Share

Bab 2

Author: Amih Lilis
last update publish date: 2023-07-30 11:20:32

Milla menatap sendu kertas di tangannya. Hatinya kembali merepih sakit mengetahui kenyataan yang benar-benar terungkap. Kenapa mereka tega sekali?

Kertas itu adalah hasil lab dari susu hamil yang di berikan Mamanya semalam. Awalnya, Milla ingin membuangnya ke closet. Tetapi setelah di pikir, akhirnya Milla pun memutuskan membawanya ke lab untuk mencari kebenaran.

Benar saja, ternyata minuman tersebut mengandung zat racun di dalamnya. Memang kadarnya tidak terlalu tinggi, namun jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan terus menerus. Maka itu akan bisa meluruhkan janin. Milla tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika saja malam itu tak sengaja mendengar semuanya. Pasti Ia hanya akan mengira keguguran biasa, tanpa tau ada campur tangan manusia tanpa hati yang ikut andil.

"Milla? Kamu ngapain di sini?"

Gerak tangan Milla seketika terhenti mendengar sapaan tadi. Dia menoleh perlahan melihat sang penegur dengan agak resah.

"Uncle?" gumam Milla setelah menelan makanan yang masih tersisa di mulut, ketika menemukan ternyata itu adalah Uncle Jovan. Ayah dari Cakra, Bos coffe shop tempat Arletta dulu bekerja, juga ... pria yang sempat melamarnya. Gara-gara kejadian itu, tak berani Milla temui lagi.

Bukan apa-apa, Milla sungguh tak pernah menyangka pria itu ternyata ada hati padanya. Padahal, sebelumnya tak pernah dekat. Hanya kenal nama dan beberapa kali bertemu. Itupun dalam konteks biasa aja. Pria itu juga tau kisah hidup dan kondisinya saat ini. Tetapi kok bisa tiba-tiba melamar?

Karenanya, Milla bingung harus menghadapi Cakra bagaimana setelah lamaran tak terduganya itu. Sementara dia sendiri belum move on dari Elkava. Bahkan, mungkin tak akan pernah bisa move on.

"Kamu ngapain? Kenapa makan mie instan di sini?"

Milla melirik Mie cup yang memang sedang ia nikmati saat ini. Setelah malam itu, Milla memang semakin waspada. Tak berani menerima makanan atau minuman dalam bentuk apa pun dari orang tuanya. Sebisa mungkin, Milla akan menghindar atau mencari alasan agar tak harus makan di rumah. Kalau pun terpaksa harus makan, maka Milla akan segera mengorek mulutnya agar semua makanan itu kembali keluar.

Seperti hari ini, setelah dari pagi di luar rumah mencari tempat usaha baru. Pulangnya Milla pun mampir ke minimarket terdekat untuk mengisi perutnya. Kalau kalian bertanya kenapa tak makan di cafe atau restaurant saja? Jawabannya adalah karena ini sudah terlalu malam. Restauran dan cafe sudah pada tutup. Beruntung minimarket dekat rumah Milla bukanya 24 jam.

"Nggak papa kok, Om. Cuma lagi pengen makan Mie aja."

Uncle Jovan mendesah pelan mendengar alasan Milla. Lalu mengambil duduk di kursi sebelah gadis hamil tersebut. Milla refleks menggeser tubuhnya agak jauh dari uncle Jovan.

Sejak kejadian nahas beberapa bulan lalu. Milla memang jadi sering tak nyaman berdekatan dengan seorang pria. Apalagi kalau sampai bersentuhan. Milla suka tiba-tiba mual. Entah sentuhan itu disengaja atau tidak. Milla tetap mual. Kilas kenangan pahit selalu tiba-tiba terbersit.

"Lagi ngidam, ya?"

Milla mengangguk saja membenarkan dugaan pria yang juga adalah paman Arletta yang baru saja ditemukan. Tidak ada gunanya Milla jujur tentang alasan sebenarnya. Tidak ada kaitannya dan ... Milla juga tak mau masalah hidupnya semakin dicampuri keluarga Zavier.

"Ya sudah tidak apa-apa. Asal jangan sering, ya. Kasian bayi kamu. Dia butuh asupan gizi yang lebih baik dari sekedar Mie Instant."

