MasukAir dingin itu membasuh wajahnya, namun tidak bisa membasuh rasa panas yang tertinggal di bahunya. Di depan cermin kamar mandi tamu yang mewah—berlapis marmer hitam dengan keran emas—Elena menatap pantulan dirinya sendiri.
Dia masih Elena. Matanya masih cokelat gelap, hidungnya masih sama, bibirnya masih miliknya. Namun, ada sesuatu yang redup di dalam sana. Cahaya perlawanan yang biasanya menyala terang kini berkedip-kedip, terancam padam oleh tiupan angin dingin yang dibawa oleh Damian Kael. Jejak tangan pria itu di bahunya terasa seperti stempel kepemilikan. Damian tidak memukulnya, tidak melukainya secara fisik, namun cara pria itu "memainkannya" di depan piano tadi lebih merusak daripada tamparan. Damian telah mengambil satu-satunya tempat perlindungan Elena—musiknya—dan mengubahnya menjadi arena dominasi. Elena mengeringkan wajahnya dengan handuk tangan yang begitu tebal dan lembut hingga terasa seperti selimut. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu sisa dari Moonlight Sonata yang kacau tadi. "Kau bisa melakukan ini, El," bisiknya pada cermin. "Makan malam. Tidur. Ulangi. Bertahanlah." Dia merapikan gaun satin hitamnya, memastikan belahan dadanya tidak terlalu rendah, lalu melangkah keluar. Ruang makan sudah tertata. Berbeda dengan sarapan tadi pagi yang terkesan fungsional, makan malam ini dirancang dengan nuansa yang lebih intim—dan karena itu, jauh lebih mengerikan. Lampu kristal di langit-langit diredupkan. Di atas meja panjang itu, dua buah kandelabra perak berdiri tegak, dengan lilin-lilin putih yang menyala, melemparkan bayangan yang menari-nari di dinding. Piring-piring porselen dengan tepian emas sudah disiapkan, diapit oleh deretan sendok dan garpu perak yang berkilau tajam seperti instrumen bedah. Damian sudah duduk di ujung meja, posisi sang raja. Dia telah mengganti kemejanya yang kusut dengan kemeja hitam polos berbahan sutra, yang entah bagaimana membuatnya terlihat lebih santai namun sekaligus lebih berbahaya. Kemeja itu menyerap cahaya, membuat wajah dan kulitnya yang pucat terlihat kontras. Saat Elena mendekat, Damian tidak berdiri untuk menarikkan kursi. Chivalry atau kesatriaan mungkin sudah mati di abad ini, tapi di penthouse ini, konsep itu bahkan tidak pernah lahir. Pria itu hanya menatapnya, matanya yang berwarna abu-abu asap mengikuti setiap langkah Elena hingga dia duduk di kursi yang sama seperti pagi tadi—tepat di sebelah kanannya. "Tepat waktu," komentar Damian pelan. Suaranya dalam, beresonansi di dada Elena yang duduk di dekatnya. "Aku menghargai ketepatan waktu." "Aku tidak punya jam lain selain jam dindingmu," jawab Elena datar, mencoba menyembunyikan getaran tangannya dengan meletakkannya di pangkuan, di bawah meja. Pelayan datang tanpa suara, menuangkan red wine ke dalam gelas kristal besar di depan mereka. Cairan merah pekat itu berputar di dalam gelas, tampak seperti darah segar di bawah cahaya lilin. "Château Margaux 2015," kata Damian, mengangkat gelasnya sedikit seolah mengajak bersulang. "Kau akan menyukainya. Notes buah hitam, tembakau, dan sedikit rasa tanah. Kompleks, seperti dirimu." Elena menatap gelas itu dengan curiga. "Aku tidak minum." "Kau minum," koreksi Damian. Dia menyesap anggurnya, matanya tidak lepas dari Elena. "Catatan medismu bilang kau tidak alergi alkohol. Dan laporan pengintaianku mengatakan kau minum dua gelas bir murah