Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 93. Lepaskan Semuanya

Share

Bab 93. Lepaskan Semuanya

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-02-05 18:59:42

Tangis Sheza berhenti pelan, seperti hujan yang akhirnya menemukan tempat jatuhnya.

Tidak langsung kering, tapi tidak lagi pecah. Dadanya masih naik turun, namun napasnya mulai tertata.

Ia mengangkat wajahnya.

Tatapan Sheza bertemu dengan Satria. Matanya sendu, merah, lelah, tapi tidak kosong. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang baru saja ia dengar dan belum sepenuhnya ia pahami, tapi tubuhnya mengenalinya lebih dulu.

Satria tidak berkata apa-apa.

Tangannya naik, merapikan rambut Sheza
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (42)
goodnovel comment avatar
Hanif Heppy
nyari dimana laki modelan satria gini??
goodnovel comment avatar
Shena 321
tidak tau sudah berapa kali bolak-balik kesini nunggu update an...‍...️
goodnovel comment avatar
Murnawati
bolak balik ngintip blm ada up
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 192. Percakapan Tarik Ulur

    Satria menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. Sengaja tidak menjawab langsung. Ia tahu kalau pelayan datang mendekati mereka. Dan dengan dandanan Ratri yang seakan menghadiri makan malam dengan seorang menteri, Satria tahu kalau pelayan pasti mengira mereka sedang berkencan malam itu.Pelayan berhenti di sisi meja.Satria membuka menu sekilas. Tidak lama. Hanya cukup untuk memastikan.Lalu ia menutupnya.“Untuk kami,” ucapnya tenang. “Pan-seared Chilean sea bass. Saus lemon butter.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dry-aged ribeye. Medium rare.”Matanya sempat beralih ke Ratri. Memastikan semua pesanannya sesuai dengan keinginan wanita itu.Dan Ratri terlihat mengulum senyum seakan Satria sedang menyampaikan pidato kenegaraan yang membuatnya bangga. “Satu truffle mashed potato. Sama grilled asparagus.” Ia menambahkan tanpa melihat menu lagi, “Sparkling water. Dan … Chardonnay.”Satria mengangguk mantap saat pelayan mengulangi pesanan mereka dan pergi berlalu dari sana.Pes

  • KAMAR KEDUA   Bab 191. Malam Panjang 

    Arga dan Julian masih menatap punggung Satria saat pria itu membuka pintu dan menghilang.Keduanya saling pandang dalam diam. Bahkan sampai pintu sudah tertutup sejak beberapa menit yang lalu.Satria pergi begitu saja membawa berkas, membawa pikirannya, dan meninggalkan sisa ketegangan yang belum benar-benar reda di ruangan itu.Julian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya sempat mengusap wajah, lalu berhenti di sana sebelum akhirnya ia menatap Arga. “Menurut lo … ini masih wajar?”Arga membalas pandangannya sambil merapikan beberapa kertas di meja, meski jelas pikirannya tidak benar-benar ada di situ. “Apanya?” tanyanya datar.“Ya, Satria.”Lalu hening sebentar sebelum Julian melanjutkan, “Gue tahu dia kehilangan Prabu. Kita semua juga,” kata Julian, suaranya lebih rendah. “Tapi ini udah bukan sekadar cari tau lagi, Ga. Dia kayak … ngejar sesuatu yang nggak mau dia lepas.”Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap langit-langit sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Gue juga udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 190. Keputusan Setengah Jadi

    Satria memang belum melupakan suatu malam beberapa bulan yang lalu.Malam ketika ia dan Arga masih sibuk mencari ponsel kedua milik Prabu. Malam yang waktu itu terasa seperti jalan buntu … dan sekarang, setelah semua potongan puzzle tersusun, justru terlihat sebagai sesuatu yang lebih besar.Hendra Kusuma Wijaya.Sebuah nama yang memang tidak pernah terpikirkan oleh Satria sama sekali. Pria yang lebih ramah, hangat, terlihat penuh perhatian dan sayang keluarga itu ternyata menyimpan banyak misteri dalam identitasnya.Malam ketika ia memergoki seorang pria di kantor Prabu, ia berpikir bahwa pria itu juga mencari ponsel kedua Prabu. Seperti mereka. Ke sana kemari mengais informasi yang disisakan Prabu, serta berlomba dengan pihak yang belum kasat di mata mereka.Satria menerawang—menjatuhkan tatapannya ke sudut ruangan tempat di mana sebuah speaker besar diletakkan. “Malam itu gue mengira orang yang masuk kantor Prabu nyari handphone kedua Prabu. Sama seperti kita. Tapi setelah gue piki

