FAZER LOGINKaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu.
Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut yang memenuhi udara. Semua benda tersebut jelas bukan sesuatu yang bisa ditemukan di dunia modern. Kaizen kembali tertawa kecil, semakin dia mengingat kehidupan pemilik tubuh ini, semakin ekspresinya berubah. "Jadi... aku adalah Kaisar Kekaisaran Amartha. Seharusnya aku mendapatkan posisi yang paling tinggi di negeri ini." Kaizen menghela napas. "Tapi kenapa pemilik tubuh ini begitu bodoh?" Dalam ingatan yang baru saja dia terima, pemilik tubuh aslinya sebenarnya memiliki segalanya. Dia adalah seorang Kaisar. Orang nomor satu di seluruh Kekaisaran Amartha. Tidak ada seorang pun yang secara hukum memiliki kedudukan lebih tinggi darinya. Namun, pemuda itu justru tidak pernah menggunakan kekuasaannya. Dia menyerahkan hampir seluruh urusan pemerintahan kepada Perdana Menteri dan para pejabat kepercayaannya. Sementara dirinya sendiri setiap hari hanya menghabiskan waktu di istana untuk bersenang-senang. Berganti-ganti wanita, tidak pernah memikirkan keadaan rakyat, memeriksa laporan pemerintahan. Bahkan ketika bencana melanda beberapa wilayah kekaisaran, dia tetap tidak peduli. Akibatnya, para pejabat mulai memanfaatkan keadaan. Mereka membentuk kelompok masing-masing. Sebagian pejabat berkolusi dengan keluarga bangsawan. Sebagian lainnya menggunakan jabatan untuk memperkaya diri, pajak dinaikkan sesuka hati. Para pedagang kecil diperas, rakyat miskin semakin menderita. Sementara di dalam istana, sang Kaisar justru hidup dalam kemewahan. "Benar-benar..." Kaizen mengusap wajahnya. "... dia bahkan tidak sadar bahwa orang-orang di sekelilingnya sedang mengambil alih kekuasaannya." Semakin banyak ingatan yang muncul, semakin Kaizen memahami keadaan Kekaisaran Amartha. Perdana Menteri sebenarnya telah menguasai sebagian besar pemerintahan. Beberapa jenderal juga mulai membangun pengaruhnya sendiri. Keluarga bangsawan saling berebut wilayah dan kekuasaan. Sementara rakyat kecil tidak memiliki tempat untuk mengadu. Yang lebih parah, pemilik tubuh asli sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi boneka. Kaizen akhirnya menggelengkan kepala. "Dasar binatang yang hanya memikirkan nafsu." Tatapannya menjadi dingin. "Sampai-sampai mati pun di atas ranjang." Akan tetapi, bukannya merasa takut, Kaizen justru tersenyum, ada ketajaman di balik tatapannya. "Akan tetapi..." Kaizen turun dari ranjang, kakinya menginjak lantai kayu. "Mulai sekarang, aku sudah menggantikannya. Aku tidak peduli seberapa kuat Perdana Menteri. Jika mereka menganggap Kaisar hanyalah boneka..." Senyum tipis muncul di wajahnya. "...maka aku akan membuat mereka menyesal karena pernah menganggapku seperti itu." Belum sempat Kaizen melanjutkan pikirannya, tiba-tiba terdengar suara lantang dari luar ruangan. "Yang Mulia Permaisuri tiba!" Suara seorang kasim menggema di seluruh ruangan. Kaizen langsung mendongak, pintu kamar terbuka. Beberapa dayang masuk terlebih dahulu, kemudian diikuti seorang wanita yang mengenakan pakaian istana berwarna merah keemasan. Wanita itu memiliki paras yang sangat cantik. Kulitnya putih dan wajahnya memiliki bentuk sempurna. Rambut panjangnya ditata menggunakan hiasan kepala emas yang terlihat mahal. Setiap langkahnya anggun dan penuh wibawa. Wanita itu tidak berjalan seperti seseorang yang hendak menghadap Kaisar. Sebaliknya, dia berjalan seolah-olah dirinya adalah pemilik tempat tersebut. Kaizen menatapnya dari atas sampai bawah, kemudian ingatan pemilik tubuh asli kembali muncul. Wanita itu bernama Airin. Permaisuri Kekaisaran Amartha dan dari seluruh ingatan tersebut, Kaizen akhirnya memahami satu hal. Dialah alasan terbesar mengapa pemilik tubuh asli semakin tenggelam dalam kesenangan. "Jadi dia..." Kaizen menyipitkan mata. "... pantas saja." Akan tetapi, kecantikan Airin sama sekali tidak membuat Kaizen terpesona, justru tatapannya semakin tajam. Airin berhenti beberapa langkah di hadapan Kaizen, para dayang berdiri di belakangnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada Kaizen. Bahkan Airin sendiri hanya menatapnya dengan jijik. "Kaizen." Suaranya terdengar dingin. "Kau telah mencemarkan nama baik Kekaisaran Amartha. Rakyat sudah tidak menginginkanmu menjadi Kaisar. Petisi telah dikumpulkan. Para pejabat juga telah menyetujuinya." Dia mengangkat dagunya. "Kau harus turun takhta!" Kaizen menatap Airin tanpa berkedip, beberapa saat kemudian, sudut bibirnya terangkat. "Aku..." Dia menunjuk dirinya sendiri. "...turun takhta?" Airin menatapnya sinis. "Kenapa? Apa kau tidak mau menurut lagi kepadaku?" Wanita itu melangkah mendekat. "Jika kau tidak menuruti permintaanku, maka jangan harap aku akan memandangmu lagi?" Kaizen hanya diam. Airin kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut. "Serahkan saja takhtamu kepada putra kita." Senyumnya terlihat penuh kemenangan. "Setelah itu, aku akan membiarkanmu terus hidup bersenang-senang. Kau tidak perlu lagi memikirkan pemerintahan, tidak perlu menghadapi para pejabat, dan tidak akan ada seorang pun yang mengganggumu." Tatapan Kaizen perlahan turun ke perut Airin. Seketika berbagai ingatan kembali berputar di kepalanya, dia mengetahui hampir seluruh kehidupan pemilik tubuh asli. Termasuk satu fakta penting, Kaisar sebelumnya, tidak pernah berhubungan dengan Airin. Kaizen mengangkat wajahnya, tatapannya berubah dingin. Jika dia tidak menyentuhnya, bagaimana mungkin wanita ini bisa hamil? Dia menatap Airin tanpa berkedip. Airin yang melihat tatapan tersebut mengerutkan kening. "Berani kau menatapku seperti itu?!" Kaizen justru perlahan mendekat dengan sorot mata tajam, gerakannya membuat para dayang langsung mundur. Airin sedikit terkejut. "Kaizen kau...." Suara Airin tercekat saat ari-jari Kaizen langsung mencengkeram rahangnya Dnegan kuat. Wajah Permaisuri itu seketika berubah terkejut dari yang semula sombong. "Aku adalah Penguasa Negeri ini dan kau... hanyalah seorang hamba. Jangan berpikir lebih!" ujar Kaizen dingin.Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan. Sebelum mengetahui
Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.Ibu Suri.Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.“Bawa ini.” Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”“Kamu pergi keluar d
Elara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang.Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.Dia memiliki Sistem!Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem?Ada yang mendapatkan kekayaan.Ada yang mendapatkan kekuatan.Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam.Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit.Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan pelu
Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.Istana Dingin.Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa s
Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar. Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung. Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan. Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman. Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu. “Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula. Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala terse
Kaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu. Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut y