Milla kembali mengangguk. Diam-diam hatinya malah mencelos dan semakin merasa bersalah pada sang bayi. Kalau bukan karena niat jahat orang tuanya, Milla pun tak akan memberikan makanan sembarangan pada sang anak.

Maafkan Mama ya, Nak.

"Oh, ya? Kemarin uncle baru dari Jepang. Uncle ada belikan kamu vitamin. Kata temen, vitamin itu baik untuk bayi. Uncle harap kamu bersedia menerimanya, ya?"

Hati Milla semakin mencelos. Kenapa orang lain lebih perduli pada bayi yang Milla kandung? Sedangkan orang tuanya? Justru malah ingin melenyapkannya.

"Gak usah repot-repot, Uncle."

"Gak repot, kok. Uncle malah seneng bisa beliin sesuatu yang berguna untuk kamu." Uncle Jovan menjawab cepat. Binar matanya tulus sekali. Milla tahu, Uncle Jovan masih merasa bersalah atas apa yang menimpa Milla. Itu juga menjadi salah satu keraguan Milla saat mendapat lamaran tak terduga Cakra. Milla yakin pria itu hanya kasian padanya, meski Cakra meyakinkan kalau bukan seperti itu.

Setelahnya, Milla pun melanjutkan makannya di temani uncle Jovan. Bukan keinginan Milla, uncle Jovan sendiri yang tak mau beranjak dari sana. Tak mungkin Milla mengusirnya, kan?

"Ayo, uncle antar pulang," ucap uncle Jovan lagi setelah Milla menyelesaikan makannya.

"Eh, gak usah, uncle. Milla bisa pulang sendiri, kok. Dekat ini. Jalan kaki juga bisa." Milla menolak dengan sopan. Uncle Jovan menghela nafas panjang.

"Ini sudah malam, Milla. Tidak baik untuk seorang ibu hamil berjalan sendirian. Pamali kalau kata orang dulu, sih. Makanya, uncle antar saja, ya?"

Milla bingung di tempatnya. Niat uncle Jovan terlihat tulus. Tetapi, tetap saja Milla sungkan.

"Ayolah, Milla. Uncle beneran gak bisa liat kamu pulang sendirian. Uncle khawatir."

"Tapi--"

"Setidaknya pikirkan bayimu, Milla. Kamu tidak boleh kelelahan. Biar bayimu tetap sehat."

Milla pun kembali menghela nafas panjang. Sepertinya tidak ada salahnya menerima tawaran uncle. Toh, sejujurnya dia pun sudah sangat lelah. Ingin segera merebahkan diri di tempat peraduan.

"Baiklah, Uncle." Akhirnya Milla pun patuh.

***

[Ada titipan dari Daddy. Mau saya antar ke rumahmu atau kamu yang ke cafe?]

Milla menggaruk rambutnya yang tiba-tiba gatal. Dia melirik bingung chat yang baru saja ia baca dari Cakra. Duh, kenapa pula Uncle Jovan menitipkannya pada Cakra. Padahal, Milla kan sedang dalam mode menghindari pria itu.

[Kirim paket aja, bisa gak?]

Inginnya Milla berkata. 'Gak usah. Kamu simpan saja atau kasih orang lain.' Tetapi itu tidak sopan, kan? Selain itu uncle Jovan nanti tersinggung dan kecewa. Lagi pula, rezeki bukannya tidak boleh ditolak, ya?

[Selagi bisa diantar sendiri, kenapa harus dikirim via paket? Lagipula, kita tidak terpisah pulau.]

Iya, sih. Tetapi masalahnya, Milla belum ingin bertemu Cakra. Masih bingung harus bersikap bagaimana nanti. Tentu sekarang Milla tak bisa bersikap biasa saja pada Cakra. Karena ... ya ... entahlah. Milla bingung menjelaskannya.

[Nanti aku ke Cafe kamu]

Akhirnya, setelah berpikir cukup lama. Milla pun memutuskan pergi. Selain tak ingin tetangga sekitarnya semakin menggunjingkan jika ia di jambangi pria. Milla pun sadar, tak mungkin menghindari Cakra selamanya.