saat merayakan kelulusanmu bulan lalu." Elena merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. "Kau tahu sedetail itu?" "Aku tahu segalanya, Elena. Makanlah." Seorang pelayan meletakkan piring pembuka. Foie gras dengan saus fig. Hidangan yang melambangkan kekejaman—hati angsa yang dipaksa makan hingga bengkak. Ironi itu tidak luput dari perhatian Elena. Dia merasa seperti angsa itu sekarang. Elena mengambil garpunya, memotong sepotong kecil dan memasukkannya ke mulut. Lembut, kaya rasa, dan mahal. Tapi di lidahnya, rasanya seperti abu. "Ceritakan padaku," kata Damian tiba-tiba, memecah keheningan yang hanya diisi oleh denting pelan peralatan makan. "Tentang ibumu." Elena berhenti mengunyah. Dia menelan dengan susah payah. "Kenapa kau ingin tahu?" "Karena aku bosan membaca profilmu di kertas. Aku ingin mendengarnya darimu." Damian memotong daging di piring utamanya—yang baru saja disajikan—dengan presisi yang menakutkan. Pisau itu mengiris daging medium-rare itu tanpa usaha. "Dia meninggal lima tahun lalu. Kanker pankreas. Benar?" "Jika kau sudah tahu, kenapa bertanya?" "Detail, Elena. Emosi. Kertas tidak bisa memberitahuku bagaimana rasanya kehilangan dia." Elena meletakkan garpunya. Nafsu makannya hilang total. Dia menatap Damian, mencoba mencari tahu permainan apa lagi yang sedang dimainkan pria ini. Apakah dia ingin melihat Elena menangis? "Dia wanita yang baik," kata Elena pelan, suaranya serak menahan emosi. "Dia mengajariku bermain piano. Dia bekerja dua pekerjaan agar aku bisa masuk konservatorium. Dia... dia adalah kebalikan darimu." Damian berhenti makan. Dia menoleh perlahan, alisnya terangkat satu. "Kebalikan dariku? Menarik. Jelaskan." "Dia memberi tanpa meminta kembali," kata Elena, keberanian bodoh mulai muncul di dadanya. "Dia mencintai tanpa syarat. Dan dia tidak perlu mengurung orang yang dia sayangi dalam sangkar kaca untuk merasa hebat." Suasana di meja makan itu membeku seketika. Lilin-lilin seolah berhenti berkedip. Para pelayan yang berdiri di bayang-bayang menahan napas. Elena sadar dia mungkin sudah melangkah terlalu jauh. Menghina penculikmu saat kau sedang makan malam berdua dengannya di lantai 50 bukanlah strategi bertahan hidup yang cerdas. Namun, Damian tidak meledak marah. Dia tidak membalikkan meja atau melempar gelas. Sebaliknya, dia tertawa. Tawa itu pelan, gelap, dan kering. Tawa yang tidak mengandung kegembiraan, melainkan pengakuan. "Kau punya gigi, Little Pianist," gumam Damian. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar gelas anggurnya. "Kau benar. Aku bukan pemberi. Aku pengambil. Aku mengambil apa yang aku inginkan, kapan pun aku menginginkannya. Dan saat ini..." Tatapannya jatuh ke bibir Elena. "...aku menginginkan kejujuranmu." Damian meletakkan gelasnya. Wajahnya berubah serius lagi, topeng main-mainnya runtuh. "Kau pikir aku menikmati ini, Elena? Mengurungmu?" "Kau terlihat sangat menikmatinya," sindir Elena. "Ini kebutuhan," jawab Damian dingin. "Duniaku penuh dengan serigala. Ayahmu melemparmu ke tengah kawanan itu saat dia mencuri dariku. Jika aku tidak mengurungmu di sini, Marcus atau sindikat lain sudah akan menculikmu seminggu yang lalu untuk memeras informasi dariku. Di sini kau tawanan, benar. Tapi di luar sana? Kau adalah mayat." Elena terdiam. Argumen itu terdengar logis, namun dia tahu itu hanya pembenaran. "Kau bisa saja membebaskan