Share

Bab 3

Author: Pein
last update publish date: 2026-09-30 11:09:14

Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar.

Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung.

Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan.

Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman.

Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu.

“Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula.

Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala tersebut tanpa sadar bergidik.

Pria itu tersenyum sinis. “Bahkan seorang budak sepertimu berani memanggil namaku secara langsung?”

Wajah pelayan kepala berubah pucat. “Kaizen, kau....”

Airin yang sejak tadi masih tidak percaya akhirnya mengeraskan suaranya. “Kaizen! Lebih baik kau lepaskan aku sekarang juga, atau Ayahku akan menghukummu!”

Airin berusaha mempertahankan wibawanya. Dia masih percaya bahwa Kaizen tidak mungkin berani melakukan apa pun kepadanya.

Bagaimanapun, dia adalah putri keluarga besar sekaligus Permaisuri Kekaisaran. Di belakangnya berdiri klan yang memiliki pengaruh besar di istana.

Namun, ancaman itu sama sekali tidak membuat Kaizen gentar.

“Benarkah?” Kaizen menatapnya tanpa ekspresi, kemudian tangannya bergerak.

Wusss!

Tubuh Airin langsung dihempaskan ke belakang.

“Ah!” Wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai.

Beberapa dayang yang berada di dekatnya segera berlari menghampiri.

“Yang Mulia!”

“Yang Mulia, apakah Anda terluka?”

Para dayang berusaha membantu Airin berdiri. Namun, wajah mereka sendiri terlihat pucat karena ketakutan.

Tidak seorang pun menyangka Kaisar yang selama ini mereka kenal sebagai pria lemah akan berani memperlakukan Permaisuri seperti itu.

Pelayan kepala Airin kembali maju. “Kaizen, kau sudah keterlaluan!” bentaknya. “Cepat minta maaf kepada Yang Mulia!”

Kaizen menoleh perlahan, dia justru tertawa kecil.

“Meminta maaf?” Tatapannya menyapu seluruh aula. “Sepertinya kalian semua masih belum memahami keadaan."

Dia mengambil pedang milik Kaisar, disamping ranjang.

Pedang yang selama ini nyaris tidak pernah digunakan, padahal simbol kekuasaan penguasa Kekaisaran.

Kaizen mencabutnya.

Sring!

Suara pedang yang keluar dari sarungnya terdengar sangat jelas.

Pelayan kepala Airin mengerutkan kening. “Apa yang kau lakukan?”

Kaizen tidak menjawab, dia hanya mengangkat pedang tersebut.

Dalam sekejap, tubuhnya bergerak.

Swuzz!

Satu kilatan cahaya pedang melintas.

Pral!

Darah menyembur dari leher pelayan kepala Airin, mata wanita itu membelalak. Dia bahkan tidak sempat mengeluarkan jeritan sebelum kepalanya terpisah dari tubuh.

Bruk!

Tubuh tanpa kepala itu jatuh ke lantai. Kepalanya menggelinding beberapa kali sebelum berhenti tidak jauh dari Airin.

Keheningan langsung menyelimuti aula, tidak ada seorang pun yang berani bernapas keras.

Para dayang menatap mayat tersebut dengan tubuh gemetar. Kemudian mereka semua buru-buru bersujud, tidak ada yang berani mengangkat kepala.

Mereka semua baru menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapan mereka bukan lagi Kaisar yang mereka kenal selama ini.

Airin sendiri membeku, tubuhnya bergetar hebat. Pelayan yang selama bertahun-tahun selalu berada di sisinya kini telah mati hanya dalam satu tebasan dan yang lebih mengerikan, Kaizen melakukannya tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.

Airin perlahan mendongakkan kepala. “Kaizen, kau…” Suaranya bergetar.

Namun, sebelum dia sempat melanjutkan perkataannya, Kaizen sudah berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan Airin.

Ujung pedangnya kemudian perlahan diarahkan ke leher wanita itu.

