kaku di bawah selimut. Di balik genggaman tangannya
Murufu

Author Note: Wah, napas dulu guys! 😮‍💨 Bab 20 ini rollercoaster banget! Alya akhirnya bikin pilihan besar: ngebangunin "Singa Tidur" daripada lari. Menurut kalian, itu keputusan cerdas atau bodoh? 🤔 Dan liat tuh Luciano... bukannya makasih, malah makin posesif dan ngunci Alya di kamar! Lockdown Level 1 itu artinya gak ada akses keluar masuk sama sekali loh. Pertanyaan: Kira-kira apa isi suntikan di paha Luciano tadi? Apakah racun baru atau... obat perangsang syaraf? 👀 Komen teori kalian di bawah! 👇

| 좋아요
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 32: Ranjang Berduri

    Hujan badai kembali mengguyur Jakarta malam itu, mengubah jendela kaca kamar VVIP di lantai 12 Rumah Sakit Prawira menjadi kanvas abstrak yang kelabu. Suara guntur yang menggelegar di kejauhan seolah menjadi soundtrack bagi kepindahan sang Raja dari ruang ICU ke benteng barunya.Ruangan itu luas, lebih mirip penthouse hotel bintang lima daripada kamar rawat. Lantai marmer, sofa kulit hitam, dan sebuah ranjang pasien custom berukuran Queen Size yang diminta khusus oleh Rian demi keamanan."Pengamanan perimeter sudah siap, Tuan," lapor Rian, berdiri kaku di ujung ranjang. Matanya tidak berani menatap Luciano yang sedang berusaha duduk tegak dengan wajah pucat pasi. "Dua penembak jitu di gedung seberang. Empat pengawal di koridor. Dan sesuai protokol Darurat Level 1... Nyonya harus tetap berada dalam radius dua meter dari Tuan setiap saat."Luciano mendengus kasar. Suara napasnya terdengar berat dan basah di dadanya yang masih dibalut perban tebal."Maksudmu... aku butuh babysitter?" des

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 31: Surat dari Hantu

    Lantai koridor VVIP rumah sakit itu seharusnya sunyi, namun kini dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Alya melangkah keluar dari ICU, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Di hadapannya, Bramantyo tidak pergi. Dia justru kembali dengan artileri yang lebih berat: Salim, pengacara senior klan Prawira yang terkenal licin seperti belut oli. "Nyonya Alya," sapa Salim dengan senyum palsu yang tidak mencapai matanya. Di tangannya, sebuah map kulit hitam terbuka. "Kami turut prihatin atas kondisi Tuan Luciano. Namun, bisnis tidak mengenal koma. Berdasarkan Anggaran Dasar Klan, kami membutuhkan tanda tangan Tuan untuk pencairan dana operasional minggu ini. Atau... penyerahan kuasa sementara kepada Tuan Bramantyo." Bramantyo berdiri di belakang Salim, menyeringai menang. Dia tahu Luciano tidak mungkin menandatangani apa pun dalam kondisi kritis. "Suamiku sedang istirahat, Pak Salim," jawab Alya tenang, meski jantungnya bergemuruh. "Dia tidak menerima tamu." "Ini bukan

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 30: Harga Sebuah Napas

    Bunyi monitor EKG yang tadinya stabil kini berdetak sedikit lebih cepat, seirama dengan ketegangan yang mencekik di ruang ICU VVIP itu. Tangan Luciano yang lemah namun berat masih mencengkeram pergelangan tangan Alya. Mata merahnya menatap tajam, seolah ingin meremukkan Alya hanya dengan tatapan, meski tubuhnya sendiri hancur lebur. "Singkirkan... kuku kotor-mu... dari... leherku..." Suara itu terdengar seperti parutan kasar—efek dari intubasi paksa dan dehidrasi parah. Alya tidak langsung menarik tangannya. Ia menatap mata suaminya dengan ekspresi datar yang baru. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepatuhan. Ia perlahan melepaskan jari-jarinya dari leher Luciano, tapi tidak mundur selangkah pun. Ia tetap berdiri di sana, menjulang di atas ranjang pasien, menciptakan bayangan yang menutupi wajah Luciano. "Kau sadar," ucap Alya dingin. "Sayang sekali. Padahal aku baru saja mulai menikmati ketenangan tanpa suaramu." Luciano mencoba mendengus, tapi gerakan kecil itu memicu rasa sakit l