Cakra itu baik dan sebenarnya enak untuk di ajak mengobrol. Milla senang bisa menemukan teman yang nyambung selain Arletta. Sayang, pria itu harus merubah semua dengan lamarannya yang tiba-tiba. Milla jadi kehilangan teman lagi.

Cring! Cring!

Bunyi lonceng cafe milik Cakra, terdengar menyambut Milla yang baru saja masuk cafe. Terlihat, suasana lumayan lengang siang itu. Mungkin karena jam makan siang sudah lewat.

"Eh, Mbak Milla. Mau ketemu Pak Cakra, ya?" sapa seorang barista dengan name tag Kinan.

Milla tak berpikir banyak. Pikirnya pasti Cakra yang sudah memberitahukan prihal niat kedatangannya ke sana.

"Iya. Pak Cakranya ada, kan?" tanya Milla sopan.

"Ada, kok. Tapi lagi ada tamu sebentar. Mbak tunggu dulu di sini, gak papa kan?"

Milla mengangguk tak masalah. Setelahnya, Kinan pergi dan memesankan segelas minuman untuknya. Gadis itu juga terlihat pergi ke arah dapur. Mungkin ingin memberitahukan keberadaannya pada Cakra.

Byur!

Milla tersentak kaget seraya bangkit berdiri, saat tiba-tiba seseorang menyiramnya dengan segelas air tanpa terduga. Beberapa orang sampai berseru refleks karena melihat hal itu.

"Dasar cewek gak tahu diri. Hamil sama siapa, minta tanggung jawab sama siapa! Gak tahu malu lo, ya?!" hardik orang itu lantang sekali. Seolah sengaja ingin mempermalukan Milla.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
siapa itu yang berani siram Milla,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 12

    "Let, gue tau lo sayang sama gue, dan gue pun sayang sama lo. Makanya ... gue gak mau jadi beban lo terus." "Lo ngomong apa sih, Mill? Ngawur aja!" ucap Bruno tak terima "Kamu bukan beban, Mill. Jangan pernah mikir begitu." Cakra menimpali. Sementara yang lain sudah bereaksi cepat mendengat ucapan Milla, Entah itu dengan mimik wajah Syok atau ucapan. Arletta masih diam menatap Milla lekat. "Lett?" Panggil Bruno dan Cakra. Meminta wanita itu mengucapkan sesuatu untuk menenangkan Milla. "Sayang?" Arkana pun ikut memanggil. Akan tetapi Arletta masih diam sambil menatap Milla lekat. Bukan ia tidak mau menenangkan atau membujuk sahabatnya itu. Hanya saja Arteta tau, saat ini Milla tak butuh sekedar kalimat atau ucapan penenang. Milla butuh hal lain yang lebih. Sesuatu yang tak hanya bisa menenangkan tapi juga menghentikan sugesti bodohnya dalam kepalanya itu. "Kalau lo mikir kayak gitu sekarang, berarti begitu pula yang lo rasakan di masa pelarian gue." Milla tersentak ha

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 11

    Happy Reading "Kenapa lagi sekarang?" tanya Bruno mulai kesal dengan acara meeting dadakan itu. "Jangan bilang karena lo cemburu sama gue? Ck, ayolah Cak. Gue ga sebrengsek itu sampai nikung temen sendiri. Gue bukan Arkana!" "Sialan!" Arkana auto menendang kaki Bruno dengan kaki palsunya. Lumayan tersinggung karena lagi-lagi Bruno Mengingatkannya pada kenakalan terdahulu. "Itu cuma salah paham masa lalu ya. Biar dikata gue playboy, tapi playboy gue tetap bermartabat. Gak doyan sama cewek orang. Apalagi cewek temen sendiri. Sorry, yang single banyak!" klarifikasinya kemudian. "Masa?" Seperti biasa, Bruno malah menggoda. "Lo--" "Ruang operasi penuh gak, sih?" sela Arletta tiba-tiba. Membuat Arkana dan Bruno urung debat. "Ruang operasi? Mau ngapain?" tanya Cakra bingung. "Mau nguji ingatan tentang cara jahit luka menganga dengan baik dan benar." Glek! Arkana dan Bruno seketika menelan saliva kelat berjamaah. Lalu mundur teratur tak berani berulah lagi. Sudah jadi rahasia umum