Airin menegang, iilah pedang yang tajam menyentuh kulit lehernya.

“Aku sudah cukup bersabar denganmu.” Suara Kaizen terdengar tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat suasana menjadi semakin mencekam. “Tapi kau terus meremehkanku.”

Airin menelan ludah, dia benar-benar merasa takut kepada pria yang selama ini dianggapnya tidak berguna.

“Kaizen, kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini!” Suara Airin meninggi, meski jelas terdengar bergetar. “Kau tidak memiliki apa-apa!” lanjutnya. “Di istana ini, kau seharusnya lebih baik patuh kepadaku!”

Kaizen menatapnya beberapa saat, kemudian sudut bibirnya terangkat.

“Begitukah?” Senyum miring muncul di wajahnya.

Airin terdiam.

“Pengawal!” Suara Kaizen menggema ke seluruh aula.

Swuzz! Swuzz! Swuzz!

Beberapa sosok berpakaian hitam muncul dari berbagai sudut aula. Kemunculan mereka begitu tiba-tiba hingga para dayang tersentak ketakutan.

Mereka adalah para Pengawal Bayangan yang selama ini bersembunyi di dalam istana dan tidak pernah menampakkan diri kepada orang luar.

Begitu tiba di hadapan Kaizen, mereka langsung berlutut dengan satu kaki. “Hamba menghadap Yang Mulia!”

Airin terkejut. Matanya membesar ketika melihat beberapa Pengawal Bayangan berdiri di hadapan Kaizen. “Bagaimana mungkin…?”

Selama ini dia sama sekali tidak mengetahui keberadaan mereka.

Kaizen hanya tersenyum tipis. Berkat ingatan pemilik tubuh asli, dia sudah mengetahui bahwa Kaisar sebelumnya diam-diam meninggalkan sejumlah Pengawal Bayangan untuk melindunginya.

Mereka tidak pernah muncul tanpa perintah dan selama bertahun-tahun, tidak seorang pun di istana mengetahui keberadaan mereka, termasuk Airin.

Kaizen menatap para Pengawal Bayangan tersebut. Kemudian dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Airin. “Bawa Permaisuri ke istananya, jangan biarkan dia keluar tanpa perintahku!”

Para Pengawal Bayangan langsung menangkupkan tangan. “Baik, Yang Mulia!”

Dua orang pengawal segera bergerak menghampiri Airin.

“Lepaskan aku!” Airin mencoba melawan.

Namun, kedua Pengawal Bayangan langsung menahannya. “Yang Mulia, lebih baik jangan melawan.”

“Berani sekali kalian menyentuhku!” Airin berteriak marah. “Aku adalah Permaisuri Kekaisaran!”

Para Pengawal Bayangan tetap menjalankan perintah, mereka membawa Airin pergi dari aula.

“Kaizen!” Airin terus meronta. “Kau akan menyesali semua ini!”

Kaizen berdiri diam. Tatapannya mengikuti kepergian Airin tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

“Lepaskan aku! Kau pikir kau sudah menjadi penguasa hanya karena memiliki beberapa pengawal, Kaizen!?” Suara Airin semakin menjauh.

Kaizen tetap tidak bergerak. Setelah sosok Airin benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya, suasana kembali sunyi.

Dia menatap jauh ke depan, tatapannya perlahan berubah menjadi tajam. Kemudian dia berkata dengan suara rendah namun penuh keyakinan, “Waktunya menunjukkan siapa penguasa yang sebenarnya di Istana ini!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 7

    Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan. Sebelum mengetahui

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 6

    Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.Ibu Suri.Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.“Bawa ini.” Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”“Kamu pergi keluar d

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 5

    Elara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang.Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.Dia memiliki Sistem!Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem?Ada yang mendapatkan kekayaan.Ada yang mendapatkan kekuatan.Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam.Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit.Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan pelu

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 4

    Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.Istana Dingin.Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa s

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 3

    Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar. Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung. Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan. Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman. Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu. “Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula. Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala terse

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 2

    Kaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu. Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status