Se connecterDan di samping mereka, berdiri seorang pria dengan aura yang jauh lebih mengerikan dari siapa pun di ruangan itu, kultivator alam manusia roh level satu, satu tingkat di atas alam manusia suci yang selama ini menjadi puncak kekuatan yang dikenal secara umum."Jebakan," Pao Pao mendesis, menyadari bahwa asisten Peramal Naga Merah yang tadi memberi tahu Perdana Menteri sebenarnya sudah mengirimkan informasi palsu untuk memancing mereka ke sini.Mayang berdiri tegak, matanya berkilat dengan kemarahan yang dingin. "Kalian pikir bisa menjebakku semudah ini?"Perdana Menteri tersenyum licik. "Mayang Terurai. Akhirnya kita bertemu langsung. Ramalan Peramal Naga Merah memang tidak pernah salah, meskipun butuh waktu lama untuk mengonfirmasinya."Pertarungan meletus tanpa peringatan lebih lanjut. Para pengawal menyerbu masuk, Pangeran Ketiga melesat menyerang Handoko, dan Perdana Menteri sendiri menyerang Pao Pao dengan kekuatan penuh alam manusia suci level tiganya.Kultivator alam manusia roh
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan mewah di rumah Perdana Menteri yang terletak di area elit dekat Istana Pualam Putih, Wandra duduk di sebuah kursi dengan tangan yang diikat rantai besi di belakang punggungnya. Dia sengaja tidak melawan, membiarkan dirinya diinterogasi sesuai skenario yang sudah dia rencanakan.Perdana Menteri duduk di hadapannya dengan ekspresi yang penuh kecurigaan, matanya menyipit memandang Wandra dari atas ke bawah seperti sedang menaksir seekor binatang buruan."Ceritakan lagi," Perdana Menteri berkata dengan suara yang dingin. "Ceritakan tentang pria berjenggot yang katamu membunuh semua perampok itu."Wandra mengulangi ceritanya dengan detail yang sama persis seperti yang dia berikan kepada petugas kerajaan sebelumnya, tanpa satu pun kesalahan atau kontradiksi. Sandiwara yang sudah dia mainkan selama tujuh ribu tahun membuatnya sangat ahli dalam menjaga konsistensi cerita.Tapi Perdana Menteri sama sekali tidak percaya. "Bohong," dia berkata dengan suara
Beberapa pengawal berpakaian seragam resmi Istana Pualam Putih mendatangi rumah sewaan Wandra dengan langkah yang tegas dan berwibawa. Pemimpin rombongan itu, seorang pria berumur sekitar tiga puluh lima tahun dengan lencana khusus di dadanya, mengetuk pintu dengan keras."Wandra," pria itu memanggil dengan suara yang tidak menyisakan ruang untuk penolakan. "Kau diminta untuk ikut bersama kami. Ada beberapa pertanyaan tambahan tentang peristiwa di bank kemarin."Wandra yang sedang berlatih teknik dasar yang diajarkan Rafika membuka pintu dengan ekspresi yang berpura-pura terkejut. "Ada apa, Pak?""Perdana Menteri ingin bertemu denganmu secara langsung," pengawal itu menjelaskan. "Ikuti kami sekarang."Rafika yang berdiri di dekat kios sayurnya, tidak jauh dari rumah Wandra, langsung merasakan firasat buruk. Dia bergegas mendekat, wajahnya yang tersamarkan riasan tetap berusaha menunjukkan kekhawatiran seorang tetangga biasa. "Tunggu, kenapa harus Perdana Menteri sendiri yang meminta?
Rafika, yang sudah kembali ke posisi "sedang duduk kesakitan" seperti para korban lainnya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.Namun Wandra langsung bertindak. Dia, berkata, "Saya melihatnya!" Wandra berkata dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Ada seorang pria berjenggot lebat, bertubuh besar, dan berambut putih! Dia masuk entah dari mana dan langsung menyerang semua perampok itu dengan kecepatan yang luar biasa! Setelah selesai membunuh mereka, dia langsung pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"Orang-orang mulai berbisik-bisik dengan takjub, beberapa mengangguk mempercayai cerita itu meskipun mereka sendiri tidak melihat apa pun karena tertidur oleh bubuk yang disebar oleh Rafika."Kita harus mengambil kembali harta benda kita!" seseorang berteriak, mengingatkan semua orang tentang barang-barang berharga yang tadi dirampas.Kekacauan yang teratur pun terjadi. Setiap orang mulai mencari dan mengambil kembali harta benda mere
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota menuju bank utama yang terletak tidak jauh dari pasar. Sepanjang perjalanan, Wandra sengaja mengajak Rafika bercakap-cakap tentang hal-hal ringan, kehidupan sehari-hari di pasar, harga-harga sayuran, cuaca. Dia memperhatikan bahwa meskipun Rafika berbicara dengan gaya seorang wanita paruh baya biasa, ada kecerdasan dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan atau akting sebaik apa pun.Bank yang mereka tuju adalah sebuah bangunan yang cukup besar, dengan pilar-pilar batu di depannya dan interior yang ramai dengan antrian orang-orang yang juga ingin menyimpan uang mereka sebelum libur panjang.Wandra dan Rafika duduk berdampingan di bangku antrian, menunggu giliran mereka dipanggil. Wandra memperhatikan sekelilingnya dengan roh primordialnya yang menyebar diam-diam, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging setelah tujuh ribu tahun hidup penuh kewaspadaan
'Dia mulai bersimpati,' batin Wandra di tengah-tengah "penderitaannya" yang sebenarnya sama sekali tidak dia rasakan secara fisik. 'Bagus.'Setelah hampir dua jam, Panjul dan anak buahnya akhirnya lelah sendiri dan meninggalkan Wandra yang terbaring di tanah dengan pakaian yang sudah kotor dan robek di beberapa tempat, meskipun tidak ada luka fisik sungguhan yang tertinggal di tubuhnya yang sebenarnya kebal terhadap segala serangan.Bang Ganjar mendekati Wandra yang masih terbaring, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah yang bercampur dengan kepuasan. "Yah, sudahlah. Ini uang untuk berobat," dia berkata sambil melemparkan beberapa keping perak yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang seharusnya diperlukan untuk pengobatan yang layak. "Cari tabib saja."Wandra bangkit dengan susah payah, memegangi tubuhnya seolah kesakitan. "Di mana saya bisa menemukan tabib, Pak?""Tabib biasa di sini sedang pergi ke luar kota," seorang warga yang menyaksikan kejadian itu menjawab dengan simpa
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya