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 10

    Bola mata Bruno bergulir menyebalkan saat memindai penampakan seorang pria yang duduk di salah satu sofa, di dalam ruang rawat Milla, yang langsung berganti jadi VVIP sejak kedatangan ibu hamil dari jogja. "Bisa-bisanya lo biarin binik lo terbang sendirian dari jogja ke sini? Dengan perut segede itu pula. Kalau kenapa-napa, gimana? Siap itu kaki satu ilang lagi juga?" Pria yang sedari tadi di pindai dan disindir Bruno pun mendengkus kesal. Siapa lagi kalau bukan Arkana Sadewa, suami Arletta. Atau sebut saja kang photo mantan playboy yang sekarang jadi bucin lebay plus narsis. Ya memang sebanyak itu titel Arkana. "Diem deh, No!" tukas Arkana sengit. "Kan gue udah bilang, bukan gue yang sengaja biarin. Gue justru ditinggalin, Bruno! Emang lo gak liat, hari ini gue gak seganteng biasanya? itu gegara tadi gue buru-buru ngejar dia." Bukannya prihatin, Bruno malah makin mencibir. "Pertanyaannya sekarang, kok bisa lo ditinggalin? Jangan bilang karena sekarang kaki lo satunya palsu. G

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 9

    "Milla ... Mama minta maaf. Mama sadar, Mama sudah salah. Mama mohon. Maafkan Mama, Milla. Mama nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Papa sekarang sudah ditahan polisi. Kamal gak mau bantu. Perusahaannya sedang kena masalah. Makanya dia juga lagi pusing. Mama ... Mama sekarang sendirian, Milla. Mama--" "Itu semua akibat pilihan Mama sendiri," sela Milla. Air mata akhirnya menetes dari matanya. "Mama yang memilih untuk diam selama ini. Mama yang memilih untuk nurut sama Papa meski tau itu salah. Mama juga memilih untuk ikut mengorbankan aku tanpa perduli kondisi dan perasaan aku. Sekarang, sudah seharusnya Mama juga yang menanggung konsekuensinya." "Milla ..." "Aku sudah memutuskan, Ma," lanjut Milla, suaranya bergetar tapi tetap tegas. "Aku akan pisah hubungan sama kalian." "Nggak! Milla!" Mama Niken menolak tegas. tapi Milla tak perduli. "Aku nggak akan kembali ke rumah itu dan tinggal di sana lagi apapun kondisinya. Rumah sakit ini akan jadi tempat terakhir aku bertemu Ma

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 8

    Happy Reading "Biarkan saya masuk! Saya ibu kandungnya! Saya punya hak untuk bertemu anak saya!" Teriakan Mama Niken menggema di lorong rumah sakit. Beberapa pasien dan keluarga pasien lain mulai menoleh dengan pandangan penasaran. Satpam yang menahannya terlihat kesulitan karena wanita itu terus meronta-ronta seperti orang kesetanan. "Ibu, mohon tenang. Pasien sedang istirahat. Ibu tidak bisa--" "Diam kamu! Saya ibunya! Saya mau ketemu anak saya!" Bruno melangkah mendekat dengan wajah masam. Tubuhnya yang besar dan tinggi langsung membuat suasana menjadi tegang. Mama Niken yang melihat kedatangan Bruno, refleks menahan napas. "Ibu mau apa?" tanya Bruno dengan suara rendah namun mengancam. "Saya ... saya mau ketemu Milla. Saya khawatir. Saya mau lihat kondisinya, saya--" "Buat apa?" Sela Bruno dingin. Mama Niken terdiam bingung. “Maksudnya?” Bruno menyeringai miring. “Iya, buat apa? Buat ibu siksa lagi? Atau buat ibu bujuk untuk kepentingan kalian? Terutama kepentingan suam

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 7

    Happy ReadingBau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan."Nak ... Milla ..."Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan."Milla?"Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah."Dia sadar, Dok! Milla sadar!"Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat."Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga.""Mama ...?" suara Milla terdengar para

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status