Share

Bab 7

Author: Pein
last update publish date: 2026-10-22 09:55:54

Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.

Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan.

Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.

Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.

Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan.

Sebelum mengetahui seberapa dalam pengaruh Perdana Menteri terhadap pemerintahan, dia harus terlebih dahulu memahami keadaan kerajaan yang sebenarnya.

Dengan tatapan tenang, Kaizen akhirnya membuka mulut. "Jadi, menurut Perdana Menteri, apa yang harus kulakukan untuk menenangkan rakyat?"

Pertanyaan itu membuat suasana aula mendadak hening.

Perdana Menteri yang berdiri di antara para pejabat segera melangkah maju. Dia membungkukkan tubuhnya sekadarnya, menunjukkan penghormatan yang secara tata krama masih dapat diterima. Namun, sorot matanya menyimpan kesombongan yang sulit disembunyikan.

"Yang Mulia, keadaan di wilayah Utara semakin memburuk. Rakyat yang kelaparan tentu tidak akan terus bersabar jika kerajaan tidak segera mengambil tindakan. Menurut pendapat hamba, kita harus mengirimkan bantuan pangan dan kebutuhan pokok secepat mungkin untuk meredakan kemarahan mereka. Jika dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin keresahan tersebut berkembang menjadi pemberontakan."

Ucapannya terdengar masuk akal, bahkan seolah-olah menunjukkan kepeduliannya terhadap rakyat.

Namun, Kaizen justru memperhatikan cara Perdana Menteri menyampaikan usul tersebut. Pria itu berbicara dengan begitu percaya diri, seakan-akan telah memperhitungkan segala sesuatu sebelum memasuki aula.

Kaizen mengangguk pelan. "Kalau begitu, laksanakan saja usulanmu. Kirim bantuan ke wilayah Utara sesegera mungkin. Bukankah itu perkara sederhana?"

Perdana Menteri terdiam sesaat.

Dia tidak menyangka Kaizen akan menyetujui usulnya dengan begitu mudah. Akan tetapi, sebelum sempat memberikan jawaban, Menteri Keuangan yang berdiri di sisi kanan aula segera melangkah maju.

Pria itu berlutut dengan wajah tegang, kemudian mengangkat kepalanya untuk menyampaikan laporan. "Lapor, Yang Mulia! Mohon ampun, tetapi saat ini kas kerajaan sudah benar-benar kosong. Tidak ada cukup dana untuk membiayai pengiriman bantuan dalam jumlah besar ke wilayah Utara!"

"Apa?!" Kaizen langsung bangkit dari singgasananya.

Tangannya menghantam meja di depannya hingga menghasilkan suara keras yang menggema ke seluruh aula. "Bagaimana mungkin kas kerajaan bisa kosong?!"

Seluruh pejabat seketika berlutut. Beberapa di antara mereka bahkan menundukkan kepala begitu rendah, tidak berani menatap wajah sang kaisar.

"Yang Mulia, mohon tenangkan diri!" Seruan mereka terdengar hampir bersamaan.

Namun, di tengah suasana tegang itu, Perdana Menteri justru menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.

'Kaizen, kau hanyalah kaisar boneka yang bahkan tidak memahami keadaan kerajaanmu sendiri. Berani sekali kau mengurung putriku di Istana Phoenix tanpa meminta persetujuanku. Sekarang, mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan ketika tidak memiliki uang untuk menjalankan pemerintahanmu sendiri.'

Kebencian berkelebat di matanya sebelum kembali tertutup oleh ekspresi hormat.

Bagi Perdana Menteri, kekosongan kas kerajaan bukan sekadar masalah keuangan. Itu adalah kesempatan emas untuk mempermalukan Kaizen di hadapan para pejabat sekaligus memperlihatkan bahwa sang kaisar tidak memiliki kendali nyata atas pemerintahannya.

Sementara itu, Kaizen perlahan mengepalkan kedua tangannya.

Ingatan pemilik tubuh aslinya kembali bermunculan di benaknya. Dia nelihat bagaimana kaisar sebelumnya memerintahkan pembangunan sebuah altar megah demi mengagungkan dirinya sendiri.

Pembangunan itu menelan biaya yang sangat besar, menghabiskan sebagian besar kekayaan kerajaan tanpa mempertimbangkan kebutuhan rakyat maupun kestabilan negara.

Kini, akibat keputusan bodoh tersebut, kerajaan bahkan tidak mampu menyediakan bantuan bagi rakyatnya yang sedang dilanda kelaparan.

Kaizen menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang semakin membakar dadanya.

'Benar-benar kaisar bodoh!' gerutunya dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 7

    Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan. Sebelum mengetahui

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 6

    Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.Ibu Suri.Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.“Bawa ini.” Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”“Kamu pergi keluar d

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 5

    Elara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang.Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.Dia memiliki Sistem!Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem?Ada yang mendapatkan kekayaan.Ada yang mendapatkan kekuatan.Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam.Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit.Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan pelu

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 4

    Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.Istana Dingin.Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa s

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 3

    Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar. Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung. Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan. Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman. Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu. “Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula. Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala terse

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 2

    Kaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu. Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status