เข้าสู่ระบบYasmin menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang seolah ingin meledak. Ia berdiri di tengah kamar yang asing, menatap pantulan dirinya yang kini terlihat jauh lebih muda, namun menyimpan beban yang begitu berat.
Pikirannya melayang pada kehidupannya yang asli, sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak yang sedang lucu-lucunya. Kini, dalam sekejap mata, ia dipaksa menanggalkan identitas itu. Ia bukan lagi Yasmin sang ibu, melainkan Jasmine si gadis remaja yang harus menjalani pernikahan paksa. Pertanyaan besar menghantam benaknya: Bagaimana hukumnya di mata Allah? Ia adalah seorang istri sah di dunianya yang asli. Apakah menjalani pernikahan di raga ini terhitung sebagai pengkhianatan? Haram, halal, sunnah, atau makruh? Yamin memijat pelipisnya yang berdenyut. Tiada daya dan upaya, hanya Allah yang Maha Kuat. Bisa saja ia memilih kabur detik ini juga. Namun, ke mana? Ingatan pemilik tubuh ini sangat terbatas, hanya seputar rute rumah, kampus, dan mal. Ia tidak mengetahui letak geografis kota ini secara luas. Tanpa uang yang cukup dan tanpa identitas yang ia kenali, kabur hanya akan membuatnya berakhir di jalanan dan mudah ditemukan. Akhirnya, dengan bismillah, Yasmin mengambil keputusan akhir: ia akan menjalani takdir ini. Ia berharap kehadirannya di tubuh ini bisa mengubah garis kesedihan Jasmine menjadi kebahagiaan. Perkara dosa atau tidak, ia pasrahkan sepenuhnya. Allah Maha Mengetahui niat di balik kemustahilan ini. Yasmin memutuskan untuk mandi, membasuh rasa lelah yang menghinggapi raganya. Beruntung, Jasmine adalah gadis yang sederhana. Pakaian di lemarinya tergolong tertutup meski tidak islami. Setelah mengenakan atasan sweater longgar dan celana kulot, ia mencari syal panjang yang bisa ia kreasikan menjadi hijab darurat. Ia menatap dirinya di cermin; syal itu melilit kepalanya dengan rapi. "Aku harus segera membeli hijab dan mukena," batinnya. Ini adalah cobaan iman terbesarnya, menjaga marwah sebagai seorang muslimah di tengah lingkungan keluarga yang abai terhadap keyakinan. Yasmin keluar kamar dan mulai melakukan rutinitas yang biasa dilakukan pemilik tubuh: menyiapkan sarapan. Meskipun ada seorang ART bernama Ratih yang bertugas membersihkan rumah. Bagi Yasmin yang sudah terbiasa mengurus dapur untuk suami dan anak-anak, memasak bukanlah perkara sulit. Aroma masakan yang ia buat segera memenuhi ruangan, mengundang selera. "Non Jasmine tidak apa-apa, kan?" tanya Ratih yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Matanya menatap lekat pada syal yang melilit kepala Yasmin. Ada sorot keheranan yang tak mampu ia sembunyikan. "Tidak apa-apa, Bi. Terlihat aneh, ya?" Yasmin tersenyum tipis. "Tidak, Non. Malah makin cantik, terlihat teduh," jawab Ratih sambil mengacungkan dua jempolnya. Ratih sebenarnya seorang muslim juga, namun ia belum tergerak untuk menutup aurat. "Doakan ya, Bi, semoga saya bisa istiqomah," ucap Yasmin lembut, sebuah kalimat yang ia gunakan untuk menyamarkan perubahan drastis jiwanya agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh. "Aamiin... Semoga Allah selalu meridhoi Non Jasmine." Tak lama kemudian, ayah dan ibu tirinya turun. Mereka duduk di meja makan tanpa sepatah kata pun menyapa Yasmin. Tak ada komentar soal hijabnya, tak ada pujian soal masakan yang tersedia. Yasmin merasakan nyeri yang hebat di ulu hatinya, sisa-sisa luka dari pemilik tubuh asli yang merindukan kasih sayang. Namun, karena kini ia yang memegang kendali, Yasmin memilih bersikap acuh. Ia telah belajar dari pengalaman hidupnya bahwa kehormatan diri tidak datang dari validasi orang yang tidak menghargai kita. Saat ia hendak melangkah keluar untuk berangkat kuliah, suara tajam ibu tirinya menghentikannya. "Jasmine, pulang kuliah nanti langsung ke rumah sakit. Jenguk calon suamimu." Yasmin hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. Ia berjalan menuju garasi dan menaiki motor matic pemberian ayahnya. Di sepanjang jalan menuju kampus, ia merasa seperti orang asing yang sedang melakukan observasi. Beruntung, Jasmine adalah gadis pendiam yang tak memiliki teman dekat. Hal ini memudahkan Yasmin untuk tetap "tidak terlihat". Di kampus, hanya ada satu orang yang terus memperhatikannya: