แชร์

Bab 93. Lepaskan Semuanya

ผู้เขียน: juskelapa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-05 18:59:42

Tangis Sheza berhenti pelan, seperti hujan yang akhirnya menemukan tempat jatuhnya.

Tidak langsung kering, tapi tidak lagi pecah. Dadanya masih naik turun, namun napasnya mulai tertata.

Ia mengangkat wajahnya.

Tatapan Sheza bertemu dengan Satria. Matanya sendu, merah, lelah, tapi tidak kosong. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang baru saja ia dengar dan belum sepenuhnya ia pahami, tapi tubuhnya mengenalinya lebih dulu.

Satria tidak berkata apa-apa.

Tangannya naik, merapikan rambut Sheza
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (43)
goodnovel comment avatar
Yenny
thoor...pinter banget bikin aq berimaginasi ya...detail bgt ga buru2 haaahhh bikin panas dingin ...... aq suka..aq suka
goodnovel comment avatar
Hanif Heppy
nyari dimana laki modelan satria gini??
goodnovel comment avatar
Shena 321
tidak tau sudah berapa kali bolak-balik kesini nunggu update an...‍...️
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • KAMAR KEDUA   Bab 256. Hidup Harus Berjalan

    Keberadaan Tante Vonny dan Om Franky memang sesuai dengan yang pernah dikatakan Satria. Pasangan itu cukup lama menetap di Jakarta. Tak terasa, sudah lebih dari sebulan sejak mereka datang berkunjung.Sepasang suami istri yang menempati kamar tamu di lantai dua itu bahkan sudah dianggap Sheza sebagai bagian dari rumah mereka. Entah kenapa, ia kembali merasakan kerinduan pada sosok yang bisa ia anggap sebagai ibu. Tante Vonny yang ceria, dengan celetukan-celetukan lucunya, membuat Sheza merasa begitu nyaman untuk membuka hati dan bercerita tentang banyak hal.Pagi hari, Tante Vonny akan bergabung bersama Tuti membuat sarapan, atau bahkan mengajarkan satu dua resep yang dulu biasa dimasaknya untuk Satria di Manado. Saat Dio, dan kadang Nayla, selesai sarapan, ia akan mengajak mereka ke belakang untuk melakukan aktivitas yang banyak bergerak. Katanya, supaya anak-anak tidak terlalu lama berada di dalam ruangan berpendingin udara.Berbeda dengan Tante Vonny, di hari kerja Om Franky justru

  • KAMAR KEDUA   Bab 255. Kebijaksanaan dari Masa Lalu

    Satria sudah banyak belajar tentang tubuh Sheza. Waktu yang mereka habiskan berbagi ranjang membuat pria yang terbiasa memperhatikan itu semakin peka memahami setiap reaksi wanitanya.Ia memahami apa yang diinginkan Sheza ketika wanita itu membuka pahanya lebih lebar. Ia juga paham saat tangan Sheza memeluknya semakin erat dan kuku-kukunya mencakar pelan punggungnya. Bagi Satria, itu selalu menjadi pertanda bahwa Sheza mulai mendekati titik klimaks.Suara Sheza akan terdengar semakin jelas. Meski pada dasarnya wanita itu memang tipe yang vokal, menjelang puncaknya suara itu selalu berubah menjadi lebih gaduh. Beberapa saat kemudian, paha Sheza akan bergetar tipis. Tubuhnya menegang sejenak, sebelum akhirnya perlahan kembali lunglai di dalam pelukannya.Saat itulah Sheza menjadi tak berdaya. Wajahnya biasanya memerah, dadanya naik turun karena napas yang mulai memburu. Kedua tangannya terentang di atas kepala, sementara tubuhnya seolah pasrah dalam pelukan Satria. Di saat-saat seperti

  • KAMAR KEDUA   Bab 254. Tentang Masa Depan

    Satria dulu memang tidak pernah benar-benar memikirkan seperti apa masa depan rumah tangganya bersama Nadine.Ketika masuk ke dalam keluarga Kertasoedibyo, ia sadar sepenuhnya dengan apa yang sedang dilakukannya. Jujur saja, pada masa itu yang benar-benar memenuhi pikirannya hanyalah bagaimana Rylee Logistics bisa terus berjalan.Perusahaan itu ia bangun dari puing-puing usaha milik papanya yang pernah hancur dan nyaris tidak menyisakan apa pun. Ia membawanya dari Manado, lalu membangunnya kembali sedikit demi sedikit dengan tangannya sendiri di ibukota.Namun ketika akhirnya menjalani pernikahan dengan Nadine, Satria tidak pernah setengah-setengah.Sebagai suami ia mengambil tanggung jawab itu sepenuhnya.Ia menjadikan Nadine pasangan hidupnya. Perempuan yang membutuhkan seorang suami dan rekan.Saat itu Satria benar-benar percaya bahwa ia bisa membawa rumah tangga mereka menuju bentuk keluarga yang selama ini ia inginkan.Sebuah keluarga yang hangat, juga sebuah rumah sebagai tempa