utang ayahku dan membiarkan kami pergi." "Dan membiarkan orang berpikir Damian Kael bisa dikhianati tanpa konsekuensi?" Damian menggeleng. "Tidak. Dalam bisnisku, reputasi adalah perisai. Jika perisai itu retak, peluru mulai masuk." Makan malam berlanjut dalam ketegangan yang aneh. Mereka berbicara, berdebat tipis, saling melempar kalimat tajam yang dibungkus sopan santun makan malam bintang lima. Elena mulai menyadari sesuatu. Damian Kael adalah pria yang sangat cerdas, berwawasan luas, namun jiwanya kosong. Dia berbicara tentang seni, politik, dan ekonomi dengan fasih, tapi tanpa gairah. Seolah-olah dia adalah mesin yang diprogram untuk menjadi sempurna. Satu-satunya saat mata abunya menunjukkan emosi adalah saat dia menatap Elena. Dan emosi itu adalah rasa lapar. Obsesi. Ketika hidangan penutup—crème brûlée—disajikan, Elena sudah merasa lelah luar biasa. "Aku ingin istirahat," kata Elena, mendorong piringnya menjauh. Damian menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Pergilah. Pintu kamarmu masih di tempat yang sama." Elena berdiri, ragu sejenak. "Kau... kau tidak akan..." "Datang ke kamarmu malam ini?" Damian menyelesaikan kalimatnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang berbahaya. "Tidak malam ini, Elena. Aku tidak suka memaksakan diri pada wanita yang kelelahan. Itu mengurangi kenikmatannya." Wajah Elena memanas karena malu dan marah. Tanpa pamit, dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Dia bisa merasakan tatapan Damian membakar punggungnya sampai dia menghilang di balik lorong. Malam di Sky Tower jauh lebih menakutkan daripada siang hari. Saat Elena masuk ke kamarnya, pemandangan Jakarta di malam hari menyambutnya lewat dinding kaca raksasa itu. Jutaan lampu berkelap-kelip di bawah sana, seperti lautan api diam. Namun di ketinggian ini, angin menderu di luar kaca, menciptakan suara siulan hantu yang konstan. Elena menutup pintu kamarnya. Dia menatap gagang pintu itu. Tidak ada kunci. Rasa tidak aman melilit perutnya. Damian bilang dia tidak akan datang malam ini, tapi bisakah dia mempercayai kata-kata seorang kriminal? Elena menyeret sebuah kursi armchair berat dari sudut ruangan. Dengan susah payah, dia mendorongnya hingga mentok di bawah gagang pintu. Itu usaha yang menyedihkan. Jika Damian ingin masuk, kursi itu tidak akan menghentikannya. Pria itu bisa mendobraknya dengan satu tendangan, atau Victor bisa membuka pintunya dari sistem sentral. Tapi setidaknya, kursi itu akan membuat suara gaduh. Setidaknya, Elena akan punya peringatan satu atau dua detik sebelum Iblis itu masuk. Dia mengganti gaunnya dengan piyama sutra yang disediakan. Dia berbaring di tempat tidur king size yang terlalu empuk, menarik selimut hingga ke dagu. Matanya menatap langit-langit yang tinggi. Bayangan awan yang bergerak melintasi bulan tercetak di lantai kamarnya. Sepi. Di keheningan ini, pikiran Elena melayang ke ayahnya. Apakah dia kesakitan? Apakah dia makan? Rasa bersalah menusuknya. Dia tidur di kasur sutra sementara ayahnya mungkin tidur di ranjang rehabilitasi yang keras. Tapi apa lagi yang bisa dia lakukan? Elena memejamkan mata, membiarkan kelelahan fisik dan mental menariknya ke alam mimpi. Suara itu datang dari kedalaman neraka. Elena tersentak bangun. Jantungnya berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya. Dia duduk tegak di kegelapan, matanya menyapu