تسجيل الدخولLantai marmer di lorong ini terasa sedingin es di bawah telapak kaki Monica yang telanjang. Aku melayang tepat di belakangnya, mengamati bagaimana ia mendekap tumpukan pakaiannya di depan dada, seolah kain-kain itu bisa melindunginya dari tatapan predator di depan sana. Lorong itu sempit, putih, dan diterangi lampu neon yang menyilaukan, berakhir pada sebuah gerbang pemindai logam yang dijaga oleh seorang pria raksasa berpakaian safari hitam.Pria itu berdiri tegak, tangannya tertaut di depan perut, menatap Monica dengan wajah sedatar tembok beton."Selamat pagi, Bu Monica. Senang melihat Anda kembali dengan... persiapan yang begitu matang."Suaranya berat, menggema di lorong yang sunyi. Monica mengangguk kecil, langkahnya ragu, wajahnya masih menyisakan rona merah dari 'pemeriksaan' di gerbang depan tadi."Lakukan saja tugasmu, Pak. Aku sudah terlambat.""Tentu saja. Tapi protokol tetap protokol, bukan? Letakkan pakaian itu di nampan. Semuanya."Monica ragu sejenak sebelum mengulurk
"Eva, pasang mode melayang. Aku ingin melihat setiap sudut dari pertunjukan ini tanpa gangguan." Suara Eva bergema di kepalaku, halus namun penuh antusiasme yang sama jahatnya denganku. "Sudah terpasang, Tuanku. Nikmati setiap detailnya." Aku merasa tubuh virtualku terangkat, mengambang beberapa inci di atas tanah, mengikuti Monica yang melangkah mantap menuju bangunan berdinding kayu megah itu. Kemeja hitam tipis yang ia kenakan hampir tidak menyembunyikan apa pun; siluet bra rendanya tercetak jelas setiap kali ia bergerak, sementara celana kain ketatnya membungkus bokongnya yang montok dengan sempurna. Dua pria berbadan tegap berdiri di pintu samping. Mereka mengenakan kaus hitam yang menonjolkan otot-otot besar mereka, dengan pentungan dan pistol yang menggantung di pinggang. Saat Monica mendekat, tatapan mereka berubah menjadi lapar, menyisir tubuhnya dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa hormat. "Be
Aku melangkah masuk ke kamar utama setelah memastikan Ajeng kembali sibuk dengan kain pelnya di area dapur. Ruangan ini masih berbau kayu baru dan parfum mahal yang sengaja kuseting melalui sistem. Di atas meja nakas berbahan jati gelap, kacamata bingkai emas itu berkilau tertimpa cahaya lampu tidur yang redup. Aku merebahkan diri di atas kasur king size yang sangat empuk, lalu membiarkan bingkai dingin itu bertengger di pangkal hidungku. Kegelapan instan menyergap, lalu dalam kedipan mata, semesta berganti menjadi ruang putih tak berujung yang sangat steril namun menenangkan. "Selamat datang kembali, Tuan Bima. Kau terlihat sangat bugar pagi ini, sisa pergumulan semalam sepertinya memberi energi ekstra," ujar Eva yang tiba-tiba muncul dari udara kosong. Dia mengenakan dress pendek merah yang sangat ketat dengan belahan setinggi pinggang, memperlihatkan pahanya yang mulus tanpa cela. Dia melangkah mendekat, jemarinya yang
Aroma gurih bawang putih yang ditumis dengan terasi menusuk indra penciumanku, memaksaku menyerah pada kesadaran. Aku mengerang pelan, merasakan gesekan sprei sutra yang dingin pada kulit polosku. Tubuhku terasa ringan sekaligus bertenaga, sisa-sisa gempuran semalam pada Ajeng seolah meninggalkan jejak adrenalin yang belum habis. Aku melirik sisi ranjang yang sudah kosong dan dingin, lalu bangkit berdiri tanpa repot-repot mencari selembar benang pun untuk menutupi tubuh kekarku. Aku melangkah keluar kamar, membiarkan kakiku bersentuhan langsung dengan lantai marmer yang sejuk. Di dapur yang bermandikan cahaya matahari pagi, aku menemukan pemandangan yang jauh lebih menggugah selera daripada sarapan mana pun. Ajeng sedang membelakangiku, sibuk dengan wajan di atas kompor tanam. Kain jarik tipis yang ia kenakan semalam tampak semakin melorot, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang kini terlihat jauh lebih ramping dan kulit punggung yang luar biasa mulus. "Kau bangun pagi sekali, Jen
Malam membungkus kota dengan keheningan yang menyesakkan, namun di balik benteng seng setinggi enam meter itu, duniaku baru saja dimulai. Aku berdiri di dekat pintu besi kecil, menunggu denting yang kuharapkan. Tak lama, ketukan pelan terdengar—tiga kali, ragu namun pasti. Aku menggeser gerendel berat itu, membiarkan pintu terbuka cukup lebar untuk menyambut tamu istimewaku. Ajeng berdiri di sana, mendekap tas pakaian besar yang tampak penuh sesak. Cahaya lampu taman yang temaram jatuh di wajahnya, dan aku nyaris tersedak saat menyadari perubahannya. Hijab instan kusam yang biasanya membungkus kepalanya kini lenyap. Rambut hitamnya yang tebal dan bergelombang tergerai liar, jatuh melewati tengkuk dan menutupi punggung rampingnya. Ia mengenakan kaos lengan pendek putih yang sangat ketat, begitu tipis hingga lekuk dadanya tercetak jelas tanpa ada ruang bagi imajinasi. "Mas... saya sudah datang," bisiknya, melangkah masuk ke dalam area parkir yang luas. Aku menutup pintu besi itu
Aku mendorong piring keramik yang kini hanya menyisakan noda bumbu ke tengah meja marmer. Rasa kenyang yang hangat menjalar ke perutku, namun rasa haus yang lain mulai membakar di bawah pusar. Aku menatap Ajeng. Dia masih duduk mematung di kursi sebelahku, jemarinya bertautan dengan gelisah di atas pangkuan. "Masakanmu luar biasa, Jeng. Jauh lebih nikmat dari bayanganku." Aku meraih pergelangan tangannya, menariknya dengan sentakan kecil agar dia berdiri. Ajeng tersentak, namun tidak menarik diri. Matanya yang sayu menatapku dengan campuran antara rasa takut dan kerinduan yang dalam. "Terima kasih, Mas Bima... Saya senang kalau Mas suka." Aku tidak membalas ucapannya dengan kata-kata. Tanganku bergerak ke punggungnya, mendorong tubuhnya dengan tegas ke arah ruang tengah yang luas. Lampu gantung kristal di atas kami memantulkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang di atas sofa kulit hitam yang masih berbau baru itu. Begitu kami sampai di depan sofa, aku memutar tubuhnya a







