Share

210 Alan Wongso

Author: Heartwriter
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-05 20:12:20

Wahyu menarik napas lega. Tapi kemudian wajahnya berubah serius lagi. "Nak Wandra, ada satu hal lagi yang harus saya beritahukan. Tadi, sebelum saya berhasil menjauh, saya mendengar pembunuh itu berbicara dengan rekannya. Mereka berasal dari Paviliun Pembunuh. Dan target mereka bukan hanya saya dan Winona. Anda juga sudah ada di daftar target mereka."

Wandra mengangguk pelan. Dia sudah menduga itu. Setelah dia membunuh sebelas anggota Paviliun Pembunuh kemarin di halaman belakang, organisasi it
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   347 Mencari Jiwa yang Dipertuan Agung

    "Menarik," Yang Dipertuan Agung berkata. Suaranya sekarang menunjukkan rasa hormat yang enggan, dicampur dengan kemarahan yang membara. "Dua sesepuh utamaku, yang masing-masing menghabiskan lebih dari empat puluh tahun untuk mencapai level mereka, kau bunuh dalam waktu kurang dari semenit."Yang Dipertuan Agung melangkah maju. Dengan setiap langkahnya, auranya semakin meningkat, dan tanah di bawah kakinya retak semakin dalam."Sekarang aku yang akan menghadapimu sendiri."Yang Dipertuan Agung menyerang dengan seluruh kekuatan alam manusia suci level delapan yang dia miliki. Serangannya membawa esensi hukum alam yang jauh lebih murni dan lebih dalam dari apa pun yang pernah Wandra hadapi. Setiap pukulan mengandung kekuatan yang bisa menghancurkan gunung.Soraya dan keluarganya berdiri di kejauhan, menyaksikan pertarungan yang benar-benar berada di luar pemahaman mereka. Tekanan dari kedua kekuatan yang bertarung membuat mereka harus mundur puluhan meter, mencari perlindungan di balik r

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   346 Yang Dipertuan Agung

    Di dalam rumah, Leo Lontaan berdiri dengan tubuh yang masih belum sepenuhnya pulih dari luka-lukanya. Roni berdiri di sampingnya dengan pedang terhunus meskipun dia tahu itu tidak akan cukup. Soraya menggenggam handphone-nya dengan tangan yang gemetar, terus mencoba menghubungi Wandra. Wandi berdiri di sudut dengan wajah yang sudah putih pucat."Wandra tidak mengangkat lagi!" Soraya berteriak putus asa saat panggilannya tidak terjawab untuk kesekian kalinya."Coba lagi," Leo berkata dengan suara yang serak. "Terus coba."Di luar, para anggota Sekte Ilahi Hitam mulai bergerak maju menuju gerbang kompleks. Beberapa pengawal keluarga Lontaan yang masih tersisa berdiri di depan gerbang, siap mengorbankan nyawa mereka sekali lagi untuk melindungi keluarga yang mereka layani.Soraya mencoba lagi. Dan kali ini, nada sambung terputus, digantikan oleh suara Wandra."Wandra! Sekte Ilahi Hitam! Mereka mengepung rumah kami!"Setelah percakapan singkat itu, Soraya menutup telepon dengan tangan y

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   345 Kecurigaan Pao Pao

    Setelah berhubungan intim mesra, Wandra menatap wanita itu. "Nona Pao Pao, boleh aku bertanya sesuatu?"Pao Pao memandang Wandra dengan mata yang menyipit sedikit, penuh perhitungan. "Bertanya apa?"Wandra menarik napas. Setelah delapan ratus tahun, akhirnya dia berada satu langkah lebih dekat dengan jawaban yang dia cari."Mayang Terurai," Wandra berkata. "Aku mencarinya. Aku dengar kau memiliki akses kepadanya."Perubahan yang terjadi di wajah Pao Pao sangat cepat dan sangat drastis. Ketenangan yang selama ini menjadi ciri khasnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kewaspadaan yang sangat tajam, hampir seperti binatang buas yang merasakan ancaman."Siapa kau sebenarnya?" Pao Pao berkata dengan suara yang berubah menjadi sangat dingin. "Siapa yang mengirimmu?""Tidak ada yang mengirimku. Aku hanya—"Sebelum Wandra sempat menyelesaikan kalimatnya, Pao Pao sudah bergerak. Kecepatannya yang selama ini tersembunyi di balik penampilan anggun sekarang terlihat sepenuhnya. Dia melesat da

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   344 Semakin Mesra di Dalam Kolam