  • KAMAR KEDUA   Bab 189. Yang Semakin Nyata

    Julian mengangguk ragu.“Prabu punya klien yang sama berulang-ulang,” kata Satria. “Perusahaan kecil. Nggak terlalu dikenal. Tapi frekuensinya tinggi. Yang sedang kita lihat ini.” Ia mengetukkan jari di atas kertas-kertas.Julian langsung menyela, “Itu biasa. Repeat client—”“Enggak,” potong Satria. Pendek dan tegas. “Bukan repeat biasa.”Ia menarik satu lembar kertas lagi. Lalu satu lagi. Menyusunnya berdampingan. “Perusahaannya beda nama. Direksinya beda orang,” lanjutnya, “tapi jalur dan caranya sama semua. Persis.”Julian menyipitkan mata. “Jalur itu sama dengan alur persetujuan semua dokumen di pelabuhan, sampai kapan bisa diberangkatkan?”Satria mengangguk, lalu terlihat ia menelan ludah pelan. “Awalnya gue kira normal, tapi … nama direksi dua perusahaan yang berusaha kita cek sama-sama tadi, ternyata orang dari lingkungan Pak De Hendra sendiri.”“Jadi … semua yang di pelabuhan itu keliatannya aja perusahaannya banyak. Tapi sebenarnya orang yang main itu-itu juga, kan?” Arga men

  • KAMAR KEDUA   Bab 188. Menyatukan Puzzle

    Tidak ada yang benar-benar bergerak beberapa detik setelah Satria tertawa.Tawa itu pendek, tapi cukup untuk menegaskan satu hal. Nama itu bukan kebetulan.Arga mengembuskan napas panjang, lalu menarik lagi satu map dari sisi kanan meja. “Kalau satu orang masih bisa dibilang lompat jauh…” gumamnya, membuka lembar demi lembar, “…gue mau lihat berapa banyak yang lompatnya bareng.”Julian mencondongkan tubuh. “Lo nemu lagi?”Tatapan Arga menyisir cepat. Jarinya berhenti di satu nama. Lalu ia membuka lembar lain. Mencari pembanding seperti yang dilakukan Satria tadi.Lalu Arga menaikkan alisnya. “Ini…,” katanya pelan.Satria menoleh. “Siapa?”Arga memutar kertas itu, menghadap teman-temannya. “Dimas Prasetyo. Direktur Keuangan PT. Gold Shipping.”“Direktur Keuangan. Oke … lalu?” Suara Satria rendah.Arga belum selesai. Ia menggeser kertas kedua. Kertas yang lebih tua dan kusam. “Dimas Prasetyo,” ulangnya, lalu mengetuk baris di bawahnya. “…mantan staf administrasi di PT. Wijaya Berlayar L

  • KAMAR KEDUA   Bab 78. Sedikit Refleksi

    Di malam-malam lain, Satria semakin sering duduk di tepi ranjang Sheza. Saat ia pulang larut dan mendapati wanita itu tertidur di ruang televisi dengan wajah lelah. Ia selalu mengangkat Sheza ke kamar dan duduk di tepi ranjang sejenak hanya untuk memandang wajah Sheza dan tangan wanita itu selalu m

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 67. Mungkin Hanya Sebuah Kewajiban

    “Zee … kalau aku lanjut, aku nggak akan setengah-setengah.” Kalimat itu jatuh keluar tanpa tekanan dan paksaan. Justru itulah yang membuat Sheza terdiam. Ia berdiri di hadapan Satria, berusaha mencerna bagaimana ia bisa sampai di kamar ini—kamar yang tak pernah ia masuki, kamar seorang pria yang k

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status