LOGINLangit yang tadinya biru cerah mulai berubah pekat begitu Leviathan memasuki gerbang perairan yang oleh para pelaut disebut sebagai ambang Laut Tibran. Awan-awan hitam bergulung dengan kecepatan yang tidak wajar, seolah langit itu sendiri hidup dan sedang marah, menyaksikan siapa pun yang berani memasuki wilayahnya.Jack Sparrow berdiri di kemudi dengan postur yang sama sekali berbeda dari gaya nyelenehnya yang biasa. Matanya yang tadi selalu memancarkan kilatan jenaka kini berubah tajam dan sangat fokus, menatap cakrawala dengan konsentrasi yang luar biasa, seolah dia sedang membaca sebuah buku yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri."Semua orang, pegangan!" Jack Sparrow berteriak dengan suara yang menggelegar, jauh berbeda dari nada bicaranya yang biasa terdengar setengah bercanda. "Badai pertama akan datang dalam waktu tiga menit!"Wandra, yang berdiri di geladak bersama Mayang, Viona, dan Baskoro, merasakan tekanan udara yang mulai berubah drastis. Angin yang tadinya sepoi-sepoi
Langit di atas kota pelabuhan Mamasa berubah menjadi kelabu yang mencekam. Matahari pagi yang seharusnya terbit cerah di ufuk timur tertutup oleh awan tebal yang menggulung dari arah laut, seolah alam sendiri merasakan ketegangan yang akan segera meletus.Leviathan baru saja selesai menurunkan jangkar ketika tanda-tanda bahaya pertama muncul. Dari mulut pelabuhan, tiga kapal besar muncul dengan layar hitam yang dihiasi lambang gunung retak—tanda dari Sekte Bumi Sesat. Kapal-kapal ini lebih besar daripada kapal utama Sekte Naga Laut, lambungnya diperkuat dengan pelat besi gelap yang berkilat redup di bawah langit kelabu.Jack Sparrow berdiri di kemudi, ekspresi santainya yang biasa kini berubah serius. Selama puluhan tahun mengarungi lautan, pemandangan tiga kapal Sekte Bumi Sesat yang memblokir pintu pelabuhan membuat wajahnya yang sudah keriput menjadi pucat."Wandra," panggil Jack Sparrow, suaranya tidak biasa kali ini, serius dan dalam. "Kita punya masalah."Wandra sudah berada di
Wandra meletakkan cermin itu di atas meja kecil, lalu duduk di kursi kayu di hadapannya. Mayang duduk di tepi ranjang, selimut melilit tubuhnya, menunggu dengan rasa ingin tahu."Aku sudah hidup tujuh ribu tahun," Wandra memulai, suaranya pelan tapi penuh arti. "Dan selama itu, tubuhku tidak pernah menua. Aku tetap terlihat seperti pemuda berusia delapan belas tahun. Aku juga tidak pernah bisa naik ke alam kultivasi selanjutnya. Levelku terus naik, tapi tetap di alam pemurnian tubuh. Aku ingin tahu kenapa."Mbah Sidi membuka matanya yang satu lagi, kini menatap Wandra dengan serius. "Pertanyaan yang bagus. Tapi kau masih ingat aturannya, bukan?"Wandra mengangguk. "Berapa?""Tujuh puluh lima batu roh."Wandra mengangkat tangannya, dan dari cincin penyimpanannya mengalir batu-batu roh yang bercahaya redup, membentuk tumpukan kecil di atas meja. Mbah Sidi tersenyum puas, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Batu-batu itu tersedot masuk ke dalam cermin dan langsung dilahapnya dengan rakus.
Mbah Sidi tidak langsung menjawab. Ia menatap Mayang dengan tatapan yang aneh, seperti sedang memilih kata-kata yang paling tepat."Kau tidak akan menemukan jawaban itu dengan mendengarkannya," Mbah Sidi berkata. "Ingatanmu harus kau temukan sendiri. Tapi yang jelas, dulu, saat kau masih kecil, kau diserang oleh musuh. Musuh yang sangat kuat. Kau nyaris terbunuh saat itu."Mayang merasakan lututnya lemas. Wandra meraih lengannya, menopangnya."Musuh itu," Mbah Sidi melanjutkan, "berusaha membunuhmu. Saat itu kau sedang sendirian di hutan. Kau panik. Kau lari. Dan dalam pelarianmu, kau tersandung dan jatuh ke sebuah lembah yang dipenuhi oleh jamur Adlora."Mayang menggenggam lengan Wandra dengan erat."Tanpa sengaja, kau memakan jamur itu," Mbah Sidi berkata. "Mungkin karena lapar. Mungkin karena panik. Tapi apapun alasannya, jamur itu menyelamatkan hidupmu. Energi yang terkandung di dalamnya meledak keluar dari tubuhmu, menciptakan ledakan yang melukai musuhmu dan memaksanya untuk kab
Wandra menutup pintu kamar dengan pelan, memastikan tidak ada yang menguping dari luar. Di dalam kamar, Mayang sudah duduk bersila di atas ranjang, sementara cermin kuno itu diletakkan di atas meja kecil di hadapannya. Cahaya redup dari permukaan cermin berkelip-kelip seperti lilin yang nyaris padam.Wandra duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap cermin itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia sudah memikirkan pertanyaan ini sejak tadi, sejak Mbah Sidi menunjukkan pengetahuannya tentang tripang dewa dengan akurasi yang mencengangkan."Ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan," Wandra berkata akhirnya.Mbah Sidi muncul perlahan di permukaan cermin, tubuhnya yang keriput dan kecil tampak berbaring santai seperti orang yang baru saja tidur nyenyak. "Pertanyaan apa lagi, anak muda? Semoga bukan pertanyaan yang membosankan."Wandra menatapnya lekat-lekat. "Kapan dunia akan kiamat?"Mbah Sidi terdiam. Mayang ikut terdiam, menoleh ke arah Wandra dengan ekspresi terkejut."Kau seri
Wandra juga mengangguk, meskipun ekspresinya dingin. "Aku tidak akan membocorkannya."Mbah Sidi tersenyum, lalu sosoknya perlahan memudar dari permukaan cermin, meninggalkan pantulan samar wajah Wandra dan Mayang yang berdiri di depannya.Mayang merapikan pakaiannya, mengenakan jubah longgar dan cadar tipisnya, lalu menoleh ke Wandra. "Ayo."Wandra menghela napas. "Baik. Tapi biar aku yang bicara dengan Jack Sparrow."Mereka berdua keluar dari kamar dan menaiki tangga menuju geladak atas. Malam itu cukup terang, bulan nyaris purnama menggantung di langit tanpa awan, membuat permukaan laut terlihat seperti hamparan perak yang bergerak perlahan.Jack Sparrow berdiri di kemudi seperti biasa, mata setengah terpejam, mulut menggumamkan lagu pelaut yang tidak jelas nadanya. Ketika Wandra dan Mayang mendekat, ia membuka satu matanya."Ada apa, pasangan muda? Tidak bisa tidur?"Wandra berdiri di samping kemudi. "Kami perlu mengubah arah sedikit ke timur laut. Sekitar sembilan belas kilometer
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b