seorang senior yang konon menaruh hati pada Jasmine. Namun, berdasarkan memori yang dimiliki, tak ada getaran spesial di hati Jasmine untuk pemuda itu. Yasmin pun memilih mengabaikannya. Ia bukan lagi gadis remaja yang sibuk mencari cinta; fokusnya adalah bertahan hidup di tengah badai takdir. Selesai kuliah, ia duduk di bangku taman dekat parkiran, mengunyah sandwich dan meneguk air mineral. Kehampaan kembali merayap. Ia rindu suara riuh anak-anaknya saat makan siang. "Kuatkan hamba, Ya Allah," bisiknya lirih hingga sebuah getaran di ponsel memutus lamunannya. Sebuah pesan dari ibu tirinya berisi nama rumah sakit dan nomor kamar VVIP. Disinilah ia sekarang, berdiri di depan pintu kokoh kamar rawat inap VVIP. Di dalamnya terbaring laki-laki yang akan menjadi suaminya secara paksa. Rasa enggan menggerogoti hatinya. Sebagai seorang istri yang selama ini selalu menjaga marwah hanya untuk suaminya, ia merasa seperti sedang mengkhianati janji sucinya. Ditambah lagi, emosi Jasmine masih menyisakan trauma atas pernikahan yang tak diinginkan ini. "Ini Jasmine, ya?" Sebuah suara lembut menyapa dari belakang. Yasmin menoleh dan melihat seorang perempuan paruh baya yang tampak anggun. Secara refleks, Yasmin mengulurkan tangan untuk bersalaman dan mencium tangan wanita itu, kebiasaan sopan yang telah mendarah daging dalam dirinya. Wanita itu tersenyum lebar dan segera menarik Yasmin ke dalam pelukannya. "Yasmin ternyata cantik sekali. Panggil saya Mami Rahel mulai sekarang, karena kamu adalah calon menantu Mami." "Iya, Tan... eh, Mami," jawab Yasmin canggung. Namun, keengganannya perlahan mencair, melihat Mami Rahel ternyata seorang muslimah yang mengenakan hijab, meski masih terlihat jambul rambut di bagian dahi. Dari perbincangan singkat di sofa, Yasmin mengetahui bahwa Papi Surya adalah muslim sejak lahir, sementara Mami Rahel adalah seorang mualaf. Kehangatan yang terpancar dari Mami Sita membuat hati Yasmin yang membeku perlahan lumer. Berbeda dengan ibu tirinya yang manipulatif, Mami Rahel terasa tulus. Ternyata, Mami Rahel sebenarnya kecewa dengan keputusan ibu tiri Jasmine yang mendadak mengganti mempelai, namun setelah melihat Yasmin secara langsung, rasa kecewa itu berubah menjadi syukur. "Mami menyesal sempat memintamu menandatangani surat perjanjian itu, Sayang. Mami hanya terlalu takut kehilangan harapan untuk Adrian," ucap Mami Rahel dengan mata berkaca-kaca. "Sini, Mami kenalkan dengan calon suamimu." Yasmin mengangguk dan mengikuti langkah Mami Sita menuju brankar. Di sana, seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun terbaring diam. Tubuhnya tinggi tegap, mungkin sekitar 180 cm. Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat, namun kulitnya pucat pasi. Berbagai kabel dan selang menempel di tubuhnya, diiringi bunyi monitor jantung yang berirama statis. "Ini calon suamimu, namanya Adrian Laksmana." Yasmin menatap wajah pucat itu. Ada rasa iba yang mendalam. Sebagai seorang wanita yang memiliki insting merawat, hatinya tergerak. "Assalamu’alaikum, Kak Adrian. Saya Nyssa," ucapnya refleks sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada, bukan menyentuh tangan pria itu karena ia tahu mereka belum mahram. Mami Rahel tersenyum geli melihat kepolosan dan kesantunan Yasmin. "Ini calon istrimu, Sayang. Lekaslah bangun. Rugi kalau kamu sampai tidak melihat kecantikan calon istrimu ini," goda Mami Rahel sambil membelai lembut rambut putranya. Dalam hati, Mami Rahel berjanji akan menjaga Nyssa layaknya anak kandung sendiri. Setelah beberapa jam menemani Mami Rahel, Yasmin berpamitan. Langkah kakinya terasa lebih ringan saat meninggalkan rumah sakit, namun perlahan berat kembali saat ia menyadari bahwa ia harus pulang ke rumah yang tak pernah menganggap pemilik tubuh ada. Yasmin tahu, perjuangannya baru saja dimulai, dan ia harus siap menjadi tameng bagi raga yang kini ia tempati.Dua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d
Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk
Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu
Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p
Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k
Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men