  • KAMAR KEDUA   Bab 253. Kejujuran Masa Lalu

    "Karena bekalnya menurutku … terlalu serius."Sheza langsung mengernyit. "Serius gimana?""Kamu bikin bekal buat orang yang bahkan belum pernah makan siang bareng kamu.""Itu kan cuma bekal."Satria menggeleng pelan. "Dengan catatan sederhana itu … buatku itu bukan bekal biasa.”Sheza langsung tertawa. “Itu cuma surat pendek.”"Dan buatku nggak sesederhana itu.” Satria menangkap tangan Sheza yang tadi berada di pahanya. “Aku masih ingat isi surat itu.”"Jangan diulang."Satria malah terkekeh dengan semburat merah tipis di pipinya. Cukup membuat ekspresinya lebih lunak dari biasanya."Aku senang waktu baca surat itu.”Kalimat berikutnya membuat Sheza perlahan diam kembali. Satria menunduk menatap cangkir tehnya. "Sangat senang."Sheza menunggu."Aku bahkan nggak langsung makan bekalnya.""Kenapa?""Aku ditelepon seseorang yang waktu itu kurasa … lebih penting.” Satu sudut bibir Satria terangkat.Sheza memandang Satria yang malam itu sedikit lebih banyak bicara. Pria itu sedang tercenun

  • KAMAR KEDUA   Bab 252. Ketika Semua Harus Terjadi 

    Tante Vonny yang tadi sempat diam, kini berkata pelan, “Sat … kamu pernah cinta Nadine, kan?”Pertanyaan itu membuat Sheza membeku di dekat pintu. Bahkan suara jangkrik dari taman seakan ikut menghilang.Satria terdengar kembali menghela napas. Lalu ia meneguk wine-nya lebih dulu dan memandang ke arah kolam yang memantulkan cahaya lampu taman."Aku menghormatinya." Satria kembali diam. "Aku peduli ke Nadine. Di mataku … Nadine nggak lebih kayak anak kecil yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.”"Dulu … meski awalnya aku merespon ide Pak Salim soal perjodohan dengan banyak pertimbangan. Tapi aku berniat jadi suami yang baik. Keberadaan Pak Salim yang mampu menjadi pendengarku, sekaligus mentor, bikin aku kepengin punya orang tua seperti beliau.”"Tapi itu bukan jawaban pertanyaan Tante." Tante Vonny menatapnya lurus.Lama sekali Satria tidak berbicara.Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Cinta itu apa? Saat itu aku bahkan nggak memikirkan soal itu. Bagiku waktu itu … cinta

  • KAMAR KEDUA   Bab 251. Bukan Kisah Cinta Biasa

    Obrolan panjang dan rumit di meja makan sampai pada Nadine mengomentari sesuatu tentang strategi bisnis ayahnya. Nada bicaranya sedikit terlalu tajam. Dan ibunya langsung menegur. "Nadine."Ruangan menjadi hening sesaat."Kamu nggak harus mendebat semua hal,” kata Bu Mieke lembut, tapi tajam.Nadine langsung membuang pandangan. Ekspresinya berubah. Lebih terlihat seperti seseorang yang bosan mendengar hal yang sama ketimbang amarah.Saat itulah Satria angkat bicara. "Menurut saya nggak ada yang salah,” ucapnya tenang.Semua orang di meja makan menoleh. Satria lalu meletakkan gelasnya. "Nadine cuma menyampaikan pendapat. Saya rasa … anak muda seperti kami kadang-kadang punya cara penyampaian yang sedikit lebih berani.”Bu Mieke terlihat sedikit terkejut. "Nggak semua orang nyaman dengan cara penyampaiannya."Satria mengangguk. "Mungkin." Lalu ia menoleh pada Nadine. "Tapi isinya masuk akal.”Kali ini Nadine tidak langsung membalas.Tidak mendebat Satria atau menyelanya. Ia hanya meman

  • KAMAR KEDUA   Bab 52. Hari Sudah Terang

    Satria masih duduk di tepi ranjang dengan jarak yang sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang belum sepenuhnya saling menerima. Jarak mereka saat itu bahkan terasa lebih panjang daripada pelukan kemarin. Saat itu tangan Satria masih berada dalam genggaman Sheza. Wanita itu mengepaln

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

    Sheza tidak pernah berniat jatuh cinta hari itu. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang. Cafe kecil itu bukan tempat istimewa. Letaknya di sudut jalan yang agak masuk dan selalu ramai di jam makan siang. Salah satu alasannya memilih cafe itu bukan karena masakannya enak. Toh, ia kadang membawa bek

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 56. Penerimaan yang Sebenarnya

    “Mau makan?” tanya Satria setelah akhirnya melepaskan pelukan itu. Nada suaranya biasa saja, seolah ia hanya menanyakan jam. Sheza menggeleng pelan. “Belum selera.” “Jangan mikir terlalu berat,” kata Satria. Tangannya sempat menepuk pundak Sheza dengan ringan. “Rambut kamu bisa rontok.” Sheza m

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 58. Bayang Dunia Lama

    Satria melangkah lebih dalam ke rumah dan menutup pintu ruang kerjanya dengan gerakan pelan tapi pasti. Ruangan itu sunyi dengan aroma kayu dan kertas. Tempat ia biasa mengambil keputusan tanpa perlu disaksikan siapa pun. Nama di layar ponsel masih menyala. Salim Prajogo Kertasoedibyo. Satria

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status