ruangan dengan panik. Apa itu? Dia melirik jam digital di nakas. Pukul 02:15 pagi. Hening. Hanya ada suara deru angin di luar. Apakah dia bermimpi? Kemudian, suara itu terdengar lagi. "JANGAN!" Itu teriakan. Teriakan laki-laki. Suaranya pecah, penuh teror, bergema dari lorong di luar kamarnya. Itu bukan suara penjaga. Itu bukan suara Victor yang selalu tenang. Itu suara seseorang yang sedang disiksa. Rasa ingin tahu dan ketakutan bertarung di benak Elena. Insting pertamanya adalah bersembunyi di bawah selimut. Tapi ada nada putus asa dalam teriakan itu yang menarik sisi kemanusiaannya. Elena turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang menyentuh karpet dingin. Dia menyingkirkan kursi yang mengganjal pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Dia membuka pintu kamarnya sedikit, mengintip ke lorong. Lorong itu gelap, hanya diterangi oleh lampu lantai yang redup. Tidak ada penjaga. Sepertinya Damian tidak suka ada orang lain di lantai penthouse saat malam hari. "HENTIKAN! DARAHNYA... BANYAK SEKALI!" Teriakan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Datangnya dari arah sayap barat. Kamar utama. Kamar Damian. Elena menelan ludah. Logikanya berteriak: Kembali tidur, bodoh! Jangan cari masalah! Tapi tubuhnya bergerak sendiri. Dia melangkah keluar, berjalan jinjit menyusuri lorong marmer yang dingin. Setiap langkah membawanya mendekati sumber suara. Semakin dekat, semakin dia bisa mendengar suara lain. Suara benda jatuh. Suara pecahan kaca. Suara napas yang terengah-engah dan berat. Pintu kamar utama—sebuah pintu ganda yang jauh lebih besar dari pintunya—terbuka sedikit. Cahaya remang-remang keluar dari celahnya. Elena berhenti di ambang pintu, menahan napasnya. Dia mengintip ke dalam. Kamar itu berantakan. Lampu tidur di meja nakas tergeletak di lantai, pecah. Seprai sutra hitam di tempat tidur besar itu terbelit-belit, setengahnya terseret ke lantai. Dan di tengah kekacauan itu, ada Damian Kael. Sang Iblis. Sang Penguasa Dunia Bawah. Pria yang tadi pagi menodongkan pistol dengan tangan stabil dan wajah tanpa ekspresi. Sekarang, pria itu sedang bergulat dengan hantu. Damian terbaring di tempat tidur, tubuhnya bermandikan keringat hingga kemeja tidurnya basah kuyup. Dia bergerak gelisah, menendang selimut, tangannya mencengkeram udara seolah sedang menangkis serangan tak kasat mata. "Jangan..." rintih Damian. Suaranya pecah, terdengar seperti anak kecil yang ketakutan. "Mama... jangan lihat..." Napas Elena tercekat. Mama? Victor pernah bilang sesuatu tentang masa lalu Damian yang kelam, tapi Elena tidak pernah membayangkan ini. Dia melihat pria paling berbahaya di Jakarta sedang menangis dalam tidurnya. Damian tiba-tiba berteriak lagi, sebuah teriakan tanpa kata yang murni berisi rasa sakit, lalu dia mengejang. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting untuk menolong sesama manusia yang menderita, Elena mendorong pintu dan melangkah masuk. "Damian?" panggilnya pelan. Pria itu tidak mendengarnya. Dia masih terjebak dalam mimpi buruknya. Elena berjalan mendekat ke sisi tempat tidur. Dia melihat wajah Damian dari dekat. Alisnya berkerut dalam penderitaan, giginya gemeretuk, dan air mata—air mata sungguhan—mengalir dari sudut matanya yang terpejam. "Damian, bangun," kata Elena, memberanikan diri mengulurkan tangan. Dia ingin mengguncang bahunya pelan untuk membangunkannya. Jari-jari Elena baru saja menyentuh bahu Damian yang basah oleh keringat ketika mata pria itu terbuka. Detik itu, Elena tahu dia membuat kesalahan fatal. Mata itu terbuka lebar, tapi pupilnya mengecil. Tidak ada kesadaran di sana, hanya insting purba. Insting bertahan hidup. Di mata Damian yang masih terjebak antara mimpi dan realita, Elena bukanlah gadis pianis. Elena adalah musuh. Pembunuh yang datang dalam kegelapan. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, Damian bergerak. Tangan besarnya menyambar pergelangan tangan Elena, memuntir tubuhnya, dan dalam sekejap mata, posisi mereka berbalik. Elena terhempas ke kasur yang keras, napasnya terhantam keluar dari paru-parunya. Sebelum dia sempat berteriak, tangan Damian sudah melingkar di lehernya. "Siapa yang mengirimmu?!" geram Damian. Suaranya bukan suara manusia, tapi geraman binatang buas. Cengkeraman di leher Elena menguat. "Da... mian..." Elena mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Oksigen berhenti mengalir. Dia memukul-mukul lengan Damian yang sekeras batu, mencakar kulitnya, tapi pria itu tidak bergeming. Mata Damian menatapnya, tapi dia tidak melihatnya. Dia melihat hantu masa lalunya. Wajahnya bengis, penuh teror dan amarah. "Mati kau! MATI!" teriak Damian, menekan leher Elena lebih kuat. Titik-titik hitam mulai menari di pandangan Elena. Paru-parunya terbakar. Rasa takut akan kematian yang dia rasakan saat ayahnya dipukuli tidak sebanding dengan ini. Ini adalah kematian di tangan orang yang seharusnya "memilikinya". Aku akan mati. Aku akan mati di sini. Tangan Elena yang melemah meraba-raba nakas di samping tempat tidur. Jari-jarinya menyentuh gelas air minum. Dengan sisa tenaga terakhir, dia menyambar gelas itu dan menghantamkannya ke kepala Damian. PRAK! Gelas itu pecah, air menyiram wajah Damian. Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air. Rasa sakit dan kejutan itu menyentak Damian kembali ke dunia nyata. Matanya berkedip. Kabut kegilaan itu perlahan memudar, digantikan oleh kebingungan, lalu pengenalan. Dia melihat wanita di bawahnya. Wajahnya merah padam, matanya melotot, mulutnya terbuka mencari udara. Elena. Damian tersentak mundur seolah tersengat listrik. Dia melepaskan leher Elena dan melompat turun dari tempat tidur, mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan liar. Elena terbatuk-batuk hebat, menghirup udara dengan rakus. Dia memegangi lehernya yang terasa remuk, meringkuk di atas kasur, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengalir deras di pipinya. Hening yang mengerikan mengisi ruangan itu. Hanya suara batuk Elena dan napas berat Damian yang terdengar. Damian menyentuh pelipisnya yang berdarah. Dia menatap darah di jarinya, lalu menatap Elena yang masih berjuang mengatur napas. Wajah pria itu pucat pasi. "Kau..." suara Damian serak, bergetar. Dia terdengar ngeri. "Apa yang kau lakukan di sini?" Elena mencoba bicara, tapi tenggorokannya terlalu sakit. Dia hanya bisa menatap Damian dengan mata lebar yang penuh ketakutan. Dia melihat monster itu telanjang—bukan secara fisik, tapi secara mental. Dia melihat retakan di topeng sempurnanya. Damian melihat ketakutan di mata Elena. Dan untuk pertama kalinya, Elena melihat sesuatu yang lain di mata Damian selain dominasi atau nafsu. Malu. Damian Kael, sang Iblis, merasa malu. "Keluar," bisik Damian. Elena mencoba bangun, tapi