    Pao Pao mencapai puncaknya dengan hebat. Tubuhnya mengejang kuat, liang kemaluannya berdenyut-denyut menggenggam batang Wandra. Erangannya memuncak menjadi jeritan kenikmatan yang panjang dan parau.“Ahhhhh… Wandra… aku keluar…!!”Tubuhnya gemetar hebat, lututnya hampir melemas. Dengan napas tersengal, Pao Pao perlahan memisahkan tubuhnya dari Wandra. Batang pria itu keluar dari dalam liangnya yang masih berdenyut, meninggalkan jejak cairan kental yang bercampur dengan air kolam.Tanpa banyak kata, Pao Pao membalikkan tubuhnya. Ia menyandarkan dada montoknya dan kedua tangannya di pinggiran kolam yang dingin, punggungnya melengkung indah, bokongnya yang bulat dan basah terangkat ke belakang, menggoda Wandra dengan jelas.Wandra yang masih sangat tegang dan belum mencapai klimaks, merasa darahnya mendidih melihat pemandangan itu. Ia mendekat dari belakang, memegang pinggul Pao Pao dengan kedua tangan, lalu mengarahkan batangnya yang masih keras ke liang kemaluan Pao Pao yang sudah sang

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   343 Mandi Bareng Pao Pao

    Malam itu, udara di mansion terasa hangat dan penuh misteri. Asisten pribadi Pao Pao, seorang wanita paruh baya yang selalu diam dan patuh, mengantar Wandra menyusuri koridor panjang menuju kamar utama. “Nona Pao Pao sudah menunggu,” kata asisten itu pelan sebelum membuka pintu kamar dan mundur tanpa suara.Wandra melangkah masuk. Kamar Pao Pao bukan sekadar kamar tidur biasa. Ruangan luas itu dihiasi lampu temaram berwarna keemasan, dan di tengah-tengahnya terdapat kolam renang kecil pribadi berukuran intim, airnya jernih dan beriak lembut di bawah cahaya redup.Pao Pao berdiri di tepi kolam. Usianya sudah menginjak tiga puluh tahun lebih, tapi wajah dan tubuhnya masih terlihat segar dan imut seperti gadis dua puluh tahunan. Rambut hitamnya tergerai basah, dan ia hanya mengenakan pakaian tipis berbahan sutra yang hampir tembus pandang, menempel lembut di kulitnya yang putih mulus. Ketika melihat Wandra, bibirnya melengkung manis.Tanpa kata, Pao Pao melepaskan tali tipis di bahunya.

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   342 Jurus Musang

    Wandra meluncur di bawah tendangan ketua Macan Tutul yang menyapu horizontal di atas kepalanya. Dari posisi itu, kedua tangannya yang berbentuk cakar menghantam rusuk kiri lawannya secara bersamaan. Dua pukulan sekaligus di titik yang sama. Suara retakan tulang terdengar sangat jelas.Ketua Macan Tutul menggeram kesakitan. Dia memutar tubuhnya dan melepaskan serangan balik berupa sikutan yang mengarah ke pelipis Wandra. Tapi Wandra sudah bergerak. Tubuhnya berputar di udara dengan kelincahan yang membuat beberapa penonton mengira mereka sedang melihat binatang sungguhan, bukan manusia. Wandra mendarat di belakang lawannya dan langsung melancarkan tiga pukulan beruntun ke punggung pria besar itu.Setiap pukulan membawa kekuatan yang menembus pertahanan alam manusia suci. Energi dari pukulan-pukulan itu merasuk ke dalam tubuh ketua Macan Tutul, mengguncang organ-organ di dalamnya.Ketua Macan Tutul terlempar ke belakang. Dia berhasil menahan diri dari jatuh dengan menancapkan kakinya k

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   1 Barang Peninggalan Kakek

    Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   167 Rasa Bersalah

    Wandra terbaring beberapa menit di samping Meylan yang sudah tertidur lelap karena kelelahan. Liontin di dadanya sudah dingin, tapi hatinya terasa sangat panas — bukan karena gairah, melainkan rasa bersalah yang menyengat.Ia memandang wajah Meylan yang polos dan lelah, lalu menghela napas panjang.

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   151 Aku ingin Melihat Wajahmu

    Nila masih terbaring telungkup di ranjang, bokongnya yang merah bekas tamparan masih terangkat sedikit. Napasnya tersengal-sengal, cairan cinta mereka berdua menetes pelan dari celahnya yang membengkak. Namun asap hitam dari liontin Wandra masih menebal di udara kamar kost, membuat hasrat mereka te

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   58 Keajaiban di Dapur

    Wandra memasukkan smartphonenya kembali ke saku. Ia menatap Desy dengan tatapan yang berubah—dari ragu menjadi yakin."Kak Desy," katanya dengan suara yang mantap, "percayalah pada saya. Saya akan buat semua menu ini. Dan saya jamin, semuanya akan sempurna."Desy menatapnya dengan tatapan tidak per

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status