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 29: Ular Berkepala Dua

    Pintu ruang tunggu VVIP ICU terbanting terbuka. Bukan oleh musuh, tapi oleh "keluarga".Lima orang pria paruh baya berjas mahal masuk dengan langkah lebar. Aura mereka bukan aura pembunuh jalanan seperti pengawal, tapi aura predator birokrat. Di tengah mereka, berdiri Bramantyo Prawira, paman Luciano—orang yang memegang kendali keuangan klan saat Luciano "bermain perang".Alya baru saja duduk semenit setelah menutup telepon Isabella. Napasnya masih memburu. Gaun pengantinnya yang kotor dan robek membuatnya terlihat seperti gelandangan di tengah para raja minyak ini."Minggir, Nona," suara Bramantyo berat dan merendahkan. Ia bahkan tidak menatap mata Alya. "Kami mau melihat keponakanku. Dan setelah itu, kami akan membereskan kekacauan yang kau buat."Alya berdiri, menghalangi pintu kaca ICU. "Tidak ada yang boleh masuk. Itu perintah medis. Dan itu perintahku."Bramantyo berhenti. Ia akhirnya menatap Alya, lalu tertawa pendek. Sebuah tawa yang diikuti oleh seringai meremehkan dari keemp

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 28: Detak yang Hilang

    "TARIK MEREKA! CEPAT!" Suara teriakan Rian terdengar seperti guntur di telinga Alya yang berdengung. Tangan-tangan kekar menarik tubuhnya dari air laut yang dingin, melemparnya ke geladak speedboat yang keras. Alya terbatuk hebat, memuntahkan air asin yang membakar tenggorokannya. Namun, matanya tidak peduli pada rasa sakitnya sendiri. Ia merangkak, menyeret gaun pengantinnya yang basah dan berat, menuju tubuh kaku yang baru saja diletakkan di sebelahnya. Luciano terbaring diam. Terlalu diam. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan mata elang yang biasanya mengintimidasi itu kini terpejam rapat. Tidak ada gerakan dada. Tidak ada napas. "Tuan!" Salah satu pengawal elit Luciano mengguncang bahu bosnya dengan panik. "Tuan tidak bernapas! Kita harus segera ke rumah sakit!" "MINGGIR!" Alya mendorong pengawal bertubuh besar itu dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Ia bukan lagi gadis tawanan yang takut. Di atas kapal yang berguncang membelah ombak itu, ia adalah satu

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 27: Jatuh ke Dalam Biru

    Waktu seolah membeku. Mata Alya terpaku pada tabung kaca kecil yang melayang di udara. Cahaya matahari fajar yang baru menyingsing memantul pada cairan biru neon di dalamnya, membuatnya berkilau seperti pecahan bintang yang jatuh dari langit. Tabung itu berputar lambat—sangat lambat—di atas permukaan laut yang gelap dan bergelombang. Itu adalah nyawa. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa memisahkan mereka dari kematian. "JANGAN!" Teriakan Luciano terdengar jauh, teredam oleh deburan ombak yang menghantam tiang dermaga. Tanpa berpikir, tanpa menimbang risiko, tubuh Alya bergerak sendiri. Insting bertahan hidupnya berteriak, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menyelamatkan kesempatan terakhir Luciano. Alya melompat. Gaun pengantin putihnya yang berat berkibar sesaat di udara sebelum gravitasi menariknya ke bawah. BYUR! Dingin yang menusuk tulang langsung menyergap Alya begitu tubuhnya menembus permukaan air laut. Air asin masuk ke hidung dan mulutnya, rasanya perih. Namun,

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 26: Balapan dengan Fajar

    "Uhuk!" Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan. Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi dara

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 25: Malam yang Menyesatkan

    Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 24: Altar Kematian

    Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bung

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 23: Gaun Putih di Atas Noda Darah

    Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di ten

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status