kakinya lemas. "KELUAR!" raung Damian. Teriakannya begitu keras hingga kaca jendela bergetar. Dia menyambar lampu meja yang tersisa dan melemparnya ke dinding di dekat pintu. Pecahan keramik berhamburan. Elena memekik, memaksakan tubuhnya untuk bangun. Dengan terseok-seok, dia berlari keluar dari kamar itu, memegangi lehernya yang memar. Dia berlari menyusuri lorong gelap, tidak berani menoleh ke belakang. Dia masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan kali ini dia menyeret bukan hanya kursi, tapi juga meja rias kecil untuk memblokir pintu. Dia merosot di balik barikade menyedihkan itu, menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya. Di kamar seberang, Damian masih berdiri mematung di kegelapan. Darah menetes dari pelipisnya, jatuh ke karpet mahal. Tangannya gemetar hebat—tangan yang baru saja hampir membunuh satu-satunya hal yang dia inginkan. Dia menatap kedua tangannya dengan jijik. Malam ini, aturan main telah berubah. Elena telah melihat kelemahannya. Elena telah melihat mimpi buruknya. Dan Damian tahu, mulai detik ini, dia tidak bisa lagi hanya menjadi sipir penjara yang dingin. Tembok di antara mereka telah retak, dan dari retakan itu, sesuatu yang jauh lebih rumit dan berbahaya akan tumbuh. Di luar, badai telah reda, menyisakan langit Jakarta yang kelabu dan sunyi. Namun di dalam Sky Tower, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.Lima Tahun Kemudian.Pagi di Kebayoran Baru tidak lagi sunyi.Rumah townhouse tua yang dulu lembap dan suram itu telah direnovasi. Fasadnya tetap mempertahankan gaya kolonial klasik dengan cat putih bersih, namun interiornya telah berubah total. Dinding-dinding penyekat dirobohkan untuk menciptakan ruang terbuka yang hangat, lantai tegel kunci dipoles hingga mengkilap, dan jendela-jendelanya kini dilengkapi kaca anti-peluru yang tersamar sempurna.Di ruang tengah, sebuah piano Yamaha U3 tua—piano yang sama yang dibeli Damian dari pasar loak lima tahun lalu—masih berdiri di sudut kehormatan. Kayunya semakin kusam, namun suaranya tetap hangat dan akrab.Seorang anak laki-laki berusia lima tahun duduk di bangku piano, kakinya menggantung belum menyentuh lantai. Rambut hitamnya tebal, dan matanya... matanya adalah replika sempurna dari mata abu-abu ayahnya. Tajam, cerdas, dan sedikit terlalu serius untuk anak seusianya.Alexander "Alex" Kael.Jari-jari kecilnya menekan tuts dengan
Suara baling-baling helikopter yang membelah udara pagi terdengar seperti musik di telinga Elena.Dia berdiri di balkon kamar medis Benteng Zero, menggendong Alexander yang terlelap dalam selimut tebal. Angin laut menerbangkan rambutnya yang berantakan, tapi dia tidak peduli. Matanya terpaku pada titik hitam di langit yang semakin membesar, mendekat ke landasan pacu pulau itu.Helikopter itu mendarat. Debu berterbangan.Pintu terbuka.Seorang pria turun. Dia masih mengenakan seragam tempur hitamnya, kotor oleh debu dan sisa-sisa malam yang panjang. Jalannya sedikit pincang—mungkin kakinya terkilir saat pendaratan HALO atau pertarungan di kapal—tapi punggungnya tegak.Damian Kael.Dia melepas helm taktisnya, menjinjingnya di satu tangan. Rambutnya kacau, wajahnya ditumbuhi berewok kasar, dan ada luka gores baru di pipinya.Tapi dia hidup.Elena tidak berlari menyambutnya karena dia sedang menggendong bayi. Dia menunggu di pintu balkon, air mata mengalir diam-diam di pipinya.
Ruang kerja Jenderal Hadi di Benteng Zero adalah sebuah museum perang pribadi. Dindingnya dilapisi peta navigasi kuno, lemari pajangan berisi senjata antik dari berbagai konflik dunia, dan kepala binatang buas yang diawetkan—singa, macan, beruang—yang menatap kosong dari dinding dengan mata kaca.Damian duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja mahoni besar Hadi. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan setelan taktis pinjaman (karena pakaiannya penuh darah persalinan).Di atas meja, terbentang peta digital Selat Malaka dan Semenanjung Malaysia yang diproyeksikan dari meja hologram."Ivanov bukan sekadar pedagang senjata, Damian," kata Hadi, menuangkan brandy ke dua gelas kristal. "Dia mantan KGB. Dia punya koneksi di Kremlin, di Triad, dan di kartel Amerika Selatan. Kau sedang mengajak perang separuh dunia hitam.""Aku tidak peduli siapa teman minum kopinya," jawab Damian dingin, mengabaikan gelas brandy yang disodorkan. "Aku hanya peduli di mana dia tidur malam ini."Hadi
Selat Malaka tidak pernah ramah pada malam hari.Speedboat curian itu menghantam ombak setinggi dua meter dengan bunyi BAM yang keras, melemparkan tubuh Elena yang sedang berbaring di kursi belakang ke udara, lalu menghempaskannya kembali ke bantalan kulit yang keras."Argh!" Elena menjerit, tangannya mencengkeram perutnya seolah berusaha menahan bayinya agar tidak jatuh."Bertahanlah!" teriak Damian dari balik kemudi. Wajahnya basah oleh cipratan air laut, matanya menyipit menembus kegelapan, mencari tanda kehidupan di kejauhan. "Lima menit lagi! Aku sudah melihat lampunya!"Elena tidak menjawab. Dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Rasa sakit itu datang lagi—bukan lagi kram biasa, melainkan gelombang kontraksi yang meremas rahimnya dengan kekuatan yang melumpuhkan.Air ketubannya sudah pecah sepuluh menit yang lalu, membasahi gaun dan jok kapal. Tidak ada jalan kembali. Bayi ini akan lahir. Sekarang."Damian..." rintih Elena, suaranya hilang ditelan deru mesin 400 te
Tiga Bulan Kemudian.Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai, adalah tempat di mana waktu seolah melambat dan berhenti untuk bernapas.Di sini, tidak ada gedung pencakar langit yang menusuk langit, tidak ada suara sirine polisi, dan tidak ada sinyal seluler yang konsisten. Yang ada hanyalah deru ombak Samudera Hindia yang legendaris—ombak setinggi empat meter yang menjadi kiblat bagi para peselancar dunia—dan hutan hujan lebat yang menyembunyikan segala rahasia.Di ujung sebuah teluk terpencil yang jarang dijamah turis, berdiri sebuah bungalow kayu sederhana di atas panggung (stilt house). Atapnya terbuat dari rumbia, dindingnya dari papan kayu kelapa yang kokoh. Di bawah kolong rumah, tergantung sebuah hammock jaring dan beberapa papan selancar tua.Seorang wanita hamil besar sedang duduk di beranda kayu, kakinya menjuntai ke bawah, menikmati angin sore yang sejuk.Elena—kini dikenal oleh penduduk lokal sebagai "Maya"—terlihat sangat berbeda dari Nyonya Kael yang elegan di Jakarta. Ku
Samudera Hindia bukanlah tempat untuk orang yang lemah hati.Berbeda dengan Laut Jawa yang relatif tenang atau perairan kepulauan yang biru jernih, Samudera Hindia adalah monster raksasa yang bernapas lambat namun mematikan. Ombaknya bukan riak, melainkan bukit-bukit air berwarna biru-hitam yang bergulung setinggi tiga meter, menghantam lambung kapal MV Black Pearl tanpa henti.Sudah dua hari mereka berlayar menjauh dari Padang.Di dalam kabin penumpang yang sempit—bekas kamar mualim yang dikosongkan untuk mereka—Elena berbaring di tempat tidur tingkat (bunk bed) yang keras. Wajahnya pucat kehijauan. Setiap kali kapal terangkat oleh ombak lalu jatuh kembali (heaving), perutnya serasa dikocok.Mabuk laut biasa sudah buruk. Mabuk laut saat hamil lima bulan adalah siksaan neraka.Damian duduk di lantai di samping tempat tidur, memegang baskom plastik. Satu tangannya yang lain memegang tangan Elena erat-erat, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari."Minumlah," bujuk Dami







